Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Pengaduan Kenari


__ADS_3

Malam itu, setelah selesai kami shalat Isya, tiba-tiba pintu rumah ada yang menggedor sambil berteriak-teriak minta di bukain pintunya.


"Brugh!... Brugh!... Brugh!... Buu...


Tolong bukain pintunya Buuu!" Ujar seseorang, suara seorang perempuan.


"Seperti suara kak Kenari, kenapa ya? Seperti yang menangis lagi"


Anyelir menerka-nerka.


"Iya, itu suara kakakmu! Bukain pintunya! Pasti ada sesuatu" bu Sekar menyuruh Anyelir untuk segera membukakan pintunya.


"Iya buu" Anyelir segera bergegas menuju ke pintu samping rumahnya.


"Anye, mana ibuuu?" Ujarnya sambil berurai airmata, tangannya mendekap Cemara, anaknya yang baru berusia balita itu juga ikut menangis di pelukan ibunya.


"Kakak, kenapa? Ada apa kak?" Anyelir terkaget-kaget melihat kakak dan keponakannya yang menangis tersedu di hadapannya.


"Ibuuu!" Kenari langsung masuk menerobos pintu samping, setelah pintunya terbuka. Setengah berlari, dia mencari bu Sekar.


"Ini ada apa? Kenapa kamu nangis?" Bu Sekar segera menghampiri anak sulungnya itu.


Dan membimbingnya untuk duduk.


"Seruni, ambilkan minum air hangat, buat kakakmu" perintah bu Sekar kepada anak bungsunya.


"Iya bu" Seruni segera beranjak ke dapur untuk mengambil air minum buat kakaknya.


"Kak Kenari kenapa?" Bisiknya ketika dia berpapasan di pintu dapur bersama Anyer.


Yang di tanya tidak menjawab, dia hanya mengangkat bahunya.


Menandakan bahwa dia tidak tahu alasannya.


"Ini kak, di minum dulu airnya" Seruni menyodorkan secangkir air hangat kepada Kenari.


Setelah selesai minum, Kenari menarik nafasnya dalam-dalam.


Kemudian dia menghembuskan


kembali dengan kasar.


"Buuu, Papanya Cemara buu!" Ujarnya sambil tersedu.


"Memangnya kenapa dengan suamimu?" bu Sekar bertanya tak mengerti.


"Dia tidak pulang selama tiga hari, dan... Tak sengaja ku lihat dia di rumah perempuan lain buu!


Ujarnya.


"Maksudnya?" tanya bu Sekar lagi. Dia makin tak mengerti.


"Tadi aku... Aku ke pasar, di jalan aku melihat suamiku berjalan bersama seorang perempuan...


Aku ikuti mereka. Dan, mereka masuk ke sebuah gang besar yang di dekat pasar itu, ternyata mereka masuk ke sebuah rumah"


Kenari melanjutkan perkataannya.


Bu Sekar memperhatikan Kenari


dengan seksama.

__ADS_1


"Setelah ku tanya sama tetangga dekatnya, ternyata katanya mereka itu pengantin baru, buuu"


Kenari menangis lagi, kini makin keras tangisannya.


"Astaghfirulahaladziiim... Apa benar itu?..." Bu Sekar terperanjat kaget, dia segera pindah duduknya ke dekat Kenari, anak sulungnya itu.


"Iya buuu hiks..., hiks"


"Mungkin kamu salah lihat?"


"Enggak buuu, aku enggak salah lihat" Kenari menangis di pelukan ibunya.


"Kamu tadi langsung datangin mereka enggak?" darah bu Sekar jadi mendidih mendengar anaknya di selingkuhi oleh menantunya.


"Kakak ipar nikah lagi?" Anyelir dan Seruni ikut nimbrung.


"Huus! Kamu ini, anak kecil tahu apa? Sana! Masuk kamar, ini urusan orang dewasa!" bu Sekar menghardik kakak beradik itu.


"Ma'af buu" Anyelir dan Seruni segera bergegas ke kamarnya.


"Kasihan kak Kenari ya" Bisik Seruni, setelah mereka berada di dalam kamarnya.


"Iya, yang belum nikah maunya segera dapat jodoh. Yang sudah


punya suami, malah kurang ajar suaminya." Celetuk Seruni.


"Eh..., eh..., anak kecil aduuuh ngomongnya. Eh..., memang iya ya dek ya. Aneh memang" sahut Anyelir sambil merebahkan tubuhnya.


Sementara itu, bu Sekar tengah mencoba menenangkan anak sulungnya, yang belum berhenti menangis.


Tangisnya begitu menyesakkan dadanya.


Dia menangis di pelukan ibunya.


"Waalaikumsalam... " sahut bu Sekar.


"Anye..., bukain pintunya. Bapak pulang tuh!' dia berteriak menyuruh Anyelir.


Anyelir segera keluar dari dalam kamarnya, dan bergegas hendak membukakan pintu untuk pak Jati dan Kilat yang baru pulang dari Masjid.


"Seperti ada yang menangis?" Pak Jati mencari-cari asal suara.


"Kak Kenari pak, suaminya nikah lagi" ucap Anyelir, sambil mengunci kembali pintu rumahnya.


"Kenari menangis? Kenapa Kenari menangis?" pak Jati bergegas menuju ke ruang tengah, di mana Kenari tengah menangis di pelukan bu Sekar.


"Ini ada apa buuu?" Pak Jati duduk di depan anak dan istrinya.


"Ini pak, menantu pertama kita kata Kenari, dia ketahuan selingkuh sama perempuan lain"


bu Sekar mencoba menjelaskan kepada suaminya.


"Apaaa?... Si Raka selingkuh?..., itu kata siapa? Sekarang si Raka nya mana? Seenaknya saja bikin sakit hati anakku!" Pak Jati langsung emosi mendengar penjelasan dari istrinya, tentang menantunya itu.


"Iya pak, aku melihatnya sendiri"


Kenari berujar sambil tak henti-hentinya mengusap airmata yang berderai di pipinya.


"Anye, tolong tidurin Cemara di kamarnya Bunga, kakak mau tidur di sini." Kenari menyuruh Anyelir untuk menidurkan anaknya di kamarnya Bunga yang kosong, karena Bunga sudah pindah ke kampungnya Sakti, suaminya.


"Iya kak" Anyelir menggendong keponakannya yang berpipi gemil itu, lalu di tidurkan di kamarnya Bunga.

__ADS_1


"Kamu temenin sebentar ya" teriak Kenari.


"Iya" Sahut Anyelir berteriak juga. Karena kamar Bunga letaknya agak jauh dari ruang tengah.


Sementara itu, Cempaka yang berada di kamarnya, mendengar semua percakapan di ruang tengah dari dalam kamarnya.


Dia belum bisa lepas dari semua penderitaannya. Lukanya terlalu dalam terasa.


Apalagi waktu dia alami kejadian di pancuran Cikundul itu, dia kepikiran terus.


Kenapa, air pancuran itu bisa mengecil alirannya pada sa'at dia menghampiri pancuran itu. Tapi, waktu orang lain yang memakai pancuran itu, airnya tidak berubah, tetap menggelontor seperti biasanya, bathin Cempaka.


"Kenapa lagi kak Kenari ini? Kalau benar kakak ipar selingkuh, kasihan sekali kak Kenari" Gumamnya.


Dia tidak keluar dari kamarnya, dia mendengarkan apa yang di perbincangkan oleh Kakak dan kedua Orangtuanya.


"Si Raka memang kurang ajar sekali. Di mana dia sekarang?" bentak pak Jati lagi dengan emosi yang meninggi. Darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun.


Kenari menatap wajah ibunya, seakan minta persetujuan dari Ibunya.


Bu Sekar menganggukkan kepalanya.


"Dia baru pulang pak, dia ada di rumah ku" Ujar Kenari.


"Tadi kami bertengkar, dia tidak ngaku waktu aku tanya baik-baik tentang perempuan yang tadi bersamanya itu."


"Panggil si Raka kemari, dia harus mengakui kesalahannya. Dan bertanggung jawab atas semua tindakannya yang menyakiti anak kita ini." dengan geramnya pak Jati berujar.


"Siapa yang mau jemput dia ke mari pak? Ini sudah malam" bu Sekar sepertinya tak setuju kalau salah satu anaknya memanggil


Raka di rumahnya.


"Apa sebaiknya malam ini kita tenang dulu, besok baru kita bicarakan baik-baik. Kita cari tahu, kenapa dia bisa berbuat begitu sama anak kita?" bu Sekar mencoba untuk menenangkan suaminya.


"Itu bagus juga, tapi..., takut dia kabur malam ini." Kenari ketakutan suaminya kabur dari rumahnya.


"Mending kalau tidak membawa


apa-apa, kalau segala di angkut. Lalu di bawa ke rumah selingkuhannya gimana?" timpal Kenari lagi. Dia menghawatirkan barang-baranh di rumahnya di angkutin oleh Raka.


"Ya sudah!..., kita panggil dia ke mari sekarang juga. Bapak mau nyuruh hansip buat memanggilnya."


"Assalamualaikum..." Pak Jati keluar menuju ke pos kamling.


"Waalaikumsalam..., hati-hati pak!" bu Sekar mengingatkan suaminya.


"Assalamualaikum..., ma'af saya mengganggu!" ucap pak Jati setibanya di depan pos kamling.


"Waalaikumsalam..., eh pak RT"


"Saya minta tolong sebentar, bisa enggak?"


"Bisa pak, bisa!" salah satu hansip langsung menghampiri pak Jati.


"Tolong panggilkan menantu saya, pak. Saya ada perlu sama dia"


"Baik pak, saya panggilkan dia sekarang" Pak Hansip segera pergi menuju ke rumahnya Kenari.


Pak Jati menyuruh salah satu hansip untuk memanggil Raka, menantunya yang katanya selingkuh itu.


"Saya tunggu di rumah ya, terimakasih... Assalamualaikum"

__ADS_1


Setelah memberikan sebungkus rokok dan empat bungkus kopi, pak Jati segera berbalik menuju ke rumahnya kembali.


__ADS_2