Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Perpisahan yang menyiksa.


__ADS_3

Setelah selesai Cempaka mengobras kan pakaiannya. Merekapun lalu pulang kembali menyusuri jalanan yang tadi dimana mereka bertemu.


"Aku antarkan ya?" Samudera menawarkan diri.


"Maunya sih, tapi aku takut nanti ada yang marah." ucap Cempaka.


"Enggak akan ada yang marah, izinkan aku mengantarkanmu sekali ini saja" Samudera memaksanya.


"Baiklah, oke" Cempaka akhirnya mengizinkannya.


Mereka berdua berjalan bersama menyusuri jalan setapak yang di kiri kanannya di tumbuhi pepohonan, berselang dengan rumah-rumah penduduk dan hamparan sawah yang hijau terbentang. Sungguh pemandangan yang membuat segar mata yang memandangnya.


"Sejak aku pulang dari rumahmu waktu itu, baru kali ini lagi aku melewati jalanan yang indah ini, bersamamu lagi. Rasanya ingin ku kembalikan waktu, biar kita tidak akan pernah berpisah." Angan Samudera.


"Aku juga baru kali ini lagi menginjakkan kakiku di jalan ini.


Aku bahkan tak percaya akan bisa berjalan berdua bersamamu. Seakan mimpi rasanya." ujar Cempaka.


"Haah?... Berarti..., selama ini..., kamu...,_" Samudera tidak meneruskan perkataannya. Dia menatap lekat-lekat wajah Cempaka.


"Iya, setelah kau pergi malam itu.


Aku mengurung diri di kamarku.


Aku tidak ngehonor lagi, tak ada aktivitas yang aku kerjakan, duniaku serasa hancur."ujar Cempaka lirih.


"Dunia begitu kejam memperlakukan kita" ujar Samudera. Dia menghentikan langkahnya.


"Aku sedih, kecewa dengan keputusan yang diambil oleh kedua orangtuaku. Hanya karena kami bertetangga, akhirnya..., mereka juga yang merusak hubungan kami," lanjut Cempaka lagi dengan suara yang bergetar.


"Aku bisa merasakan itu semua, sayangnya..., aku ceroboh, aku gegabah, akhirnya aku juga melukai perasaanmu, aku sangat menyesal" Samudera


menyesalinya.


Namun, penyesalan selalu datang belakangan. Kejadian yang sudah terjadi, tak bisa di ulangi lagi.


"Tinggallah hatiku yang menderita dan merana, setelah hatiku hancur seperti ini, barulah mereka membuka mata hati nya, mereka baru tersadar dengan apa yang telah dilakukan oleh mereka kepadaku" Bibirnya bergetar, Cempaka menahan emosi yang mengungkung jiwa dan perasaannya.


"Kakakku, kedua orangtuaku, Buana dan keluarganya, semuanya melukai perasaanku


tanpa mereka sadari."dengan tatapan mata yang tajam penuh dendam, Cempaka melanjutkan perkataannya.


"Ma'afkan aku Cempaka!..., andai waktu itu aku datang ke rumahmu, kulihat siapa yang sa'at itu menikah? Ya Allah... Kenapa aku bisa sebodoh itu? Aku menyesaaaaal!..., tak bisa ku ampuni diriku ini, karena aku sudah menyakiti hati dan perasaan perempuan yang sangat aku sayangi." Samudera sepertinya sangat menyesali perbuatannya.


"Sudahlah Sam, mungkin nasibku harus begini. Aku coba untuk bertahan, semoga saja Allah SWT memberi kekuatan kepadaku." Cempaka berusaha untuk tegar.


"Cempaka, aku minta ma'af, aku ingin menebus semua kesalahan yang aku lakukan, walaupun itu di luar kesadaranku. Aku ingin hidup bersamamu Cempaka" ujar


Samudera, memohon dan mengharap.


"Aku tidak mau melukai perasaan

__ADS_1


orang lain, dia yang waktu itu kau pilih untuk menjadi istrimu beberapa bulan yang lalu. Kini kau akan meninggalkannya hanya karena tahu aku belum menikah. Jangan Sam, jangan lakukan itu, kasihan dia" walau dengan hati yang hancur, Cempaka berusaha untuk tegar.


"Cempaka..., sampai kapanpun aku tidak akan melupakanmu. Kamu yang telah membuatku jatuh cinta." Samudera menatapnya penuh kasih.


"Sudah siang, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan kita ini, aku enggak mau kepanasan di jalan"


Cempaka bangun dari tempat duduknya.


Samudera pun tidak menolaknya.


Diapun mengikuti langkahnya Cempaka. Tak ada yang terucap lagi dari bibir mereka.


Hanya hati mereka yang berkecamuk memendam segala rasa.


"Cempaka, aku antar kamu tidak sampai rumah, enggak apa-apa ya?" ujar Samudera. Sepertinya dia enggan untuk bertemu dengan bu Sekar atau yang lainnya.


"Kenapa?" Cempaka mencoba bertanya, dia pura-pura tidak mengerti.


"Enggak apa-apa..., aku cuma malas saja." ujar Samudera. Dia tidak mau berterus terang.


"Enggak apa-apa, aku faham, aku mengerti apa yang kau rasakan di hatimu, sampai di sini juga aku sangat bahagia sekali karena sudah bisa berjalan bersamamu.


Mungkin ini pertemuan kita yang terakhir kalinya Sam." dengan wajah yang sedih Cempaka berucap.


"Aku ingin bertemu lagi denganmu, aku tidak mau ini yang terakhir kalinya" pinta Samudera.


"Aku tidak mau ada yang sakit hatinya, Sam." Cempaka mengingatkan.


Tak berapa lama, langkah mereka terhenti di depan sebuah gang yang menuju ke rumahnya Cempaka.


"Kok! Sudah sampai di sini lagi?"


Samudera baru menyadarinya.


"Aku sampai depan rumahmu saja ya nganterinnya. Aku enggak akan mampir ke rumahmu. Aku tidak mau ibumu melihatku ada di sini" Samudera


tidak mau bertemu dengan bu Sekar.


"Iya baiklah..." Cempaka berjalan lagi perlahan-lahan.


"Sebenarnya aku ingin terus bersamamu, kenapa kita sudah sampai saja ke rumahmu?" Samudera nampak menyesal, karena sebentar lagi mereka terpaksa harus berpisah.


"Yaaa, mau bagaimana lagi?..., kebersamaan kita harus di akhiri sampai di sini saja. Bukan aku tak mau bersamamu, tapi karena kamu sudah ada yang memiliki"


bisik Cempaka di telinganya Samudera.


Kata terakhir dari bibirnya Cempaka itu, membuat hatinya Samudera serasa di tohok sesuatu yang teramat keras. Dia yang telah ceroboh dan gegabah, hingga akhirnya penyesalan ke dua singgah kembali di dinding kalbunya.


Samudera terperanjat kaget dengan perkataannya Cempaka.


Membuat dia mematung seketika. Darahnya seakan membeku, sama sekali tak mengalir.

__ADS_1


"Aku masuk dulu ya, mampir dulu yu, aku masih ingin bersamamu!" Cempaka membuyarkan lamunannya Samudera.


"Aku pulang dulu ya." dengan lemas lunglai Samudera berpamitan kepada Cempaka.


"Hati-hati ya Sam." Cempaka melepaskan kepergiannya dengan terpaksa.


Pegangan mereka seakan tak mau terlepas. Terlihat tangan keduanya saling terkait kuat.


Mereka terasa berat untuk berpisah. Tatapan penuh cinta dan rindu terpancar dari kedua pasang bola mata keduanya.


"Keduanya begitu kuat saling mencintai, Semoga mereka bisa bersatu" tanpa mereka sadari, Bunga memperhatikan mereka dari balik tirai jendela.


"Aku pulang dulu ya" Samudera pamitan lagi. Tapi, tangannya tetap tidak melepaskan tangannya Cempaka.


"Tanganku" ujar Cempaka, sambil menatap ke genggaman tangannya Samudera.


"Ma'af, aku merasa susah untuk melepaskannya" ujar Samudera.


Dengan perlahan, dia terpaksa melepaskan tangannya Cempaka.


"Ingat Sam, kini kau ada yang menunggu" ujar Cempaka sedih.


"Aku tak akan pergi kalau kamu sedih begitu, aku ingin menjemputmu dengan sejuta cintaku untukmu Cempaka. Karena itu, izinkan aku untuk melepaskan dia. Aku yakin, dia akan mengerti" ujar Samudera


setengah memaksa.


"Kalau itu, aku tidak akan mengizinkannya. Aku tidak mau


ada yang sakit hati karena ulahmu, aku masuk ya" Cempaka melangkahkan kakinya menaiki teras rumahnya.


"Ku titipkan cintaku hanya untukmu, Cempaka. Kan ku bawa cintamu denganku, kemanapun aku pergi. Assalamualaikum..."


Ucap Samudera sambil membalikkan badannya, lalu dia melangkahkan kakinya dengan perlahan-lahan.


Cempaka menatap kepergian Samudera yang melangkah dengan gontai.


Ingin rasanya Cempaka mengejarnya, membawanya kembali ke rumahnya.


Tapi, itu tak dilakukannya. Karena kini sudah ada dinding penghalang di antara mereka.


Hanya tetesan air mata menetes dari sudut matanya, mengaburkan pandangan matanya. Seiring dengan menghilangnya Samudera di kelokan jalan sana.


Setelah pandangannya matanya tidak menangkap lagi tubuhnya Samudera, diapun menghambur masuk ke dalam rumah, langsung masuk ke kamarnya.


Terasa berdesir pedih kembali hatinya.


Terasa hancur lagi perasaannya, untuk yang kesekian kalinya.


Luka hati yang baru akan berangsur mengering, kini teriris


kembali.

__ADS_1


Sembilu tipis itu begitu perih mengiris-ngiris hatinya.


Pedih, perih tak terperi.


__ADS_2