
Setelah mengetahui bahwa ibu dan bapaknya kurang setuju dengan pendapatnya itu, Cempaka jadi tidak seriang dulu.
Kini dia lebih banyak diam di kamarnya.
Seperti siang itu, sepulangnya dari sekolah tempatnya bekerja sebagai guru honorer, dia langsung masuk ke kamarnya. Tidak seperti biasanya.
Dia merebahkan badannya di atas kasur, sambil menatap keluar lewat jendela kamarnya.
"Kenapa ibu sama bapak bersikeras supaya aku menunggu si Buana itu? Jelas-jelas dia itu sudah berpaling kepada perempuan lain" Gumamnya.
"Tok!... Tok!...Tok!... Assalamualaikum... Cempaka, kamu tidur enggak?" Tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk, dan juga ada yang mengucapkan salam serta memanggil namanya.
"Seperti suara kak Kenari, iya gitu?..." Gumamnya.
Dia belum mau menjawabnya, dia merasa malas dan kesal. Karena perasaan cintanya kepada Samudera, dipaksa harus di buangnya jauh-jauh.
Padahal, rasa cinta itu baru kali ini menjelma di dalam hidupnya, tanpa paksaan dan rayuan dari segala arah, seperti perasaannya kepada Buana, yang hadir setelah mendapatkan rayuan, bujukan dari sana-sini.
"Cempaka!..." Terdengar lagi suara itu memanggilnya.
"Mungkin tidur" Terdengar suara ibunya.
"Iya mungkin dia ketiduran, biar nanti saja. Aku kan mau nginap di sini, sudah lama sekali aku tidak nginap di sini, kalau enggak salah... Sejak anakku berusia satu tahun ya bu?" Terdengar lagi suara seorang perempuan selain suara ibunya.
"Iya kayaknya, dia ketiduran. Hai... Cucu nenek sudah makan belum?" Tanya bu Sekar kepada Cemara, cucu pertamanya.
"Sudah nenek, terimakasih" Suara cadel itu sangat lucu kedengarannya di telinga.
"Berarti benar, itu suaranya kakak sulungku, kak Kenari bersama Cemara, keponakanku" Gumam Cempaka lagi sambil terus tiduran di atas kasurnya.
"Cemara!... Aku gendong ya kak!"
Terdengar suara Anyelir, adikku.
"Enggak usah di gendong Anye, dia kan sudah pintar berjalan. Masa, masih di gendong?" Ujar Kenari sambil memberikan Cemara kepada adiknya itu.
"Oh iya, aku lupa kak" Sahut Anyelir.
"Aku ceritakan gitu masalah ku ini kepada kak Kenari?... Tapi, aku takut nanti dia malah sependapat dengan ibu dan bapak" Gumamnya lagi.
"Rencananya aku mau pindah lagi ke sini bu, karena suamiku kerjanya di pindahkan ke daerah ini. Kalau dari rumahku dia kejauhan" Ujar Kenari.
"Oh... Begitu, ya baiklah biar ibu bisa dekat dengan cucu ibu ini"
Bu Sekar nampak senang, dia menjawil pipi cucunya yang tengah bermain bersama Anyelir.
"Di sini ada rumah yang mau di jual enggak ya bu?... Barangkali ibu tahu" Tanya Kenari lagi.
"Kenapa harus nyari rumah segala?... Itu kan rumah nenekmu masih kosong. Tapi, seminggu sekali suka di bersihkan sama Cempaka, dan suka di pake buat memberi les belajar tambahan buat murid-muridnya . Kamu mau kan nempatin rumah itu?"Ujar bu Sekar.
"Oh iya ya, tapi kalau rumah itu di tempati oleh kami, nanti bagaimana kalau Cempaka mau ngasih les murid-muridnya?" Kenari nampaknya was-was.
"Disana kan cuma biar tidak kosong saja, Cempaka bisa di sini ngasih lesnya" Ujar bu Sekar meyakinkan anak sulungnya itu.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, tapi aku mau bicara dulu dengan dia, biar tidak salah faham" Ujar Kenari lagi.
"Iya, tentu saja, biar tidak ada keributan di antara adik dan kakak. Ibu enggak mau dengar lagi ada cek-cok seperti kemarin- kemarin itu, pusing jadinya" Bu Sekar mengungkap kan keluhannya.
"Iya bu, kalau masalah kemarin itu sebenarnya salahnya Bunga ya bu, kalau menurut aku. Kalau saja Bunga mau cerita sama Sakti sebelum Buana berangkat ke tempat tugasnya, mungkin tidak akan ada insiden percobaan bunuh diri" Kata Kenari, sedikitnya menyalahkan Bunga, adiknya.
"Eh bu, bagaimana kabarnya Cempaka sekarang? terus... Apa Buana suka pulang dari tempat tugasnya?... Iya menemui Cempaka" Kenari bertanya merasa penasaran.
"Cempaka Alhamdulillah baik-baik saja. Pernah pulang sekali, sejak dia bertugas di daerah S itu, tapi tidak mampir ke rumah enggak tahu kenapa" Ucap bu Sekar dengan sedih.
"Buana bertugas di sana?... Jangan-jangan... Tapi semoga saja tidak. Tapi, kenapa ya dia tidak menemui Cempaka?... Apakah mereka berantem?... Atau... Mungkin Buana marah karena waktu itu dia tidak jadi melamar Cempaka" Kenari menduga-duga.
"Entahlah, ibu juga tidak tahu persis. Tapi kalau berantem sih enggak" Sahut bu Sekar bingung.
Semua pembicaraan antara Kenari dan bu Sekar, sangat jelas semuanya terdengar oleh Cempaka. Karena, mereka berbincangnya tepat di depan kamarnya Cempaka.
"Kak Kenari mau pindah ke sini, semoga saja dia bisa membantu aku memecahkan masalahku ini" Gumam Cempaka.
"Allahuakbar... Allahuakbar..." Kumandang adzan ashar terdengar bergema dari Masjid yang berada di tengah kampung.
"Alhamdulillah ya Allah... Sudah adzan ashar lagi" Cempaka bangun dari tempat tidurnya. Dia meregangkan otot-otot nya yang terasa penat sebentar.
"Seruni!... Sudah waktunya shalat ashar, bangunkan kakakmu tuh! Jangan sampai dia tidur di waktu ashar, enggak baik pamali!"Ujar bu Sekar menyuruh Seruni untuk membangunkan Cempaka.
"Kakak!... Kata ibu bangun!... Sudah sore, sudah ashar!... Bangun kak!" Teriak Seruni kencang.
"Iya!... Iya!... Sebentar!"Jawab Cempaka dengan berteriak juga.
"Ceklek!..." Suara gagang pintu kamarnya Cempaka terdengar di buka dari dalam.
"Kakak!... Itu ada Cemara sama mamahnya" Ujar Seruni sambil menunjuk Cemara yang sedang bermain bersama Anyelir.
"Ooh!... Ada kak Kenari? Kapan datang kak?" Cempaka berseru, dia pura-pura kaget.
"Tadi, sebelum Ashar" Sahutnya.
"Aku ketiduran kak, pulang dari sekolah tadi" Ucap Cempaka.
"Anak gadis jangan banyak tidur siang lho!... Enggak baik" Kenari mengingatkan adiknya.
"Aku cape kak, tadi habis ngajarin olahraga sama anak-anak" Ujar Cempaka.
"Memang guru olahraganya kemana?"Tanya Kenari.
"Guru olahraganya lagi sakit, sudah dua hari" Sahut Cempaka.
"Kak, aku ngambil wudhu dulu ya.
Mau shalat ashar dulu biar tenang"Cempaka segera beranjak meninggalkan Seruni.
Sehabis Shalat Ashar, Cempaka
menghampiri Seruni lagi.
__ADS_1
"Kakak sudah shalat ashar? Kalau mau shalat ashar, biar aku yang jagain Cemara" Ujarnya sambil membopong keponakannya.
"Aku lagu halangan dek!" Sahut Kenari.
"Ooh... Ma'af kak! Aku enggak tahu"Ujar Cempaka sambil duduk di samping Kenari, kakak sulungnya itu.
"Bagaimana kabarnya Buana mu itu dek?" Kenari mencoba mencari tahu tentang Buana.
"Enggak tahu kak" Cempaka menjawab lemas.
"Kok!... Enggak tahu?... Dia kan kekasihmu"Selidik Kenari lagi.
Cempaka diam tak menjawabnya, dia malah menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Kamu berantem sama Buana?"
Kenari menyelidik.
Cempaka hanya menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban atas pertanyaannya Kenari.
"Sejak kejadian pembatalan pertunangan kalian itu, dia pernah menemui kamu lagi enggak?" Tanya Kenari lagi.
"Pernah sekali waktu pamitan mau berangkat ke tempat tugasnya. Aku juga ikut mengantarkannya bersama keluarganya"Tutur Cempaka.
"Lalu, setelah dia bertugas di sana, apa pernah ke sini lagi?"
Kenari bertanya kembali, dia sepertinya sangat penasaran banget.
"Belum kak" Sahut Cempaka lirih.
"Tapi, dia pernah pulang kan?" Selidiknya lagi.
Cempaka menganggukkan kepalanya.
"Pulang tapi tidak menemui kekasihnya, calon isterinya. Ini aneh sekali, tidak bisa di biarkan ini. Mestinya di telusuri penyebabnya" Ujar Kenari penuh semangat.
"Kamu sudah menanyakan, apa dan kenapa yang menjadi alasan dia tidak menemuimu?"Kenari begitu gencarnya menanyakan kabar tentang hubungan adiknya dan tetangganya itu.
"Enggak boleh sama bapak"Ujar Cempaka.
"Enggak usah bilang dulu sama bapak, tinggal pergi saja, dekat ini. Iya kan bu?" Ujar Kenari minta pendapat dari ibunya. Yang dari tadi hanya menyimak apa yang di bicarakan oleh kakak adik itu.
"Eeh!... Ini anak!... Malah ngomporin, bukannya di redam supaya dia tidak ingin ke sana"
Bu Sekar merasa tak suka dengan usulan anak sulungnya itu
"Dia yang bikin janji, dia yang pergi. Harusnya dia datang ke sini, bicara baik-baik itu maunya bapakmu!" Bu Sekar mengomentari.
"Ya... Kalau gitu sih gimana ya?...
Kita lihat saja nanti, apa dia itu masih mengharapkan mu atau tidak?"Sepertinya Kenari mentok tidak bisa berkata-kata lagi.
"Sabar ya, Allah pasti punya rencana lain yang lebih baik lagi" Ujar Kenari mencoba menasihati.
__ADS_1
Cempaka menganggukkan kepalanya, dia sebenarnya sudah tidak mau lagi membahas tentang Buana, hanya membuat sakit hatinya saja.