
Tak seindah angan/ Pengakua Raka
Tidak begitu lama, terdengar suara Raka, suaminya Kenari mengucapkan salam.
"Assalamualaikum…"
"Waalaikumsalam…" Jawab kami semua.
"Anyelir, Kilat, sana ke kamar! Enggak baik mendengarkan pembicaraan orang dewasa." Hardik bu Sekar.
"Baik buu" ketiga adiknya Cempaka itu menurut saja dengan apa yang di perintahkan oleh orangtuanya.
Mereka semua masuk ke kamarnya Seruni dan Anyelir, kamar yang paling dekat dengan ruang tengah.
"Kita bisa nguping dari sini" bisik Anyelir.
"Sssst!" Seruni yang tengah baringan di atas tempat tidur, menempelkan jari telunjuknya di bibirnya. Mengisyaratkan supaya diam.
"Kamu ngapain masuk ke dalam kamarku?" Seruni melotot kepada Kilat, tak senang.
"Aku juga ingin tahu Runi, gitu saja kok enggak boleh" Kilat duduk di kursi yang biasa suka di pake belajar oleh adiknya itu.
"Sudah diam, nanti ibu dengar, bisa di marahin kita" Anyelir mendamaikan.
"Bapak sama Ibu mau tanya tentang kelakuanmu akhir-akhir ini, apa benar yang di katakan oleh Kenari itu? Bahwa Kamu telah selingkuh!"
Tanpa basa-basi, pak Jati langsung ke pokok permasalahan.
"Sebelumnya…, saya minta ma'af pak, bu, dan semuanya. Jika tindakan saya ini telah menyakiti perasaan seluruh keluarga bapak sama ibu. Boleh saya jelaskan, kenapa saya bisa berbuat nekad seperti itu?" Dengan tenang Raka bertanya.
Pak Jati dan bu Sekar menganggukkan kepalanya, tandanya mereka setuju.
"Begini pak, bu, saya itu begitu sayang sama istri saya. Namun, karena dia itu baik, penyayang dan nurut sama Suami." Raka memulai perkataannya. Dia berhenti sejenak.
"Namun, tidak saya sangka sedikitpun juga kalau dia itu akan berubah drastis. Ini terjadi sejak dia mendengar bahwa kalau Cempaka jadi menikah dengan Buana, orangtuanya Buana akan membangunkan rumah buat Cempaka di samping depan rumah yang kami tempati sekarang ini." Lanjut Raka.
"Sepertinya Kenari tidak suka kalau Cempaka di bangunkan rumah oleh bu Seroja. Sejak sa'at itu, dia marah-marah terus sama saya. Dia ingin merenovasi rumah yang kami tempati lebih bagus daripada rumahnya Cempaka. Saya tidak sanggup kalau harus merenovasi sa'at itu juga. Uang darimana?" Raka berhenti lagi bicaranya. Dia menatap istrinya yang tengah menunduk.
"Kalau kamu tidak bisa menyaingi
__ADS_1
rumahnya Cempaka, kamu harus membawaku setiap kamu tugas ke luar daerah. Yaa…, saya bolehkan tapi, bagaimana itu Cemara kan masih kecil? Tanyaku waktu itu. Dia jawab, tak peduli! Pokoknya aku harus ikut kemanapun kamu pergi!"
"Maksudnya mau apa?" Bu Sekar tak sabar.
"Inilah yang saya tidak suka, bu, pak. Pertama dia selalu berada di samping saya, tapi, kedua kalinya dia ikut ke daerah jampang kulon. Waktu itu ada barang dari perusahaan yang harus aku kirimkan ke sana. Sesampainya di tempat yang di tuju, dia langsung menghilang enggak tahu pergi ke mana. Pamitnya mau ke warung. Saya cari-cari ke sana ke mari, dia enggak ketemu. Nongol- nongol jam enam pagi! Semalaman saya tidak tidur karena khawatir mencari dia."
"Katanya ke mana?" Tanya pak Jati.
"Katanya sih dia nyasar, lalu kata yang punya warung, sudah malam mana bawa anak lagi. Tidur saja di sini. Jadi dia nginap di warung itu. Saya percaya. Dan kamipun kembali
pulang, saya tidak curiga apa-apa."
"Tengah malamnya setelah kami tiba di rumah, tepat jam dua belasmalam,
Istri saya enggak ada di samping saya. Saya kira dia lagi ke kamar mandi. Saya biarin, tapi…, setelah beberapa sa'at dia keluar dari kamar, tiba-tiba tercium bau kemenyan yang di bakar, sangat menyengat sekali. Saya cari asal bau kemenyan itu. Rupanya dari tanahnya bu Seroja yang mau di bangunkan rumah untuk Cempaka. Siapa yang bakar kemenyan tengah malam begini, Saya tak menyangka kalau itu perbuatan Kenari. Itu ketahuan setelah dia melakukannya selama satu minggu."
"Kamu jangan bicara seenaknya. Tak ada anak kami yang seperti itu" pak Jati emosi.
"Saya tidak mengada-ada pak, saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Kalau dia sedang membakar kemenyan di tempat itu. Saya sangat kaget sekali ketika memergokinya. Diapun terperanjat kaget ketika kelakuannya di ketahui oleh saya"
"Kenari! Benarkah itu apa yang di katakan suamimu itu?"pak Jati membentak anak sulungnya itu.
"Astaghfirulahaladziiim... Kenari, siapa yang mengajari kamu seperti itu? Adikmu belum juga jadi nikah dengan si Buana, malahan batal nikah. Kamu sudah berbuat yang tidak-tidak, sungguh memalukan sekali!" pak Jati geram.
"Setiap kita berangkat, pasti Kenari mencari dukun, katanya biar tidak tersaingi oleh adik-adiknya. Terutama Cempaka yang kenalannya kebanyakan ABRI dan Polisi itu. Pokoknya Aku tidak suka kalau adik-adikku mendapatkan suami seorang pangkat. Begitu pak, bu."
"Saya sudah sering kali menasihatinya. Malahan saya ancam dia, kalau tidak berubah juga. Saya akan menikah lagi dan meninggalkannya. Tapi, tetap saja dia tidak berubah. Malahan makin menjadi-jadi. Bingung saya jadinya, saya harus bagaimana pak, bu? Makanya, kemarin saya sengaja tidak pulang selama tiga hari." Ujar Raka.
"Selama tiga hari kamu tidak pulang, itu kamu ke mana? Apa benar kamu sudah menikahi perempuan yang bersamamu itu?" bu Sekar bertanya.
"I... Iya pak, bu..., ma'afkan saya. Karena, sa..., saya sudah tidak tahan lagi dengan kelakuannya istri saya itu. Sudah hampir dua tahun Kenari bertingkah begitu"
Raka menjelaskannya dengan bibir yang bergetar.
"Kalau memang itu benar, sekarang apa langkah selanjutnya tentang rumah tanggamu dengan Kenari? Bapak tidak mau kamu menyakitinya!" Bentak pak Jati emosi. Walaupun dalam hal ini, Kenari yang bersalah. Tapi, tetap saja sebagai orang tua pasti akan merasa sakit hati, melihat anaknya di perlakukan seperti itu.
"Itu bagaimana Kenari saja pak, kalau dia mau berubah, saya akan terus bersamanya, saya tidak akan menyakitinya. Tapi, kalau tetap seperti itu, terus terang saya tidak tahan pak, buu.
Saya tidak mau digolongkan ke dalam orang-orang yang musyrik"
__ADS_1
"Aku tidak mau di maduuu!... Aku minta cerai saja! Biar aku bebas melakukan apa yang aku mau!" Kenari berdiri sambil berkata ngotot. Sepertinya mau menyembunyikan kesalahannya.
"Berarti... Kamu benar! Selama ini kamu telah mengguna-gunai
adikmu sendiri!" bentak pak Jati. Matanya melotot ke wajahnya Kenari.
"Eng... Eng..., gak!" Kenari gelagapan menjawabnya.
"Kamu itu, kakak macam apa kamu ini? Bukannya melindungi adiknya, malah menjerumuskan
adikmu sendiri!" bu Sekar begitu marah sekali.
"Itu semua fitnah bu!... Aku tidak seburuk itu! Aku hanya mengguna-gunai si Buana saja."
Ujarnya dengan pipi yang memerah.
"Untuk apa mengguna-gunai si Buana? Biar tidak jadi sama adikmu kan? Biar dia membenci adikmu kan?" Bentak bu Sekar dan pak Jati.
"Enggak!... Enggak!... Bukan itu maksudku! Semuanya tidak ada yang percaya sama aku! Sekarang, aku minta ceraikan aku sekarang juga! Gara-gara kamu! Aku jadi di pojokkan! Rahasia ku jadi terbongkar gara-gara kamu! Aku enggak suka, aku benci kamu!" Kenari memukul Raka dengan tas tangannya.
"Kenari! Kenari!..., apa sudah kamu pikirkan apa yang kamu ucapkan tadi?" Tanya Raka.
"Iya benar! Aku ingin kamu segera menceraikan aku! Titik." Teriaknya lagi.
"Ibu sama bapak tidak bisa menyuruh atau menghalanginya. Itu semua kalian yang menentukan. Cuma, ibu katakan bahwa perceraian itu tidak haram tapi, di benci Allah SWT. Sebaiknya kalian pikirkan masak-masak, jangan sampai menyesal nantinya."
"Aku tahu itu buu, tapi terus terang aku tidak mau hidup bersama dengan orang yang suka membeberkan aib Isterinya sendiri. Aku tidak mau hidup bersama dengan orang yang tidak mendukung istrinya sendiri.
Sudahlah, jangan banyak omong. Aku sudah muak melihat mukamu itu." Teriak Kenari lagi. Dia sudah di luar kendali.
"Nanti anak-anak kita, bagaimana?" Raka masih mempertimbangkan anak-anaknya.
"Biarin anak-anakku sama aku saja. Aku juga bisa menghidupi mereka. Besok akan ku jemput dari rumah orangtuamu!" Kenari membentak lagi Raka dengan sangat keras.
"Pak,bu, ma'afkan saya sebelumnya. Dengan berat hati, saya akan memenuhi permintaannya Kenari! Detik ini, menit ini, saya menyerahkan segala tanggung jawab tentang Kenari kepada bapak dan ibu. Saya tidak memilikinya lagi. Sekali lagi, ma'afkan saya bu, pak
dan semuanya. Bila selama ini saya ada salah, baik yang di sengaja ataupun tidak" Ujar Raka dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ya sudah, sana kamu pergi! Jangan tunjukkan lagi batang hidungmu di hadapanku!" Kenari semakin murka.
__ADS_1
Setelah pamit pada kedua orangtuanya Kenari. Raka pun berlalu meninggalkan tempat itu, mengubur kenangan yang beberapa tahun telah di laluinya bersama Kenari, istrinya.