Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Merasa terbuang


__ADS_3

Keesokan harinya saudaranya Cempaka berpamitan pulang setelah mereka puas bermain di pantai Eretan.


Tetes air mata berderai di pipinya Cempaka. Dia merasa di buang di tengah orang-orang yang tidak di kenalnya.


Serasa di asing kan bersama pria yang sama sekali tidak dia sukai, mengenalnyapun tidak.


Ingin dia berlari mengejar bus yang telah melaju membawa kakak dan adiknya. Namun, dia tak kuasa untuk melakukan itu semua. Karena, dia sudah terikat oleh ikatan pernikahan yang memaksanya untuk tunduk pada aturan.


Cempaka hanya bisa menangisi nasibnya, meratapi penderitaannya.


"Ayo kita pulang!" Karmin mengajak Cempaka untuk pulang ke rumahnya wak Iyem, setelah Bunga dan saudaranya naik Bus yang akan membawanya kembali ke Bandung.


Cempaka diam mematung menatap Bus yang mulai bergerak meninggalkan mereka berdua menuju ke tempat tujuan.


Tak lama Bus yang di tumpangi oleh kakak dan adiknya itu sudah hilang dari penglihatannya, hilang di telan kelokkan jalan.


"Ayo, dek!" Ajak Karmin lagi sambil berusaha untuk meraih tangannya Cempaka.


Dengan cepat Cempaka menjauhkan tangannya dari tangannya Karmin.


Cempaka melangkahkan kakinya menuju ke arah tukang Ojeg yang sedang berjejer mangkal, tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Ojeg, mbak!" Salah satu tukang Ojeg menawarkan jasanya.


Cempaka menganggukkan kepalanya


Lalu dia segera naik di belakangnya.


"Tahu rumahnya wak Iyem yang di Trisi?" Tanya Cempaka.


"Ooh, mau ke rumahnya wak Iyem?"


"Iya"


Karmin terbelalak matanya melihat Cempaka yang menaiki ojeg tanpa pamit dulu padanya.


Dia lalu menstater motornya dan mengikuti tukang Ojeg yang mengantarkan Cempaka ke rumahnya wak Iyem.


"Dasar perempuan! Susah banget di rayunya! Bikin emosi saja!" Gumamnya sambil memacu kuda besinya dengan cepat, ingin menyusul Cempaka.


"Dek? Kenapa naik ojeg?" Teriaknya setelah motornya dekat dengan motornya tukang Ojeg.


"Min? Kamu kenapa? Emangnya kamu kenal sama mbak ini?" Tanya tukang Ojeg, memperlambat laju kuda besinya.


"Dia Istri saya!" Teriak Karmin mengalahkan derunya suara mesin motor dan juga desiran angin yang bertiup.


"Apa? Kamu jangan bercanda! Kamu kan_"Tukang Ojeg itu tidak bisa melanjutkan perkataannya. Karena, dia keburu motornya di hadang oleh motornya Karmin.


"Dek, pindah ke motor saya!" Cempaka diam tak bergeming, dia tetap duduk di belakang tukang Ojeg. Dia tak peduli sama sekali kepada Karmin, sepertinya khasiat jampi-jampi Eyang gurunya Kenari itu sudah mulai luntur, mungkin karena jauh gitu?


"Mas, jalan!" Perintah Cempaka.


"Ayo dek! Sini pindah!" Karmin memohon.


"Kamunya salah! Jadi mbaknya enggak mau bareng sama kamu! Makanya, sebelum berbuat harus berpikir terlebih dahulu. Jangan asal gabred, ngikutin hawa nafsu!" Ujar tukang Ojeg sambil menekan tuas gasnya, motorpun melaju kembali meninggalkan Karmin yang merasa kesal.


"Cempaka! Cempaka!" Gumamnya kesal.

__ADS_1


Dia menjalankan motornya lagi dengan penuh emosi, lajunya lebih kencang dari sebelumnya.


Ojeg yang di tumpangi oleh Cempaka, dia tinggalkan di belakang.


"Apa betul mbak cantik ini istrinya Karmin?" Tukang Ojeg itu bertanya kepada Cempaka, sepertinya merasa penasaran.


"Di paksa oleh kakak saya" Sahut Cempaka jujur.


"Kakaknya mbak cantik tega banget "


Cempaka diam tak menjawab ucapan nya tukang Ojeg, dia tidak mau membahas kakaknya yang membuatnya jadi sakit hati dan menderita serta kecewa yang berkepanjangan.


"Alhamdulillah... Sudah sampai" Ujar si tukang Ojeg sambil memberhentikan sepeda motornya tepat di halaman rumahnya wak Iyem.


"Alhamdulillah..." Gumam Cempaka, dia segera turun dari motor dan dengan segera pula dia membayar ongkosnya.


"Terimakasih..." Cempaka berlalu meninggalkan tukang Ojeg dan bergegas masuk ke rumahnya wak Iyem.


"Sama-sama mbak" Sahutnya.


Motornya Karmin tidak kelihatan terparkir di halaman rumahnya wak Iyem, entah pergi kemana dia.


"Karmin kemana? Kok! Motornya tidak ada di sini? Kemana dia? Pasti dia keluyuran, dasar ! Sudah adat, apa mbak cantik yang tadi itu benar istrinya Karmin? Kalau benar, apa dia tidak tahu bahwa Karmin itu sudah punya istri. Kenapa dia bisa sampai mau nikah sama Karmin? " tukang Ojeg bergumam sendiri menatap punggung Cempaka yang berlalu menuju ke dalam rumahnya wak Iyem.


"Kasihan sekali dia..." Ujarnya lagi.


Sedangkan Cempaka sudah masuk ke dalam rumahnya wak Iyem, dia langsung menuju ke dapur menemui wak Iyem.


"Assalamualaikum..." Ucap Cempaka.


"Enggak tahu kemana" Cempaka duduk di depan wak Iyem setelah mencium punggung tangannya wak Iyem penuh rasa hormat.


"Saudaranya langsung pulang kembali ke Bandung?" Tanya wak Iyem lagi.


" Iya wak" Cempaka menyahutnya singkat."


" Neng barusan pulang naik ojeg?"


Wak Iyem bertanya kembali dengan hati - hati.


"Iya" Jawaban Cempaka singkat.


"Si Karmin, kelakuannya enggak berubah juga!" Gerutu Wak Iyem kesal.


Cempaka mendengar semua yang di katakan oleh Wak Iyem. Dia tidak mau bertanya kepada wak Iyem, hanya di dalam hatinya timbul beberapa pertanyaan.


"Sepertinya Karmin itu bukan lelaki yang baik"


" Kenapa kak Kenari menjodohkan aku dengan dia? Apa karena dia sudah tahu kalau Karmin itu laki-laki yang tidak baik, dan kak Kenari ingin agar aku menderita lahir dan batin. Tapi, untuk apa? Apa untungnya dia kalau aku sengsara?" Batin Cempaka.


"Uwak?" Cempaka menghampiri perempuan paruh baya itu, lalu duduk di sampingnya.


"Iya neng, kenapa?" Netranya menatap wajah Cempaka penuh kasih.


"Apa orangtuanya Karmin masih ada?" Tanya Cempaka, mata bulatnya menatap balik wak Iyem.


"Tentu saja masih ada" Sahutnya sejujurnya.

__ADS_1


"Kenapa aku tidak di bawa ke rumah orangtuanya Karmin? Kenapa aku tidak di pertemukan dengan mereka? Kenapa malah di bawa ke sini?" Beberapa pertanyaan yang membuat wak Iyem bingung mencari jawabannya.


"Emh, mungkin belum waktunya menurut Karmin. Tapi, nanti juga pasti neng Cempaka di pertemukan dengan mertuanya. Sudah ah! Jangan banyak pikiran, bisa sakit nanti!" Wak Iyem menjawab sekenanya, dengan cepat dia mengalihkan pembicaraan, dengan alasan takut Cempaka sakit.


Jawaban wak Iyem tentu saja tidak membuat hatinya puas. Malah semakin membuatnya penasaran.


"Rumahnya orang tua Karmin di mana?"


"Di sana, di dekat pertigaan Jangga, memangnya neng Cempaka mau ke sana?" Wak Iyem menatap wajah lembutnya Cempaka.


"Apa? Di dekat pertigaan Jangga? Berarti dekat dengan rumahnya mbak Siti" Cempaka terperanjat kaget.


"Neng Cempaka sudah kenal sama Siti kakaknya Karmin?" Wak Iyem ikut kaget mendengar Cempaka menyebut nama Siti dan rumahnya.


"Kemarin kan mbak Siti ikut ke Bandung jemput aku, semalam dia sekeluarga minta turun di dekat pertigaan Jangga itu. Kalau tidak salah namanya desa ci logog, iya desa ci logog uwak" Matanya Cempaka berbinar.


" Ooh, iya, uwak baru ingat. Memang Siti kan ikut ke sana. Uwak juga di ajak, tapi uwak enggak mau takut mabuk kendaraan, nanti malah jadi ngeribetin yang lain he..." Wak Iyem terkekeh setengah di paksakan. Kesannya ingin menghentikan Cempaka yang ingin tahu tentang kedua orangtuanya Karmin.


"Padahal kemarin uwak ikut ke sana, supaya kenal sama kedua orang tuaku"


"Kapan-kapan saja ya cantik, uwak juga ingin kenal sama seluruh keluargamu"


"Iya uwak terimakasih uwak sudah mau menampung aku di sini. Semestinya kan aku di tampung di rumahnya ibu mertua, bukan di sini"


"Sama saja neng, uwak juga kan orangtuanya Karmin juga, uwak itu kakak ibunya Karmin. Lagipula, uwak kan gak punya anak, mungkin itu maksud Karmin membawamu ke mari"


"Tapi, anehnya kenapa aku tidak di kenalkan sama kedua orangtuanya? Itu yang bikin aku heran dan tak mengerti, seperti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Karmin"


"Sudah ah jangan membahas hal itu lagi! Mendingan kita ke kebun belakang yu! Kita makan di saung sambil menikmati pemandangan, neng Cempaka belum tahu kan bagaimana indahnya pemandangan di belakang rumah uwak?" Uwak Iyem menggamit lengannya Cempaka.


Cempaka tak menyahut, tapi dia mengikuti langkahnya wak Iyem menuju ke belakang rumahnya.


Benar saja, pemandangan yang begitu indah lukisan sang Maha Pencipta terbentang di sana.


Setelah kebun ubi milik wak Iyem, di sambung dengan hamparan sawah yang hijau berbatasan dengan sebuah bukit nan cantik.


Angin yang bertiup semilir begitu lembut terasa menerpa kulit mulusnya Cempaka.


"Wooow! Indah sekali! MasyaAllah, ciptaan Tuhan memang luar biasa." Cempaka berseru memuji ke agungan Allah SWT.


Sementara itu wak Iyem membawa makanan ke saung yang ada di samping kebun ubi miliknya, tanpa sepengetahuannya Cempaka yang tengah mengagumi keindahan alam yang terbentang di depan matanya.


Wak Iyem duduk di saung itu sambil menatap Cempaka yang tengah menikmati keindahan alam raya, yang terbentang di hadapannya.


"Sepertinya dia sudah mulai melupakan kesedihannya, kasihan sekali nasibmu nak!"


Gumam wak Iyem.


"Besok atau lusa kau pasti akan mengetahui segalanya tentang Karmin, semoga hatimu tabah dan jiwa ragamu kuat menerima semua cobaan ini" Gumamnya lagi, netranya tak lepas menatap punggungnya Cempaka.


Untuk sementara waktu Cempaka bisa melupakan semua penderitaan yang dia alami dengan menatap keindahan alam lukisan Agung sang Maha Pencipta.


Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, kepedihan dan penderitaan itu masih bertahta dan siap menggerogoti jiwa dan sanubarinya, terpendam dalam lubuk hatinya yang tak akan lama lagi akan muncul ke permukaan, siap memporak-porandakan kehidupan Cempaka ke depannya.


Sungguh tragis memang kenyataan hidup yang di alami oleh Cempaka, gadis cantik sang kembang desa.


***

__ADS_1


__ADS_2