
Kenari bergegas meninggalkan Karmin di kamar kontrakan istrinya.
Langkahnya dia buat secepat mungkin, seperti yang takut ketinggalan kereta.
"Cempaka! Cempaka!" Kenari berteriak memanggil nama adiknya dari luar rumah.
"Ada apa, Kenari? Bukannya mengucapkan salam, ini malah teriak-teriak. Ada apa mencari adikmu?" Tanya bu Sekar dari dalam rumah.
"Iya bu, aku mau mencari Cempaka, ada kabar baik buat dia" Jawab Kenari sambil masuk ke dalam rumah ibunya.
"Cempaka belum pulang, dia langsung berangkat kuliah" Ujar bu Sekar, tangannya tak berhenti memainkan hakpen di tangannya. Setiap ada waktu senggang, bu Sekar selalu mengisi waktunya dengan merajut, membuat sweater atau syal, kadang membuat tas atau dompet.
"Jam berapa pulangnya?" Kenari seperti yang risau menunggu kepulangannya Cempaka.
"Biasanya kalau langsung pergi kuliah, ya jam enam jam tujuhan
pulangnya" Sahut bu Sekar.
"Aduh! Bagaimana ini?"Kenari nampak semakin risau.
"Tadi kamu bilang ada kabar baik, memangnya ada kabar baik apa?" Bu Sekar bertanya penasaran.
"Ada seorang laki-laki yang ingin berkenalan dengan Cempaka. Semoga saja dia jadi jodohnya"
"Memangnya, laki-laki itu tahu dari mana kamu punya adik perempuan yang namanya Cempaka?" Bu Sekar menyelidik.
"Aku perlihatkan photonya, dia langsung tertarik dan ingin mengenalnya lebih dekat lagi katanya" Dengan penuh semangat, Kenari memberikan kabar bohong.
"Jelas saja Langsung tertarik, wajah Cempaka cantik gitu. Pria mana yang tidak tertarik melihat wajah adikmu itu" Ujar bu Sekar merasa bangga.
Ucapan itu yang selalu membuat Kenari semakin benci terhadap adiknya itu.
"Kelamaan kalau aku harus nunggu di sini, aduh bagaimana ini? Surat ini harus segera sampai di tangannya Cempaka" Kenari jadi uring-uringan.
"Surat apaan sih?" Tanya bu Sekar, dia menyimpan rajutannya, duduknya pindah mendekati Kenari.
"Surat buat Cempaka dari laki-laki itu" Ujar Kenari.
"Aku ingin langsung menyampaikannya kepada Cempaka, sambil ada sesuatu yang hendak aku bicarakan dengannya" Kenari tidak mau memberikan surat itu kepada ibunya.
"Ya sudah kalau begitu tungguin saja sampai Cempakanya pulang" Ujar bu Sekar sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Apalagi yang di rencanakan oleh anak sulungku ini?" Bathin bu Sekar, ada rasa curiga di dalam hatinya.
"Anakmu anteng di titipkan di bu Danti?" Bu Sekar menanyakan cucunya.
"Iya bu, dia betah sekali kalau sudah bersama bu Danti. Kadang enggak mau sama aku kalau kelamaan di tinggalin"
"Syukurlah kalau begitu, bu Danti kan enggak punya anak, jadi kalau ada yang nitipin anaknya dia pasti senang" Ujar bu Sekar.
"Lama juga ya, sudah satu jam saya di sini" Kenari menggerutu.
Bu Sekar hanya melirik sebentar, setelah itu dia sibuk lagi dengan pekerjaannya.
"Kalau begini caranya, bisa - bisa suratnya mas Karmin enggak akan segera sampai ke tangannya Cempaka. Bisa gawat ini, janjiku sama Karmin bagaimana? Mana dia sudah tidak jadi pulang ke Indramayu"
Kenari bergumam sendiri.
Kenari nampak sangat gelisah sekali, menunggu kedatangan adiknya. Yang akan dia perdaya.
__ADS_1
"Ada apa? Sepertinya kamu sangat gelisah sekali, kenapa?" Bu Sekar yang melihat anak sulungnya gelisah itu, bertanya tak mengerti.
"Jangan- jangan, benar nih dugaanku" Bu Sekar menatap Kenari dengan sudut matanya.
"Aku, emh aku, ini emh aku ingin segera memberikan surat ini kepada adikku, iya ingin supaya surat ini segera sampai ke tangannya Cempaka" Ujar Kenari sedikit gugup.
"Assalamualaikum, aku pulang bu, pak!" Ucapan khas Cempaka setiap kembali dari manapun juga.
"Waalaikumsalam, masuk nak!" Jawab ibunya.
" Tuh adikmu sudah datang!" Ujar bu Sekar.
"Cempaka, ini ada yang mau kenalan sama kamu" Kenari memberikan sepucuk surat kepada Cempaka.
Cempaka mencium tangan ibunya, lalu tangannya Kenari.
"Surat apa?" Cempaka mengerutkan keningnya.
"Terima saja! Siapa tahu dia itu jodoh kamu!" Kenari memberikan surat itu ke tangannya Cempaka.
"Aku cape kak!" Cempaka menyelonjorkan kakinya, dan menyenderkan punggungnya ke dinding rumah.
"Urusan cape nanti belakangan!
Sekarang urusan jodoh kamu dulu, itu yang lebih penting! Ingat umur kamu! Adik kamu sudah pada gede, apa kamu mau di langkahi lagi?" Ujar Kenari lagi dengan sewot.
Cempaka sepertinya tidak peduli dengan perkataannya Kenari, dia cuek saja dengan surat itu.
"Cempaka! Ini cepat ambil! Baca, dan segera balas! Ingat umur, jangan sok jual mahal segala! Di seluruh kampung ini sudah tidak ada lagi gadis yang seusia kamu tapi masih belum nikah, ingat itu!" Kenari semakin sewot, dia merasa tersinggung karena Cempaka tidak langsung merespon surat dari Karmin yang dia berikan.
"Kenapa bisa dia mau kenalan sama aku? Bertemu juga belum pernah" Ujar Cempaka.
Cempaka diam tak merespon, sepertinya dia tidak merasa tertarik.
"Siapa yang nyuruh kakak ngenalin aku sama orang itu?" Ujar Kenari setelah diam beberapa sa'at.
"Kakak berinisiatif saja, karena kakak sangat sayang sama kamu, kakak enggak mau kalau kamu terus larut dalam kesendirian" Sahut Kenari, seperti yang benar saja sayang sama Cempaka.
"Dia orang Indramayu, menurut kakak, dia sangat cocok dengan kamu, sama - sama berpendidikan. Cuma bedanya dia tidak kuliah seperti kamu" Lanjut Kenari.
"Aku mau mandi dulu ah, gerah. Takut keburu sore" Kenari berdiri mau beranjak pergi ke belakang.
"Aku belum selesai bicara, jangan dulu pergi! Ini buat masa depan kamu! Duduk!" Kenari menarik tangannya Cempaka dengan kasar, hingga Cempaka terjerembab ke atas kursi yang di dudukinya tadi.
"Kakak!" Cempaka berteriak.
"Kenari! Kenapa sih kasar begitu sama adikmu?" Bu Sekar menegurnya dengan mata yang melotot ke arah anak sulungnya itu.
"Habis aku kesal, bu. Aku bela-belain mendekati laki-laki itu dengan harapan adikku ini segera mendapatkan jodoh. Eeh, yang di perjuangkannya malah cuek bebek, tak ada respon sama sekali, siapa yang tidak kesal coba?" Kenari membela diri.
"Ya mungkin adikmu belum tertarik, dia kan sedang kuliah. Mungkin mau menyelesaikan kuliahnya dulu, cobalah jangan dengan cara kasar begitu!" Tegur bu Sekar.
Kenari menarik nafasnya dalam-dalam, rasa kesal nampak sekali di raut wajahnya.
Tetapi, dia mencoba untuk menahannya dengan sekuat tenaga.
"Pokoknya aku harus berhasil menaklukkan si Cempaka! Hidupnya dia harus lebih buruk daripada aku. Kalau dia sampai jadi nikah sama si Karmin, dia berarti kalah dalam mendapatkan jodoh, karena dia di madu! Aku kan walau mantan suamiku sopir, tapi dia kan masih bujangan, belum punya istri he he" Bathin Kenari.
"Ya ma'afkan aku, Cempaka, kakak itu sangat prihatin melihat kamu seperti ini. Padahal wajahmu cantik, baik, ramah dan kamu itu berpendidikan tinggi lagi. Tapi, kenapa nasibmu tidak secantik wajahmu, tidak sebaik dirimu. Makanya kakak berusaha untuk mencarikan jodoh untuk kamu, siapa tahu kamu cocok" Kini perkataan Kenari berubah seketika, menjadi lemah lembut.
__ADS_1
Dia mengganti siasatnya.
"Gini saja, sekarang surat ini kamu terima saja dulu, jangan lupa di baca dan pikirkan jawabannya. Harus jawaban yang baik, yang enak di terima oleh yang membuat suratnya. Ingat! Jangan sampai menyinggung perasaannya" Ujar Kenari lagi menyusul perkataannya yang tadi.
"Saran kakak sih harus di terima, dia tidak jelek kok! Dia menunggu jawabannya besok pagi" Lanjut Kenari, dia tidak memberi kesempatan untuk berpikir kepada Cempaka.
"Kok, seperti yang memaksa" Ujar Cempaka tidak suka.
"Bukan memaksa, tapi meminta supaya bisa memanfaatkan kesempatan dan peluang yang ada, biar tidak sendirian lagi. Jadi kalau kemana - mana ada yang nemenin! Ada yang ngejagain! Dan yang jelas, enggak sendirian lagi!" Kenari mencoba sedikit bercanda.
Cempaka membalasnya dengan lirikkan matanya, sepertinya dia tidak merasa tertarik.
"Sekarang aku mau mandi, boleh?" Tanya Cempaka.
"Boleh, tapi nanti! Setelah kakak mendengarkan jawabannya yang menyenangkan hati, jawaban yang sesuai dengan yang di harapkan oleh Karmin" Ujar Kenari.
"Karmin?" Cempaka dan bu Sekar saling pandang.
"Iya, namanya Karmin. Laki - laki yang mau kenalan dengan kamu itu, namanya Karmin" Sahut Kenari.
"Ooh, namanya Karmin?" Ujar Cempaka manggut-manggut.
"Kakak tunggu jawaban mau nya, besok pagi!"
"Aku enggak mau kak, hatiku berkata tidak, kak"
"Kamu ini kenapa sih? Pikirkan baik-baik! Umur kamu sudah mau kepala tiga, apa enggak malu? Apa enggak kasihan sama ibu dan bapak? Apa kamu enggak malu dengan gelar yang di sematkan pada kamu? Coba pikirkan lagi, pokoknya gini saja, sekarang kamu baca dulu suratnya!" Kenari membuka amplop yang dari tadi tergeletak di atas meja.
"Nih! Ayo baca! Biar cepat kelar ni urusan!" Kenari memberikan selembar kertas yang dia keluarkan dari dalam amplop.
Cempaka tidak menerimanya. Tapi, matanya memandangi sehelai kertas itu, dia membacanya kata demi kata hingga kata terakhir.
"Kenapa enggak di ambil?" Tanya Kenari.
"Enggak usah, dari sini juga sudah terbaca semuanya, aku sudah ngerti isinya" Sahut Cempaka.
"Lalu, jawabannya?"
"Iya nanti saja, kan besok katanya!"
"Tapi, jawabannya mau, kan? Pokoknya harus mau! Ingat umur! Biar tidak ada yang mengatakan jomblo lagi! Apa kamu tidak sakit hati di sebut putri jomblo, di sebut perawan tua?" Kenari berbisik di telinganya Cempaka.
Cempaka mendelikan matanya kepada Kenari.
"Enggak usah mendelik, pikirkan perkataan kakak tadi! Kamu harus mau menerima Karmin sebagai suamimu! Kakak tidak mau tahu, pokoknya kamu harus menerimanya, ingat itu!" Bisik Kenari lagi dengan nada yang tegas.
"Kakak?" Cempaka berteriak.
"Kenapa nak?" Bu Sekar bertanya kepada Cempaka.
"Enggak ada apa-apa bu! Kami hanya bercanda saja" Kenari langsung menjawabnya. Mulut Cempaka yang baru terbuka pun langsung tertutup kembali.
"Kakak besok mau ke sini lagi, mau ngambil surat balasan dari kamu buat Karmin. Ingat harus mau! Tidak boleh tidak! Sekarang kakak mau pulang dulu, Aku mau pulang dulu, bu. Assalamualaikum" Kenari berlalu setelah mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam" Jawab bu Sekar dan Cempaka.
Kepergian Kenari membuat pusing kepalanya Cempaka.
"Belum tahu dan belum kenal sama orangnya, harus langsung mau saja, sangat menyebalkan sekali!" Gumam Cempaka menggerutu.
__ADS_1
***