
"Sudah dua bulan lebih Cempaka murung terus. Badannya sampai kurus kering gitu, ibu khawatir," bu Sekar mengungkapkan kekhawatirannya kepada suaminya.
"Ini semua gara-gara kita yang begitu percaya kepada bu Seroja"
ujarnya lagi, nampak raut wajahnya menyimpan kekhawatiran dan rasa cemas yang teramat sangat.
"Cobaaa, kalau waktu itu kita tidak mengusir Samudera, pasti sekarang anak kita sudah nikah pak" Lanjutnya. Sudut matanya terasa menghangat, bu Sekar menangis.
"Sudahlah buuu! Itu memang sudah jalannya begitu, kalau Samudera jodohnya Cempaka, suatu hari nanti, mereka pasti akan bertemu lagi. Dan, pasti akan bersatu," pak Jati berusaha untuk menenangkan Isterinya.
"Kalau menurut bapak, lebih baik kita sekarang mencari solusinya, bagaimana supaya anak kita tidak terus- terusan murung begitu. Bapak ingin supaya dia punya aktivitas lagi seperti dulu, jangan di kamar terus, tercenung,
melamun, menangis. Bergelut terus dengan derita" pak Jati berharap supaya anaknya ceria lagi seperti dulu.
"Bagaimana caranya pak?" raut wajah bu Sekar mulai kelihatan ada harapan lagi menyapanya.
"Teman bapak ada yang menyarankan supaya Cempaka di bawa ke bu Ustadzah Fatimah, ini alamatnya, apa kita ajak saja dia ke sana,"ujar pak Jati dengan penuh semangat.
"Iya pak, ibu setuju. Kapan kita je sana?" bu Sekar begitu bersemangat.
"Bagaimana kalau besok,? bapak kan libur, jadi kita leluasa waktunya"usul pak Jati.
"Ibu ngikut saja, yang penting anak kita bisa kembali seperti biasa, anak kita tidak murung lagi, biar rasa penyesalan ibu tidak menghantui terus pak." sesal bu Sekar.
"Iya bu, tapi..., sebaiknya jangan dulu kita bawa Cempakanya, biar kita saja yang ke sana. Nanti, kalau bu Ustadzah Fatimahnya
nanyain, baru kita ajak dia. Bagaimana kalau begitu bu...,?apa ibu setuju?"pak Jati meminta pendapatnya bu Sekar.
"Kalau ibu bagaimana baiknya saja pak, yang penting anak kita sembuh dari derita bathinnya." rasa penyesalan mengambang di
rona wajahnya.
"Sebaiknya kita sekarang tidur saja dulu bu, biar besok tidak kesiangan" pak Jati merebahkan tubuhnya, dan menarik selimutnya, menghalau dinginnya malam yang mulai terasa kian menusuk hingga ke tulang sumsum.
Bu Sekarpun merebahkan tubuhnya di samping suaminya. Diapun melakukan hal yang sama, menghalau rasa dinginnya angin malam, hendak menjemput mimpi indah sang bunga tidur.
*
Keesokkan harinya, sebelum Adzan subuh terdengar berkumandang, bu Sekar dan suaminya sudah bangun untuk mengerjakan shalat tahajud.
Mereka ingin mengadu dan berkeluh-kesah, menghiba memohon pertolongan dari Nya.
Cempakapun selalu melakukan hal yang sama, dia begitu khusyuknya berdo'a dan memohon.
Selesai sarapan, pak Jati dan Isterinya berangkat menuju ke rumahnya bu Ustadz Fatimah. Berbekal alamat yang diberikan oleh temannya. Dia berharap agar sang buah hati bisa melupakan segala penderitaannya.
"Anyelir, Seruni, dan kamu Kilat. Ibu harap kalian jangan pergi ke mana-mana.Diam di rumah saja, temani kakakmu, ya. Ibu sama bapak mau pergi dulu sebentar, ada perlu yang sangat penting,"
__ADS_1
Bu Sekar mewanti-wanti anak-anaknya.
"Iya bu" sahut mereka.
"Memangnya ibu sama bapak, mau kemana...?" Seruni bertanya penasaran.
"Mau mengobati kakakmu, kasihan dia murung terus." ujar bu Sekar.
"Ingat ya pesan ibu, kalian di rumah saja." Tuturnya lagi.
"Cempakaaa! Ibu sama bapak mau berangkat dulu, kamu hati-hati di rumah, ya!" dari balik pintu kamarnya Cempaka, bu Sekar berteriak.
"Iya bu, ibu sama bapak mau ke mana?" Cempaka membuka pintu kamarnya dan melongokan kepalanya ke luar dari kamar.
"Ada perlu dulu sebentar" sahutnya.
"Iya bu, hati-hati ya bu, pak!" Cempaka tidak banyak tanya.
"Ibu berangkat dulu ya, Assalamualaikum..." bu Sekar lalu duduk di boncengan sepeda motor yang di kendarai oleh suaminya.
Motorpun melaju, berangkat meninggalkan ke empat anaknya yang berdiri di teras rumah, mengantarkan kepergian kedua Orangtuanya.
Mereka tak beranjak dari tempatnya, sebelum ibu dan bapaknya tak terlihat lagi punggungnya, hilang di balik belokan jalan.
Setelah bertanya kesana-kemari,
Rumah yang asri, sejuk dan segar di pandang mata.
"Assalamualaikum..." Bu Sekar mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam..." terdengar suara seorang perempuan menjawab salamnya.
Tak lama, pintu rumahnya ada yang membuka, tampak di ambang pintu perempuan muda , sebaya dengan Bunga, kakaknya Cempaka.
"Neng, apa benar ini rumahnya bu Ustadzah Fatimah?"bu Sekar bertanya, takut salah.
"Iya bu, mari masuk. Sebentar ya, saya panggilkan dulu ibunya"
dia masuk lagi ke dalam, setelah mempersilahkan bu Sekar dan pak Jati untuk duduk.
"Assalamualaikum..." Tak berapa lama kemudian, datang seorang perempuan kira-kira seumuran dengan pak Jati.
"Waalaikumsalam..." pak Jati dan bu Sekar menjawabnya serempak.
"Ma'af, kalau boleh tahu, Ibu dari mana ya?"tanya bu Ustadzah Fatimah.
"Kami dari kampung hilir, Ustadzah, ma'af mau ngerepotin Ustadzah" bu Sekar berbasa-basi.
__ADS_1
"Saya tidak merasa di repotin bu"
sahutnya sambil tersenyum.
"Begini buuuu" Ujar bu Sekar, dia menceritakan kejadian yang menimpa Cempaka.
"Ya Allah..., astaghfirulahaladziiim..., saya turut prihatin mendengarnya." ucap bu Ustadzah Fatimah.
"Semoga saja kesedihannya tidak akan lama, ya bu, sebentar..., ini kelihatannya ada orang dekat yang bermain di dalam perpisahannya Cempaka dan Buana,"bu Ustadzah Fatimah
mengerutkan keningnya.
"Maksudnya bagaimana bu Ustadzah? Kami belum faham." bu Sekar belum mengerti arah perkataannya bu Ustadzah.
"Kelihatannya ada orang yang tidak suka kalau Buana sama Cempaka berjodoh. Tapi..., ini sepertinya bukan orang lain, bukan orang jauh."ujar bu Ustadzah Fatimah lagi. Makin membuat bu Sekar dan pak Jati merasa penasaran.
"Saya masih tidak mengerti bu Ustadzah." pak Jati berujar.
"Begini bu, pak. Ada seseorang yang tidak suka kalau Buana dan Cempaka itu berjodoh. Kelihatannya dia meminta seorang dukun untuk memisahkannya. Dia itu bukan orang lain, tapi masih saudara. Bukannya saya su'udzon. Tapi, itu yang terlihat oleh pikiran saya sa'at ini."Tutur bu Ustadzah Fatimah lagi.
"Astaghfirulahaladziiim..., apa benar itu bu?." bu Sekar terperanjat kaget, dia seakan tak percaya dengan pendengarannya.
"Iya bu, saya juga tidak mengerti.
Apalagi di sini terlihat kalau dia itu adalah merasa takut tersaingi oleh Cempaka, dia takut Cempaka akan kaya kalau menikah dengan Buana."begitu bu. Tapi..., ini hanya menurut penglihatan saya saja. Semoga saja tidak benar." ujar bu Ustadzah Fatimah.
"Dia itu orang mana bu?" pak Jati
penasaran.
"Masih orang kampung hilir, pak.
Yang saya herankan, itu bukan orang lain, masih saudaranya Cempaka, saudara dekatnya" bu Ustadzah mengkerutkan dahinya.
"Siapa ya...,? kok! Bisa berbuat senekad itu?"bu Sekar menatap wajahnya pak Jati dengan terheran-heran.
"Dia terlihat seperti yang punya dendam kepada Cempaka." ujar bu Ustadzah Fatimah lagi.
"Dendam...,? setahu saya, Cempaka tidak punya musuh, dia belum pernah ribut dengan orang lain, dia anaknya selalu ngalah" bu Sekar menuturkan tentang anaknya itu.
"Ini bukan dendam karena ribut, tapi, dendam karena dia merasa iri kepada Cempaka. Dia merasa ketakutan kalau Cempaka nanti akan menjadi kaya kalau menjadi Istrinya Buana yang seorang anggota polisi itu," ujar bu Ustadzah Fatimah.
"Lagipula kelihatannya Cempaka ini begitu di sayang sama ibunya Buana dan juga Keluarganya. Itu yang menjadikan iri orang tersebut. Jadi, pikirnya, belum apa-apa sudah di sayang sama calon mertua, bagaimana nanti kalau sudah jadi menantu?..., itu yang jadi penyebab dendamnya"
lanjut ibu ustadzah lagi.
"Jadi..., ternyata, sikap Buana jadi berubah begitu itu karena ada sesuatu yang tidak kita pikirkan, saya tidak menyangka sedikitpun bu Ustadzah" bu Sekar nampak sedih mendengar penuturan dari Ustadzah Fatimah.
__ADS_1
"Kadang kita tidak tahu apa yang ada di hati orang terdekat sekalipun, seperti peribahasa bu, dalamnya laut bisa di ukur, tapi dalamnya hati, siapa yang tahu. Yang sabar saja ya buu, semoga Cempaka tidak keterusan larut dalam dukanya, amiin" bu ustadzah Fatimah menenangkan hatinya bu Sekar yang nampak terpukul.