
Mata Yanto terbelalak kaget luar biasa, begitu Indah menanyakan perempuan yang bernama Ranti.
Dia terperanjat kaget, dan tidak berkutik seperti yang mati kutu.
"Kenapa diam? Ayo jawab! Siapa perempuan yang bernama Ranti, yang tadi pagi bersamamu?" Indah bertanya lagi dengan membentaknya.
"Ran, Ranti siapa? Saya tidak tahu, Ranti kakakku?" Yanto pura-pura tidak tahu, dia tidak mengakuinya.
"Tadi pagi aku melihat kamu sama seorang perempuan yang lagi menggendong anak kecil, dan dia di sana bersama kamu! Di teras rumah kamu! Setelah aku tanyakan pada tetanggamu,
katanya dia itu istri dan anakmu, benar kan itu? Ayo jawab!" Bentak Indah lagi.
"Ooh itu, itu kan kakakku dan anak kecil itu, ya anaknya. Kamu juga tahu kan waktu kamu main ke rumahku bersama teman-teman yang lainnya, waktu itu mbak Ranti yang membawakan minuman untuk kalian, pasti kamu masih ingat kan? Itu kakakku, bukan istriku" Yanto mencoba untuk menjelaskan sambil mengelak.
"Kenapa kamu tidak mengakuinya? Biar Cempaka menerima lamaranmu?" Indah terus mencecarnya.
"Kalau dia istriku, buat apa aku melamar Cempaka?" Yanto memberikan alasan.
" Lagipula, ngapain kamu pagi - pagi ke tempat saya? Kamu sengaja ya!" Yanto menuduh Indah.
"Kalau memang iya, aku mencari informasi tentang kamu, mau apa kamu?" Indah balas menantang. Sedikitpun Indah tidak merasa takut berhadapan dengan Yanto.
"Lagipula mencari tahu tentang seseorang yang akan melamar sahabatnya, itu adalah suatu keharusan, biar tidak menyesal nantinya, kita itu harus teliti dalam segala hal, jangan seperti membeli kucing dalam karung. Apalagi ini, untuk rumah tangga, hidup bersama dalam satu atap. Berarti harus benar-benar teliti, benar-benar waspada dan hati-hati" Lanjut Indah lagi.
"Itu namanya memata-matai orang.Tidak sopan, apa maksudnya nyari informasi tentang orang lain?" Tanya Yanto lagi, dia nampak sangat kesal sekali. Karena, Rahasianya sudah di ketahui oleh Indah, sahabatnya Cempaka, perempuan yang tengah jadi incarannya.
"Bukan tidak sopan, tapi waspada! Biar sahabatnya tidak kena tipu, biar tidak terperdaya oleh rayuan cintanya buaya macam kamu ini. Masih nanya saja untuk apa cari informasi tentang orang lain, dasar tidak tahu malu!" Ujar Indah membalas perkataannya Yanto.
Sungguh! Perdebatan yang sengit, antara Indah yang membela sahabatnya, dan Yanto yang ingin mendapatkan cintanya Cempaka, sahabatnya Indah.
Bu Sekar dan pak Jati hanya saling lirik dan tersenyum. Mereka sengaja membiarkan Indah memerangi Yanto dengan perkataan pedasnya.
"Kamu jangan bicara seenaknya ya! Mengatakan saya seperti buaya, mau nipu lah. Kalau mau bicara itu mesti dipikirkan terlebih dahulu, jangan seenaknya" Yanto bicaranya seperti yang benar saja, berlaku menasihati Indah.
"Oh ya? Iya memang benar sekali perkataanmu itu. Jadi jangan seperti kamu! Tidak di pikirkan dulu, sudah punya anak istri, malah nyari lagi perempuan lain. Seharusnya, kamu juga pikirkan dulu sebelum bertindak!" Indah mengembalikan perkataannya Yanto.
Memerah padam mukanya Yanto seketika. Dia termakan ucapannya sendiri.
Yanto menundukkan kepalanya
sepertinya menyembunyikan wajahnya. Dia kena skak! Hingga tidak bisa berkutik lagi.
Mendengar Indah berkata begitu, bu Sekar dan pak Jati saling pandang dan tersenyum. Mereka meras tergugu dengan perkataannya Indah yang sangat mengena kepada lawan debatnya.
Begitu pula dengan Cempaka, yang turut mendengarkan dari ruang tengah.
"Lalu, buat apa kamu mendekati anak saya? Buat apa kamu mau melamar Cempaka?" Bu Sekar ikut memojokkannya dengan sebuah pertanyaan.
"Emh, saya ingin akur, rukun tidak saling emosi, tidak saling menyalahkan satu sama lain" Ujar Yanto mengutarakan keinginannya. Setelah terdiam beberapa sa'at.
"Kamu bicara seperti barusan, itu maksudnya apa? Tidak menyalahkan satu sama lain, akur, rukun. Apa maksud perkataanmu itu?" Pak Jati bertanya karena beliau menangkap sesuatu yang tidak baik dalam perkataannya Yanto.
__ADS_1
"Tidak berniat apa-apa, pak. Saya hanya ingin rukun, akur dan tidak saling menyalahkan satu sama lain, itu saja" Sahut Yanto dengan santai.
" Kalau tidak ada yang salah, mana mungkin di salahkan. Kami semua ini tergolong orang- orang yang berotak waras, tidak mungkin akan menyalahkan orang lain tanpa sebab, tanpa terbukti kesalahannya, iya kan bu, pak?" Sambar Indah sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Apa kamu itu mau menjadikan anakku sebagai istri keduamu? Kamu mau mencoreng wajah kami? Kamu mau mempermalukan keluarga kami?" Tanya pak Jati dengan menahan kesal.
Yanto diam, dia hanya menundukkan kepalanya, sepertinya tengah mencari jawaban yang tepat, untuk pertanyaan dari pak Jati.
"Akur, rukun satu sama lain, perkataan apa itu? Kalau bukan kamu berniat punya istri dua, dan kamu menginginkan keduanya akur, rukun satu sama lain, maksudnya istri pertama dan istri ke dua saling dukung, akur, rukun, begitu maksud kamu?" Pak Jati mengutarakan pendapatnya tentang perkataannya Yanto, dengan begitu kesal.
Yanto semakin menunduk.
"Kalau sudah punya istri, dan juga punya anak, sebaiknya urus saja anak dan istrimu itu" Bu Sekar berujar.
"Tidak bu, saya belum punya istri, apalagi anak" Yanto tetap dengan jawabannya, dia tidak mengakui anak dan istrinya.
"Sekarang, bisa kah saya bertemu dengan neng Cempaka" Yanto malah nekad, keukeuh ingin bertemu dengan Cempaka.
"Sepertinya kamu ini sudah tidak waras! Apa?" Pak Jati mulai terpancing emosinya.
"Mau apa bertemu dengan anak saya? Apa tidak mengerti juga dengan semua yang kami bicarakan dari tadi? Bebal banget kamu ini!" Bu Sekar menimpali dengan nada bicaranya yang nyolot, nampak sekali dia sangat kesal.
"Ma'afkan saya, pak, bu. Bukannya saya tidak waras. Tapi, saya mencintai putri bapak dan ibu, saya mencintai neng Cempaka. Karena itu, saya berniat untuk melamarnya" Yanto makin nekad.
"Aku tidak akan membiarkan sahabatku di madu!" Teriak Indah dengan garangnya. Matanya menatap tajam ke arah Yanto.
"Siapa yang mau menjadikan Cempaka sebagai madu? Lagipula saya tidak bertanya sama kamu, yang cuma sahabatnya itu. Saya ingin menanyakan langsung kepada orangnya" Sahutnya dengan santai.
"Saya yakin kalau Cempaka tidak akan mau menerima lamaran kamu, orang yang sudah punya istri dan punya anak. Sudah sana urusin tuh anak dan istrimu! Jangan pernah kamu sakiti hati seorang istri, bisa susah nyari rezeki!" Ujar bu Sekar setengah menasihatinya.
"Betul yang di katakan oleh istri saya, kita sebagai laki-laki harus bisa menjaga hati seorang isteri, biar lancar cari rezeki!" Ujar pak Jati.
"Lebih baik sekarang kamu pergi dari rumah ini, dan jangan pernah kembali lagi! Apalagi sampai berani melamar Cempaka! " Indah mengusirnya, karena dia sudah merasa kesal dan muak dengan tingkahnya Yanto, yang tak punya etika itu.
"Kamu sebenarnya tidak punya hak untuk bicara, apalagi untuk mengusir saya, karena kamu cuma temannya Cempaka, bukan siapa-siapa nya dia. Berani sekali mengusir saya"
Yanto malah seperti yang menantang.
"Aku memang bukan saudaranya Cempaka, aku hanya sahabatnya. Tapi, aku di sini mewakili keluarganya bu Sekar untuk menghentikan kekonyolan mu, yaitu dengan cara mengusir kamu!" Indah tak mau kalah..
"Benar sekali apa yang di katakan oleh nak Indah, sebaiknya memang sudahi saja semua kekonyolan ini. Percuma, walaupun kamu tetap di sini juga, tanda Cempaka tidak mau menerima lamaranmu sudah terlihat dengan jelas sekali. Dia tidak mau menemuimu, apalagi untuk menerima lamaranmu. Harusnya kamu sudah paham itu, jadi pihak kami tidak perlu susah-susah mengusirmu" Ujar pak Jati, membenarkan apa yang di lakukan oleh Indah.
Yanto diam di tempat, bicara tidak, beranjakpun tidak. Entah apa yang ada di benaknya saat itu, yang jelas dia hanya terdiam membisu seribu bahasa.
"Sepertinya sudah tidak ada yang perlu di bahas lagi, lebih baik kita bubar saja. Masih banyak pekerjaan lain yang mesti kita selesaikan! Masih berharga mengasih makan ayam dan ikan di kolam, daripada ngelantur ke sana- kemari dengan obrolan yang tidak penting sama sekali, sayang waktu dan kesempatan, Assalamualaikum" Pak Jati beranjak meninggalkan ruang tamu dengan tamunya yang bebal dan berkulit muka badak itu.
"Ayo bu! Kita saja yang mundur. Kalau nunggu dia yang mundur, rasanya itu tidak mungkin. karena dia akan terus berusaha walaupun usahanya itu sia-sia" Pak Jati mengajak istrinya untuk pergi meninggalkan ruang tamu. Dan, bu Sekar pun beranjak mengikuti suaminya, menuju ke ruang tengah.
Tinggallah Indah dan Yanto di ruang tamu itu.
Mata Indah melotot kepada Yanto, dan begitu sebaliknya.
__ADS_1
"Apa kamu tidak malu? Tuan rumah sudah pergi meninggalkan kamu, Berarti itu sudah mengusir kamu, karena kedatangan mu itu tidak di harapkan sama sekali di rumah ini. Sekarang mendingan kamu pulang saja, itu lebih baik, daripada diam di sini tidak ada yang menanggapi" Ujar Indah, tetap menyuruh Yanto untuk pergi dari rumahnya bu Sekar.
"Kamu juga kan bukan tuan rumah, kenapa kamu juga belum pergi? Kenapa masih bercokol di sini? Apa kamu juga tidak merasa malu? Di tinggalkan oleh yang punya rumah?" Yanto malah balik mempertanyakan keberadaannya Indah di tempat itu. Dasar! Benar-benar konyol.
"Memang aku bukan tuan rumah di rumah ini, tapi aku tidak seperti kamu yang punya niat jahat terhadap anak dan keluarga di sini. Walaupun aku bukan tuan rumah, tapi aku sudah di beri wewenang untuk mengusir kamu yang kurang ajar, aku sudah menjadi wakilnya tuan rumah yang sudah sangat muak melihat wajahmu, mendengar perkataanmu yang tidak penting itu. Kalau mau pulang, ya sana! Pulang saja segera! Jangan menambah muak dan kesal kami semua!" Indah tak mau kalah bicara oleh Yanto.
"Saya tidak akan pergi, kalau belum bertemu dengan Cempaka" Jawaban Yang keluar dari mulut Yanto, sungguh tidak terduga! Membuat terkejut orang yangnmendengarnya.
" Astagfirullahaladzim, kok! Ada ya orang yang bebal seperti itu. Dasar kulit mukanya tebal seperti kulit badak" Ujar bu Sekar yang mendengarkan dari ruang tengah.
"Untung saja anak kita mengetahui kelakuannya itu dari sekarang. Kalau seandainya tahu nya nanti, setelah mereka bersatu, aduh! Tak bisa membayangkan bagaimana ribetnya kehidupan anak kita" Sahut pak Jati.
"Amit-amit jabang bayi! Audzubillahimindzalik , jangan sampai kami punya menantu seperti itu. Dan, jangan sampai pula anak kami punya suami yang begitu ya Allah" Ujar bu Sekar berteriak dari ruang tamu. Dia sengaja mengeraskan volume suaranya biar terdengar oleh Yanto, orang yang di maksud nya.
"Iya pak, bu, aku sangat bersyukur sudah di perlihatkan oleh Allah SWT siapa dia yang sebenarnya" Sahut Cempaka dengan sangat lega.
"Sekarang bagaimana, bu, pak? Kedengarannya dia begitu keukeuh dengan pendiriannya dan keukeuh dengan kegilaannya itu. Apa aku harus menemui dia, atau bagaimana?" Cempaka meminta pendapat kedua orangtuanya.
"Biarkan dulu saja, nak. Sampai di mana? Bapak ingin tahu. Apakah dia itu masih seorang manusia yang punya harga diri, punya akal sehat, Atau memang dia itu orang yang bebal dan tidak punya rasa malu walau sedikit pun" Ucap pak Jati.
"Jadi, aku diam saja di sini , ya bu, pak, aku juga tidak mau kalau harus bertemu dengannya. Apalagi harus menerima lamarannya. Aku tidak mau disebut perempuan perebut suami orang" Ujar Cempaka.
"Tapi, kalau kamu tidak menemuinya, lalu dia tidak akan beranjak dari rumah kita ini, bagaimana?" Bu Sekar merasa khawatir, tamunya tidak akan pergi.
"Insya Allah dia pasti pergi, bu. Tak mungkin sahabatku diam saja, tak mungkin sahabatku membiarkan orang yang bermuka badak dan tidak punya etika serta sopan santun itu tetap berada di rumah kita ini"
Cempaka berusaha menenangkan ibunya.
"Benar itu kata anak kita, biarkan saja mereka berdua adu argumentasi dulu. Kita dengarkan saja dari sini kelangsungan acaranya" Ujar pak Jati setengah guyon.
"Bapak ini, lagi suasana tegang juga, masih saja bercanda" Bu Sekar tersenyum kecil.
"Mau sampai kapan kamu ngejogrog di sini? Apa urat malu kamu sudah putus semua? Hingga di usirpun terap saja bebal! Bikin kesal saja" Terdengar suara Indah dengan nada kesalnya.
Yanto diam tak menjawab, dia malah menyenderkan punggungnya ke senderan sofa.
Santai sekali nampaknya.
"Astagfirullahaladzim, ya Allah aku harus bagaimana menghadapi orang yang seperti ini? Bikin setres saja" Suara Indah terdengar begitu kesal sekali, sampai-sampai dia menepuk jidatnya sendiri.
"Dasar! Tidak punya malu! Urat malunya sudah putus. Jadi begini ini akhirnya, membuat kesal dan jengkel orang lain" Indah menggerutu.
"Indah, sudahlah nak! Kamu mundur saja, masuk sini! Biarkan saja, jangan terus di ladeni, enggak akan kelar - kelar walaupun sampai lebaran monyet juga. Sudah nak, yang waras mengalah, yang waras mundur saja, biar tidak ketularan enggak warasnya!" Suara bu Sekar begitu lantangnya menyuruh Indah supaya mundur dari perdebatan itu.
"Hah!" Yanto nampak sangat terkejut mendengar bu Sekar berkata seperti itu.
Perkataan yang jelas-jelas di tujukan kepada dirinya.
"Baik bu, aku masuk" Indah beranjak dari tempat duduknya. Kakinya melangkah menuju ke ruang tengah, hendak menghampiri yang punya rumah, yang tengah berkumpul di sana.
"Baiklah saya pulang, sampaikan salam cinta dan sayangku kepada neng Cempaka, Assalamualaikum" Baru saja beberapa langkah Indah berjalan menuju ke ruang tengah, Yanto bangkit dari tempat duduknya, dia berpamitan kepada Indah.
__ADS_1
***