
"Tadi kamu bilang bahwa kamu tidak jadi tunangan sama Buana.
Bagaimana ceritanya, kok! Bisa begitu?" Rupanya Mawar penasaran dengan ucapan Cempaka tadi sore.
Waktu itu keduanya sudah bersiap-siap untuk tidur.
"Iya, kak Bunga tidak rela kalau aku bertunangan duluan. Maunya dia dulu, karena dia sebagai kakak jadi harus dia duluan" Ingatannya kembali ke peristiwa beberapa bulan yang lalu.
"Emh... Kamu tidak langsung nikah kan?"Tanya Mawar lagi.
"Enggak, tadinya kami merencanakan untuk bertunangan saja dulu, kalau nikah nanti setelah kak Bunga menikah, baru aku nyusul. Tadinya biar Buana merasa tenang, soalnya dia di tugaskan di suatu daerah yang masyarakatnya masih suka menahan ktp kepada para pria asing yang kepergok ngobrol sama perempuan sana"Cempaka menjelaskan alasannya.
"Oalah... Buana di tugaskan di sana?... Bisa gawat itu! Mana dia seorang polisi lagi, pegawai biasa juga suka kena tahan ktp kalau enggak hati-hati" Mawar langsung duduk menghadap Cempaka dengan kagetnya, setelah dia tahu kekasih sahabatnya itu di tempatkan di daerah yang tergolong rawan itu.
"Karena itulah, Buana berniat melamarku sebelum dia berangkat ke tempat tugasnya. Tapi, kak Bunga tidak mau tahu. Dia malah nekad kabur dari rumah, dan malahan mau bunuh diri, mau minum racun tikus di hadapan orang tua kami" Sesuatu yang bening mulai nampak di pelupuk mata Cempaka.
"Memangnya kedua orangtuamu tidak bisa membujuknya gitu?... Atau... Ada solusi supaya kak Bunga tunangan duluan" Ujar Mawar sambil menatap sahabatnya.
"Sudah, ibu dan bapak menyarankan supaya kak Bunga minta di lamar duluan oleh kak Sakti, kak Bunga nya enggak mau, dia mau kak Sakti punya niat sendiri seperti Buana, jadi tidak di minta oleh pihak perempuan. Gitu war, sampai kami berantem hebat. Akhirnya...
Aku yang harus mengalah, Buana beserta keluarganya tidak bisa berbuat apa-apa" Ucap Cempaka.
Bulir bening itu akhirnya menyeruak keluar dan menetes membasahi kedua pipinya.
Cempaka gagal menahan tangisnya di hadapan sahabatnya itu.
"Aku ikut prihatin atas kejadian yang menimpamu, semoga kau kuat menghadapinya" Diusapnya bulir bening di pipinya Cempaka.
Cempaka hanya menjawabnya dengan anggukan kepalanya saja, dia tak kuasa untuk mengucapkan sepatah katapun. Karena tenggorokannya terasa tercekat oleh tangisan yang tak kuasa dia bendung.
"Sekarang Buana sudah berangkat belum?" Tanya Mawar setelah melihat Cempaka sedikit tenang.
"Sudah, malahan sudah kembali lagi bersama... Uhk... Perempuan lain" Cempaka menangis lagi di pelukannya Mawar.
Luka di hatinya terasa kambuh lagi. Terbayang kembali sa'at Buana tak meliriknya waktu dia berteriak memanggilnya.
"Maksudnya?... Buana sudah menikah dengan perempuan lain?... Kenapa bisa begitu?..." Kekagetan Mawar bertambah, bercampur kesal kepada Buana.
"Dia belum menikah tapi, perempuan itu adalah calon isterinya. Dia terjebak penahanan ktp waktu tengah belanja di sebuah warung, dan dia berbincang dengan seorang perempuan muda seumuran denganku, itu kata keponakannya. Tapi, ibu dan bapakku belum percaya sepenuhnya dengan kabar itu" Ujar Cempaka dibarengi isak tangisnya yang kian rapat.
"Lalu,bagaimana sikap kakakmu setelah mengetahui kejadian itu?" Mawar bertanya penasaran.
__ADS_1
"Dia biasa saja, malahan menurutku dia nampak senang mengetahui Buana berpaling dariku" Ucap Cempaka sambil mengusap airmata di pipinya.
"Kok begitu?... Memangnya ada masalah apa sih antara kamu dan kak Bunga itu? Sepertinya ada dendam terpendam" Mawar menduga-duga.
"Entahlah... Yang jelas dia ingin supaya jangan hanya dia sendiri yang merasakan sakit hati"
"Apa???... Apa telingaku ini enggak salah dengar?... Kok!... Ada ya seorang kakak yang ingin adiknya menderita juga. Eh... Ngomong-ngomong sekarang kak Bunga sudah nikah belum?"
Mawar penasaran.
"Belum, cuma sudah tunangan tidak lama setelah Buana berangkat ke tempat tugasnya. Dan tidak lama lagi mereka akan menikah, iya tahun-tahun ini" Ujar Cempaka.
"Ya Allah... Kak Bunga... Kak Bunga... Kenapa waktu itu tidak kau izinkan adikmu tunangan duluan, toh dia sendiri sudah ada calonnya" Mawar berkomentar sambil menepuk jidatnya, dia merasa kebingungan yang teramat sangat. Dia tidak mengerti dengan sikap kakak sahabatnya itu.
"Yah... Begitulah kak Bunga, dia itu sikapnya egois, bapak sama ibu juga merasa kewalahan, tidak bisa menasihatinya Jadi aku mengalah saja, kasihan sama ibu dan bapak" Tutur Cempaka.
"Aku pasrah saja, kalau Buana jodohku, pasti kami akan bersatu. Kalau pun dia bukan jodohku, aku yakin pasti Allah akan memberikan gantinya" Lanjut Cempaka lirih.
"Kamu memang anak yang baik, Cempaka. Berarti... Bapakmu sengaja menugaskan kamu ke sini, biar kau bisa melupakan sedikit dari beban hatimu, betul kan dugaan ku?" Mawar menebaknya.
"Mungkin juga" Sahut Cempaka lemah.
"Semoga saja aku bisa melupakan Buana, kalau seandainya dia benar seperti apa yang di katakan oleh keponakannya" Gumam Cempaka.
"Mawar!... Bikin malu saja" Pipi Cempaka nampak memerah.
"Tapi kau suka kan sama dia?... Aku senang lho! Kalau kamu jadian sama Samudera, kau suka kan?... Iya kan?" Goda Mawar lagi sambil beringsut mundur. Karena takut kena cubitan Cempaka.
"Mawar!... Aku malu tahu!... Bagaimana kalau kedengaran sama dia?" Cempaka jadi sewot.
Dia takut Samudera mendengarnya, karena rumahnya kan bersebelahan dengan rumahnya Mawar.
"Biar dia senang tahu?... Dia kan begitu terpesona sa'at bertatapan mata denganmu. Dan kamu juga suka sama dia kan? Ayo.. Ngaku!" Mawar makin heboh menggoda Cempaka.
"Tapi, ku akui aku merasa ada hal aneh yang tak pernah ku rasakan sebelumnya, waktu aku pertama kenalan dengan Buana, aku biasa-biasa saja" Ucap Cempaka sambil nyengir.
"Tuuh kan!... Akhirnya ngaku sendiri, sudahlah enggak usah pura-pura. Nanti kalau di ambil orang, nyesel seumur hidup lho!"
Ujar Mawar kegirangan.
"Memangnya dia belum punya pacar gitu?" Tanya Cempaka hati-hati.
__ADS_1
"Ahai!... Penasaran juga akhirnya.
Tenang saja, dia masih sendiri. Dia itu kayak kamu, jutek. Makanya aku kaget waktu tadi dia langsung terpesona setelah melihatmu, kalian langsung akrab setelah kalian berkenalan.
Itu berarti... Pengganti Buana sudah disiapkan oleh Allah, yaitu Samudera, saudaraku" Seru Mawar setengah berteriak.
"Aduh!... Mawar... Mawar... Sudah malam tuh!... Sudah jam dua belas malam!" Cempaka mengalihkan perhatian Mawar supaya berhenti menggodanya.
Benar saja, Mawar dengan cepat menolehkan kepalanya ke arah jam dinding.
"Baru jam sepuluh juga, syukurlah kalau kamu jadian dengan Samudera, biar kita jadi saudara, ayo kita tidur!... Biar segera memimpikan dia" Mawar masih menggodanya.
"Tahu ah!..." Cempaka cemberut pura-pura kesal.
Dia lalu membaringkan tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi lehernya.
"Ma'af ya, aku tadi menggodamu.
Aku tidak mau kau bersedih terus, aku mau kau bahagia sahabatku" Mawar meminta ma'af karena telah menggodanya.
"Tak apa-apa" Sahut Cempaka singkat.
"Eh... Bagaimana kabarmu dengan calonmu itu? apa masih rukun-rukun saja?"Cempaka mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah kami baik-baik saja" Sahut Mawar.
"Masih dengan dia kan?... Sang kakak kelas tercinta" Cempaka penasaran.
"Iya masih, besok kamu pasti ketemu" Ucap Mawar.
"Memangnya dia rumahnya di dekat sini?" Cempaka terkejut.
"Bukan, dia kan mengajar di sd Ujung jaya dua, yang dekat tukang bakso kemarin itu" Ucap Mawar.
"Dia sudah jadi pegawai negeri? Dia sudah di angkat?" Cempaka makin terkejut.
"Iya, baru setahun ini dia di angkat dan di tugaskan di sd Ujung jaya dua. Asalnya kan ngehonor sama aku di sd Ujung jaya satu" Tutur Mawar.
"Semoga saja kalian terus berjodoh sampai nanti" Ucap Cempaka.
"Amiin"Cempaka mengaminkan.
__ADS_1
"Rencananya kapan di resmikan?" Cempaka penasaran.
"Rencananya sih tahun ini" Sahut Mawar.