
Setelah mengetahui semuanya dari Karmin, Kenari pun di panggil oleh pak Jati untuk di mintai keterangan yang sebenarnya, dan juga pertanggung jawabannya atas pencurian yang sengaja dia lakukan.
"Kenari, uang dan perhiasan ibu hilang, tepat di hari pernikahan nya Cempaka. Kata Karmin, kamu yang mengambilnya. Dan yang kemarin dijadikan untuk maharnya pernikahan Cempaka, Apakah itu benar?" Pak Jati mulai menginterogasi Kenari.
Kenari terlonjak sangat kaget sekali, dia tidak menyangka kalau tindakannya itu akan segera terendus oleh kedua orangtuanya.
Dia tak menyangka, kalau Karmin akan berani membocorkan rahasianya itu di depan seluruh anggota keluarga besarnya.
"Apakah semua yang di katakan oleh Karmin itu benar? "
Pak Jati mengulangi pertanyaannya lagi.
Kenari belum memberikan jawaban. Matanya menatap tajam kepada Karmin.
Karmin merasa tidak enak hati di tatap tajam seperti itu.
Diapun menundukkan kepalanya, dia tak berani untuk balik menatap Kenari, yang kini telah menjadi kakak iparnya.
"Kenapa diam saja? Coba jawab yang sejujurnya!" Bu Sekar tidak sabar.
"Karmin! Apa benar yang kamu katakan tadi itu?"
Pak Jati berpindah bertanya kepada Karmin.
"Iya pak" Jawaban Karmin mantap.
"Kamu tahu darimana? Kalau Kenari mencurinya?" Bu Sekar ingin yakin.
"Bu Kenari sendiri yang bilang kepada saya, waktu seluruh orang yang berkumpul menyaksikan acara ijab qobul kemarin itu, meminta untuk memasangkan perhiasan yang jadi maharnya itu di jarinya dek Cempaka.
Enggak bisa, ini kan perhiasan dan uang ibu yang aku ambil di kamarnya ibu, lalu bu Kenari menyembunyikan mahar itu di kantong bajunya"
Dengan berani dan lantang, Karmin mengutarakan semua yang dia ketahui.
Tentu saja perkataan Karmin itu sangat membuat marah Kenari.
Emosinya memuncak hingga ke ubun-ubun.
"Karmin!" Kenari merasa tidak suka, dia membentaknya.
"Tidak usah marah kepada orang lain!" Bentak pak Jati.
"Sekarang mana uang dan perhiasan yang kamu ambil dari dompetnya ibu?" Pak Jati bertanya lagi.
"Sudah, sudah tidak ada"
Kenari menjawabnya dengan gugup.
"Kenapa bisa tidak ada?"
Pak Jati lanjut bertanya lagi.
__ADS_1
"Emh, uangnya, emh, uangnya sudah aku pakai" Semakin gugup saja. Terlihat wajahnya di sembunyikan dengan cara menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Dasar! Si Karmin kurang ajar! Tidak tahu berterima kasih! Di tolongin malah mengkhianati, sudah di beri enak malah berbalik menyebalkan. Dasar orang udik yang tak tahu diri!"
Dalam hati dia menggerutu dan mengumpat Karmin habis-habisan.
"Awas kau! Tidak akan aku biarkan kau lepas begitu saja! Tidak akan aku biarkan kau bahagia bersama adikku sebelum aku membalaskan rasa kesal yang ada di dalam hatiku ini! Aku benci kamu! Menyesal aku bekerjasama dengan kamu! Dasar tak tahu diri!" Bathinnya terus ngedumel memarahi Karmin.
Matanya mendelik tidak suka kepada Karmin. Walaupun kepalanya menunduk sedalam-dalamnya.
Karmin pun tahu akan hal itu. Dia merasakan kebencian Kenari sudah tertanam di dalam hatinya. Semua karena dia membeberkan kelicikan Kenari kepada seluruh anggota keluarganya.
"Bodo amat! Mau benci juga, toh sekarang saya sudah jadi bagian dari keluarga ini juga. Saya ingin terlihat baik di mata mertua dan istri saya" Bathin Karmin.
"Habis buat apa?" Tanya pak Jati.
"Emh, buat ongkos ke sana ke mari, ngurusin pernikahannya Cempaka dan si Karmin itu"
Jawabannya sekenanya.
"Apa yang mesti kau urus? pergi ke rumah pak Penghulu, ibu kasih ongkosnya. Ibu kira pasti itu lebih" Bu Sekar tidak terima.
"Selain ke pak Penghulu" Ujarnya.
"Iya ke mana? Memangnya ibu nyuruh kamu ke mana selain ke rumahnya pak Penghulu?" Cercar bu Sekar, tak memberikan kesempatan kepada Kenari.
Kenari terdiam, mencari alasan.
Apa Bapak dan Ibumu ini pernah mengajarkan hal semacam itu? Apa kami pernah mengajarkan kamu mencuri? Apa ini balasannya atas kasih sayang yang kami berikan selama ini?
Dengan sengaja kamu lakukan itu semua. Berarti kamu sadar kan apa akibatnya? Dan, ada apa sebenarnya kamu begitu gigihnya memperjuangkan Karmin supaya menjadi suami adikmu itu? Ada apa di balik semua ini? Apa rencana dan niat kamu yang sebenarnya?"
Pak Jati merasa tidak habis pikir dengan tingkahnya Kenari. Yang jelas-jelas mempermalukan keluarga sendiri.
Keluarga yang semestinya di dukung dan di junjung tinggi kehormatannya.
Ini malah sebaliknya, di jatuhkan di hadapan orang lain.
Kenari tak bisa menjawabnya, dia sama sekali tidak mendengarkan perkataannya pak Jati. Karena, harinya sudah merasa kesal kepada Karmin.
Di dalam benaknya dia sibuk mencari cara bagaimana supaya rasa kesal yang ada di dalam hatinya bisa terbalaskan.
"Kenari! Dengarkan sekali lagi dan jawab pertanyaan ibu!"
Sepertinya bu Sekar tahu kalau Kenari tidak memperhatikan perkataan suaminya.
"I, iya bu ada apa?" Bentakan bu Sekar membuat Kenari membuyarkan semua rencana tentang pembalasannya kepada Karmin.
Diapun terlonjak kaget.
"Sudah ibu duga kalau kamu tak menyimak apa yang barusan di katakan oleh bapakmu!"
__ADS_1
"Di kemanakan cincin dan gelang ibu yang kamu ambil kemarin?"Suara bu Sekar bagaikan suara petir yang menggelar di telinganya Kenari.
Mendengar pertanyaan ibunya itu, dia seperti yang kena hipnotis. Tangannya bergerak membuka tas kecil yang selalu dia bawa kemana pun juga.
Kekuatan bentakan sang ibu mampu mengeluarkan semua isi yang ada di dalam tas kecil itu. Termasuk gelangnya sang bunda, yang dia curi beberapa hari yang lalu.
"Ini" Kenari memberikan gelang emas seberat sepuluh gram itu kepada ibunya.
"Mana cincinnya?" Kembali bu Sekar membentaknya lagi.
"Sekalian dengan kotak tempat perhiasannya!" Lanjut bu Sekar.
Kenari memeriksa isi seluruh tas kecil itu, dia mencari benda yang di tanyakan oleh ibunya.
Namun, dia tidak bisa menemukannya. Karena, cincin dan kotaknya telah sengaja dia simpan di suatu tempat, di dalam rumahnya.
Kenari sengaja tidak akan mengembalikan cincin itu kepada ibunya.
Dia berpikir cincin itu sebagai hadiah untuk dirinya yang telah bisa membawakan jodoh untuk Cempaka. Walaupun jodohnya itu membuat jatuh harga diri adik dan keluarganya.
Benar-benar sangat licik.
"Mana?" Bu Sekar membentak lagi tak sabar.
"Di mana ya? Kok! enggak ada di sini? Padahal aku simpan di dalam tas kecil ini. Karmin juga tahu kalau aku menyimpan nya di dalam tas ini, iya kan min?"
Sepertinya Kenari ingin melemparkan getahnya kepada Karmin.
"Iya, kemarin bu Kenari memasukkan kotak perhiasan itu ke dalam tas itu" Karmin mengiyakan perkataannya Kenari.
"Kena! Kau Karmin!" Bathin Kenari merasa menang.
"Selain aku yang tahu tentang kotak perhiasan itu, Karmin juga mengetahuinya. Dan kini kotak bersama cincinnya hilang, sedangkan gelangnya ada. Ini berarti ada seseorang yang telah mengambilnya tanpa sepengetahuan ku"
Mata Kenari tertuju kepada Karmin. Seolah-olah menuduh Karmin yang telah mencuri Cincin dan kotaknya.
"Maksud kamu, Karmin yang sudah mengambil cincin dan kotaknya, begitu?"
Bu Sekar menangkap maksudnya Kenari.
"Siapa lagi yang tahu isi tas ini selain aku?" Jawab Kenari yakin.
"Saya tidak mengambilnya. Tas itu tidak pernah lepas dari tangannya bu Kenari, tidak mungkin saya bisa mengambilnya tanpa dia ketahui" Karmin tidak mau di salahkan, karena memang dia tidak mengambilnya.
"Kita periksa kamar tamu!"
Kenari mengintruksikan, Itu semua sengaja dia lakukan untuk sekedar mengalihkan perhatian keluarganya supaya tidak tertuju terus kepadanya.
Seluruh anggota keluarga pun lalu beramai-ramai mendatangi kamar tamu dan memeriksanya ke setiap penjuru ruangan.
*****
__ADS_1