
Keesokan harinya Karmin sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kampung halamannya.
Kenaripun sudah siap di sana, tidak mau ketinggalan. Dia takut Karmin berangkat dia tak mengantarnya.
"Harusnya kamu ikut ke sana"
Kenari berucap masam kepada Cempaka.
Cempaka tak menjawabnya, dia pura-pura tidak mendengarnya.
"Kamu mau ikut Karmin, kan?"
Kenari mencolek lengannya Cempaka dengan mengeraskan suaranya supaya di dengar oleh adiknya itu.
"Enggak"
Cempaka menjawab asal.
"Kamu kan istrinya, kenapa tidak mau ikut dia?"
Kenari berujar kesal.
"Tidak perlu mbak, dek Cempaka tidak perlu ikut sekarang. Nanti saja saya mau ngurusin kerjaan saya dulu"
Jelas Karmin.
" Berapa lama kamu di sana?"
Tanya Kenari pula.
"Dua atau tiga harian lah" Ujar Karmin.
"Lama juga enggak apa-apa" Ucap Cempaka manyun.
"Bahkan selamanya juga tidak apa-apa, malah aku senang" Bathin Cempaka.
"Kenapa kamu berkata begitu?"
Kenari menatap tajam kepada adiknya, kesal.
"Enggak apa-apa, supaya dia bisa leluasa beres-beres di sananya"
Cempaka menjawabnya dingin.
"Saya permisi dulu bu, pak, dek! Saya pulang dulu ya"
Karmin menyalami kami satu persatu.
Tepat waktu bersalaman dengan Kenari, Karmin di bisikin sesuatu oleh Kenari, entah apa yang di sampaikan Kenari kepada Karmin.
Karmin hanya manggut-manggut saja. Dia tidak berkomentar apapun.
Setelah Karmin berlalu beberapa menit dari rumahnya bu Sekar. Kenaripun pamitan, dengan alasan mau pulang ke rumahnya.
Di ujung jalan kampung itu, Karmin berhenti seperti ada yang di tunggu.
Dia menengok ke belakang, ke jalan yang telah dia lalui barusan.
"Oh itu dia" Ujarnya bahagia setelah melihat orang yang di tunggunya menampakkan dirinya.
Orang yang di tunggu-tunggu nya itu tiada lain adalah, Kenari sang kakak ipar.
" Ini air harus kau minum setengahnya. Nanti di sana yang setengahnya lagi di campur dengan air dari tempat kamu, dan itu harus di berikan kepada Cempaka. Supaya dia mau benar-benar menerima kamu sebagai suaminya. Dan, dia mau di ajak tinggal denganmu"
Kenari memberikan sebotol air putih dengan mata yang bersinar, seakan penuh dengan harapan.
" Iya bu, baik" Karmin tetap memanggil ibu kepada Kenari.
"Sekarang kamu adik ipar saya, panggil kakak saja"
Kenari berujar manja.
"Saya panggil mbak saja, ya!"
__ADS_1
Karmin mengusulkan.
" Boleh" Kenari mengerling genit.
"Mau langsung berangkat sekarang?"
Dengan manja Kenari bertanya.
"Iya, mumpung masih pagi"
"Apa tidak akan meninggalkan kenang-kenangan dulu buat yang sudah mencomblangi? Ya, sebelum kamu membawa pindah adikku ke kampung halamanmu. Sepertinya nanti tak mungkin kita punya kesempatan berdua kalau Cempaka sudah suka sama kamu"
Dengan mengerjapkan matanya, Kenari berucap genit.
"Tentu saja, saya tidak akan lupa itu. Apalagi sejak malam pernikahan itu sampai tadi malam saya tidur sendiri
di kamar tamu. Cempaka licin sekali bagaikan belut"
Karmin langsung mengerti dengan sinyal yang di berikan oleh Kenari sang kakak ipar.
"Kita jalan memutar, biar tidak melewati rumah ibuku"
Mereka berdua lalu berjalan beriringan di tengah pematang sawah
Menuju ke rumahnya Kenari.
Di gubuk yang ada di salah satu pematang sawah, Karmin menukar baju atasannya dengan baju atasan perempuan, atas sarannya Kenari.
Dia juga mengenakan kerudung untuk menutupi rambut dan menyamarkan wajahnya.
Dia menyamar sebagai seorang perempuan.
Setelah agak dekat dengan rumahnya Kenari.
Dia memberi isyarat supaya Karmin diam dulu di sana.
" Itu kan pintu belakang rumahku, kamu diam dulu di sini, aku akan jalan duluan biar tidak ada yang mencurigai kita. Nanti saya akan panggil kamu dari pintu itu, kamu harus cepat datang"
Kenari bergegas pergi meninggalkan Karmin, menuju ke rumahnya lewat pintu belakang.
Karmin pun segera berjalan menuju ke rumahnya Kenari tanpa ada yang tahu kalau itu adalah seorang laki-laki
Seorang Karmin, yang telah menjadi suaminya Cempaka adiknya Kenari.
" Tidak ada yang melihat kamu?"
Kenari menyambutnya penuh dengan suka cita. Bahu Karmin di pegangi nya khawatir.
" Tenang, saya kan terlihat seperti seorang perempuan"
Karmin menenangkan.
" Perempuan jadi - jadian" Kenari menyenderkan kepalanya di dadanya Karmin, dia sudah tidak sabar.
Sekarang Karmin tak mengelak lagi, dia sambut Kenari dengan perlakuan yang lebih dari itu.
Setelah mengunci pintu rapat-rapat, mereka pun melupakan siapa mereka sebenarnya.
Kenari tidak ingat dengan anaknya yang di titipkan kepada pengasuhnya.
Walaupun jaraknya hanya beberapa meter saja dari rumahnya.
Bahkan ketika Cemara terlihat bermain di teras depan rumahnya bersama pengasuhnya pun, Kenari tak mendengarnya. Dia terlalu sibuk dengan sosok Karmin yang kini tengah bersamanya.
***
Bukan hanya Karmin yang pamitan pulang dari rumahnya bu Sekar. Tapi, Bunga dan Sakti suaminya, serta bayi tembemnya juga ikut berpamitan pulang.
"Kamu mau pulang kapan dek?"
Bunga menatap Anyelir, karena belum terlihat beres-beres. Dia masih santai seperti yang tidak akan segera pulang.
"Entar saja kak, agak siangan"
__ADS_1
Anyelir malah selonjoran di depan tv.
"Ya sudah, kalau begitu kakak pulang duluan ya!" Bunga menjentik hidungnya Anyelir.
"Cempaka, kakak pulang dulu ya. Nanti kalau kamu mau ikut ke tempatnya Karmin, kabarin kakak ya.Kakak pingin nganterin kamu, pingin tahu juga suasana di sana, boleh kan?" Bunga menggoda Cempaka.
"Siapa pula yang mau ikut dia? Aku mau di sini saja sama ibu"
Cempaka memeluk ibunya manja.
"Iya, di sini saja sama ibu"
Bu Sekar memeluk Cempaka, matanya mendelik kepada Bunga.
Bunga tersenyum sambil menyipitkan matanya.
"Kakak!" Bentak Cempaka kesal.
"Aku juga boleh ikut ya kak?"
Anyelir ikut-ikutan menggoda Cempaka.
"Bukannya tadi saja kalau mau ikut Karmin!" Bentak Cempaka sewot.
"Sudah! Sudah! Kok malah ribut!"
Bu Sekar menengahi.
"Aku pulang dulu, bu, pak, dek, kakak pulang dulu ya, sudah jangan marah"
Bunga mengelus kepalanya Cempaka.
"Assalamualaikum" Ucapnya setelah mencium tangan pak Jati dan bu Sekar, keluarga kecil Bungapun berlalu meninggalkan rumahnya bu Sekar.
"Waalaikumsalam, hati-hati!" Kami menyahut dengan ramai.
"Perasaan kakak bagaimana kak?"
Anyelir menatap Cempaka menunggu jawaban. Setelah Bunga berlalu beberapa waktu.
"Kesal, marah, jengkel, sedih, perih, hancur dan juga menderita, sangaat menderita"
Cempaka melepaskan pandangannya jauh entah kemana.
"Kenapa kakak waktu itu tidak menolaknya?" Tanya Anyelir lagi mendesaknya.
"Kakak juga bingung, kakak tidak bisa berbuat apa-apa waktu itu. Mau bicara juga mulut ini terasa di kunci"
Cempaka berucap lirih dengan suara yang tercekat.
"Kenapa bisa begitu ya, kak? Aneh sekali. Ibu sama bapak juga kenapa
tidak menghentikannya seperti waktu itu kepada kak Samudera. Sama Karmin yang begitu ibu sama bapak seperti yang tidak punya keberanian sama sekali. Padahal Karmin belum kita ketahui asal-usulnya, siapa dia sebenarnya, di mana rumahnya? Kerjaannya apa? Kak Samudera yang sudah jelas asal-usulnya, jelas pekerjaannya, bapak sama ibu malah menghalanginya"
Anyelir menyalahkan bu Sekar dan pak Jati.
"Ibu dan bapak juga tidak mengerti dalam hal ini, ibu juga bingung, nak. Ma'afkan kami"
Dengan suara yang tercekat bu Sekar
Mengungkapkan apa yang dia alami sa'at itu.
"Sepertinya ada kekuatan lain yang ikut campur dalam acara ijab qobul kemarin itu, hingga kita semua tidak berkutik di buatnya"
Pak Jati mengutarakan pendapatnya.
"Kasihan kak Cempaka, terus-terusan mendapatkan kemalangan"
Anyelir memeluk Cempaka, dia merasa berdosa karena telah tega melangkahinya.
" Mungkin ini semua sudah nasibku"
Cempaka melepaskan pelukannya Anyelir. Sakit hatinya masih terasa segar dalam ingatan, penderitaannya belum terasa basi dalam benaknya hingga belum mau terlepas dari ingatannya.
__ADS_1
*****