
Sudah tiga hari Cempaka mengurung diri di dalam kamarnya. Dia tak mau makan sejak kejadian tempo hari itu.
Dia sudah tidak berangkat ke sekolah lagi untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang guru honorer di sekolah itu.
Para guru menanyakan keadaan Cempaka kepada pak Jati, bapaknya.
"Neng Cempaka tidak masuk pak...?"Tanya salah seorang guru.
"Emh... Dia sedang tidak enak badan, bu" Apa boleh buat, pak Jati menjawabnya dengan berbohong. Karena tak mungkin dia mengatakan hal yang sebenarnya.
"Oooh... Semoga saja segera sembuh ya pak"Ucap bu guru itu mendo'akannya.
"Amiin" Sahut pak Jati.
Sejak Cempaka mengurung diri di dalam kamarnya, halaman yang tadinya selalu bersih dan segar karena selalu di pelihara.
Kini nampak kotor berdebu, daun kering berserakan dimana-mana.
Cempaka sudah tidak peduli lagi dengan semua itu. Hatinya terlalu sakit dan kecewa dengan keputusan ibunya.
"Kilat, coba bantuin ibu nak! Tolong di sapu halamannya"ujar bu Sekar di suatu sore.
"Ibu sih, coba kalau ibu terima lamarannya kak Samudera, pasti kak Cempaka tidak akan ngurung diri di kamarnya"Kilat menyalahkan ibunya.
"Iya, kenapa ibu sama bapak tidak suka pada kak Samudera...?"Seruni ikut nimbrung.
"Sudah!... Sudah!... Jangan berdebat masalah itu lagi. Sekarang coba siapa yang bisa mengobati kakakmu itu...? Biar bisa ceria lagi seperti dulu. Sudah empat hari dia tidak mau makan, Ibu khawatir"bu Sekar berkata memelas.
"Yang bisa mengobati kak Cempaka hanyalah kak Samudera bu, kita ke rumahnya saja Bu!" Anyelir berkata sekenanya.
Tapi memang benar kata Anyelir,
obat yang ampuh untuk Cempaka hanyalah Samudera.
Tapi, apa boleh buat...? keadaan yang memaksa.
"Emh... Sudah lah, ibu mau coba membujuk kakakmu lagi, ibu merasa khawatir takut dia sakit. Sudah empat hari dia tidak mau makan" bu Sekar segera bergegas menuju ke kamarnya Cempaka.
Sedangkan Kilat dan Anyelir, menuju ke halaman rumahnya mau menyapu halaman yang sudah empat hari di tinggalkan Cempaka. Mereka berdua kini yang akan menggantikannya.
"Tok!... Tok!... Nak!... Tolong bukain pintunya nak. Jangan bikin ibu dan bapakmu khawatir nak!..."bu Sekar meminta supaya Cempaka membukakan pintu kamarnya.
Cempaka yang tengah duduk merenung di dalam kamarnya, terperangah mendengar suara ibunya di balik pintu sana.
Dia tidak menjawab panggilan ibunya apalagi membukakan pintu kamarnya. Hanya airmatanya yang mewakili isi hatinya, dia hanya menangis terisak.
Wajah Samudera yang Kecewa dengan jawaban dari ibunya, terus terbayang di kelopak matanya. Membuat Cempaka tak bisa menghalau rasa sedihnya.
"Cempaka!... Keluar nak!... Makan dulu nak!"bu Sekar mengulangi kata-kata itu. Dia mengharap agar Cempaka keluar dari dalam kamarnya, lalu makan
seperti biasanya.
__ADS_1
"Cempaka belum mau keluar juga, bu...?" pak Jati menghampiri Isterinya yang tengah berusaha membujuk Cempaka.
"Belum pak, ibu sangat khawatir. Takut dia sakit pak... Hiks! Ibu merasa menyesal pak, coba kemarin itu Samudera jangan kita tolak ya pak"bu Sekar menangis karena dia merasa menyesal.
"Iya tapi, bagaimana dengan bu Seroja...? Kita kan enggak mau hubungan kita dengan keluarganya hancur...?"Ujar pak Jati.
Dari dalam kamarnya Cempaka mendengarkan semua perkataan kedua Orangtuanya. Dengan airmata yang terus menetes membasahi kedua pipinya.
Semakin hari semakin terasa pedihnya hati Cempaka. Luka yang di dadanya terasa semakin menganga.
"Bagaimana pak!... Anak kita ini, aku takut dia sakit"ujar bu Sekar.
"Apa...? Bapak dobrak saja gitu pintunya...?"ujar pak Jati sambil bersiap-siap hendak mendobrak pintu kamarnya Cempaka.
"Jangan pak!"bu Sekar mencegahnya, dia tidak mau suaminya mendobrak pintu kamar anaknya.
Begitulah dari hari ke hari Cempaka tidak mau keluar dari kamarnya. Sekalinya keluar, dia lakukan kalau waktu shalat tiba.
Karena tidak ada asupan makanan ke dalam tubuhnya. Makin hari daya tahan tubuhnya makin lemah saja. Hingga suatu hari, Cempaka pingsan di depan pintu kamarnya.
Sa'at itu Cempaka baru saja selesai wudhu mau melaksanakan shalat tahajud.
Hingga dua jam dia tidak sadarkan diri.
Sa'at jarum jam menunjuk ke angka empat lebih dua puluh menit, Bunga keluar dari kamarnya. Dia mau ke kamar mandi.
Begitu kagetnya dia sa'at melihat
"Cempaka!... Cempaka!... Kenapa kamu tidur di sini...?"Bunga segera berjongkok di dekat tubuhnya Cempaka. Dia raba dahi adiknya itu.
"Haah...?! Panas sekali badannya, dia sepertinya tidak sadarkan diri. Ibuuuu! Ibuuuu! Ibuuuu! Cempaka buuuu!..." Bunga berteriak histeris.
Teriakkan Bunga di pagi buta itu membangunkan seluruh penghuni rumah. Semuanya pada keluar dari dalam kamarnya masing-masing.
"Ada apa Bunga...? Cempaka kenapa...?"bu Sekar berteriak sambil berlari menghampiri Bunga yang tengah teriak-teriak.
"Cempaka pingsan bu!"teriak Bunga.
"Ayo kita baringkan dulu, coba ambilkan minyak angin bu!"pak Jati segera menggendong Cempaka, lalu di baringkan di atas kasur.
Hidung dan dahinya Cempaka di olesi minyak angin, begitu pula dengan telapak kakinya yang terasa dingin.
"Aduuh! Cempaka kamu ini kenapa nak...? Jangan bikin ibu khawatir naaak!" ucap bu Sekar sambil memijit-mijit kaki anaknya.
*
Bukan hanya Cempaka yang merasa putus asa, patah hati, dan kecewa. Tapi, ada satu hati lagi yang tak kalah kecewanya.
Tak kalah sakit hatinya, yaitu Samudera.
Sepulangnya dari rumah Cempaka, dia jadi uring-uringan sendiri. Pikirannya galau, gundah gulana. Dia tidak menceritakan
__ADS_1
kekecewaannya, dia berusaha menenangkan hati dan pikirannya sendiri. Dia takut ibunya akan sakit hati juga.
Sejak dia merasa kecewa dan sakit hati, dia seperti Cempaka diam di kamar mengurung diri.
Ini membuat ibunya heran, dia tidak mengerti dengan tingkah anaknya itu.
"Sam! Kamu kan sudah selesai mengikuti pendidikan, kapan mulai dinas?"tanya ibunya sambil menatap wajah anaknya yang nampak murung itu.
"Minggu depan bu, aku di kasih libur selama beberapa hari ini"sahutnya pelan.
"Ooh! Kalau boleh ibu tahu, ada apa sama kamu...? Sepertinya lagi ada masalah. Ada apa Sam...?" bu Sekar merasa penasaran.
"Mungkin karena kecapean saja bu, aku perlu istirahat, biar badanku pulih kembali" jawab Samudera.
"Kalau begitu kamu makan yang banyak, dan istirahat yang cukup ya nak ya" ucap ibunya Samudera, dia tidak curiga apa-apa kepada anaknya itu.
Sementara itu Cempaka sudah tersadar dari pingsannya.
"Kamu demam nak! Karena kamu
sudah beberapa hari tidak mau makan" bu Sekar mengingatkan anaknya.
Cempaka diam saja, dia malas ngapa-ngapain.
"Ini bu makanannya!"Bunga menyodorkan sepiring nasi dengan lauk kesukaannya Cempaka.
"Ayo dek! Kamu makan dulu biar tidak sakit, jangan biarkan perutmu kosong!"ucap Bunga menasihati adiknya.
"Kamu jangan sakit dek! sebentar lagi keluarga kak Sakti mau pada kesini. Katanya mau menentukan tanggal pernikahan kami. Kalau kakak sudah menikah, siapa tahu Buana menepati janjinya kepadamu" Bunga mengabarkan berita baik.
"Benarkah itu, Bunga...?" bu Sekar sepertinya belum yakin.
"Benar bu, besok sabtu sore mereka mau berkunjung ke mari"
ucap Bunga lagi sambil tersenyum bahagia.
"Berarti, dua hari lagi dari sekarang...?" bu Sekar terperanjat kaget dan bahagia, karena dengan demikian berarti
dia jadi besanan dengan bu Seroja.
"Iya nak, ayo makan dulu! Masa, kakakmu menikah, kamu malah sakit. Makan ya, satu suap saja"
bu Sekar merayu Cempaka biar dia mau makan.
"Nanti aku makan sendiri, bu! Sekarang aku ingin ke kamar mandi dulu. Aku belum shalat subuh." Cempaka turun dari tempat tidurnya.
"Astaghfirulahaladziiim... Oia, ibu jadi lupa karena panik melihat kamu tidak sadarkan diri tadi" bu Sekar terperanjat kaget karena dia juga belum shalat subuh.
Merekapun lalu shalat berjamaah
dengan khusunya.
__ADS_1