Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Siasat Kenari yang tak pernah habis


__ADS_3

Setelah Kenari dan Cempaka sampai di rumahnya wa Iyem, belum mengucapkan salam pun


yang punya rumah sudah keluar sendiri.


"Neng cari siapa?" Tanya seorang ibu-ibu setengah baya.


"Oh, ibu ma'af mengganggu waktunya. Kami mau mencari Karmin, katanya alamat rumahnya di sini, apa Karmin nya ada?" Jawab Kenari menjelaskan maksud dan tujuannya dia dan adiknya datang ke sana.


"Karmin? Ini bukan rumahnya Karmin, ini rumah saya, wa Iyem" Sahutnya.


"Rumah Karmin di sana! Tadi sudah kelewat, apa Karmin memberikan alamat saya?"


"Iya bu, ini alamatnya" Kenari memberikan selembar kertas dari Karmin. Yaitu surat yang mengatakan bahwa dia kena musibah.


"Karmin! Karmin!" Perempuan yang suka di panggil wa Iyem itu geleng- geleng kepala, setelah membaca tulisan di atas kertas itu.


"Kasihan jauh-jauh dari Bandung, ayo masuk dulu! Kita bicara nya di dalam saja" Mempersilahkan Kenari dan Cempaka untuk masuk.


"Terimakasih bu" Kenari dan Cempaka pun masuk ke dalam rumahnya wa Iyem.


"Tolong panggilkan si Karmin! Suruh dia segera ke rumah uwa, sekarang!" Ujarnya, dia menyuruh tukang Ojeg yang mengantarkan Kenari dan Cempaka tadi.


"Tunggu sebentar ya, uwa ambilkan air dulu. Pasti kalian haus, cape dan juga lapar karena telah menempuh perjalanan yang jauh" Ujar wa Iyem ramah.


"Tidak usah repot-repot, bu!" Cempaka berucap.


"Panggil saja Wa Iyem, jangan panggil Ibu!" Ujarnya sambil tersenyum dan masuk ke dalam , meninggalkan Kenari bersama Cempaka di ruang tamu.


"Iya, wa!" Sahut Cempaka.


"Kita berangkat ya wa!" Ujar tukang Ojeg itu, berteriak dari luar.


"Iya, cepat cari sampai ketemu!"


Teriak Wa Iyem.


Kedua tukang ojeg pun berlalu melarikan motornya hendak mencari Karmin.


*


"Kalian ketemu di mana sama si Karmin?" Wa Iyem bertanya sambil menatap kepada Cempaka.


"Di tempat kerja saya, wa" Kenari yang menjawabnya.


"Waktu kapan?" Tanyanya lagi.


"Seminggu yang lalu" Sahut Kenari lagi.


"Seminggu yang lalu si Karmin ke Bandung? Pasti ke tempat kerjanya Mayang" Ujar Wa Iyem.


"Si Neng ini teman kerjanya Mayang? Biasanya kalau Karmin ke Bandung, ya ke tempatnya Mayang"


"Iya, saya satpam di tempat kerjanya Mayang" Kenari dengan cepat menjawabnya.


"Kalau si Neng ini?" Wa Iyem bertanya kepada Cempaka.


"Saya...


" Ini adik saya" Baru saja Cempaka mau menjawab, Kenari dengan cepat memotongnya.


"Silahkan di minum air nya" Wa Iyem menyimpan nampan yang berisi dua gelas air dan sepiring pisang goreng, di atas meja.


"Terimakasih uwa, jadi merepotkan" Cempaka dan Kenari berucap.


"Enggak apa-apa, yang merepotkan itu si Karmin!" Ujarnya, matanya menatap ke luar, sepertinya dia menunggu kedatangan Karmin.


"Apa benar Karmin kena musibah?" Cempaka bertanya.


Sontak saja mata Kenari melotot dan menatap ke arah Cempaka, tidak suka.


"Uwa tidak tahu, karena beberapa hari ini dia tidak ke sini" Jawab wa Iyem.


Kenari menarik nafas lega mendengar jawaban dari wa Iyem begitu.

__ADS_1


"Wa Iyem, ini Karmin!" Seru tukang Ojeg dari halaman rumah.


Wa Iyem beranjak keluar dari rumahnya.


Dia langsung menghampiri Karmin yang berdiri mematung di dekat motor nya tukang Ojeg.


"Kamu bikin ulah apa lagi? Sampai orang dari Bandung datang ke mari menyusul mu!" Wa Iyem terlihat menjewer telinga nya Karmin.


"Kakak, itu Karmin enggak kenapa-kenapa, kata siapa dia kena musibah? Tertabrak mobil lagi, kita di bohongin ini!" Cempaka menatap wajah kakaknya.


"Nanti, tunggu dulu! Kita lihat saja, jangan keburu emosi. Siapa tahu dia sudah sembuh"


Kenari menarik tangannya Cempaka, di suruh nya duduk kembali.


"Cepat, masuk! Temui mereka!"


Wa Iyem menyeret Karmin ke ruang tamu. Di mana ada Kenari dan Cempaka yang tengah menunggunya di sana.


"Tuh! Tamu kamu yang mencari kamu! " Dengan penuh emosi, wa Iyem mendorong tubuhnya Karmin ke salah satu tempat duduk yang masih kosong, hingga tubuhnya terjerembab.


"Katanya kamu kena musibah, kecelakaan, tertabrak mobil, mana buktinya? Kamu kelihatannya tidak apa-apa" Ujar Cempaka, menatap Karmin dengan kesal.


"Kamu telah membohongi kami!


Bukan waktu sebentar perjalanan Bandung Indramayu itu, sampai saya tidak kerja karena kakakku memaksanya harus ke sini sekarang juga" Lanjut Cempaka.


Karmin diam tak berkomentar, dia hanya menundukkan kepalanya, sesuai perintah nya Kenari waktu itu.


"Sudah, tidak usah emosi begitu! Kita harusnya bersyukur karena Karmin baik-baik saja"


Kenari menenangkan Cempaka yang tengah emosi.


"Wa, kula pamit" Ujar tukang ojeg yang sudah mengantarkan Karmin.


"Iya!" Wa Iyem teriak dari ruang tamu.


"Kak! Kita pulang yu! Orangnya juga tidak apa-apa!" Cempaka berkemas mau pulang kembali.


"Cempaka! Sebentar dulu kenapa sih? Kakak mau tahu alasannya kenapa dia mengabarkan sesuatu yang buruk kepada kita" Kenari menahan Cempaka, dia ingin bicara dulu dengan Karmin.


"Saya terpaksa, karena ingin kamu ke sini" Ujar Karmin perlahan, dia menundukkan kepalanya menghindari tatapan matanya Cempaka yang melotot ke arahnya dengan penuh kebencian.


"Sebaiknya neng jangan pulang sekarang, sudah terlalu malam"


Wa Iyem menyarankan.


"Nginap di sini saja, kamar di sini ada tiga yang kosong, jadi uwa ada teman" Lanjut nya lagi.


"Sudah jam setengah sepuluh" Gumam Cempaka.


"Nanti kami merepotkan, uwa di sini" Ujar Cempaka basa-basi. Padahal dalam hatinya dia ingin sekali nginap, karena badannya terasa sangat cape sekali, dia ingin mandi melepas gerah, dan ingin istirahat melepas penat.


"Tidak, sama sekali tidak merepotkan! Malahan uwa senang, jadi punya saudara" Ujarnya lagi, ramah.


"Sebentar, kakak ingin ke belakang dulu" Kenari beranjak dan berlalu ke belakang.


Cempaka tengah asyik berbincang dengan wa Iyem.


Sejurus kemudian, Karmin pun bangkit dari tempat duduknya.


"Kamu mau ke mana?" Tanya wa Iyem.


"Mau anu, emh anu, saya mau mau, ngambil air! Iya mau ngambil air minum, saya haus" Karmin menjawabnya dengan gelagapan.


Sebenarnya bukan itu maksudnya Karmin. Tapi, dia di panggil dengan isyarat oleh Kenari. Supaya dia mengikutinya ke belakang.


"Sini!" Kenari melambaikan tangannya kepada Karmin.


"Apa bu?" Tanya Karmin setelah dia ada di hadapannya Kenari.


"Saya akan maksa supaya kami tidak nginap, dan kamu harus mengantarkan kami pulang ke Rumah. Nanti setelah tiba di rumah, saya akan menahan kamu supaya kamu tidak langsung pulang lagi! Kamu harus nurut sama saya. Nah! di sanalah saya akan memaksa Cempaka dan juga bapak dan ibunya supaya setuju dengan usulan saya. Saya jamin pasti kamu berhasil menikah gratis dengan Cempaka yang cantik itu! Karena saya punya senjata untuk menaklukkan hati mereka" Kenari sangat percaya diri sekali kalau idenya itu akan berhasil.


"Iya bu"Karmin mengangguk setuju sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Nanti di dalam Bis, kamu harus duduk di samping Cempaka, dia kan sudah cape dan ngantuk, nanti dia pasti akan tertidur. Nah! Gunakan kesempatan ini, jadikan bahu mu atau pangkuanmu untuk senderan kepalanya Cempaka waktu dia sudah tidur nanti, asyik kan?"


Kenari mengatur strategi.


"Ha! Ha! Ha! Ibu ini memang mantap! Bikin saya bahagia" Karmin tertawa ngakak.


"Ssst! Jaga ketawamu! Nanti kalau kedengaran sama dia, bagaimana?" Kenari mengingatkan Karmin.


"Ma'af" Karmin langsung menutup mulutnya.


"Saya ke depan duluan, biar dia tidak curiga" Kenari segera berlalu dari sana.


"Ingat semua yang tadi saya katakan" Ujar Kenari sambil berlalu menuju ke ruang tamu.


Karmin mengangkat tangannya ke arah keningnya seperti yang tengah memberi hormat.


Kenari pun berlalu.


"Uwa rumahnya enakeun" Ucap Kenari setelah tiba di ruang tamu, dia berbasa-basi dengan tujuan supaya wa Iyem dan Cempaka tidak merasa curiga.


" Ah, biasa saja" Uwa Iyem merendah.


" Kita pulang sekarang?" Kenari mengajak Cempaka.


"Jangan dulu pulang, sudah malam ini!" Wa Iyem menahannya.


"Saya kan harus kerja besok, dan saya meninggalkan anak kecil di sana" Alasan Kenari.


"Kalau sekarang pulang, berarti sampai ke Bandung jam berapa?" Wa Iyem seperti yang berpikir.


"Uwa tidak mengizinkan, kalian perempuan. Berjalan di malam begini, uwa khawatir. Sudahlah tidur di sini saja! Ayo neng segera istirahat!" Wa Iyem mengajak Cempaka untuk istirahat di kamar yang berada di ruang tamu.


"Enggak bisa uwa, kami harus pulang sekarang, biar Karmin yang nganterin kita pulang. Mau kan kamu mengantarkan kami pulang?" Tanya Kenari kepada Karmin.


"Apa tidak istirahat dulu semalam di sini? Biar besok sehabis subuh kalian pulang" Karmin pura-pura menyarankan untuk menginap di rumahnya wa Iyem.


"Kasihan anak saya, dia masih kecil, nanti dia nyariin saya" Ujar Kenari memaksa untuk pulang.


"Ayo Cempaka! Kita pulang sekarang!" Kenari berdiri di samping Cempaka.


"Aku nginap di sini saja, kak!"


Ujar Cempaka.


"Aku cape dan ngantuk, kak"


"Nanti kamu bisa tidur di Bus!"


"Kasihan, sudah tidur di sini saja!" Wa Iyem kembali menahannya.


"Kakak!" Ujar Cempaka sambil menguap ngantuk.


"Enggak ah! Pokoknya harus pulang sekarang juga!" Ujar Kenari.


"Saya ucapkan terimakasih atas pengakuannya. Namun kami tidak bisa nginap di sini sekarang, mungkin lain waktu, kami pamit uwa" Ujar Kenari berpamitan kepada uwa Karmin.


"Ayo, antarkan kami sekarang!"


Kenari menatap ke arah Karmin.


"Baiklah, ayo! Uwa saya mau nganterin dulu mereka" Karmin pamitan kepada wa Iyem.


"Ya sudah kalau tidak bisa di tahan, uwa bisa apa?" Wa Iyem seperti yang menyayangkan.


"Kami pamit uwa, terimakasih atas pengakuannya dan ma'afkan kami, karena telah merepotkan uwa" Kenari berpamitan.


Setelah berpamitan, Kenari, Cempaka dan Karmin pun berlalu dari rumahnya wa Iyem.


Mereka memakai motor ojeg untuk mencapai jalan raya.


Karmin bersama Cempaka, sedang Kenari bersama tukang Ojeg.


Ini di atur oleh Kenari, walaupun Cempaka tidak mau juga. Kenari segera naik ke atas motor yang di Kendari oleh tukang Ojeg, dan segera berlalu meninggalkan Cempaka dan Karmin.

__ADS_1


Akhirnya Cempaka mau tidak mau dia harus mau di bonceng oleh Karmin hingga di jalan raya, di mana mereka akan naik Bus yang membawa mereka kembali pulang ke kampung halamannya.


***


__ADS_2