
"Cempaka!" Kenari bergegas menyusul langkahnya Cempaka.
"Kamu harus tanggung jawab!" Kenari menarik tangannya Cempaka.
"Tidak punya perasaan sama sekali, sudah jelas ini semua terjadi karena ulah kamu! Karena kamu dia jadi tertabrak mobil!" Bentak Kenari, suaranya terdengar sampai ke kebun belakang, di mana pak Jati tengah duduk santai di sana.
"Ada apa ini? Suaranya Kenari, lalu siapa yang tertabrak mobil?" Pak Jati bergegas pergi dari kebun belakang mencari datangnya suara.
"Ada apa ini? Siapa yang tertabrak mobil?" Pak Jati bertanya panik.
"Karmin pak, Karmin tertabrak mobil waktu pulang dari sini tempo hari itu" Ujar Kenari dengan wajah yang sedih. Diapun tidak kalah paniknya.
"Karmin tertabrak mobil, di mana? kenapa bisa?" Pak Jati bertanya heran.
"Sepulang dari sini, pak. Dia tidak fokus karena kepikiran Cempaka yang melengos waktu bertemu sama dia" Ujar Kenari mengadu kepada pak Jati dengan harapan pak Jati akan mendukungnya.
"Kenapa mesti di pikirkan? Kalau melengos, pastinya enggak suka. Ya sudah harusnya cari lagi saja yang lain, sama Cempaka juga toh baru sekali ketemu, masa! Bisa langsung kepikiran sampai segitunya" Ujar pak Jati dengan santainya.
Pak Jati tidak langsung percaya pada anak sulungnya itu. Karena, sudah beberapa kali Kenari berupaya untuk memperdayai Cempaka.
"Tidak bisa begitu, pak! Walaupun baru sekali dan sekejap saja bertemu, kalau sudah langsung jatuh cinta, yah tidak bisa di cegah. Jadinya ya seperti itu, tidak fokus! Melamun, hingga akhirnya celaka" Ujar Kenari.
"Ini semua gara-gara Cempaka! Coba kalau dia waktu itu tidak acuh begitu, aku yakin tidak akan terjadi musibah yang menimpa kepada Karmin. Cempaka harus tanggung jawab pak, bagaimana pun caranya" Kenari berkata sewot.
"Menurut kamu, Cempaka harus bagaimana? Itu kan sudah terjadi, tidak bisa di ulang lagi. Itu juga kalau memang terjadi. Kita kan tidak tahu kebenarannya, surat kan bisa saja di bikin-bikin buat narik perhatian" Ujar bu Sekar yang dari tadi diam saja.
"Harus nya kita cek dulu kebenarannya, jangan asal percaya begitu saja, dia kan belum kita kenal dengan baik. Kalau dia ngebohong, bagaimana?" Ujar pak Jati berhati-hati.
"Dia kan temanku, pak. Tidak mungkin aku mengenalkan orang asing yang tidak aku kenal dengan baik kepada adikku sendiri" Kenari meyakinkan kedua orangtuanya.
"Di dalam suratnya dia minta di tengokin ke sana. Kalau menurut aku sih, ya tengokin saja ke sana sambil minta ma'af
toh ini semua kesalahannya dia yang sok cantik itu" Dengan sewot Kenari mengungkapkan pendapatnya.
"Belum tentu itu kesalahan adikmu, jangan suka mengada-ada" Jawab bu Sekar.
"Nah ini yang menjadikan adik aku yang satu ini kelakuannya begitu, seenaknya sama orang lain, tidak mau peduli, tidak mau meminta ma'af, pantesan saja jomblo juga" Ujar Kenari asal ceplos.
"Kenari! Sebaiknya kalau bicara jangan asal ceplos! Kamu bicara seperti itu berarti kamu telah menyalahkan kami. Adikmu itu lambat jodohnya bukan karena keinginannya. Lagipula, kami tidak memihak dia. Kalau memang dia salah, ya mesti bertanggung jawab! Yang kami pertanyakan adalah benar tidak nya kabar itu! Sebelum bertindak kita harus pikirkan terlebih dahulu, kita harus telusuri dulu kebenarannya" Pak Jati merasa tak enak mendengar perkataannya Kenari yang menyalahkan nya.
"Coba mana suratnya! Ibu ingin membacanya sendiri" Bu Sekar meminta surat yang katanya dari Karmin itu.
__ADS_1
Kenari memberikan surat itu kepada ibunya.
"Memang di sini di tuliskan bahwa dia itu mengalami kecelakaan, tertabrak oleh mobil. Tapi, sepertinya tidak parah, buktinya dia bisa menulis surat sepanjang ini" Ujar bu Sekar setelah selesai membaca suratnya.
"Coba lihat amplop nya!" Ujar pak Jati.
"Buat apa amplop nya? Yang penting kan isinya" Kenari tidak langsung memberikan amplopnya.
"Ya, mau lihat saja amplopnya, mau tahu tanggal pengirimannya" Ujar pak Jati, dia sepertinya mulai merasa curiga.
"Buat apa mengetahui tanggal pengirimannya? Bapak tidak percaya sama aku?" Kenari tidak suka.
"Kenapa kamu mesti marah? Kenapa kamu tidak mau memberikan amplopnya? Seperti yang ada apa-apa nya, jangan-jangan..." Pak Jati tidak melanjutkan perkataannya.
"Jangan-jangan apa? Bapak curiga sama aku? Mau berbuat baik juga tetap saja di curigai" Kenari merutuk.
"Kalau tidak mau di curigai, kenapa kamu umpetin amplopnya? Kenapa kamu tidak memberikannya kepada bapak? Seperti ada yang di sembunyikan"
"Terserah bapak sama ibu saja, bagaimana kalian menilai aku"
Ujar Kenari ketus.
Kenari bersikeras tidak memberikan amplopnya. Dia takut ketahuan bohongnya, karena di luar amplopnya tidak ada titimangsa nya, sebagai mana kalau surat itu di kirimkan melalui kantor pos.
"Pokoknya kamu harus tanggung jawab Cempaka! Kamu harus menjenguknya secepatnya! Tengok dia, dan kau harus meminta ma'af sama dia! Jangan sampai kamu menyesal nantinya" Kenari membelot kan arah pembicaraan. Supaya pak Jati dan bu Sekar tidak menanyakan amplopnya lagi.
"Enggak mau, memangnya dia itu siapanya aku? Saudara bukan, baru ketemu beberapa menit saja juga, sudah bikin report, apalagi nanti, kalau sudah kenal lama. Mesti repot-repot menjenguknya ke sana, mending kalau jaraknya dekat, ini Indramayu, Indramayu, perbatasan Jawa barat dan Jawa tengah, tidak cukup uang sedikit untuk ongkos ke sana" Cempaka jadi geram dengan kelakuan kakak sulungnya yang maksa-maksa itu.
"Ya sudah tidak apa-apa tidak menengok ke sana juga, tapi, kalau sampai dia kenapa-napa, jadi cacat misalnya. Apalagi kalau sampai meninggal dunia, jangan salahkan kakak!" Kenari mulai mengeluarkan ancamannya.
"Kenapa kakak jadi sewot begitu? Pakai ngancam segala"
Ujar Cempaka.
"Bukan ngancam, tapi supaya kamu hati - hati dan siap-siap kalau nanti di salahkan oleh keluarganya Karmin" Kenari mengelak.
"Kakak, kalau meninggal itu sudah takdir dari Allah SWT. Ya mungkin sudah jadi takdirnya Karmin begitu, harus meninggal seperti itu jalannya. Seperti aku yang telat jodoh dan kata kakak jomblo ini jalannya kan bukan dari orang lain, tapi dari keluarga sendiri, termasuk kakak" Cempaka mengumpamakan kepada nasibnya sa'at itu.
"Jangan suka mengungkit-ungkit masa lalu! Yang harus di pikirkan dan di hadapi adalah masa sekarang! Kita harus segera pergi ke sana menengok Karmin, keadaannya sangat darurat sekali, sebagai kakak, aku khawatir kamu nanti di salahkan oleh keluarganya" Kenari tetap dengan pendiriannya.
"Aku harus kerja, kak. Harus kuliah demi masa depanku, dan aku tidak punya uang untuk ongkos ke sananya" Cempaka mengutarakan beberapa alasan.
__ADS_1
"Kerja bisa minta cuti dulu, begitu dengan kuliahmu. Masalah ongkos, masa bapak sama ibu akan tinggal diam? Tidak akan memberi atau sekedar meminjamkannya untuk ongkos kita ke sana, untuk berbuat kebaikan kepada sesama" Kenari dengan mudahnya mengatakan hal itu, seakan-akan bu Sekar dan pak Jati akan menyetujuinya.
"Ibu juga tidak ada uang sebanyak itu, masih lama ke waktunya bapakmu gajian. Dari kamu saja Kenari! Kan kamu yang ngajak nya, kamu yang bersikeras ingin pergi ke sana"
Ucapan bu Sekar menohok ulu hatinya Kenari. Namun, bukan Kenari namanya kalau dia tidak bisa membalas ucapannya bu Sekar.
"Aku ke sana itu bukan mau ku. Tapi, merasa kasihan sama adik ku, tidak mungkin kan kalau dia pergi ke sana sendirian? Aku tidak mau kalau Cempaka nanti di salahkan oleh keluarganya"
Kenari berkilah.
"Sekarang kamu segera siap-siap! Nanti sore kita ke sana!" Perintah Kenari.
"Kakak saja sendiri, aku mau nyelesaikan tugasku, mesti kelar besok" Cempaka beranjak dari tempat duduknya hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Kebiasaan! Kalau aku belum selesai bicara itu, selalu saja pergi menghindar" Kenari menarik tangannya Cempaka hingga dia terduduk kembali di tempatnya semula.
"Aku bukan menghindar, tapi bagiku percakapan ini tidaklah penting, masih penting tugas aku yang belum selesai, makanya aku mau masuk ke dalam lamarku, mau menyelesaikan tugas - tugasku biar cepat beres" Cempaka memberikan alasan.
"Aku tidak mau tahu dengan tugas-tugas kamu itu, yang paling penting sekarang juga kamu siap-siap untuk keberangkatan kita nanti sore ke Indramayu menengok Karmin titik!" Ujar Kenari dengan nada suara yang keras.
"Enggak mau, titik!" Sahut Cempaka tak kalah kerasnya.
"Sebenarnya apa sih yang akan kamu rencanakan? Bisa - bisanya memaksa seperti itu. Bagaimana kami sebagai orang tua mau percaya sama kamu? Sedikitpun tidak ada rasa sayang di setiap ucapan mu itu"
Pak Jati mulai curiga.
"Iya benar itu pak. Kalau dia benar-benar sayang sama adiknya sendiri, tidak mungkin dia akan bersikap seperti itu" Timpal bu Sekar.
Kenari terdiam beberapa sa'at.
Mungkin dia tengah mencari jawaban untuk kedua orangtuanya.
"Ya sudah, aku mau pulang dulu! Sekarang tolong pikirkan surat dari Karmin itu! Jangan sampai menyesal di kemudian hari, Assalamualaikum" Kenari berlalu keluar dari rumah orangtuanya, dengan membawa hati dan perasaan yang kesal terhadap adiknya itu. Karena, siasatnya tidak langsung kena sasarannya.
"Waalaikumsalam" Jawab kami semua.
"Aku harus ke Eyang lagi kalau begini, air yang kemarin berarti belum di minum sama si jomblo dan kedua orangtuaku. Bagaimana caranya ya supaya air dari Eyang nanti bisa terminum oleh mereka semua?"
Kenari berpikir sangat keras sambil berjalan menuju ke rumahnya.
***
__ADS_1