
"Pak! Pak! Pak! Cepat kesini pak!" Bu Sekar berteriak memanggil suaminya setelah mengetahui bahwa kotak perhiasan dan yang dia simpan di bawah kasurnya hilang, raib entah kemana.
Sontak saja seisi rumah merasa kaget di buatnya.
Kala itu baru dua hari setelah pernikahan dadakannya Cempaka berlangsung.
Bunga dan Anyelir masih belum kembali ke rumahnya. Katanya tanggung, besok saja di hari minggu mereka akan pulang bareng.
"Ada apa bu?" Cempaka yang kamarnya paling dekat, segera berhambur menemui ibunya.
"Ibu! Kenapa ibu, kak?" Anyelir segera bergegas menghampiri ibunya sambil menarik tangan suaminya.
Begitu juga dengan Bunga yang tengah menyuapi anaknya, merasa kaget mendengar teriakkan ibunya.
Sedangkan pak Jati yang tengah berada di kandang ayamnya, belum mendengarnya.
"Pak! Ibu berteriak di kamarnya pak!" Kilat mengabarkannya.
"Kenapa?" Pak Jati bertanya panik. Dia segera menyimpan makanan ternaknya.
"Ibu kenapa ya, pak?" Sakti yang berada bersama pak Jati juga merasa heran.
"Ayo kita temui ibu!" Dengan tergopoh-gopoh pak Jati berlari di pegangi tangannya oleh Sakti, menantunya.
Kilat sudah berlari duluan meninggalkan bapaknya dan juga Sakti, kakak iparnya.
"Ada apa, bu?" Pak Jati segera menyeruak ke dalam kamarnya bu Sekar. Dia sangat terkejut setelah melihat istrinya tengah duduk di lantai, di samping tempat tidurnya sambil menangis.
Di tangannya tergenggam sebuah kotak besar yang terbuat dari kain, dan juga sebuah dompet.
"Ada apa, bu?" Pak Jati segera duduk di sampingnya.
Bu Sekar memberikan kotak yang isinya sudah hilang separo sebagai jawabannya.
"Apa ini?" Pak Jati belum mengerti maksudnya.
"Kotak perhiasan nya yang berisi cincin dan gelang, hilang pak" Ujar Cempaka mewakili ibunya.
"Dan uangnya juga hilang tujuh ratus ribu, pak" Ujar Anyelir.
"Hilang? Kenapa bisa hilang? Bukankah selama ini kita aman-aman saja menyimpan perhiasan dan uang di sana?"
Pak Jati merasa tidak yakin."
"Iya, pak!" Kata bu Sekar lirih.
Dadanya merasa sesak karena kejadian yang bertubi-tubi secara terus menerus menimpa keluarganya.
Pak Jati segera memeriksa kotak yang di pegangi oleh istrinya itu. Dan juga memeriksa dompetnya.
Benar.saja! Setelah diperiksa, barang dan uang yang di sebutkan oleh Cempaka dan Anyelir itu, tidak ada di tempatnya.
"Siapa yang mengambilnya?"
Pak Jati mengernyitkan keningnya, hatinya bertanya-tanya.
"Coba kita periksa dulu di sekitar kamar kita ini, barangkali ibu lupa nyimpannya.
Ayo! Anak-anak tolong cariin kotak perhiasannya, berwarna merah dan bentuknya seperti balok, persegi panjang"
Perintah pak Jati.
Semua pun sibuk mencari tempat perhiasan yang hilang itu.
Kasurnya di angkat, dan di keluarin dari kamarnya bu Sekar.
Seluruh sudut ruangan di periksa secermat mungkin.
__ADS_1
Begitu pula dengan lemari. Takutnya bu Sekar telah sengaja memindahkannya.
Hampir satu jam, mereka memeriksa seluruh ruangan, dan seluruh perabotan yang ada di dalam kamarnya bu Sekar.
Namun, tak seorangpun yang bisa menemukannya.
Pencarianpun tidak menghasilkan apa-apa, alias nihil.
Sedangkan Karmin waktu itu masih berada di kamar tamu. Dia belum di perbolehkan tidur bareng satu kamar oleh Cempaka.
"Ada apa ya?" Dia juga merasa penasaran, dia bergegas keluar dari kamarnya.
Namun, dia tidak berani ke kamarnya bu Sekar. Karmin hanya duduk di ruang keluarga.
"Di dalam kamar ini tidak di temukan, berarti jelas ada yang sengaja mengambilnya"
Pak Jati menyimpulkan.
"Enggak tahu" Semua anak-anak dan menantunya yang berada di sana, saling tatap satu sama lain.
Seperti ada suatu kecurigaan yang timbul di dalam hati mereka.
Mungkin juga jadi saling tuduh satu dengan yang lainnya.
"Siapa yang berani masuk ke kamar kami, tanpa sepengetahuan dari kami?"
Pak Jati mengajukan pertanyaan kepada anak dan menantunya.
"Saya tidak berani masuk ke kamarnya ibu, apalagi dengan mengendap-endap" Sakti dan Petir menjawabnya berbarengan.
"Aku juga anaknya, enggak berani masuk tanpa sepengetahuan Bapak atau ibu"
Balas Bunga.
"Sama, aku juga tidak berani"
"Aku juga sama, enggak berani. Apa lagi sampai mengambil perhiasan dan uang"
Ujar Cempaka.
"Kilat dan Seruni juga enggak berani, pak, bu" Dengan agak gemetar, Kilat dan Seruni pun turut menjawabnya.
"Bapak percaya sama kalian semua. Tapi, siapa ya yang berani dan tega mengambil harta milik kami? Dan kapan dia mengambilnya? Kok! Bisa, kita sampai kecolongan begini"
Pak Jati semakin mengernyitkan keningnya, hingga nampak jelas garis-garis kerutan di dahinya itu.
Sejurus, semua saling diam. Sepertinya ada yang mereka tengah pikirkan di benaknya masing-masing.
"Kak Kenari" Kilat berteriak tiba-tiba.
Semua mata mengarahkan pandangannya kepada Kilat, dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
"Apa kamu melihatnya?" Bunga cepat bertanya.
"Kata siapa?" Bu Sekar menatap anak laki-laki satu-satunya itu.
"Kapan, dek?" Tanya Cempaka sambil menatapnya lembut.
"Waktu nikahannya kak Cempaka, aku melihat kak Kenari baru keluar dari kamarnya ibu" Kilat menjawab dengan sangat hati-hati, seperti yang ketakutan.
"Iya, sekarang bapak baru ingat. Waktu itu, kalau tidak salah setelah ibu tidak memberikan cincin yang ibu pakai untuk di pinjam Kenari sebagai maharnya pernikahan Cempaka"
Pak Jati mencoba mengingat-ingat nya.
"Iya benar! Kotak perhiasan itu warnanya merah kan? Berarti...
Yang di pakai maharnya Cempaka kemarin itu adalah perhiasan ibu yang dia ambil dari bawah tempat tidur kita!"
__ADS_1
Pak Jati menemukan titik terang.
"Iya benar, pak! Yang jadi maharnya Cempaka kemarin kan bentuknya balok, persegi panjang. Isinya juga cincin lima gram dan gelang sepuluh gram, serta uang lima ratus ribu rupiah. Berarti itu semua punya ibu! Tapi, uangnya cuma lima ratus ya, sedangkan uang ibu yang hilang ada tujuh ratus ribu"
Seru Anyelir, dia merasa yakin.
"Sepertinya uang yang dua ratus ribu nya dia umpetin, atau dia pakai sendiri" Gumamnya.
"Coba sekarang panggil Kenari!"
Pak Jati berseru. Dia keluar dari kamarnya, di ikuti oleh anak dan menantunya, setelah membereskan kembali barang-barang yang berantakan.
"Karmin!" Pak Jati sepertinya baru ingat bahwa ada orang baru di rumahnya itu, sebagai sang menantu.
"Iya pak" Jawab Karmin berusaha sesopan mungkin.
"Kamu tahu kan, tengah ada apa di rumah ini? Kamu dengar kan?" Pak Jati mengajukan pertanyaan.
"Iya pak, saya dengar perhiasan dan uang ibu hilang" Sahut nya.
"Apa kamu lihat, waktu kemarin maharnya itu berbentuk apa? Dan juga kamu lihat bentuk kotaknya?" Tanya pak Jati lagi.
Kedua bola matanya tajam menatap kepada Karmin.
"Iya pak, gelang sepuluh gram dan cincin lima gram, juga uang lima ratus ribu" Sahut Karmin dengan nyali yang menciut.
"Itu perhiasan dan uang punya siapa?" Tegas terdengar pertanyaan pak Jati.
"Emh, katanya bu Kenari minjam dari ibunya" Suara Karmin yang pelan, dan wajahnya yang dia sembunyikan dengan kepala yang menunduk dalam-dalam.
"Kenari tidak jadi minjam perhiasan dan uang punya istri saya. Karena, istri saya tidak memberikan nya. Pernikahan itu sakral, bukan main-main! Kedua
mempelai itu berjanji bukan hanya di depan manusia saja. Tapi, mengucapkan sumpah dan janjinya di hadapan Allah SWT.
Dan, kedua mempelai itu harus saling menjaga sumpah dan janjinya. Ini bukan main-main!
Itu uang dan perhiasan yang jadi maharnya, bukan pinjam dari istri saya. Tapi, dia telah berani mencurinya!"
Pak Jati membeberkan apa yang sebenarnya terjadi kepada Karmin.
Karmin nampak terkejut dengan
semua perkataannya pak Jati, yang kini telah jadi mertuanya.
"Kamu pasti sekongkol dalam hal ini! Ayo mengaku! Di kemanakan perhiasan dan uang
punya istri saya? Kalian bawa kemana? Kalian sembunyikan di mana?" Pak Jati mulai terbawa emosi, dan menyangka bahwa Karmin dan Kenari itu sekongkol.
"Saya tidak tahu, pak. Saya tidak memegangnya. Waktu kemarin, kala di minta untuk memakaikan perhiasan itu di tangannya neng Cempaka, bu Kenari langsung mengambilnya dan memasukannya ke dalam kantong bajunya, karena takut ketahuan kalau itu perhiasan ibu yang dia curi"
Akhirnya, Karmin mengatakan apa yang seharusnya dia jaga.
Dia mengatakan rahasia tentang asal muasalnya perhiasan dan uang yang di jadikan mahar.
Mendengar penuturan Karmin, sontak saja bu Sekar dan pak Jati menjadi semakin geram.
"Kenari!" Bu Sekar berteriak emosi memanggil nama anak sulungnya itu.
Tubuhnya gemetar terbawa emosi, dadanya nampak turun naik terbakar amarah yang terasa sudah memuncak.
Jantungnya berdetak kencang tersulut nafsu.
"Sabar, bu. Istighfar, tarik nafas dalam-dalam, lalu keluarkan secara perlahan" Cempaka yang melihat kondisi ibunya yang telah di penuhi emosi, segera berusaha untuk menenangkannya.
Bu Sekar mencoba menuruti apa yang di katakan oleh anaknya, dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan amarahnya, menata hatinya yang serasa hancur oleh perbuatannya Kenari.
******
__ADS_1