
"Bu, aku berangkat sekarang ya, sudah di tungguin" Suara Anyelir terdengar samar-samar ke kamarnya Cempaka.
"Iya hati-hati!" Terdengar suara bu Sekar menjawabnya.
"Anyelir mau ke mana, pagi-pagi begini?" Cempaka bertanya-tanya dalam hatinya.
"Astaghfirullahaladzim!" Bu Sekar terlonjak kaget.
"Aduh, Cempaka! Kamu ngagetin ibu saja" Ujarnya seraya mengatur dadanya yang turun naik.
"Ibu kenapa? kok! kaget begitu"
"Enggak, enggak apa-apa. Ibu cuma kaget saja" Sahut bu Sekar.
"Anyelir mau ke mana bu? Masih pagi begini" Ulang Cempaka penasaran.
"Emh, mau mau ke rumah neneknya Petir, katanya neneknya minta di anterin ke mana ya? Ibu lupa" Bu Sekar asal jawab saja.
"Enak ya bu kalau sudah tunangan, neneknya juga sepertinya sayang sama Anyelir" Gumam Cempaka.
Bu Sekar hanya bisa menelan ludah, kelu lidahnya untuk memberikan jawaban.
"Cempaka aku bohongi lagi ya Allah. Ibu macam apa aku ini?"
Bathinnya.
"Nanti juga, keluarga suamimu pasti akan sayang sama kamu"
Hibur bu Sekar.
"Amiin" Cempaka mengaminkan.
"Semoga saja anakku" Do'a nya.
"Ibu, aku ke dapur dulu ya bu, belum nyuci piring" Cempaka beranjak ke dapur hendak mengerjakan tugasnya.
Bu Sekar hanya mengangguk pelan. Hatinya terenyuh melihat Cempaka yang selalu tersakiti.
Dan, dirinya pun ikut serta dalam kebohongan itu.
"Ya Allah, aku harus bagaimana? Ma'afkan ibumu ini anakku" Bu Sekar menatap lekat punggung Cempaka dari kejauhan.
Yang di tatapnya sibuk membersihkan semua piring kotor, yang menumpuk di bak tempat cuci piring.
Sungguh miris memang, Sementara sang adik sibuk mengurus kartu undangan pernikahannya. Sedangkan dia, tidak mengetahuinya sama sekali, walaupun tinggal dalam satu atap. Sungguh pandai mereka bersandiwara.
*
Setelah undangan tercetak, Petir dan Anyelir sibuk menuliskan nama dan alamat orang yang akan di Undang.
Dengan semangat, keduanya langsung menyebarkannya pula.
Tinggal menghitung hari.
"Semoga saja kak Cempaka tidak mengetahui apa yang tengah kita kerjakan" Harapnya.
"Semoga saja" Ujar Petir perlahan.
"Kilat dan Seruni bagaimana? Apa mereka bisa tutup mulut?"
Petir khawatir di buatnya.
"InsyaAllah mereka bisa jaga mulut. Mereka sudah di wanti-wanti sama ibu juga" Anyelir juga agak ragu mengatakannya.
"Tinggal empat hari lagi pesta kalian, ingat! Semua harus bisa menjaga mulut" Bu Tari mengingatkan kepada semua yang berada di rumahnya sa'at itu.
" Tapi bu, bagaimana kalau Cempaka tahu dari orang lain?" Kakaknya Petir angkat bicara.
"Emh, iya juga ya. Hampir tidak terpikirkan oleh kita. Lalu, bagaimana kalau ini terjadi?" Anyelir gelagapan, dia takut pestanya gagal.
"Ini harus kita pikirkan jalan keluarnya. Ini bukan hal yang sepele, kalau kejadian seperti yang kamu bayangkan terjadi" Pak Andro berujar cemas.
"Kita harus segera bertindak" Anyelir menatap Kenari, seperti minta bantuan. Karena dia tahu, kalau kakak sulungnya itu punya otak yang licik dan sangat membenci Cempaka.
"Tenang, kakak tahu caranya. Sebaiknya kakak temui Cempaka sekarang juga, sebelum dia mengetahui hal yang sebenarnya" Ujar Kenari.
"Ada cara apa kak?"Bunga penasaran dengan siasat barunya Kenari.
"Cempaka mau kakak ajak ngerjain sesuatu di rumah ibu, pasti dia suka" Tersenyum Kenari mengucapkannya.
"Apa itu kak?" Semua nampak penasaran.
"Cempaka kan suka menjahit. Kakak mau pura-pura minta di bikinin baju saja, jadi dia tidak akan ke mana-mana. Dia pasti diam di rumah sebelum bajunya selesai di jahit" Senyum Kenari.
"Boleh juga ide nya. Tapi, Cempaka kan sekarang kuliah kalau hari minggu" Bunga was-was, dia tidak merasa yakin akalnya Kenari akan berhasil.
"Oh iya ya, si jomblo itu sekarang punya kesibukan baru. Bagaimana ya?" Kenari berpikir keras.
"kuliahnya jam berapa biasanya? Dan, pulang jam berapa?" Tanya Petir.
"Dia suka berangkat jam tujuh lebih, biasanya. Dan pulang sekitar jam Tigaan" Jelas Bunga.
"Yang mesti kita jaga itu sekarang, sebelum hari H nya tiba. Selama tiga hari ini, apa bisa semuanya menyimpan rahasia?" Bu Tari jadi khawatir sekarang.
"Begini saja, selama tiga hari ini, kita jangan sampai bicara banyak dengan si jomblo itu, biar kita tidak ke ceplosan" Usul Kenari.
"Ya, sepertinya memang itu jalan satu-satunya, aku setuju kak" Anyelir langsung setuju dengan usulannya Kenari.
__ADS_1
"Aku juga setuju kak" Petir tunjuk tangan mengatakan setuju.
"Baiklah kalau begitu, kita jaga jarak saja sama dia" Ujar Kenari senang.
Cempaka yang jadi bahan pembicaraan sa'at itu, masih di penuhi dengan tanda tanya yang belum tahu jawabannya.
*
Tibalah hari H, hari pesta pernikahan Anyelir dan Petir. Yang akan di langsungkan di rumah kediamannya bu Tari, ibu nya Petir.
Sudah dua hari Anyelir tidak pulang ke rumah bu Sekar.
Dia sibuk mempersiapkan diri untuk acara pesta pernikahannya.
Ini membuat tanda tanya di hatinya Cempaka.
Pagi itu selepas subuh, bu Sekar sudah bersiap-siap hendak pergi. Walaupun sepertinya agak terpaksa.
Pak Jati hanya diam di ruang kerjanya, seperti ada sesuatu yang dia pikirkan.
Sementara semua anak-anaknya sudah berada di rumahnya bu Tari sejak kemarin. Hanya Cempaka yang ada di rumah. Dia belum bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Karena, hari masih terlalu pagi.
"Pak, kenapa diam saja di sini? Kenapa belum siap-siap?" Bu Sekar berujar perlahan, dia takut suaranya kedengaran sama Cempaka.
"Bapak bingung bu, bapak sudah salah, berbuat tidak adil sama anak kita" Gumamnya pelan.
"Iya ibu juga sama pak. Tapi, mau bagaimana lagi? Besan kita sudah menyiapkan segalanya. Tak mungkin kalau kita tidak menghadiri pestanya. Semuanya sudah terlanjur, tidak mungkin bisa di ulang kembali. Ibu juga terpaksa pak, kalau kita tidak hadir, bagaimana? Hadir juga bagaimana? Ibu juga bingung pak"
Keduanya diam sesa'at, sepertinya menenangkan hati untuk mencari kata-kata yang akan di sampaikan kepada Cempaka.
"Bagaimana dengan Cempaka, bu?" Pak Jati sepertinya tidak tega.
"Dengan terpaksa kita bohongi lagi saja pak, tak ada jalan lain"
Lirih suaranya bu Sekar.
"Bu... Ibu di mana? Sekarang kita mau masak apa?" Cempaka mencari ibunya ke dapur. Dia tidak tahu kalau kedua orangtuanya tengah kebingungan di ruang kerja.
"Cempaka nyari ibu, aduh bagaimana ini?" Bu Sekar malah gelagapan salah tingkah.
"Temui dulu bu, jangan sampai dia curiga sama kita" Ujar pak Jati.
"Iya pak, ibu keluar dulu mau nemui dulu Cempaka" Dengan sedikit tergopoh-gopoh bu Sekar keluar untuk menemui Cempaka yang sudah berada di dapur.
"Mau masak apa bu?" Setelah bu Sekar ada di samping nya.
"Yang mudah saja nak, itu ada telur. Kita bikin dadar telur saja sama tumis buncis biar enggak lama. Kamu kan mau berangkat kuliah kan?"
"Baik bu" Seperti biasanya Cempaka membantu ibunya memasak di dapur. Dia tak curiga dengan sikap ibunya yang agak kikuk di hadapannya.
DEG!
Pertanyaan itu begitu membuat bu Sekar terkejut.
Sampai-sampai piring yang dia pegang jatuh ke lantai.
"Aduuh!" Bu Sekar memekik kaget. Dia tercengang menatap pecahan piring yang berserakan di lantai dapur.
"Ibu? Ibu tidak apa-apa?" Cempaka segera menghampiri bu Sekar, dan memapahnya ke kursi.
"Ibu mungkin kecape an, sebaiknya ibu istirahat dulu, biar itu aku yang lanjutkan"
"Minum air teh hangat dulu bu, biar sedikit tenang" Cempaka menyodorkan secangkir teh hangat kepada ibunya.
"Makasih Cempaka" Ucap bu Sekar sambil langsung meminumnya.
Sedangkan Cempaka, membereskan pecahan piring yang berserakan di lantai.
Setelah itu, dia melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.
Bu Sekar menatapnya dengan mata nanar terhalang oleh genangan air mata.
Sebelum Cempaka tahu, dia segera mengusap air matanya dengan ujung kerudungnya.
"Sudah selesai semuanya bu, bapak mana? Kita sarapan sekarang saja yu" Cempaka menatanya dengan rapi di meja makan.
"Bapak di ruang kerjanya"
"Aku panggilkan ya bu" Cempaka beranjak menuju ke ruang kerjanya pak Jati.
Tak berapa lama, pak Jati sudah berjalan beriringan bersama Cempaka menuju ke ruang makan.
"Sepi ya bu, semuanya pada berangkat" Ucap Cempaka di sela-sela kunyahannya.
"Ohok!" Bu Sekar dan pak Jati tersedak bersamaan.
Cempaka segera menyodorkan segelas air putih kepada ibu dan bapaknya.
"Kamu berangkat kuliah jam berapa?" Pak Jati mencoba menetralkan suasana. Dia berharap Cempaka tidak bertanya tentang undangan lagi.
"Nanti jam setengah delapan pak" Sahutnya sambil menatap jam dinding yang baru menunjukkan pukul 6. lewat 30 menit.
"Bapak dan ibu mau berangkat jam berapa ke undangannya?"
Lagi-lagi Cempaka bertanya tentang ke undangan itu.
"Emh, emh, se sebentar lagi" Gelagapan jawabannya pak Jati.
__ADS_1
"Di mana pak tempatnya?" Cempaka bertanya lagi.
"Di, di mana ya bu? Tuh tempatnya. Bapak agak lupa" Pak Jati berkilah sambil menahan gejolak di dadanya.
"Apa pak?" Rupanya bu Sekar juga tidak konsentrasi. Dia kaget dengan pertanyaan suaminya.
Cempaka menatap wajah pak Jati dan bu Sekar secara bergantian. Dia merasa curiga dengan sikap kedua orangtuanya yang tidak seperti biasanya.
"Bu, pak, aku mau siap-siap dulu takut terlambat" Cempaka tidak memperpanjang kecurigaannya.
Dia segera beranjak ke kamarnya.
"Iya, iya... Ibu juga mau siap-siap juga" Sahut bu Sekar kikuk.
Dengan membawa seribu tanda tanya di benaknya, Cempaka berlalu ke kamarnya. Dia mencoba untuk tidak memperdulikannya.
"Pak! Ibu jadi bingung"
"Sama bapak juga bu. Tapi, semuanya harus kita hadapi bersama. Kita sudah kadung ikut nyebur ke rencananya besan kita" Pak Jati pasrah dengan keadaan.
"Bu, pak, aku berangkat sekarang ya" Tiba-tiba Cempaka sudah berada di hadapan keduanya, pamitan hendak berangkat kuliah.
"Iya, iya nak"
"Assalamualaikum... " Cempaka berlalu setelah mencium tangan ibu dan bapaknya.
"Waalaikumsalam... Hati-hati nak!"
"Iya bu, pak! Ibu sama bapak juga hati-hati ya!" Balas Cempaka.
"Ayo pak! Kita siap-siap juga, enggak enak sama keluarga besan kita. Ma'afkan Ibu sama bapak ya Cempaka" Gumam bu Sekar.
*
Anyelir dan Petir sudah duduk bersanding di kursi pelaminan, di teras rumahnya bu Tari.
Dekorasinya sangat mewah sekali. Bu Tari sengaja mengambil riasan yang paling mewah pada sa'at itu.
"Kamu nampak cantik sekali, dan kamu ganteng banget. Kalian memang pasangan yang serasi" Puji Kenari kepada adiknya.
"Makasih kak" Anyelir menyahut manja.
"Sudah jam delapan, tapi ibu sama bapak belum datang ya?" Anyelir sedikit merenggut.
"Lagi di jalan mungkin" Hibur Petir.
"Kalau sampai mereka tidak datang, aku enggak akan mema'afkan ke dua orang tuaku" Anyelir mengancam.
"Hey, sabar dong sayang. Jangan begitu! Enggak baik. Malu tuh! Para tamu sudah mulai berdatangan. Itu perbaiki bibirnya jangan manyun begitu, jelek!" Ujar Bunga yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
"Iya kak" Anyelir menjawabnya sambil nyengir kuda.
"Selamat ya neng Anyelir, a Petir" Satu persatu para undangan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.
Pesta pernikahan pun berlangsung sangat meriah, semua nampak bersuka cita, tak seorangpun yang teringat dan peduli kepada Cempaka.
*
"Assalamualaikum..." Kira-kira jam sepuluh kurang bu Sekar dan pak Jati baru tiba di rumahnya bu Tari.
"Tuuh, ibu dan bapak sudah datang" Bunga menyeru gembira.
"Bukan sudah datang. Tapi, baru datang! Tamu juga sudah datang dari tadi, ini yang punya hajat baru nongol" Kenari ngedumel.
"Dasar, bapak sama ibu itu terlalu sibuk menimbang perasaannya Cempaka yang jomblo itu" Lagi-lagi Kenari ngedumel.
"Besan, selamat datang. Terimakasih sudah mau datang ke sini" Bu Tari sumringah menyambut bu Sekar dan pak Jati yang baru datang.
"Iya bu, ma'af baru sampai" Ucap bu Sekar.
"Assalamualaikum pak Jati, bu. Selamat ya atas pernikahan putrinya" Tiba-tiba ada yang mengucapkan salam dan selamat kepada pak Jati dan bu Sekar.
"Eh, iya, iya terimakasih" Gelagapan pak Jati dan bu Sekar menyambutnya. Karena, yang mengucapkan selamat itu adalah para guru di Sekolahnya.
Sedangkan dia tidak merasa mengundangnya.
"Kok! Bu Arum dan guru-guru yang lainnya pada datang ke pesta pernikahannya Anyelir dan Petir, bu? Memangnya siapa yang mengundang mereka?" Pak Jati bertanya kebingungan kepada bu Sekar, yang sama-sama merasa bingung.
"Saya enggak melihat neng Cempaka ya? Di mana dia bu? Sudah lama saya tidak bertemu dengannya" Bu Arum mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Emh, emh Cempaka di, di belakang mungkin" Bu Sekar kebingungan mau jawab apa.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau guru-guru akan datang ke pesta pernikahannya Anyelir. Karena, dia tidak mengundangnya.
"Silahkan di nikmati hidangannya" Bu Sekar berusaha untuk bersikap wajar.
"Neng Anyelir itu kan, adiknya neng Cempaka ya bu? Enggak nyangka, dia dapat jodoh duluan" Ujar bu Senja seraya mengambil puding coklat kesukaannya.
"Iya, namanya juga jodoh, enggak ada yang tahu. Tapi, kita sepertinya dari tadi tidak melihat neng Cempaka ya" Guru yang lain menanyakan keberadaannya Cempaka.
"Ma'af ibu-ibu, bapak-bapak Kami tinggal dulu sebentar, silahkan di nikmati hidangannya" Bu Sekar menggamit tangan suaminya untuk di bawa ke belakang.
"Iya bu, silahkan" Sahut semuanya.
Pak Jati dan bu Sekar tergopoh-gopoh mencari tempat yang agak jauh dari keramaian.
***
__ADS_1