Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Karena salah sangka 2


__ADS_3

"Dia Samudera pak komandan, prajurit yang baru lulus kemarin"


Ujar salah seorang prajurit.


"Samudera! Turun! Ini perintah dari Komandan!" Teriak komandan dari bawah.


Samudera hanya melirik sebentar, dia tetap di atas genteng, tidak mau beranjak.


"Samudera! Kau dengar perintahku ini, Turun sekarang juga!" Teriaknya lagi.


"Aku mau mati sajaaaa!" Samudera berteriak lagi.


Karena pikiran dan hatinya tengah dilanda duka dan kecewa, dia tidak sadar bahwa yang dilakukannya itu sangatlah salah besar.


"Jangan lakukan itu Samudera! Semua masalah pasti ada solusinya!" Teriak komandan lagi.


"Turun Samudera! Kamu itu laki-laki! Kamu itu seorang Tentara, seorang Prajurit! Tidak pantas kamu melakukan hal seperti itu!" Ujarnya lagi.


Dengan susah payah, akhirnya


Samudera turun juga.


Dia kemudian dibawa ke kantor untuk di beri peringatan.


"Kamu ini, kalau punya masalah ya di bicarakan, jangan di pendam sendiri! Apalagi sampai bertingkah aneh seperti tadi. Sangat memalukan" Ujar sang Komandan, setelah dia mengetahui apa yang menjadi masalahnya Samudera.


Samudera tidak menjawabnya, dia menundukkan kepalanya.


"Karena ulahmu itu, kamu saya skor selama tiga hari! Ingat! Jangan lakukan lagi hal-hal yang tidak berguna lagi seperti tadi! Ya sudah, laksanakan tugasmu!" Samudera di skor selama tiga hari.


"Siap ndan!" Ujar Samudera.


Selama di skor, Samudera membabi-buta mencari perempuan yang mau di jadikan isteri olehnya.


"Kamu apa-apaan ini? Bagaimana dengan Cempakamu itu?" Mawar tak mengerti dengan sikap Samudera yang dengan tiba-tiba saja memintanya untuk mencarikan seorang gadis yang mau di nikahnya.


"Sudah! Tidak usah banyak tanya. Kamu mau bantu enggak?" bentak Samudera kepada Mawar yang terperangah kaget, melihat sikap saudara sepupunya yang berubah sepulangnya dari mengikuti pendidikan tentaranya itu.


Dan..., ini yang paling membuat Mawar terkaget-kaget. Mendapat tugas untuk mencari seorang gadis untuk dia jadikan Isterinya.


Setahu dia, Cempaka adalah calon isterinya.


"Iyaaa! Mau. Tapi jawab dulu pertanyaan aku tadi. Bagaimana


dengan Cempaka?" Ujar Mawar setengah membentaknya.


"Orangtuanya Cempaka lebih memilih laki-laki itu! Malahan, dia kemarin sudah menikah. Pasti dengan si Buana itu!" Samudera sewot menjawabnya.

__ADS_1


"Bu Sekar dan pak Jati tidak merestuinya?..., Cempaka menikah dengan Buana?..., tidak mungkin..., tidak mungkin! Aku yakin kamu salah!..., selama ini dia tidak mencintai Buana. Lagipula, kalau dia menikah, pasti aku di undangnya. Sam, jangan dulu gegabah begini, lebih baik cari tahu dulu kebenarannya. Jangan sampai kamu menyesal nantinya." Mawar mencoba mengurungkan niat saudara sepupunya itu.


Karena dia tahu kalau Cempaka begitu mencintainya.


"Sudah! Sudah! Tidak usah mencari tahu ini itu. Aku dengar dari mang Ramdhan, dia kan pamannya Cempaka. Katanya Neng mau nikah, aku ketemu mang Ramdhan waktu mereka mau berangkat ke rumahnya Cempaka. Keluarga mang Ramdhan kan memanggil Cempaka dengan sebutan Neng."


ujar Samudera dengan kesal.


"Aku tidak percaya, Sam!" Ucap Mawar.


" Tak mungkin Cempaka berbuat begitu. Apalagi dia sudah mengetahui bahwa Buana sudah membawa perempuan lain ke rumahnya." ujar Mawar lagi, tetap dia tidak percaya kalau yang menikah kemarin itu adalah Cempaka.


"Sudahlah, kalau tidak mau bantu, aku bisa cari sendiri" Samudera berlalu dengan kesal,


karena merasa saudara sepupunya itu tidak mau membantunya.


"Samudera! Samudera! Kasihan benar nasibmu itu. Kenapa bu Sekar dan pak Jati tidak merasa kasihan dengan Cempaka? Dan, kenapa pula mereka tidak menghargai pengorbanan Samudera sama sekali." Mawar bergumam sendiri, setelahnya Samudera berlalu meninggalkannya.


Banyak perempuan yang mau dijadikan isteri olehnya. Ya jelas saja, Samudera seorang tentara yang berwajah ganteng, dengan perawakan yang tinggi tegap, perempuan mana yang tidak mau untuk di jadikan Isterinya?


Dua hari kemudian, Samudera menikahi seorang perempuan tetangga desanya. Yang wajahnya sedikit mirip dengan Cempaka sang pujaan hati.


Pernikahan yang sederhanapun di langsungkannya. Samudera menikahi perempuan itu dengan keadaan yang terpaksa.


Dia hanya ingin memperlihatkan kepada kedua orangtuanya Cempaka saja, bahwa dia bisa menikahi perempuan lain .


Dua minggu setelah Bunga melangsungkan pernikahannya dengan Sakti.


Pagi itu, di warungnya bu Ijah, bu Sekar bertemu dengan bibinya Buana, yaitu bi Rora. Dia mengatakan, bahwa keluarga bu Seroja tengah mempersiapkan


acara lamarannya Buana.


"Apa bi?..., Buana akan lamaran?"


Bu Sekar begitu senangnya mendengar bahwa Buana akan melamar, walaupun dia belum tahu Buana itu mau melamar siapa?


Di dalam hatinya, bu Sekar merasa yakin, pasti Buana akan melamar Cempaka, anaknya.


Pulang dari warung bi Ijah, bu Sekar langsung menceritakan apa yang di dengarnya di warung tadi, kepada seluruh anggota keluarganya.


'Bunga! Mana Cempaka?..., ada kabar baik buat dia" Ucapnya dengan begitu semangatnya. Senyuman tak lepas dari bibirnya.


"Biasa bu, di kamarnya. Memangnya ada kabar baik apa bu?..., sampai heboh begitu" Bunga terheran-heran melihat tingkah ibunya.


Waktu itu Bunga tengah menyiapkan sarapan untuk keluarganya.


Setelah menikah, dia kerja pagi dan pulang jam empat sore, setiap harinya, bareng sama suaminya.

__ADS_1


"Ada kabar baik dari Buana" ucap bu Sekar sebelum dia berlalu menuju ke kamarnya Cempaka.


"Kabar baik apa bu?" teriak Bunga penasaran.


"Nanti, ibu mau ngasih kabar sama adikmu dulu"Sahut bu Sekar sambil menghampiri pintu kamarnya Cempaka.


"Tok!..., Tok!..., Tok! Cempakaaa! Ada kabar gembira buatmu! Ayo keluar nak!" bu Sekar mengetuk pintu kamar anaknya sambil berteriak memanggilnya.


"Ada kabar baik apa buuu?" Cempaka langsung menyahutnya. Dia menyangka kalau itu adalah kabar dari Samudera.


"Kamu keluar dulu nak!"bu Sekar


menyuruh Cempaka supaya keluar dari dalam kamarnya.


Cempaka segera keluar dari dalam kamarnya, dia ingin segera mendengar kabar baik itu.


"Ada kabar apa bu? Dan, siapa yang ngasih kabarnya?" Cempaka membuka pintu kamarnya, dan dia segera keluar dari dalam kamarnya.


"Alhamdulillah..., sini kita duduk dulu, biar enak ngobrolnya." bu Sekar menarik tangannya Cempaka, dan di ajaknya duduk di kursi yang ada di ruang tengah.


Cempaka tidak membantahnya, diapun langsung duduk di samping ibunya.


"Nak, tadi ibu bertemu dengan bi Rora di warungnya bi Ijah. Dia bilang, bahwa keluarganya bu Seroja tengah menyiapkan lamaran buat Buana. Ibu yakin!


Pasti Buana akan melamarmu. Kata bi Rora, acaranya akan di laksanakan pada hari sabtu besok, dua hari lagi berarti. Sekarang kan hari kamis." bu Sekar memberi tahukan kabar itu dengan menggebu-gebu.


"Ibu tanya enggak ke bi Rora, kalau Buana itu akan melamar siapa?"tanya Cempaka, dia sudah yakin kalau Buana itu tidak akan melamar dirinya.


Buana pasti akan melamar perempuan itu, yang dia lihat beberapa bulan yang lalu, masuk kerumahnya bu Seroja.


"Enggak, soalnya ibu sudah yakin seratus persen, bahwa Buana akan melamar kamu. Nanti hari sabtu, dua hari lagiiii!"bu Sekar sampai berteriak histeris saking bahagianya. Walaupun itu belum tentu kebenarannya.


"Ibu, ibu..., bukannya tanyain dulu yang benar. Kalau dia melamar perempuan yang waktu itu bertandang ke rumahnya Buana, bagaimana? Yang ada hanya membuat hati Cempaka semakin


hancur!" Bunga menimpali dari ruang makan.


"Semoga saja berita itu benar adanya, dan anakku, Cempaka tidak kecewa dan hancur lagi hatinya." pak Jati berucap sambil duduk di hadapan Cempaka.


"Berarti kita besok harus siap-siap, harus belanja dan masak untuk menyambut Buana dan keluarganya" masih dengan wajah yang sumringah, bu Sekar mengatakannya.


"Kenapa kamu diam saja?Kamu enggak suka mendengar kabar


bahagia ini?" bu Sekar menatap wajah anaknya.


"Enggak apa-apa bu, tapi aku yakin kalau Buana itu bukan mau melamar aku, kalau dia mau melamar aku, harusnya dia dan keluarganya akan datang ke rumah mengabarkan hal itu, seperti kak Sakti waktu mau melamar kak Bunga" Cempaka mengungkapkan keraguannya.


"Iya juga bu, kenapa Buana dan keluarganya tidak datang ke sini sebelum dia mau melamar anak kita. Kita kan perlu bersiap-siap untuk menyambutnya. Berarti..., benar apa yang di katakan oleh Cempaka." ucap Bunga menimpali ucapan adiknya.

__ADS_1


Bu Sekar terperanjat kaget mendengar semua yang di katakan oleh anak-anaknya itu. Dia menatap wajah suaminya, dengan wajah yang terlihat seperti sedang kebingungan. sepertinya dia minta pendapatnya.


__ADS_2