
Setelah pak Jati dan ketiga adiknya Cempaka tiba di rumah.
Bu Sekar dan Cempakapun berangkat menuju desa yang lumayan jauh dari Kampungnya.
Mereka akan menemui orangl pintar yang katanya sakti, d6 melihat jodoh dan masa depan orang, lewat penerawangannya.
"Masih jauh buu?" Cempaka merasa tak sabar. Karena, mereka sudah lumayan lama di perjalanan.
"Turun dari kendaraan ini, kita naik kendaraan yang menuju ke sana. Kira-kira satu jam lebih lagi kita baru sampai ke rumahnya mak Ijah." Ujar bu Sekar berbisik.
"Lumayan jauh juga ya buu"
Cempaka menguap ngantuk, karena dia semalaman kurang tidur waktu di peuyeum di rumahnya mak Inah.
"Jangan tidur ah, bentar lagi kita turun. Tuh di pertigaan depan itu.
Dari sana kita naik angkutan lagi yang menuju ke rumahnya mak Ijah. Terus kita jalan kaki selama lima belas menit. Baru sampai di rumahnya mak Ijah" Bisik bu Sekar lagi.
"Iya buu" Ucap Cempaka sambil nguap kembali. Matanya sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi.
Dia sudah ngantuk berat. Akhirnya... Diapun tertidur sambil nyender di bahu ibunya.
"Cempaka, bangun! Sudah sampai" Bu Sekar membangunkan anaknya.
"Emh..., ngantuk banget buu" Sahut Cempaka malas.
"Bangun! Sudah sampai!" Ujar bu Sekar lagi.
Setelah Cempaka bangun, merekapun lalu naik kendaraan yang membawanya ke rumahnya mak Ijah.
Setengah jam kemudian, mereka turun dari kendaraan itu. Lalu di lanjutkan dengan berjalan kaki hingga ke rumahnya mak Ijah.
"Semoga saja mak Ijah nya ada di rumah." Bu Sekar memecah kesunyian. Dia membuka percakapan.
"Memangnya suka ke mana gitu buu?" Tanya Cempaka yang masih nampak mengantuk itu.
" Kan suka ada yang ngundang ke rumahnya pasien" Sahut bu Sekar.
"Di Undang buat apa?" Cempaka masih tidak mengerti.
"Kalau ada pasien yang malas datang ke sini, atau tidak bisa datang karena sesuatu hal, mereka suka menjemputnya ke mari, dan di obati di rumahnya masing-masing" Ujar bu Sekar.
"Ooh... Begitu buu"
"Kita sudah sampai neng, ayo!" Bu Sekar menghentikan langkahnya tepat di depan rumah panggung yang bercat putih bersih.
"Ini buu rumahnya?" Cempakapun ikut menghentikan langkahnya. Dia memandangi rumah panggung yang ada di hadapannya.
Nampak bersih dengan halaman yang lumayan cukup luas.
"Ayo kita masuk!"
Dari halaman terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang tengah di kumandangkan.
Terdengar lembut di telinga.
__ADS_1
"Alhamdulillah... Mak Ijahnya ada di rumah." Bu Sekar tersenyum senang. Karena orang yang di carinya berada di rumahnya.
"Ibu tahu dari mana kalau mak Ijah nya ada di rumah?" Cempaka keheranan.
"Yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an itu adalah mak Ijah. Beliau kalau ada di rumah selalu mengaji dan mengaji, nak!" Ujar bu Sekar.
"Ooh... Merdu juga suaranya ya bu yaa." Cempaka merasa kagum dengan suaranya mak Ijah.
Bu Sekar menganggukkan kepalanya.
"Assalamualaikum..." Ucap bu Sekar lantang.
"Waalaikumsalam... Masuk saja, pintunya tidak di kunci" Sahut dari dalam. Lantunan suara ayat-ayat suci Al-Qur'an pun terhenti seketika.
"Mak, sehat?" Bu Sekar berbasa-basi.
"Alhamdulillah... Sehat" Sahutnya
dengan ramah.
" Ma'af mak, kedatangan kami sudah mengganggu" Ujar bu Sekar lagi, dia minta ma'af. Karena sudah menghentikan rutinitasnya mak Ijah.
"Tidak apa-apa, sama sekali tidak mengganggu" Ujarnya lembut.
"Ini anaknya ibu juga? Siapa namanya?" Mak Ijah menatap lembut wajah Cempaka.
"Iya mak, namanya Cempaka. Adiknya Bunga yang baru nikah beberapa bulan yang lalu itu."
Bu Sekar menjelaskan.
"Ooh... Iya... Iya..." Sahutnya.
"Iya mak, saya kasihan sekali melihatnya. Saya sangat menyesal sekali karena telah menolak seseorang yang hendak meminangnya." Bu Sekar merasa bersalah.
"Itu bukan salah bu Sekar, itu semua ujian dari Allah SWT yang harus di lalui oleh neng Cempaka" Mak Ijah menenangkan bu Sekar.
"Mengenai jodohnya bagaimana mak? Coba tolong di terawang"
Pinta bu Sekar.
Mak Ijah diam sambil memejamkan matanya dalam beberapa sa'at.
"Sepertinya masih lama" Katanya singkat. Jawaban yang membuat hati Cempaka terasa di tohok sesuatu yang begitu sakit rasanya.
"Ma'afkan mak Ijah, hanya itu yang terlihat oleh emak sa'at ini.
Kelihatannya jodohnya dari arah selatan, tapi masih lama" Ujarnya lagi sambil menatap wajahnya Cempaka dengan lembut.
"Kira-kira kapan mak?" Bu Sekar sepertinya merasa penasaran.
"Kalau itu, emak belum tahu"
Jawab mak Ijah lagi.
"Ya sudah kalau begitu mak, kami ucapkan terimakasih ya mak. Kami pamit dulu ya mak, Assalamualaikum" Ujar bu Sekar
__ADS_1
berpamitan kepada mak Ijah.
"Waalaikumsalam..."Sahut mak Ijah.
"Buu, bagaimana ya buu? Katanya masih lama jodoh aku"
Ujar Cempaka lesu.
"Kita berdo'a dengan ikhlas, semoga saja Allah SWT bisa mendekatkan jodohmu itu, kalau memang masih jauh" Bu Sekar
menenangkan hatinya Cempaka.
"Iya buu" Sahut Cempaka lesu.
Hingga sampai di rumah, Cempaka diam tak berkomentar apapun lagi.
Dia merasa putus asa mendengar perkataannya mak Ijah tadi.
"Kita cari lagi orang pintar lain yang bisa menarik dan mendekatkan jodohmu itu. Sudah jangan jangan putus asa"
Hibur bu Sekar, ketika melihat anaknya diam termenung tidak bergairah.
"Entahlah buu, aku jadi bingung sendiri. Kenapa harus aku alami hal yang seperti ini? Aku jadi khawatir buu, adik-adikku sudah menginjak dewasa. Apalagi Anyelir, dia sekarang sudah berusia dua puluh tahun, usiaku sudah dua puluh lima tahun, bagaimana ini buu?" Cempaka memelas mengadukan nasibnya.
"Semoga saja besok lusa jodohmu datang nak! Kata mak Ijah masih jauh, itu kan katanya.
Mak Ijah kan manusia seperti kita-kita, sudah jangan terlalu dipikirkan! Yang ada nanti kamu yang sakit." Hibur bu Sekar,
Jauh di dalam hatinya, dia merasa menyesal karena telah membawa anaknya ke tempatnya mak Ijah.
Tadinya dia ingin menghiburnya
dari kejadian semalam waktu Cempaka di peuyeum di rumahnya mak Inah.
Dia tidak tahu kalau penglihata mak Ijah tentang Cempaka akan begitu.
"Aku enggak apa-apa buu, mungkin sudah menjadi nasibku seperti ini buu. Tapi, kalau boleh nawar, jangan sampai aku di langkahi oleh adik-adikku. Aku enggak mau buu, aku malu kalau sampai adikku itu menikah duluan." Gumam Cempaka.
Tak terasa kelopak matanya sudah di penuhi oleh buliran bening yang memaksanya untuk keluar dari tempatnya.
Dengan sekali kedipan pelan saja, buliran-buliran bening itu berjatuhan membasahi kedua pipinya.
Cempaka menangis dalam diam.
Dia merasa tidak berdaya sama sekali. Dia lemah.
Tidak punya kekuatan sama sekali.
Ternyata... keramahannya tidak menunjang di permudah jodoh.
Sekolah tinggi ternyata hanya membuat dia merana sendiri.
Akankah rajin ibadah tidak membuat do'anya segera di ijabah?
Apakah rasa pedulinya selama ini, tidak membuatnya di permudah jodohnya?
__ADS_1
Amarah, kecewa, putus asa juga luka, kokoh bertahta di dalam jiwa.
Ku coba membasuh tubuhku dengan wudhu. Semoga saja dapat menyejukkan sebongkah hati yang tengah terluka dan perih.