Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Di kejar-kejar


__ADS_3

"Alhamdulillah ya Allah Kau sudah melindungi putri kami, dan juga sudah melindungi kami semua dari bencana yang sangat mengerikan itu, yaitu bencana malu dan rusaknya harga diri kami, hancurnya harkat martabat kami semua. Terimakasih ya Allah" Bu Sekar begitu sangat bersyukur sekali, setelah mendengar semua penuturannya Cempaka dan Indah, ketika mereka di hadang oleh laki-laki yang bernama Yanto yang kurang ajar itu.


"Mulai dari sekarang, kamu harus hati-hati ya nak ya! Apalagi sama si Yanto, kamu harus jaga jarak, jangan sampai dia mengira kau mau di dekati olehnya! Orang itu sangat berbahaya sekali" Nasihat bu Sekar, beliau sangat khawatir sekali dengan putrinya itu.


"Iya bu, dari awal juga aku sudah tidak suka. Tapi, dia yang terus-terusan mendekati aku" Cempaka mengungkapkan yang sebenarnya.


"Itu karena aku yang menyemangati supaya kau menerima dia" Indah merasa bersalah.


"Sudah! Sudah jangan bicarakan itu lagi!" Cempaka menghentikan ungkapan penyesalan dari Indah. Dia tidak mau kalau sahabatnya itu sedih.


"Semoga nanti malam tidak hujan" Cempaka mengalihkan pembicaraan.


"Amiin" Sahut Indah dan bu Sekar.


"Kalian cepat makan dulu! Katanya tadi lapar" Bu Sekar mengingatkan.


"Oia, kita kan tadi mau makan, kenapa malah ngelantur ke mana-mana?" Ujar Cempaka.


Tangannya segera meraih lengannya Indah, untuk di bawanya ke ruang makan.


"Ibu juga makan bareng kami, ya bu, ya!" Ujar Cempaka. Dia segera menyiapkan tiga buah piring, lalu masing-masing piring itu di tuangi nasi putih yang masih hangat.


Kamipun makan dengan lahapnya.


*


Sudah Satu minggu sejak kejadian di rumahnya Cempaka itu, Yanto tidak sekalipun masuk kerja. Dia tidak terlihat di tempat kerjanya.


Heri, teman satu mesinnya pun tidak mengetahuinya.


"Si Yanto sepertinya tidak masuk kerja lagi, ya" Indah mencari tahu tentang keberadaannya.


Waktu itu mereka tengah istirahat di kantin.lndah sengaja


menanyakan Yanto di sana. Karena ada Heri teman satu mesinnya, dan juga Yeti tetangganya.


"Dia kembali lagi menjadi calo"


Sahut Yeti, sambil menatap ke arah Indah.


"Syukurlah, kalau begitu. Jadi aku tidak ketakutan lagi" Gumam Cempaka.


"Tadinya aku sudah senang waktu tahu dia kerja di sini. Soalnya kasihan sama orang tuanya" Ujar Yeti.


"Memangnya kenapa orang tuanya?" Tanya Heri, dia merasa heran. Karena, dia tidak mengetahui bagaimana kesehariannya Yanto di rumahnya.


"Ibunya kan sudah meninggal, bapaknya sudah sepuh, beliau dari dulu menginginkan supaya Yanto kerja, dan berhenti jadi calo serta mabuk - mabukkan. Mana dia kan sudah punya tanggung jawab lagi, anak dan istrinya kan harus di biayai. Nah, bapaknya dan istrinya juga tidak mau kalau ngasih makan mereka itu, uang hasil nyaloan angkutan umum" Tutur Yeti lagi.


"Ooh, dia sudah punya istri? Punya anak lagi" Heri terkejut mendengar Yanto sudah punya anak dan istri.


"Itu yang waktu membawakan


minum buat kita, waktu kita ke rumahnya. Nah, itu istrinya. Dan, anak kecil yang di gendongnya, itu anaknya" Ungkap Yeti.


"Jadi? Yang di kenalkan sama kita sebagai kakaknya itu, adalah istrinya?" Nuri seakan tak percaya, dia terperanjat mendengar kenyataan itu.


"Iya, itu istrinya Yanto" Ujar Yeti menegaskan.


"Berarti selama ini si Yanto itu sudah membohongi kita semua?"Ujar Nuri lagi.


"Ya, begitulah" Sahut Yeti.


"Katanya dia itu kan seorang calo angkutan umum, suka minum minuman keras lagi, suka mabuk. Tapi, kenapa ya?


Mbak Ranti mau di nikahi sama dia. Apa dia tidak tahu sebelumnya?" Indah bertanya-tanya keheranan.


"Waktu itu mbak Ranti tidak tahu, kalau kelakuannya dia seperti itu. Mbak Ranti terjebak,


baru dua bulan kenal dan dekat


dengan dia, Waktu Yanto ngajak tunangan, dia langsung mau tanpa di selidiki dulu. Sudah beberapa bulan menikah, barulah mbak Ranti melihat dengan mata kepalanya sendiri, kalau dia itu calo angkot dan suka mabuk-mabukkan lagi" Yeti menjelaskan dengan panjang lebar.


"Kasihan mbak Ranti" Gumam Cempaka, dengan mata nanar menatap ke kejauhan.


Dalam benaknya, dia membayangkan kalau saja kemarin dia tidak di kasih tahu oleh Yeti, dan tidak menelitinya, pasti dia juga akan mengalami hal yang kini di alami oleh mbak Ranti. Terimakasih ya Allah, Engkau masih melindungiku.


"Sebelum punya anak, mbak Ranti pernah minta pisah. Tapi, Yanto nya tidak mau. Dia malah


memarahi mbak Ranti habis-habisan. Untung nya waktu Yanto mau memukul mbak Ranti, keburu ketahuan sama ibunya Yanto. Dan warga segera melerainya, sejak sa'at itu mbak Ranti tidak berani lagi minta cerai sama Yanto" Ujar Yeti lagi.


"Lengkap juga dia, sudah pembohong, tukang mabuk, Calo, anak jalanan, egois lagi, mana kdrt juga, semoga jodohku tidak seperti itu" Nuri berujar.


"Amiin ya Allah" Kami semua mengaminkannya.

__ADS_1


"Hidupnya mbak Ranti sangat tertekan, kasihan sekali dia" Ujar Indah.


"Susah kalau sudah masuk perangkapnya dia. Orang yang seperti itu kan susah untuk di ajak ngomong baik- baik, yang ada malah berantem" Yeti menjelaskan.


"Yeti, terimakasih ya" Cempaka menatap Yeti dengan berlinang air mata.


"Sudah ah, nanti orang lain pada tahu" Yeti mengingatkan Cempaka.


"Tet! Tet!" Bel tanda habis waktu istirahat sudah berbunyi, tandanya harus melanjutkan kerja kembali.


"Ayo! Sudah waktunya masuk kerja lagi" Cempaka bangkit dari tempat duduknya.


Indah, sahabatnya bangkit pula mengikuti Cempaka yang sudah berjalan duluan.


"Akhirnya aku terbebas dari dia, Alhamdulillah ya Allah, terimakasih" Cempaka terus bersyukur kepada Allah SWT.


"Tak dapat di bayangkan bagaimana menderitanya, sakitnya hati dan perasaannya, seandainya iiih!" Gumam Cempaka sambil bergidik ngeri.


"Kamu kenapa?" Indah merasa kaget sa'at melihat Cempaka bergidik seperti yang ketakutan.


"Aku membayangkan kalau saja aku tidak di kasih tahu sama Yeti, enggak tahu bagaimana kejadiannya, pasti nasibku tidak akan jauh dari nasibnya mbak Ranti sekarang" Lirih suara Cempaka, menyampaikan isi hatinya.


"Jangan terlalu di bayangkan, nanti kamu kepikiran terus. Bisa - bisa kamu sakit nanti" Indah mengingatkan Cempaka.


"Iya Indah, terimakasih"


"Sudah ah, jangan membicarakan tentang itu lagi"


Sepertinya Indah ingin menenangkan sahabatnya.


"Iya Indah, aku juga sama ingin melupakan dia, ingin membuangnya jauh-jauh" Sahut Cempaka.


"Pasti bisa!" Indan memeluk Cempaka, menyemangatinya.


*


Waktu itu Cempaka baru pulang kerja pagi, masuk jam enam pagi, pulang jam dua siang. Seperti biasanya, dia bareng dengan Indah, sahabatnya hingga sampai ujung gang saja.


Karena, rumahnya Indah tidak masuk gang, sedangkan Cempaka harus masuk ke dalam gang dulu, dan berjalan selama beberapa menit.


"Cempaka! Tunggu!" Tiba-tiba terdengar ada suara seseorang yang memanggil namanya.


"Sepertinya aku hapal suara itu, ya Allah bagaimana ini?" Cempaka ketar-ketir ketakutan.


"Cempaka, tunggu sebentar! " Dia terdengar memanggilnya lagi. Cempaka tak menoleh sedikitpun, dia pura-pura tidak mendengarnya.


"Cempaka! Tunggu! Saya mau bicara sebentar saja" Dia malah semakin berteriak memanggil Cempaka.


"Ya Allah, kenapa dia bisa ada di sini? Ada apa lagi? Bukankah waktu itu dia sudah di usir sama Indah, dan sudah tidak masuk kerja lagi, kenapa pula sekarang dia malah mengikuti!ku?" Cempaka panik di buatnya.


"Ya Allah, lindungi aku dari orang itu" Cempaka berdo'a tiada henti.


"Ya Allah, tolong aku! Jauhkan orang itu dariku" Gumam Cempaka lagi.


"Cempaka, kalau kamu tidak berhenti, saya akan terus mengejarmu! Saya ada perlu sama kamu, Cempaka! Tunggu!" Teriakan itu makin kencang terdengar di telinga.


"Bagaimana ini? Mana enggak ada orang yang lewat lagi. Aku harus bagaimana ya Allah?" Cempaka berusaha untuk tidak menengok ke belakang.


Di belokan yang menuju ke rumahnya, Cempaka terhenti langkahnya. Karena, dari depannya ada sepeda motor yang berlawanan arah datangnya.


"Assalamualaikum, Neng Cempaka? Kenapa?" Rupanya pak Ustadz yang mengendarai sepeda motor itu.


"Waalaikumsalam, pak Ustadz, saya di kejar-kejar sama orang itu" Cempaka merasa senang karena ada orang untuk di mintai pertolongan.


"Orang yang mana?" Tanya pak Ustadz lagi. Lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.


"Enggak ada siapa-siapa" Ujarnya, sambil terus mencari seseorang yang di sebutkan Cempaka tadi.


"Di sana ,pak Ustadz" Cempaka menunjuk ke arah jalan gang yang tadi di lalui olehnya.


Pak Ustadz mengikuti telunjuk Cempaka. Dan, benar saja di sana di jalan gang, nampak seorang lelaki yang berjalan sempoyongan menuju ke arah mereka berdua.


"Itu pak Ustadz! Aku takut sekali" Cempaka mundur beberapa langkah, mencoba bersembunyi di belakang pak Ustadz.


"Sebentar, sebelumnya neng kenal sama orang itu?" Tanya pak Ustadz.


"Kenal, pak Ustadz" Cempaka menjawabnya ragu-ragu.


"Apa neng Cempaka ada masalah dengannya?" Tanya pak Ustadz lagi.


Sementara itu orang yang mengejar Cempaka, sudah semakin dekat saja.


"Ada masalah apa? Boleh pak Ustadz tahu?"

__ADS_1


"Emh, masalah pribadi pak Ustadz" Cempaka menjawabnya dengan agak malu-malu.


"Ooh, apa tidak di selesaikan dengan cara kekeluargaan saja? Supaya dia tidak teriak-teriak dan mengejar-ngejar begitu"


Pak Ustadz memberikan saran.


"Sudah pak Ustadz, tapi dia tetap mengejar-ngejar saya terus"


"Neng Cempaka tidak suka sama dia, begitu kan?" Pak Ustadz menarik kesimpulan.


"Iya pak Ustadz, soalnya dia sudah punya istri dan punya anak pula" Akhirnya Cempaka menceritakan tentang orang yang tengah mengejarnya itu.


"Emh, baiklah kalau begitu. Biarkan dia mendekati kita" Ujar pak Ustadz.


"Tapi, pak Ustadz?" Cempaka merasa ketakutan.


" Biarin ini tanggung jawab saya, neng Cempaka" Pak Ustadz meyakinkan Cempaka.


"Cempaka! Cempaka! Jangan pergi! Tunggu aku!" Dengan langkah yang terseok-seok dan sempoyongan, Orang itu yang tiada lain adalah Yanto, tak berhenti terus memanggil Cempaka


************ demi selangkah, akhirnya sampailah dia di depan Cempaka dan pak Ustadz.


"Pak Ustadz, aku takut" Cempaka mencoba untuk menghindar dari Yanto.


"Ucapkan salam dulu setiap kita bertemu dengan orang lain. Apalagi ini, kamu ada perlu kan sama neng Cempaka?" Dengan lembut pak Ustadz mengajari Yanto yang tengah mabuk alkohol itu.


"Assalamualaikum" Yanto menuruti perintah dari pak Ustadz.


"Nah, begitu! Kita kan ummat muslim" Lanjut pak Ustadz.


"Sebaiknya kita jangan berbicara di sini, kita berbicara nya di rumah saja, itu lebih baik"


Pak Ustadz memberikan saran lagi.


"Oia pak Ustadz, kita ke rumahku saja" Cempaka segera bergegas menuju ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa meter saja dari belokan itu.


Pak Ustadz membelokan kembali sepeda motornya, untuk menuju ke rumahnya bu Sekar, dengan Yanto di sampingnya.


Setengah berlari, Cempaka menuju ke rumahnya. Dia tidak mau bila harus berjalan bersama Yanto, si pembohong dan pemabuk itu.


"Assalamualaikum, bu! Ibu di mana? Ibu!" Cempaka berteriak mengucapkan salam, dan mencari-cari ibunya.


"Waalaikumsalam, iya nak! Ibu di sini, ada apa?" Bu Sekar menjawab salam anaknya, sambil keluar menuju ke teras.


"Ada pak Ustadz? Assalamualaikum pak Ustadz"


Bu Sekar nampak kaget melihat pak Ustadz dan Yanto ada di depan rumahnya.


"Waalaikumsalam" Jawab pak Ustadz


"Ada apa ini pak Ustadz? Kok! Kamu ada di sini? Mau apa lagi?" Bu Sekar bertanya sewot.


"Sebentar bu Sekar, kalau boleh, saya ingin tahu yang sebenarnya" Ujar pak Ustadz.


"Maksud pak Ustadz, tentang Cempaka?" Bu Sekar menjawab ragu.


"Iya, dan, tentang pemuda ini" Ujar pak Ustadz dengan ragu.


"Kenapa dia ada di sini?" Bu Sekar bertanya heran.


"Dia tadi mengejar-ngejar aku, bu! Untung saja di belokan depan ada pak Ustadz. Jadi dia berhenti mengejarku, dan kata pak Ustadz, masalah ini harus segera diselesaikan dengan cara kekeluargaan, begitu bu" Cempaka menuturkan kembali apa yang tadi di dengar dari pak Ustadz.


"Ooh, baiklah pak Ustadz, saya akan menceritakan semuanya tentang dia, dan siapa dia sebenarnya!" Bu Sekar berhenti sebentar, dia menatap ke arah Yanto yang kini diam menunduk.


"Dia itu suka sama anak saya, Cempaka. Dan, Cempaka menerimanya. Tapi, itu waktu Cempaka belum tahu kalau sebenarnya dia itu sudah punya istri dan punya anak perempuan satu, begitu pak Ustadz" Bu Sekar menuturkan.


"Dan setelah Cempaka mengetahui bahwa dia sudah punya anak dan istri, suka minum minuman keras lagi, jadi Cempaka menolaknya waktu dia akan melamarnya. Sejak sa'at itu, dia selalu mengejar-ngejar anak saya, setiap melihat atau bertemu dengan anak saya. Saya dan bapaknya sudah kesal dan jengkel dengan kelakuannya itu!


Tolong pak Ustadz, mungkin kalau di kasih pengertian oleh pak Ustadz, dia akan menerimanya" Lanjut bu Sekar panjang lebar.


"Kalau begitu, sudah jelas sekali


anda yang salah" Ujar pak Ustadz sambil menoleh ke arah Yanto.


"Tapi pak Ustadz, saya mencintainya. Saya akan serius, saya tidak akan main-main" Sahut Yanto.


"Tidak akan main-main. Tapi, mau mempermainkan dan menyakiti tiga orang perempuan sekaligus!" Ujar pak Ustadz.


"Anda akan menyakiti istri anda, anak anda dan juga Cempaka!Anda punya seorang anak perempuan, yang nantinya akan tumbuh besar dan dewasa, dan pastinya akan ada seorang lelaki yang mau melamarnya. Bila anak anda di lamar sama seorang laki-laki yang sudah punya istri, punya anak lagi. Apa anda sebagai orangtuanya, akan merestuinya?" Ujar pak Ustadz.


"Tidak" Jawab Yanto, setelah diam beberapa sa'at.


***

__ADS_1


__ADS_2