
Kejadian waktu Amran di hadang oleh seorang perempuan, di gang yang menuju ke rumahnya Cempaka tadi pagi , tidak di ketahui oleh Cempaka.
Amran juga enggan untuk mengabarkannya kepada Cempaka. Karena dia menjadi ragu setelah mendengar kabar tentang Cempaka, walaupun belum pasti benar atau tidaknya. Dia malah langsung pulang kembali, setelah mendengar penuturan dari perempuan itu.
Antara percaya dan tidak, Amran berlalu meninggalkan tempat itu. Dia tidak pulang ke rumah orangtuanya. Tapi, ke rumah orangtuanya Sakti, yaitu bibinya. Dia sangat penasaran dengan semua kabar yang di terimanya tadi.
"Kenapa bibi mau menjodohkan aku dengan perempuan yang sudah bertunangan, malahan sebentar lagi dia mau menikah.
Apa sebenarnya maksud bibi dengan semua ini?" Berbagai pertanyaan bergulung jadi satu di dalam benaknya.
"Kalau bibi sengaja menjodohkan aku dengan perempuan yang sebentar lagi mau menikah, itu rasanya tidak mungkin. Tapi, ibu - ibu itu bicaranya begitu ngotot sekali, seakan perkataannya itu benar, dan katanya Cempaka mau menikah dengan adiknya" Gumamnya, dia jadi gundah.
"Pokoknya, aku harus menemui bibi sekarang juga! Aku ingin tahu siapa Cempaka yang sebenarnya" Gumamnya lagi.
Amran sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan bibinya.
"Assalamualaikum, bi, bibi" Amran mengucapkan salam sambil memanggil bibinya, setibanya di depan rumah bibinya itu.
"Waalaikumsalam, ada apa Amran? Teriak - teriak begitu. Kok! Sudah pulang lagi? Jadi enggak ke rumah Cempaka!nya? Bagaimana, ada enggak Cempaka nya?" Ibunya Sakti menyambut Amran dengan beberapa pertanyaan.
"Bibi, bibi, bagaimana sih? Apa bibi sengaja mau mempermalukan aku di hadapan orang lain? Aku enggak jadi ke rumahnya Cempaka, aku enggak ketemu dengannya!" Amran menjawab kesal.
" Mempermalukan bagaimana?"
"Dia kan sudah tunangan! Sebentar lagi dia mau menikah. Kenapa bibi mau menjodohkannya dengan aku? Tadi aku bertemu dengan calon kakak iparnya Cempaka" Amran berujar ketus.
" Bagaimana ini? Coba katakan yang sejelas-jelasnya! Jangan grasak-grusuk begitu, bibi kan enggak ngerti"
"Coba, tarik nafas dulu! Nih, minum dulu! Biar agak tenang bicaranya!"
" Huuuh, begini bibi, tadi aku kan hendak ke rumahnya Cempaka, tepat di gang yang mau ke rumahnya Cempaka, tiba - tiba ada seorang ibu-ibu yang menghadang aku, dia bertanya mau kemana? Ya aku jawab mau ke rumahnya Cempaka. Dan, ibu - ibu itu langsung marah" Amran menuturkan setelah dia menarik nafasnya terlebih dahulu.
"Cempaka itu sudah tunangan dengan adik saya, malahan sebentar lagi dia mau menikah. Dasar! Perempuan enggak bener! Sudah tunangan, sudah mau nikah, masih saja mencari laki-laki lain! Saya juga sudah kesal dengan kelakuannya si Cempaka itu! Tapi, entah kenapa dan entah di apakan adik saya itu tetap mau menikahinya" Lanjut Amran.
"Apa? Dia mau menikah? Itu kata siapa? Itu bohong! Fitnah itu! Kamu jangan asal percaya!" Terkejut ibunya Sakti mendengar penuturan dari keponakadnnya itu.
"Iya bi, tadi ibu -ibu yang berambut pendek, dan- danannya menor bi, yang mengatakannya. Dia mengaku kalau dia itu calon kakak iparnya" Sahut Amran lagi.
"Jangan langsung percaya begitu saja dengan omongan orang yang belum kita kenal. Baiknya, kita telusuri dulu kebenarannya!"
"Tapi bi, dia itu sangat serius sekali mengatakannya, dia begitu marah waktu aku mengatakan bahwa aku ini temannya. Bikin aku ragu waktu mau melanjutkan langkahku ke rumahnya Cempaka. Dia malah bilang, itu terserah mas saja, mau percaya atau tidak. Bukan saya yang rugi! Gitu katanya bi"
Amran nampak ragu.
"Siapa ya? Ibu - ibu menor berambut pendek" Gumam bibinya Amran penuh tanda tanya.
"Bibi yang sering ke rumahnya Cempaka, enggak tahu. Apalagi aku bi, yang baru tadi ke sana. Aku jadi ragu" Amran menatap wajah bibinya.
"Setahu bibi, dulu, beberapa tahun yang lalu, sebelum Bunga menikah, Bibi pernah dengar bahwa Cempaka mau di lamar sama tetangganya, seorang polisi. Tapi, enggak jadi karena, Bunga belum punya suami. Dan Bunga mengamuk enggak rela kalau Cempaka ada yang melamar duluan. Sejak saat itu, Cempaka jadi banyak diamnya, tidak seperti dulu" Ujar bibinya Amran, mengingat - ingat.
"Sampai sekarang, bibi belum pernah mendengar kalau Cempaka sudah tunangan, dan mau menikah sebentar lagi" Ibunya Sakti mengerutkan keningnya.
"Coba bibi tanyakan kepada kak Bunga, benar apa enggak kabar dari ibu - ibu tadi itu! Aku jadi penasaran" Amran mendesak bibinya.
"Tentu saja akan bibi cari informasi nya, kepada Bunga atau kepada Cempaka nya sekalian. Bibi juga merasa penasaran dengan ibu - ibu yang berani mengatakan begitu tentang Cempaka"
"Kalau dulu, itu benar adanya. Tapi, kalau sekarang ini, bibi ragu"
"Bukan dulu, bi. Tapi, katanya dua bulan atau sebulan lagi Cempaka mau menikah dengan adiknya. Cempaka itu perempuan enggak bener, katanya" Ujar Amran lagi.
"Bikin penasaran saja itu orang!
__ADS_1
Apa maksudnya menghadang Amran, dan mengatakan hal yang enggak - enggak lagi tentang Cempaka. Setahu bibi, Cempaka itu anaknya baik, cantik, rajin ibadah dan ramah lagi. Di antara anak-anak bu Sekar, hanya dia yang paling rajin membantu ibunya untuk membersihkan rumah dan sekitarnya. Bibi tidak yakin kalau dia berkelakuan begitu" Ibunya Sakti geleng-geleng kepala tak mengerti.
"Sekarang kak Bunga nya ada enggak bi?" Amran sepertinya tidak sabar di buatnya.
"Bunga lagi kerja, nanti siang baru dia pulang. Dan, nanti siang kita baru bisa menanyakan kebenarannya tentang kabar dari perempuan itu. Berarti, kita harus menunggunya dengan lumayan lama untuk mendapatkan kebenarannya, bibi merasa tidak sabar menunggunya" Ujarnya resah.
"Lalu?" Amran pun bertanya kelanjutannya.
"Emh, bagaimana kalau kita langsung saja menemui besannya bibi? Dia kan ibunya Cempaka! Bibi yakin, pasti beliau tahu segalanya. Kalau bertunangan, dan rencana mau menikah, pasti orangtuanya ikut serta di dalam acara itu. Pasti bu Sekar dan pak Jati tahu semuanya. Iya benar! Sekarang kita ke rumahnya bu Sekar saja! Ayo! Tunggu apa lagi?" Bibinya Amran merasa senang, karena sudah menemukan solusinya.
"Ok! Siap bibiku yang baik! Solusi yang sangat - sangat baik sekali! Aku suka itu!" Amran merasa bahagia mendengar perkataan bibinya itu, saking bahagianya dia sampai memeluk bibinya.
"Amran! Apa - apaan ini? Aduh, Amran, Amran!" Ibunya Sakti tersenyum penuh bahagia melihat keponakannya bahagia.
"Ayo! Kita berangkat sekarang! Biar kita segera mengetahui kebenarannya" Bibi bangkit dari tempat duduknya, dia segera bersiap-siap.
Amran pun segera mengikuti bibinya itu, untuk berangkat ke rumahnya bu Sekar.
Mereka bergegas, seperti takut terlambat.
Tidak berapa lama, mereka sudah sampai di depan rumahnya bu Sekar.
"Assalamualaikum" Ibunya Sakti mengucapkan salam kepada yang punya rumah.
"Waalaikumsalam, tunggu sebentar" Bu Sekar segera bergegas menuju ke ruang tamu, untuk membukakan pintu.
"Rupanya besan yang datang, ayo silahkan masuk! Dan, silahkan duduk!" Bu Sekar segera mempersilahkan tamunya untuk masuk ke ruang tamu.
"Terimakasih besan" Mertuanya Bunga pun kemudian masuk dan langsung duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
"Kenalkan besan, ini Amran, keponakan saya" Besannya bu Sekar mengenalkan Amran, keponakannya kepada bu Sekar.
"Saya Amran, bu" Ujar Amran sambil menangkup kan kedua belah tangannya di depan dadanya, lalu kemudian di ulurkan nya perlahan ke depan, ke arah bu Sekar.
"Nak Amran, rumahnya di mana?" Tanya bu Sekar.
"Dekat dengan bibi" Sahutnya.
"Oh, ya? Di sebelah mana? Kok! Beberapa kali ibu ke sana, enggak pernah bertemu" Bu Sekar basa - basi.
"Beda RT bu, tapi masih satu kampung" Sahut Amran, sopan.
"Ooh, emh, sebentar ya! Saya ke belakang dulu, ya besan" Bu Sekar segera beranjak menuju ke dapur, hendak mengambil air untuk tamunya.
"Bibi, cepat dong tanyakan tentang berita itu! Benar atau enggak?" Amran tak sabar.
"Iya sebentar, masa tidak basa - basi dulu. Enggak sopan kalau kita langsung menanyakan tentang Cempaka"
"Ini besan, silahkan di minum airnya! Di cicipi makanannya" Bu Sekar sudah kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan di tangannya.
"Aduh besan, jadi merepotkan"
"Enggak bu, enggak merepotkan" Sahut bu Sekar.
" Besan, ini ma'af sebelumnya. Saya mau menanyakan tentang neng Cempaka" Ujar mertuanya Bunga dengan hati - hati.
"Memangnya, Cempaka kenapa besan? Ada apa dengan dia?" Bu Sekar terkejut mendengar besannya menanyakan tentang anaknya itu.
"Eng, enggak apa-apa besan. Emh, saya dengar bahwa neng Cempaka sudah tunangan, dan katanya mau nikah sebentar lagi. Apa betul itu? Kalau betul, dia mau menikah dengan orang mana? Dan, kapan? Kok! Saya tidak di kasih kabar" Ibunya Sakti bertanya sungkan.
"Ooh, itu yang ingin besan ketahui tentang anak saya. Tadi saya sempat kaget, saya kira apa?" Bu Sekar nampak lega.
__ADS_1
""Iya besan, bukan apa-apa"
"Emh, begini besan, kata siapa Cempaka sudah tunangan dan mau menikah sebentar lagi?" Bu Sekar balik bertanya.
"Emh, dua minggu yang lalu saya mengenalkan keponakan saya kepada neng Cempaka. Dan, tadi, Amran hendak ke sini, hendak bertemu dengan neng Cempaka. Tapi, di belokan depan gang itu, Amran di hadang oleh seorang ibu-ibu, dan dia mengaku bahwa dia itu calon kakak iparnya Cempaka. Sebentar lagi Cempaka mau menikah dengan adiknya dia. Apa benar itu besan?"
"Siapa calon kakak iparnya? Siapa yang mengatakan itu?" Bu Sekar bertanya lagi penasaran.
"Besan, makanya saya datang ke sini menemui besan juga, karena merasa penasaran dengan kabar itu, apa benar atau tidak? Apalagi kata Amran, perempuan itu mengatakan kalau Cempaka itu perempuan enggak bener. Sudah mau nikah, masih saja nyari laki-laki lain. Bahkan katanya, adiknya itu enggak tahu di gimanain, tetap saja mau nikah dengannya"
"Astagfirullahaladzim, kok! Ada orang yang tega berkata begitu sama anak saya. Itu bohong besan, itu tidak benar! Itu fitnah! Alhamdulillah, kelakuan anak saya tidak seperti itu. Siapa ya ibu-ibu yang berkata bohong itu? Dan, apa maksudnya?" Ujar bu Sekar sambil memejamkan matanya, menahan kekesalan di dalam hatinya.
Dia berkata perlahan, supaya tidak terdengar oleh pak Jati. Yang baru saja sembuh dari strok nya. Itupun belum sembuh sepenuhnya.
"Saya juga tidak percaya, besan! Makanya saya sama keponakan saya, langsung ke sini menemui besan. Kami ingin tahu kebenarannya"
"Apa Cempaka nya ada bu?" Tanya Amran.
" Enggak ada, Dia lagi kerja" Sahut bu Sekar.
"Dulu memang pernah mau tunangan. Tapi, besan juga pasti tahu semuanya kan? Bagaimana ngamuknya Bunga, hingga Cempaka merelakan untuk membatalkan acara pertunangannya, hanya karena Bunga belum menikah. Kelihatannya sejak sa'at itu Cempaka seperti yang trauma" Lanjut bu Sekar.
"Demi kak Bunga, Cempaka rela membatalkan acara tunangannya? Padahal kan, cuma tunangan! Kenapa kak Bunga sampai ngamuk mau bunuh diri segala, kenapa?" Seru Amran emosi.
"Ibu juga tidak tahu nak Amran. Tapi, entah apa yang ada di pikiran Bunga waktu itu" Ujar bu Sekar.
"Emh, apa nak Amran masih ingat, seperti apa orangnya?" Bu Sekar mencoba mencari tahu tentang perempuan yang telah menghadang Amran tadi pagi.
"Iya bu, saya masih ingat bu. Rambutnya pendek, orangnya agak tinggi, dandanannya menor. Dia bertemu dengan saya di gang depan bu" Ungkap Amran dengan semangat.
"Rambutnya pendek, menor, emh, dari mana datangnya perempuan itu?" Tanya bu Sekar lagi, menyelidik.
"Dari gang ini bu, dari gang depan situ!"
"Sebentar, sebentar, apakah dia gitu? Atau, tapi enggak mungkin, enggak mungkin. Buat apa dia berbuat begitu? Buat apa?" Gumam bu Sekar dengan dahi yang mengkerut, berfikir.
"Siapa besan? Apa, besan tahu orangnya? Apa dia orang kampung ini juga?" Bibinya Amran bertanya antusias, dia ingin segera mengetahuinya.
"Enggak, saya cuma menerka saja. Tapi, kalau memang dia, buat apa dan apa untungnya?"
"Kalau boleh tahu, siapa dia bu, yang ada di benak ibu itu?" Giliran Amran yang bertanya. Dia juga tak kalah penasaran.
"Kalau seandainya sekarang atau besok-besok ketemu lagi, apa nak Amran masih ingat dengan orangnya?" Tanya bu Sekar.
"InsyaAllah saya ingat bu, waktu itu kami berbincang cukup lama. Karena, dia begitu gigihnya meyakinkan saya. Supaya saya percaya dengan semua perkataannya" Amran semangat menuturkan nya.
Bu Sekar dan Besannya nampak manggut-manggut mendengar pernyataan Amran. Keduanya saling tatap, sepertinya ada sesuatu yang terbayang di benaknya.
"Assalamualaikum, bu!" Tiba-tiba, ada suara seseorang yang mengucapkan salam dari pintu samping rumahnya bu Sekar. Suara seorang perempuan.
"Waalaikumsalam, masuk saja!"
Sahut bu Sekar, dia berseru dari ruang tamu. Karena, kebetulan sa'at itu yang di rumah hanya dia dan suaminya. Dan, dia tahu bahwa yang datang itu adalah anak sulungnya, yaitu Kenari.
"Iya bu, aku masuk" Sahutnya sambil membuka pintu samping, dan diapun masuk ke dalam rumah.
"Ooh, lagi ada tamu rupanya. Eeh, ada ibu. Apa kabar bu? Sudah lama?" Kenari menyapanya sambil mengulurkan tangannya kepada mertuanya Bunga, untuk bersalaman.
Bersamaan dengan itu, Arman menatap wajahnya Kenari. Dia masih ingat bahwa wajah itu yang tadi menghadangnya di gang depan.
"Ibu? Ibu, kan yang tadi pagi menghadang saya di gang depan?" Seru Amran spontan.
__ADS_1
Kenari menatap wajahnya Amran. Dia nampak terkejut waktu matanya saling bersirobok dengan matanya Amran.
*****