
"Kamu baru pulang?" Bu Sekar menegurnya waktu dia membukakan pintu untuk Cempaka. Karena, Cempaka baru pulang setelah lewat isya.
Setelah Puspa yang mengantarkannya, pamit pulang
kembali ke rumahnya.
Setelah pasang susuk emas itu, dia di antarkan oleh Puspa dan suaminya.
Cempaka di bonceng sama Puspa, sedangkan suaminya Puspa ikut di bonceng oleh tetangganya yang kebetulan ada perlu ke kampungnya Cempaka.
"Iya buu" Cempaka menjawabnya tergagap.
"Kenapa?..." Bu Sekar seakan menyelidik.
"Emh... Emh... Ke... Ke rumahnya Puspa dulu" Cempaka terpaksa berbohong.
"Ooh... Lain kali kalau mau kemana-mana itu, bilang dulu sama ibu. Apalagi ini malam-malam begini, ibu khawatir nak." Bu Sekar melemah.
"Ayo masuk! Kamu sudah shalat isya belum?"
"Belum buu, sekarang aku mau ambil wudhu dulu"
"Ya sudah, sana! Nanti keburu malam. Selepas shalat Isya, kamu langsung makan ya!"
"Iya buu" Cempaka segera berwudhu, kemudian shalat isya di kamarnya.
"Apakah di pasangin susuk itu tidak akan ada akibatnya gitu?"
Cempaka bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa benar aku akan jadi banyak yang suka?"
"Apakah ini dosa Atau tidak?" Dia terus bertanya kepada dirinya sendiri. Dia jadi ragu dengan keputusan yang telah di ambilnya tadi.
"Cempaka, sudah shalatnya? Kalau sudah, sana makan dulu!"
Bu Sekar menyuruhnya makan.
"Masih kenyang buu, tadi sudah makan di rumahnya Puspa" Sahut Cempaka beralasan. Padahal yang sebenarnya, dia malas untuk makan, dia tidak bernafsu untuk makan.
Perbincangan bu Sekar dengan Kenari waktu itu masih mengganggu pikirannya. Dia kini merasa tidak ada yang menyayangi nya lagi. Perhatian semua orang di rumah itu , kini sedang tertuju kepada Anyelir.
"Ya sudah kalau gitu" Ucap bu Sekar, diapun berlalu dari depan pintu kamarnya Cempaka.
"Sepertinya benar, Anyelir akan melangkahi aku. Ibupun kini sudah tidak peduli lagi padaku"
"Duluu aku tidak boleh melangkahi kak Bunga, walaupun hanya bertunangan saja. Kini, adikku mau bertunangan, sedangkan aku sebagai kakaknya, sedikitpun tidak di beri tahu, jangankan minta izin seperti aku dulu ke kak Bunga, yang akhirnya cintaku kandas"
Gumamnya. Pikirannya melayang kembali ke masa-masa yang membuatnya menderita.
Dan kini, peristiwa itu harus dia alami lagi.
Sungguh dia tidak bisa untuk menerimanya.
Kekecewaan demi kekecewaan, itu di dapatnya dari keluarganya sendiri. Secara beruntun, sungguh membuatnya menderita
lahir dan bathin.
Seminggu sudah berlalu sejak Puspa mengantarnya ke rumahnya mak Darminah, Puspa mengabarkan bahwa Cempaka di suruh menemuinya lagi di rumahnya.
"Untuk apa? Memangnya kalau sudah seminggu di pasangin susuk, kita harus ke sana lagi?"
Cempaka tidak mengerti.
"Enggak, bukan itu! Katanya ada sesuatu yang harus kamu tahu"
Puspa meyakinkan sahabatnya itu.
"Entahlah..., sudah seminggu aku pakai susuk, tapi tetap saja. Belum ada laki-laki yang suka sama aku." Cempaka mulai berputus asa.
"Jadi, bagaimana? Mau ke rumahnya mak Darminah enggak?"
__ADS_1
"Sepertinya enggak deh! Nanti saja kalau libur kerja. Kalau sekarang, aku enggak bisa" Ujar Cempaka.
"Hatiku merasa tidak enak nih, Sepertinya ada sesuatu di rumahku. Tapi, enggak tahu apa?" Cempaka nampak risau.
"Sebentar saja, sekarang kita pulang setengah hari kan? Jadi, sore juga kamu bisa pulang. Nanti aku antar lagi sampai ke rumah." Saran Puspa.
"Emh... Baiklah kalau begitu" Akhirnya Cempaka setuju.
Sebenarnya diapun merasa penasaran dengan panggilan dari mak Damirah itu.
"Ada apa sebenarnya ini?" Cempaka bertanya-tanya dalam hatinya.
Tak terasa, jarum jam telah menunjukkan angka dua belas kurang lima belas menit.Berarti, sebentar lagi jam kerja usai sudah.
"Lima belas menit lagi kita pulang. Ayo segera kita beres-beres!" Puspa menyuruh Cempaka supaya segera bersiap-siap untuk pulang.
"Aku sudah dari tadi. Kerjaanku sudah ku bereskan semuanya, tinggal kita pulang saja" Cempaka menyampirkan tasnya di pundaknya.
"Teeet!... Teeet!..." Bunyi bel tanda pulang sudah berbunyi.
Kamipun segera bergegas menuju ke luar ruangan untuk pulang.
"Cempaka! Ayo kita pulang!" Puspa menggamit tangannya Cempaka.
Merekapun segera menuju ke tempat parkiran motor.
Puspa segera memasukkan anak kuncinya, dan segera menstater motornya.
Cempakapun segera duduk di belakang Puspa.
Kemudian, Puspa menekan gasnya perlahan, motorpun segera melaju perlahan.
Keluar dari tempat parkiran, kemudian melaju di jalan besar, berpacu dengan kendaraan yang lain, menuju ke tempat tujuan.
"Sebenarnya ada apa ya? Aku jadi penasaran" Gumam Cempaka.
"Katanya ada hal yang sangat penting, sebaiknya kita turuti saja
Puspa melambatkan laju motornya. Karena, mereka sudah sampai di depan rumahnya mak Damirah.
Setiap hari sabtu, Puspa pulang setengah hari. Sedangkan Suaminya Puspa pulang seperti biasanya. Yaitu jam empat sore.
"Assalamualaikum mak!" Puspa mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam... Kalian sudah datang. Ayo masuk!" Dengan ramahnya mak Damirah menyambut dan mempersilahkan Puspa dan Cempaka masuk ke dalam rumahnya mak Damirah.
"Ma'af mak, ini ada apa ya? Aku sampai kaget!" Ujar Cempaka, sambil duduk di atas tikar yang sudah tergelar di ruang tamu.
"Begini neng, mak minta neng besok hari neng pura-pura saja pergi dari rumah. Namun, segera kembali dengan tanpa di ketahui oleh orang rumah kalau neng sudah ada di rumah." Mak Damirah menuturkan sesuatu yang membuat Cempaka bingung.
"Apa maksudnya semua ini mak?" Cempaka tak mengerti dengan kata-katanya mak Darminah.
"Semoga saja ini tidak benar. Menurut firasat emak, besok pagi di rumah neng Cempaka akan ada perbincangan yang sangat penting sekali. Mereka berharap neng tidak mengetahuinya. Makanya besok pagi-pagi, neng pura-pura saja berangkat dari rumah. Jangan jauh-jauh, biar situasi rumah bisa neng ketahui.
Lalu, neng segera pulang dan diamlah di dalam kamar. Sehingga seisi rumah menyangka neng tidak ada di rumah." Tutur mak Damirah panjang lebar.
Cempaka masih belum faham, dia terhenyak mendengar semua yang di tuturkan oleh mak Damirah.
" Tapi, itu terserah neng Cempaka saja. Karena ini cuma firasat emak saja. Semoga saja tidak benar. Kalau neng diam di rumah enggak ke mana-mana juga, kelihatannya neng akan ada yang ngajak pergi" Lanjut mak Damirah lagi.
"Memangnya akan ada apa mak?" Cempaka bertanya lagi.
"Akan ada perbincangan tentang
suatu acara, besok atau mungkin malam ini juga neng akan tahu tentang perbincangan itu" Ujar mak Damirah.
"Puspa, kamu ngerti enggak?"
Perkataan mak Damirah masih tetap belum di mengerti oleh Cempaka, hingga Cempaka bertanya kepada Puspa.
"Apalagi aku?" Puspa geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Mak, ayo dong jelaskan yang sebenarnya. Jangan bikin aku kebingungan begini" Cempaka memohon.
"Emh... Neng sudah tahu kan? Bahwa, beberapa bulan ini di keluarga neng ada sesuatu yang mereka rahasiakan dari neng kan?" Akhirnya mak Damirah mengutarakannya juga, walau
tidak dengan jelas.
"Anyelir!... Berarti... Mereka mau
membicarakan tentang rencana pertunangannya Anyelir!" Ujar Cempaka panik. Raut wajahnya Cempaka langsung berubah muram seketika itu juga.
Puspa dan mak Damirah saling tatap. Mak Damirah menganggukkan kepalanya perlahan, menandakan bahwa semua itu benar adanya.
"Ini tidak bisa di biarkan!" Teriak Cempaka kesal.
Cempaka berurai airmata kembali, dia tak sanggup menerima penderitaan yang sebentar lagi akan dia hadapi.
"Lalu, buat apa aku memasang susuk emas, kalau aku keduluan dan di langkahi juga oleh adikku?
Buat apa?... Buat apa?" Cempaka jadi emosi.
Dia menderita kembali, menangisi, meratapi kabar buruk
yang baru saja dia terima, walau
itu baru sebuah firasat, baru dugaan saja.
Tetapi, perihnya sudah sampai ke jantung. Sampai ke ulu hati.
Sembilu nan tipis itu akan mengiris-ngiris kembali hatinya Cempaka, pedih!
Lalu, dia menangis meratapi nasibnya kembali.
Puspa memeluknya erat-erat. Seakan ingin merasakan apa yang tengah di rasakan oleh sahabatnya itu.
Dia biarkan Cempaka melepaskan perasaan yang kini tengah berkecamuk di dalam hatinya.
Dia biarkan Cempaka menangis
dan meratap, untuk sekedar menumpahkan segala rasa yang tengah bergulung di dalam hatinya Cempaka.
Serasa hancur hatinya Cempaka.
Tulang-tulangnya seakan rontok
sehingga tidak bisa menopang lagi tubuhnya.
Akhirnya... Roboh, ambruklah tubuhnya Cempaka.
Dia tak sadarkan diri.
Cempaka yang malang.
"Mak! Ini bagaimana? Rupanya Cempaka tidak sanggup menerima kabar itu!" Bisik Puspa
menatap lekat wajahnya Cempaka.
"Enggak apa-apa, sebentar lagi juga dia akan sadar" Ucap mak Damirah tenang.
Benar saja, setelah di kasih minyak angin di bagian pelipis dan di bawah hidungnya, matanya Cempaka sedikit terbuka, dia kembali siuman.
Puspa segera memberinya air hangat.
Penderitaan dan kesedihan juga
kekecewaan yang datang dengan
bertubi-tubi, membuat Cempaka
limbung dan tak sadarkan diri.
Untungnya kejadian itu tidak berlangsung lama.
__ADS_1