Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Cempaka mengurung diri


__ADS_3

Pandangan Cempaka melang - lang buana entah kemana.


Pikirannya melayang jauh hingga menembus ke awan.


"Aku tak menyangka sedikitpun, kenapa bapak sama ibu bisa setega itu kepadaku?" Cempaka bergumam sendiri.


"Hampir dua tahun bukanlah waktu yang sebentar. Mereka mengelabui aku, membohongi aku tanpa mempedulikan hati dan perasaanku. Terbuat dari apa hati mereka itu? Dari dulu aku di hantam oleh penderitaan yang di buat oleh keluarga ku sendiri, apakah aku ini anak kandung kedua orangtuaku atau hanya sebagai anak angkat?" Gumam Cempaka dengan titik air mata berderai di pipinya.


Dia mulai merasa di sisihkan, merasa di anaktirikan, merasa tak di anggap.


"Keberadaanku di rumah ini sudah tidak di anggap lagi, semuanya sudah tidak ada yang mempedulikan aku lagi, begitu juga dengan ibu dan bapak, mereka malah ikut serta dalam kebohongan ini" Gumamnya lagi.


"Rumah ini, yang setiap hari aku urus, aku rawat, sepertinya sekarang sudah bukan lagi rumah yang nyaman untukku"


"Kini, aku seperti orang lain di rumah orangtuaku"


"Kamar ini hanya membuat sakit hatiku, penderitaan demi penderitaan sudah ku tumpahkan dengan tangisan di kamar ini, aku sudah tak tahan lagi dengan semua penderitaan yang sengaja oleh keluargaku di torehkan di dalam hatiku"


Karena kekecewaan yang teramat sangat, hingga membuat Cempaka punya prasangka yang bukan-bukan terhadap kedua orangtuanya beserta keluarganya.


Lamunannya kembali ke masa - masa dulu, di mana dirinya akan di lamar oleh Buana.


"Seandainya kak Bunga berbaik hati mengizinkan aku untuk di lamar Buana, tak mungkin aku akan mengalami sakit hati dan kecewa seperti sekarang ini"


"Karena keegoisan kakakku, akhirnya Buana memilih perempuan lain, rumah yang dulu di gadang - gadang kan untuk aku tempati bersama Buana setelah kami menikah, kini di tempati oleh orang lain. Betapa malangnya nasibku ini"


"Kenapa pula, waktu itu bapak dan ibuku tidak setuju kepada Samudera? Seandainya aku boleh memilih Samudera untuk pengganti nya Buana, mungkin aku tidak akan mengalami yang namanya di langkahi dengan tanpa minta izin dariku. Semua kekecewaan yang aku alami, berawal dari keluargaku sendiri, pertama karena keegoisan kakakku, kak Bunga yang egois, ingin selalu menang sendiri"


"Kecewa hatiku yang ke dua, masih ke egoisan keluargaku juga. Bapak dan ibuku. Kenapa? Kenapa harus bapak dan ibu, yang harus menorehkan kecewa di hatiku ini untuk yang ke dua kalinya, kenapa?"


"Pertunangan Anyelir, aku ikhlas, aku tidak apa-apa karena Anyelir minta izin padaku. Dan, aku pun sadar karena waktu itu aku masih belum punya pasangan. Tapi, kenapa pada akhirnya ada kebohongan di baliknya? Kenapa tidak terus terang kepadaku?" Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul di benaknya Cempaka.


"Pantesan waktu itu aku di suruh ke kamar atas. Aku tidak boleh menyaksikan acara pertunangannya Anyelir walau aku memaksanya. Ternyata, ini alasannya. Berarti, waktu itu bukan acara tunangan saja, melainkan acara akad nikahnya Anyelir dengan Petir, sungguh tak ku sangka" Ingatan Cempaka kembali ke sa'at acara tunangannya Anyelir.


Semakin di ingat, semakin perih terasa luka yang tertoreh di relung hatinya Cempaka.


"Waktu bapak sama ibu, pergi ke undangan, mungkinkah itu acara pernikahannya Anyelir yang di gelar di rumah keluarganya Petir? Waktu itu aku tidak boleh ikut, dengan alasan aku harus kerja. Sedangkan Kilat dan Seruni waktu itu di ajak oleh Anyelir untuk menengok neneknya Petir yang katanya sedang sakit, kak Bunga dan kak Kenari juga ikut serta, hanya aku yang tinggal di rumah, karena aku tidak boleh ikut. Ya Allah, keluarga macam apa ini?"


"Semua orang memperdayai aku. Membohongi aku habis-habisan, semua sekongkol membuat aku kecewa, mereka bekerjasama untuk menyakiti hati dan perasaanku, mereka, keluargaku sendiri menghancurkan perasaanku, sungguh tak ku sangka"


Semakin di ingat, semakin sesak rasanya dadanya Cempaka.


Luka hati yang dalam, yang dengan sekuat tenaga, Cempaka berusaha untuk melupakannya. Tapi, kini luka itu


di torehnya kembali, oleh sembilu nan tipis.


Sungguh pedih, perih terasa!


"Pak! Ini bagaimana? Sepertinya Cempaka benar-benar marah dan kecewa sama kita semua"


Ujar bu Sekar khawatir.


"Emh, bapak juga merasa bingung bu" Sahut pak Jati pula.


"Bu, bagaimana ini? Aku takut kalau kak Cempaka tidak mau mema'afkan aku" Anyelir berkata lirih, tangisannya sudah


tak meneteskan air mata lagi.


Hanya tinggal isaknya yang masih tersisa.

__ADS_1


"Untuk sa'at ini, biarkan saja dia sendiri di dalam kamarnya, mungkin dia butuh untuk sendiri" Ujar pak Jati.


"Tapi, pak! Ibu sangat merasa bersalah sekali dalam hal ini. Padahal waktu itu adikku sudah mengingatkannya. Tapi, ibu tidak menurutinya walau sedikitpun, kini ibu menyesal karena peristiwa itu"


"Hati anak kita sudah kian terluka, rasanya susah untuk menyembuhkannya. Karena, luka yang di hatinya itu bukanlah sekali, tapi sudah berkali-kali kita torehkan luka di relung hatinya. Ibu tak sanggup bertatap muka dengan anakku sendiri, karena kesalahan ibu"


Bu Sekar kini telah memahami apa yang tengah di alami oleh Cempaka, hati Cempaka yang terkoyak-koyak oleh keluarganya sendiri, bu Sekar pun kini ikut merasakan kepedihan itu.


*


Hingga tiba waktunya makan malam, Cempaka tetap tidak mau keluar dari kamarnya.


" Cempaka, sudah waktunya makan malam nak!" Bu Sekar mencoba memanggilnya. Namun, tak ada jawaban dari Cempaka.


"Tok! Tok! Tok! Nak, makan dulu!" Ujarnya lagi sambil mengetuk pintunya.


Tetap tidak ada jawaban.


" Mungkin dia tidur, bu" Ujar pak Jati.


"Entahlah, semoga saja dia tidur" Sahut bu Sekar.


Kedua orangtua itu kemudian kembali ke ruang makan. Di sana sudah ada Anyelir dan kedua adiknya, Kilat dan Seruni.


Anyelir sengaja tidak pulang ke rumah mertuanya. Dia sengaja nginap di rumah ibunya, karena ingin meminta ma'af kepada Cempaka.


Sore tadi setelah Cempaka masuk ke kamarnya, Petir datang menjemput Anyelir.


"Assalamualaikum" Petir mengucapkan salam sebelum dia masuk ke rumah mertuanya.


"Waalaikumsalam, ayo masuk kak!" Sahut Kilat, dia langsung menyambutnya dengan riang gembira. Dia paling bahagia kalau Petir datang ke rumahnya.


"Mau nginep? Kok! Tiba-tiba saja rencananya?" Petir heran.


"Biasanya kamu kan katanya suka malas kalau tidur di sini, takut sama kak Cempaka, sekarang tumben mau nginep? Ada apa?" Petir balik bertanya karena penasaran.


"Sebaiknya kak Petir juga nginep di sini, kita harus segera menyelesaikan masalah ini secepatnya" Ujar Anyelir membuat tanda tanya bagi Petir.


"Ada apaan sih? Kok! Seperti teka - teki saja" Petir malah balik bertanya.


"Bukan teka-teki, kak! Tapi, ini kebenarannya. Kak Cempaka menanyakan tentang kita" Ujar Anyelir.


"Maksudnya?" Petir terperanjat kaget


Pikirannya sudah ke tentang pernikahannya.


"Kak Cempaka tidak sengaja mendengar pembicaraan kami, mungkin saking kaget dan pastinya hatinya terluka dan sangat kecewa, dia sampai jatuh pingsan hingga hampir dua jam kak. Aku sangat merasa bersalah sekali, aku sangat takut, aku menyesal" Sahut Anyelir perlahan dengan kepala yang tertunduk.


"Apa? Jadi, kak Cempaka sudah tahu semuanya?" Petir terkejut mendengarnya.


"Iya kak, kita harus bagaimana? Aku menyesal sekali, kenapa pula waktu itu kita tidak meminta izinnya dulu sebelum kita melangsungkan acara pernikahan kita" Anyelir sangat Cemas terlihat.


"Sudahlah itu semua sudah terjadi, aku juga sebenarnya tidak setuju waktu itu. Cuma, ibuku yang memaksa, bapakku tidak bisa berbuat banyak kalau ibuku sudah ada maunya ya harus di turuti. Ibu itu memang egois" Sahut Petir, dia menyalahkan ibunya.


"Kenapa kamu jadi menyalahkan ibumu?" Anyelir jadi kesal.


"Iya, karena itu semua saran dari ibuku, yang tadinya berniat mau melamarmu saja, eeh akhirnya kata ibuku harus sekalian dengan akad nikah, sekalian walimahan saja. Ibuku takut kejadian lima tahun yang lalu kembali terulang lagi" Tutur Petir.


"Memangnya ada kejadian apa lima tahun yang lalu?" Bu Sekar ikut bertanya heran.

__ADS_1


"Lima tahun yang lalu, kakakku bertunangan, rencananya setelah tunangan, setahun lagi mereka akan melangsungkan acara pernikahannya. Tetapi, itu hanya tinggal rencana saja, karena sebelum genap satu tahun, calon istri kakakku di jodohkan oleh bapaknya"


"Kenapa bisa? Kan bapaknya pasti sudah tahu kalau anaknya itu sudah tunangan, dan mau menikah setahun lagi, aneh!" Ujar Anyelir tak percaya.


"Iya memang sudah tahu, tapi setelah beberapa bulan dari acara pertunangan itu, calon mertua kakakku bertemu lagi dengan sahabat lamanya, sahabat sejak masa sekolah dari smp hingga bekerja bersama-sama. Mereka terpisah karena bapakku di pindah tugaskan ke daerah ini hingga sekarang. Sejak sa'at itu silaturahmi pun terpaksa terputus, sedangkan mereka sudah komitmen akan menjodohkan anak-anaknya"


"Komitmen itu terbentuk secara tiba-tiba, sa'at tunangannya kak Prima lahir. Sedangkan sahabat calon mertuanya kak Prima sudah punya anak laki-laki yang waktu itu baru berumur empat tahun. "Karena anakmu perempuan, bagaimana kalau kita besanan saja? Anakku kan laki-laki" Dan kedua orangtuanya tunangan kak Prima langsung setuju"


Lanjut Petir.


"Bertahun-tahun mereka terpisah, kemudian kak Lintang bertemu dengan kak Prima waktu mereka satu sekolah dulu. Dari sejak sma hingga kuliah mereka bersama-sama hingga akhirnya bertunangan. Kedua orangtuanya kak Lintang lupa akan janjinya dengan sahabatnya itu. Dan, beberapa bulan setelah mereka bertunangan, mereka bertemu lagi. Ternyata, sahabatnya orangtuanya kak Lintang itu sudah satu tahun berada di kota Bandung ini, cuma mereka tidak satu kantor seperti dulu.


Karena pertemuan itu, mereka teringat akan perjanjian mereka waktu dulu"


"Kak Lintang nya langsung mau di jodohkan?" Tanya Anyelir.


"Awalnya sih enggak mau, tapi lama kelamaan karena terus-terusan di bujuk, di rayu, akhirnya karena takut durhaka kalau enggak nurut sama orangtua, takut orangtuanya merasa kecewa, dengan berat hati akhirnya kak Lintang mau di jodohkan dengan anak sahabat bapaknya itu" Petir melanjutkan perkataannya.


"Nah itu yang membuat ibuku langsung menikahkan kita waktu itu.


Karena, ibuku tidak mau kejadian yang sama terulang lagi kepada anaknya yang lain, yaitu diriku. Sejak kak Lintang menikah dengan orang lain, kak Prima jadi begitu. Dia sepertinya enggan untuk mempunyai hubungan yang serius lagi dengan seseorang. Dia merasa di khianati, di sakiti dan di kecewakan" Petir mengakhiri penuturannya.


"Ooh, jadi itu yang membuat kedua orangtuamu mengambil langkah untuk langsung menikahkan kita waktu itu. Tapi, kenapa tidak langsung mengatakannya kepada kedua orang tuaku, dan juga kepada kakakku? Aku rasa, kalau waktu itu kedua orangtuamu berterus terang mengatakan alasan yang sesungguhnya, mungkin tidak akan begini kejadiannya" Anyelir sangat menyayangkan tindakan mertuanya.


"Waktu itu juga kak Prima menyarankan begitu. Namun, ibuku tidak mau mendengarkannya. Malah mengatakan tahu apa kamu? Kamu sendiri juga belum becus mencarikan calon istri untuk diri sendiri, kata ibuku waktu itu. Padahal, kak Prima tidak menghalangi pernikahanku, karena usiaku sudah kepala tiga, lalu untuk sementara ini kak Prima belum mau membicarakan tentang pernikahan. Dia ingin benar-benar mencari yang siap menerimanya lahir bathin, dia tidak mau mengalami hal yang serupa seperti dulu lagi" Lanjut Petir.


"Sangat di sayangkan sekali ya, kak!" Ujar Anyelir.


"Waktu acara pertunangan kita, keluarga kami tidak mengetahui kalau kamu punya kakak yang mempunyai nasib seperti kakakku. Seandainya saja kami tahu sebelumnya, mungkin kami akan menjodohkan kak Prima dengan kakakmu, setelah itu baru kita menikah. Dengan begitu, pasti kak Cempaka tidak akan ter khianati oleh keluarganya sendiri, dan kita tidak akan merasa bersalah" Tutur Petir.


"Iya, kenapa kedua orangtuamu waktu itu tidak bicara langsung kepada kami? Mungkin kami akan mempertimbangkannya" Bu Sekar bertanya dengan sedikit kesal.


"Katanya ibuku merasa takut mau mengungkapkan hal itu, takut malah lamarannya tidak diterima" Sahut Petir.


"Harusnya jangan begitu, sebelum kita memutuskan sesuatu itu, kita harus berpikir dulu, mencoba dulu di bicarakan dengan baik-baik, jangan asal mengambil keputusan sendiri. Seperti sekarang ini, jadi kami yang menderita dan ada satu hati lagi yang lebih menderita, dia kecewa sangat sangat kecewa, hati dan jiwanya hancur karena akibat tindakan yang gegabah kedua orangtuamu" Lanjut bu Sekar, menumpahkan kekesalan di dalam hatinya.


"Iya bu, aku minta ma'af yang sebesar-besarnya, karena aku tidak tahu apa-apa, aku hanya menuruti kemauan dan kekhawatiran orang tuaku saja. Tadinya kan, aku juga ingin mengumpulkan dulu uang yang lumayan buat bekal kami setelah menikah nanti. Namun, ibuku tidak mau mendengarkan aku ataupun kak Prima, sebagai anak, kami tidak bisa berbuat banyak. Karena, kami takut dosa, dan sebagai seorang anak, kami takut durhaka" Ujar Petir lagi.


Bu Sekar manggut-manggut tanda mengerti. Hatinya kini jadi merasa kesal kepada Besannya.


Untuk beberapa sa'at, mereka diam tak berkata-kata. Semua terdiam dengan pikirannya masing-masing.


"Kamu mau nginep kan? Kita nunggu kak Cempaka keluar dari kamarnya"


"Sepertinya tidak perlu, kan sudah ada kamu yang mewakili" Ringan sekali suaranya Petir. Sepertinya dia tidak mau untuk langsung meminta ma'af kepada Cempaka.


"Kok! Begitu sich ngomongnya?" Anyelir emosi.


"Aku kan harus kerja, kalau berangkat dari sini, kejauhan. Mana aku enggak bawa baju seragam lagi" Ujar Petir menjelaskan alasannya.


"Sampaikan saja salam dan permintaan ma'af ku kepada kak Cempaka" Ujar Petir.


"Baiklah kalau begitu, hati-hati ya"


"Bu, pak, Kilat, Seruni, aku pulang dulu, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" Sahut kami.


Petir pun beranjak meninggalkan rumah mertuanya.

__ADS_1


***


__ADS_2