
Setelah mendengar percakapan antara Ibunya dan kakak sulungnya itu. Cempaka jadi hilang semangat.
Dia jadi sering melamun sendiri.
Tatapannya terlihat kosong, hampa...
Sebulan sudah Cempaka dalam keadaan begitu.
Kedua orangtuanya merasa heran dengan perubahan sikap anaknya.
"Cempaka, apakah kamu sakit nak?" Bu Sekar bertanya dengan hati-hati sekali.
Waktu itu Mereka tengah makan malam bersama.
Bu Sekar melihat Cempaka yang sudah sebulanan nampak tidak napsu makan.
Satu centong nasipun tak pernah dia habiskan.
"Enggak apa-apa buu!" Ucapnya perlahan.
Badannya mulai nampak kurusan. Matanya sayu tak bercahaya.
Penderitaan yang telah menggerogotinya.
Memaksanya.
"Habiskan makannya!" Pak Jati menatap anaknya dengan tatapan nanar.
"Aku ke kamar dulu yaa, aku mau istirahat" Cempaka beranjak dari tempat duduknya.
Piring bekas makannya dia cuci sekalian.
Lalu dia beranjak menuju ke dalam kamarnya.
Dengan langkah yang terseok-seok, seakan tulangnya tak sanggup menahan berat badannya.
"Brug...
Tiba-tiba, tubuhnya Cempaka ambruk. Tepat di depan pintu kamarnya.
"Cempakaa!" Bu Sekar segera memburunya.
Pak Jati dan semua adik-adiknya juga segera memburunya.
"Aku enggak apa-apa" Lemah suara Cempaka kedengarannya.
Di bantu oleh Seruni, Cempaka berdiri dan masuk ke kamarnya.
Setelah kejadian itu, dua hari Cempaka tidak masuk kerja.
Di hari ketiga, dia masuk kerja kembali.
"Sepertinya kamu kurang sehat?"
Puspa menatap wajah Cempaka dengan heran. Dia tempelkan punggung tangannya di dahinya Cempaka.
"Aku tidak apa-apa" Cempaka berujar lemah.
"Ada apa? Coba ceritakan kepada sahabatmu ini!" Puspa memegangi tangannya Cempaka. Tatapannya tak lepas dari wajahnya Cempaka.
Kala itu keduanya tengah berada di kantin, sedang beristirahat.
"Adikku mau tunangan" Gumamnya lemas.
"Apaa? Tunangan?" Puspa terlonjak kaget.
Cempaka mengangguk lemah.
"Lalu, kamu gimana?" Puspa bertanya lagi penasaran.
"Entahlah belum ada solusinya"
__ADS_1
"Eeh... Bagaimana kalau kamu nanti ikut aku?" Ajak Puspa.
"Kemana ?" Cempaka menatap wajahnya Puspa.
"Ke suatu tempat. Tapi, kamu mau kan kalau harus memakai sesuatu?" Bisik Puspa di telinganya Cempaka. Dia takut perkataannya terdengar oleh orang lain.
"Sesuatu apa?" Ujar Cempaka diapun tak kalah berbisik.
"Nanti aku jelaskan. Jangan di sini banyak orang, ayo! Kita ke kantor lagi. Sudah waktunya masuk" Puspa menggandeng tangannya Cempaka menuju ke ruangan tempat kerjanya.
Pulang kerja mereka berboncengan menuju ke rumahnya Puspa. Sedangkan suaminya Puspa, di bonceng sama temannya yang tempat tinggalnya berdekatan dengannya.
Mereka pulang beriringan.
"Nanti aku pulangnya gimana?"
Cempaka merasa khawatir.
"Nanti di anterin, tenang saja enggak akan sampai malam kok!" Puspa menenangkan.
"Baiklah kalau begitu" Cempaka merasa tenang.
Tidak sampai sepuluh menit, mereka sudah sampai di rumahnya Puspa.
Rumah mungil nan cantik, sedap di pandang mata.
"Ayo masuk Cempaka!" Puspa mempersilahkan Cempaka untuk
masuk.
"Silahkan duduk, tunggu sebentar ya" Puspa ke belakang bersama
Suaminya.
"Taraaa, aku punya ini lho! Ayo di cicipin" Tak lama Puspa sudah kembali dengan sesuatu di tangannya.
"Wooow! Sepertinya enak niih"
Cempaka menyantap makanan yang di suguhkan oleh temannya.
"Tapi, kamu jangan marah yaa! Ini cuma sebuah solusi yang pernah aku gunakan waktu itu"
Ujar Puspa.
"Iya apa? Jangan bikin aku jadi penasaran" Cempaka setengah memaksanya.
"Bagaimana kalau kamu pakai susuk"
"Susuk? Susuk apa?" Cempaka
nampak heran.
"Pokoknya setelah nanti kamu di pasangin susuk, nanti akan banyak yang suka sama kamu"
"Karena di pasangin susuk, nanti akan banyak laki-laki yang suka?"
Cempaka bergumam, matanya tak lepas dari wajahnya Puspa.
"Iya, begitu!" Ujar Puspa.
"Tapi enggak apa-apa kan?" Cempaka nampak ragu.
"Enggak, aku juga pakai satu. Kamu juga pakai satu saja, enggak usah banyak-banyak" Ujar Puspa lagi.
"Kalau kamu mau, jangan setengah hati. Nanti enggak ada khasiatnya. Kalau kamu setengah-setengah lebih baik enggak usah sekalian" Ujar Puspa pula.
Cempaka belum memberikan jawabannya.
"Tapiiii, kalau menurut aku, mendingan kamu coba saja dulu.
Siapa tahu setelah kamu menggunakan susuk itu, tidak lama lagi kamu akan ketemu dengan jodohmu" Puspa mencoba meyakinkan Cempaka.
__ADS_1
"Iya juga ya, kenapa tidak aku coba dulu saja. Emh... Tapi, ini benar kan tidak apa-apa?" Keraguan Cempaka nampaknya masih ada.
"Tenang saja, enggak apa-apa"
"Iya deh." Cempaka akhirnya mengangguk setuju dengan saran dari sahabatnya itu.
"Kalau kamu sudah benar-benar serius dan yakin akan memasang susuk. Mau sekarang juga bisa, ayo aku antar" Puspa bangkit dari tempat duduknya.
Cempaka juga segera mengikutinya.
Setelah pamitan pada suaminya Puspa, mereka langsung berangkat dengan mengendarai motornya, menuju ke sebuah tempat yang tidak jauh dari rumahnya Puspa.
"Kalian datang di waktu yang tepat!" Sambut seorang perempuan paruh baya ramah.
Setibanya mereka di rumahnya mak Darminah.
"Maksudnya apa mak?" Cempaka tak mengerti.
"Waktu yang tepat itu adalah..., sekarang kan malam Jum'at kliwon, tepat sa'at bulan Purnama lagi. Sungguh... Sungguh waktu yang sangat bagus!" Ujar mak Darminah sambil menatap wajahnya Cempaka.
"Ooh begitu mak" Ujar Cempaka.
"Ini ada beberapa bahan yang biasa di gunakan untuk susuk, yaitu emas,perak, intan dan berlian. Silahkan neng mau gunakan uang mana?" Mak Darminah menawarkan beberapa pilihan.
"Bagusnya yang mana?" Cempaka bertanya polos.
Dia mengambil satu persatu, lalu di lihatnya. Bentuknya seperti ujung jarum kalau yang terbuat dari emas dan perak.
Sedangkan susuk yang terbuat dari intan dan berlian, bentuknya lebih bagus lagi.
"Sudah ambil yang intan atau yang dari berlian saja. Itu lebih bagus khasiatnya. Tapi, harganya juga lebih mahal" Puspa menyarankan.
"Aku coba yang dari emas saja mak" Akhirnya Cempaka memutuskan.
"Baiklah kalau begitu, bagusnya neng di pakekan susuknya di dagu saja ya!" Mak Darminah membersihkan susuknya terlebih dahulu. Begitu pula dengan dagu yang akan di pakaikan susuk. Dia bersihkan juga.
Setelah mak Darminah membacakan manteranya, mak Darminah segera menempelkan
benda kecil tajam itu ke dagunya Cempaka, sambil tetap berkomat-kamit membacakan manteranya.
"Aduuuh, sakit mak!" Cempaka mengaduh kesakitan.
"Tahan sebentar neng, cuma sakit sedikit" Hibur mak Darminah. Tangannya mak Darminah menekan-nekan susuk emas itu, supaya masuk ke bawah kulit dagunya Cempaka.
"Kok! Tambah sakit mak?" Cempaka meringis kesakitan.
"Cuma sebentar..., naah! Sudah sudah sudah masuk susuknya."
Mak Darminah melepaskan tangannya dari dagunya Cempaka
"Terasa perih ya mak" Cempaka mengusap-usap dagunya yang baru saja di pasangin susuk emas.
Dagunya Cempaka terasa ada benjolan sedikit.
"Ada benjolannya lagi mak. Apa ini tidak apa-apa? Aku takut terjadi sesuatu pada dagu aku ini." Cempaka merasa khawatir.
"Tekan-tekan saja terus neng, biar susuknya bisa masuk semua. Kalau susuknya sudah
masuk semua, nanti tidak akan terasa sakit lagi. Begitu pula dengan benjolannya, nanti juga akan hilang sendiri" Mak Darminah menenangkan Cempaka yang sepertinya merasa khawatir dengan adanya benjolan di dagunya itu.
Cempaka terus menekan-nekan dagunya. Dia masih merasakan ada sedikit benda tajam yang terasa menggaris kalau dia usap dengan tangannya.
"Sudah, enggak apa-apa. Nanti juga rata kembali. Aku juga dulu
seperti itu. Sekarang ayo kita pulang! Kita tinggal rasakan khasiatnya" Ujar Puspa.
"Tapi, rasanya seperti mau lepas dari daguku ini lho!" Cempaka terus saja menekan-nekan dagunya.
"Sudah, enggak usah khawatir!
tuh lihat! Sudah gelap di luar, sudah lewat waktu isya ini. Nanti kemalaman di jalan. Di rumah saja nekan-nekannya!" Puspa menggamit tangannya Cempaka untuk di ajaknya pulang.
__ADS_1
Setelah pamit pada mak Darminah, mereka berdua pun pulang dengan sebuah harapan.
Cempaka yang cantik dan pintar itu, kini di pasang susuk karena merasa takut di langkahi oleh Anyelir, adiknya.