
Melihat Cempaka terdiam, Anyelir segera bersujud dan memeluk kakinya Cempaka dengan erat.
"Kakak! Aku minta ma'af! Aku mengaku bersalah, kak! Aku minta ma'af! Uhk! Uhk!" Anyelir menangis meraung-raung.
Harapannya supaya hati kakaknya luluh dan tentunya merasa kasihan kepadanya. Setelah itu masalahnya akan selesai. Namun, kekecewaan di hatinya Cempaka sudah mengakar hingga ke hati sanubarinya.
Tapi, itu tidak terjadi. Cempaka diam tak bergeming sedikitpun. Dia larut dalam kekecewaan yang mendalam.
Cempaka yang lugu dan pema'af, kini berubah seketika. Semua karena ulah keluarganya sendiri, yang telah menabur benih kekecewaan kepada diri dan hatinya Cempaka.
"Kakak! Aku bersalah, aku menyesal karena waktu itu telah mengecewakan kakak! Ma'afkan aku kak! Uhk! Uhk! Uhk! Kakak! Aku menyesal" Anyelir menangis makin kencang.
Cempaka masih diam, sedikitpun dia tidak menggubris adiknya, yang menurutnya itu hanyalah akting belaka.
Supaya Cempaka mema'afkan
dirinya.
"Kakak!" Anyelir berteriak.
Hanya berteriak memanggil kakaknya.
"Kalau orang lain di langkahi, itu biasanya suka di ajak dulu bicara sebelumnya, di berikan sesuatu sebagai pertanda bakti seorang adik kepada kakaknya. Lha! Ini? Boro - boro ingat sama hal itu, bisanya cuma nangis dan teriak - teriak!" Bathin Cempaka.
"Neng!" Tegur bu Sekar dengan mata yang sembab menatap dalam ke wajahnya Cempaka.
"Iya bu, emh" Cempaka menarik nafas panjang, seakan membuang semua rasa gundah di dalam jiwanya.
"Aku mau mandi dulu" Cempaka kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan Anyelir yang terus menangis.
"Kakak!" Teriak Anyelir sambil memburu kakaknya.
" Kakak!" Anyelir mengulangi ucapannya.
"Cempaka, ibu minta duduk dulu bersama kami di sini! Ibu ingin bicara" Lembut suara bu Sekar. Sepertinya ingin supaya hatinya Cempaka menjadi luluh.
Dengan tanpa sedikit malas, dia pun duduk tepat di depan ibunya.
"Semuanya sudah terjadi, mau di apakan lagi? Tidak mungkin kalau mesti di ulang lagi! Tidak mungkin bisa, kini ibu minta supaya kamu berbesar hati untuk mau mema'afkan adikmu dan juga kami yang sedikit banyak telah ikut campur dalam walimahan adikmu waktu itu" Bu Sekar berhenti sejenak, sepertinya ingin melihat reaksinya Cempaka.
"Izinkan adikmu bicara untuk menjelaskan kebenarannya" Lanjut bu Sekar lagi.
"Sudah pasti kebenarannya bu, aku ini di langkahi dengan cara di bohongi, sembunyi-sembunyi. Tapi, akhirnya aku tahu juga" Ucap Cempaka dengan kesal.
"Sebenarnya itu bukanlah keinginanku, tapi itu keinginan dari mertuaku. Karena mereka takut kejadian beberapa tahun yang lalu yang menimpa kak Prima, terjadi lagi pada Petir" Anyelir mencoba menjelaskan.
"Kak Prima waktu itu tunangan dulu, tapi mereka tidak sampai menikah. Karena, calon istrinya kak Prima di nikahkan dengan anak sahabat bapaknya, karena perjanjian dulu waktu mereka masih kecil dan kerjanya masih satu kantor. waktu rumahnya juga saling berdekatan" Anyelir menjelaskan kembali.
"Tapi harusnya jangan begitu caranya, cobalah cari cara yang baik yang tidak membuat sakit hati orang lain. Kita kan hidup dalam satu rumah, kalau memang aku ini satu keluarga, satu turunan, satu darah, cobalah untuk bicara dengan ku, tidak perlu pakai ongkos, tidak usah naik pesawat terbang untuk bisa menemuiku dan bicara dengan diriku" Nada suaranya Cempaka masih ketus karena terselimuti oleh perasaan kesal.
"Iya kak, aku sangat menyesal" Ucap Anyelir.
"Assalamualaikum" Tiba-tiba dari luar terdengar ada orang yang mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam" Sahut kami saling pandang karena kami merasa tidak mengenal suara itu.
Anyelir beranjak untuk membukakan pintu untuk tamunya.
"Ma'af! Ibu mau cari siapa ya?"
Tanya Anyelir kepada tamunya, sebelum dia mempersilahkan masuk dan duduk.
"Saya mau mencari teh Kenari" Sahutnya.
"Ooh, mau mencari kak Kenari. Sebentar ya bu!" Ujar Kenari sambil berlalu kembali ke ruang tengah, di mana kedua orangtuanya dan juga kakaknya berada.
"Ada siapa, Anye?" Tanya bu Sekar merasa penasaran.
"Aku tidak kenal bu, dia mencari kak Kenari" Jawab Anyelir.
"Ooh, siapa ya?" Bu Sekar segera beranjak dan bergegas untuk menemui tamunya.
"Aih, bu haji Imas? Saya kira siapa? Bagaimana kabarnya bu haji?" Ternyata bu Sekar kenal dengan tamu yang mencari kak Kenari itu.
"Alhamdulillah, kabar saya baik. Sebaliknya, bagaimana kabarnya bu Sekar sekeluarga?" Bu haji Imas balik bertanya, menanyakan keadaannya bu Sekar dan keluarganya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kami dalam keadaan baik-baik saja" Sahut bu Sekar lagi.
"Bu haji Imas mencari Kenari, ada perlu apa ya?" Gumam pak Jati.
"Bapak kenal dengan bu haji Imas?" Tanya Anyelir. Sedangkan Cempaka hanya diam saja, dia pernah mendengar dan tahu orang yang memiliki nama itu.
"Kalau tidak salah, dia itu tukang rias yang merias Kak Kenari waktu menikah dulu" Bathin Cempaka.
"Ya jelas kenal, bu haji Imas kan yang merias kakakmu waktu menikah dulu. Kamu pasti enggak akan tahu, karena waktu itu kamu masih kecil" Ujar pak Jati menjelaskan tentang siapa yang jadi tamunya itu.
"Ooh, emh ada apa ya, mencari kak Kenari?" Anyelir bertanya ingin tahu.
"Entahlah, bapak juga tidak tahu"
"Silahkan masuk bu haji! Silahkan duduk!" Bu Sekar terdengar mempersilahkan tamunya untuk masuk dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumahnya.
"Terimakasih bu Sekar" Bu haji Imas pun masuk ke ruang tamu, kemudian dia duduk di sofa yang ada di sana.
"Sebelumnya ma'af saya telah mengganggu waktunya" Bu haji Imas berbasa-basi.
" Tidak bu haji, sama sekali tidak menggangu. Malahan saya senang karena bu haji mau datang ke sini untuk menemui kami" Sahut bu Sekar pula.
"Saya ada perlu sama teh Kenari, apa sekarang ada Teh Kenarinya?" Bu haji Imas mengutarakan maksud kedatangannya.
"Ooh, Kenari. Sekarang dia sudah misah rumah, menempati rumah neneknya" Sahut bu Sekar.
"Sebentar bu haji!" Bu Sekar bangkit dari tempat duduknya.
"Cempaka, bikin air teh buat bu haji!" Bu Sekar berseru dari lawang yang ke ruang tengah, dia menyuruh Cempaka untuk menyajikan air teh untuk tamunya.
"Iya bu!" Cempaka bangkit dari tempat duduknya, dengan agak malas menuju ke dapur untuk membuat air teh pesenan ibunya.
"Enggak usah repot-repot bu!" Ujar bu haji Imas.
"Enggak apa-apa bu, enggak repot kok!" Sahut bu Sekar sambil duduk kembali di hadapannya bu haji Imas.
"Neng Cempaka itu, adiknya neng Bunga ya?" Selidik bu haji Imas.
"Iya" Jawab bu Sekar.
"Tidak jadi bu, Setelah Bunga menikah, tunangannya Cempaka malah datang dengan perempuan lain, dan dia menikahi perempuan itu. Kasihan sekali nasibnya Cempaka" Ujar bu Sekar.
"Kenapa bisa begitu?" Nampak bu haji Imas terkejut.
"Entahlah bu haji, saya juga tahu, karena tidak ada kabar dan berita, tahu-tahu dia sudah membawa perempuan itu ke sini. Malahan lewat di depan rumah kami. Waktu Cempaka menyapanya juga, dia malah lari boro-boro menjawab dan menjelaskan masalahnya" Tutur bu Sekar, sedih.
"Ya Allah, kok! bisa begitu ya? Tidak gentleman, harusnya seorang pria itu menjelaskan apa dan bagaimana masalahnya? Bukan berlari sa'at di sapa tunangannya, berarti dia itu seorang pengecut kalau begitu" Ujar bu haji Imas ikut kesal dengan kelakuannya Buana.
"Assalamualaikum" Cempaka datang dengan nampan di tangannya.
"Waalaikumsalam, ini neng Cempaka?" Bu haji Imas seperti yang terpana memandangi wajahnya Cempaka yang cantik jelita itu.
"Iya Bu haji, silahkan di minum air teh nya!" Dengan sopan Cempaka manggut dan mempersilahkan minum kepada bu haji Imas yang tengah terpana karena terpesona dengan kecantikan Cempaka.
Setelah menyimpan dua buah cangkir teh hangat di atas meja, Cempaka segera menghampiri bu haji Imas untuk mencium tangannya.
"Cantik sekali, apa tidak menyesal Buana meninggalkan neng Cempaka yang cantik ini?"
Ujar bu haji Imas memujinya.
"Ah ibu haji, bisa saja. Kalau aku cantik, tidak mungkin Buana berpindah ke lain hati" Ujar Cempaka dengan suara parau. Karena menahan sesuatu yang sepertinya memaksanya untuk keluar dari persembunyiannya.
Air mata.
"Sungguh tak habis pikir!" Bu haji Imas geleng- geleng kepala merasa heran.
"Tapi, mungkin Buana itu bukan jodohnya neng Cempaka, saya yakin nanti pasti ada jodoh buat neng Cempaka yang lebih baik daripada dia" Ujar bu haji Imas sambil menatap wajah Cempaka dengan tak berkedip.
"Amiin" Sahut bu Sekar dan Cempaka.
"Duduk neng, bu haji jadi ingin ngobrol dengan neng Cempaka"
Ujar bu haji Imas.
"Iya bu haji" Sahut Cempaka perlahan.
__ADS_1
Cempaka pun lalu duduk di samping ibunya sambil mengusap titik bening yang selalu muncul dari sudut matanya, setiap dia membicarakan perihal tentang kisah cintanya dengan Buana.
"Sangat di sayangkan sekali dengan sikapnya neng Bunga waktu itu, sepertinya Buana merasa kecewa jadi dia membabi buta balas dendam dengan cara menikahi perempuan lain" Bu haji Imas menduga-duga nya.
"Sepertinya begitu, bu haji" Ujar bu Sekar.
"Sabar ya sayang! Itu adalah salah satu ujian dari Allah SWT. Insya Allah jika kita sabar dan ikhlas menerimanya, pasti akan ada hikmah di balik semua itu" Bu haji Imas mencoba untuk membesarkan hatinya Cempaka.
"Iya bu haji, terimakasih" Lirih suaranya Cempaka.
"Emh, tadi katanya bu haji mau mencari Kenari, kalau boleh saya tahu, ada apa ya ?" Setelah saling terdiam beberapa saat, bu Sekar segera mencairkan suasana.
"Oh iya, hampir saya lupa. Begini bu, teh Kenari beberapa hari yang lalu datang ke rumah saya, katanya ingin belajar merias. Sayangnya waktu itu sayanya sedang tidak ada di rumah, sayanya sedang ada panggilan merias di kampung sebelah, jadi waktu itu kami tidak sempat bertemu. Waktu itu teh Kenari hanya bertemu dengan anak saya" Tutur bu haji Imas.
"Ooh begitu, bagaimana, mau sekarang bertemu Kenarinya, atau bagaimana?" Tanya bu Sekar pula.
"Rumahnya jauh tidak dari sini?"
Tanya bu haji Imas.
"Enggak juga, cuma beda rw" Sahut bu Sekar.
"Kak Cempaka?" Anyelir merengek sambil nongol di Lawang pintu yang ke ruang tengah.
Cempaka dan semua yang ada di sana menoleh ke arah datangnya suara.
"Itu siapa?" Tanya bu haji Imas sambil tersenyum menatap ke arah Anyelir.
"Anyelir, adiknya Cempaka" Jawab bu Sekar.
"Ooh, adiknya neng Cempaka. Sudah besar juga ya" Ujar bu haji Imas lagi.
"Anyelir, salim sama bu haji!" Tegur bu Sekar mengingatkan.
Setelah di perintah ibunya, barulah Anyelir mencium tangannya bu haji Imas.
Anyelir duduk agak jauh dari Cempaka.
"Kakak!" Anyelir berucap lagi sambil menatap wajahnya Cempaka.
"Ada apa sih?"Cempaka kesal.
"Aku minta ma'af" Ucap Anyelir lagi, masih menatap kakaknya.
"Kenapa neng?" Bu haji Imas sepertinya penasaran dengan tingkahnya Anyelir.
"Emh, bu haji. Saya juga merasa bingung untuk menjelaskannya. Memang ini semua kesalahan kami, hingga akhirnya Cempaka merasa kecewa dan juga sakit hati" Ujar bu Sekar mulai menjelaskan sedikit demi sedikit duduk permasalahannya.
"Kalau boleh tahu, apa yang membuat neng Cempaka merasa kecewa dan sakit hati" Bu haji Imas bertanya lebih lanjut.
"Begini bu haji-" Bu Sekar akhirnya membeberkan semua masalah yang tengah terjadi di antara Anyelir dan Cempaka.
"Ya Allah ya Rabby" Pantesan neng Cempaka marah kalau begitu caranya.
"Iya bu haji, saya juga terpaksa waktu itu karena merasa di todong oleh calon besan" Ujar bu Sekar.
"Neng Cempaka, mungkin ini sudah menjadi nasibnya neng Cempaka, susah jangan berkecil hati, biasanya yang banyak penderitaannya suka jaya, suka berkah hidupnya" Ujar bu haji Imas.
" Neng Cempaka! Biasanya orang yang di langkahi itu suka bagus rezekinya, kalau menikah suka di bawain segala macam perabotan rumah tangga, perhiasan aneka macam. Semoga saja neng Cempaka juga begitu. Ada tetangga saya juga yang di langkahi oleh adiknya, beberapa tahun kemudian, pas dia menikah, wah! Itu bawaannya sampai memukau orang-orang yang melihatnya, termasuk saya tetangga dekatnya" Bu haji Imas diam dulu beberapa sa'at.
"Yang namanya perhiasan, dari ujung rambut hingga ujung kaki di bawakannya! Waktu itu berat perhiasan sebagai bawaan seuseurahannya hingga mencapai lima ratus gram! Belum uangnya yang puluhan juta. Mas kawinnya juga cincin yang bematakan berlian. Sungguh! Pernikahan yang sangat mewah dan meriah sekali, semoga saja neng Cempaka juga bernasib baik seperti itu, karena kan sama-sama di langkahi oleh adiknya" Lanjut bu haji Imas.
"Aamiin ya Allah" Ucap bu Sekar.
"Mungkin itu semua balasan dari Allah SWT karena jodohnya telat, dan di langkahi pula oleh adiknya. Biarin saja neng Cempaka, jodohnya telat juga. Yang penting mendapatkan jodoh yang terbaik dalam segalanya" Lanjut bu haji Imas memberikan masukan yang membuat hati Cempaka menjadi tenang.
"Kalau seandainya begitu, rasa sakit hati dan kecewaku langsung terobati. Tidak penasaran menunggu jodoh lama juga kalau akhirnya bahagia" Ujar Cempaka sambil tersenyum, bayangan mendapatkan jodoh yang baik terbentang di benaknya.
"Jadi, kakak mema'afkan aku kan?" Anyelir bertanya penuh harap.
"Iya, aku ma'afkan! Tapi, jangan kau sakiti hati dan perasaanku lagi" Ucap Cempaka.
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya" Ucap bu Sekar sambil memeluk kedua putrinya.
Bu haji Imas tersenyum menyaksikan adegan yang indah di hadapan matanya.
__ADS_1
***