
Tak terasa waktu pun berlalu dengan cepatnya. Waktu sholat dhuhur dan ashar telah terlewati.
Pernikahan yang tidak meninggalkan kesan yang indah dalam diri Cempaka dan juga keluarga nya.
Baju kebaya yang di pakai untuk akad nikah sudah sejak dari tadi dia ganti dengan baju rumahan.
Buat apa memakai baju kebaya dan dandan juga karena tidak ada tamu yang datang untuk memberi ucapan selamat kepadanya.
"Apa ini acara pernikahan ku? Yang selalu di nanti-nantikan oleh setiap insan. Yang katanya pernikahan itu sakral dan selalu di laksanakan dengan penuh khidmat. Tapi, mengapa pernikahan ku seperti ini?"
Gumam Cempaka sambil menatap karpet yang masih tergelar, namun kosong tanpa tamu seorang pun jua.
Karmin tetap diam di ruang tamu, di tempatnya semula. Sedangkan Kenari, sejak kepergian nya sebelum dhuhur tadi, belum kembali lagi, entah pergi ke mana. Tak ada yang mencobanya untuk mencari ke rumahnya.
Pak Jati dan bu Sekar berbincang di teras belakang. Sepertinya ada pembicaraan penting. Karena mereka bicara secara perlahan, seperti yang takut di dengar oleh seisi rumah.
Kilat dan Seruni main dengan teman-temannya.
Bunga dan Anyelir berbincang di ruang makan sambil membereskan piring bekas acara makan-makan selesai akad nikah tadi.
"Kasihan kak Cempaka" Terdengar Anyelir berucap di sela-sela pekerjaannya.
"Kenapa nasibnya seburuk ini?"
Ucap Bunga, bertanya pada dirinya sendiri.
"Entahlah kak, aku juga heran. Pas ada jodohnya, kenapa mesti seperti ini? Tidak seperti yang lain, pernikahan yang wajar, anehnya lagi kenapa itu maharnya bisa hilang segala? Kan di simpan di atas meja kecil itu yang di pakai ijab qobul, Kenapa tiba-tiba bisa hilang?" Anyelir mengernyitkan dahinya.
"Kalau menurut aku sih, ini semua ulahnya kak Kenari. Dia kan yang memaksa Cempaka untuk mau menikahi Karmin. Dan setahu kakak, Karmin itu tidak membawa apa-apa, tapi setelah acara di mulai tiba-tiba maharnya jadi ada, kan aneh?"
Ujar Bunga.
"Iya kak, lalu setelah selesai ijab Qabul kenapa maharnya jadi tiba-tiba menghilang, dan kak Kenari sepertinya tersinggung oleh ucapannya bi Nani, lalu dia langsung berlalu dengan wajah yang emosi, itu kan aneh!" Ucap Anyelir, dia menatap wajah kakaknya penuh rasa heran.
"Kakak juga sudah menduganya ke sana, namun kakak tidak bisa berbuat apa-apa, lidah kakak terasa susah untuk berkata. Apalagi setelah ada si Kakek misterius itu, sepertinya seluruh keluarga kita di bikin tak berdaya olehnya"
"Iya kak, aku juga merasakan itu, kak Cempaka juga yang beberapa menit sebelumnya masih menolak pernikahan itu, tapi setelah di usap kepalanya oleh si Kakek itu, dia langsung jadi mau menikah dengan si Karmin yang tidak tahu siapa dan dari mana rimbanya itu"
"Sepertinya Cempaka kena guna-guna, makanya jadi mau sama si Karmin itu. Secara dia kan cantik, Solehah dan berpendidikan tinggi, enggak mungkin dia akan mau kalau sewajarnya, kalau tanpa adanya embel-embel sihir di dalamnya"
Ujar Bunga.
"Sekarang kita harus bagaimana, kak? Supaya kak Cempaka tidak murung begitu?"
Anyelir berharap kakaknya bisa membantu Cempaka, sekedar untuk menghibur hatinya.
"Belum tahu, kakak pikirkan dulu" Sahut Bunga, dia tidak bisa menjanjikan.
Sementara itu Cempaka hanya diam termangu.
__ADS_1
"Waktu pernikahannya kak Kenari dan kak Bunga, suasananya begitu meriah, semua orang bergembira. Terutama pengantinnya, karena banyak kado menumpuk di atas ranjang pengantin yang di rias seindah mungkin. Tapi, aku? Jangankan ranjang pengantin di rias indah, kursi pelaminan pun tak ada. Tak satupun ada kado yang mesti aku buka" Gumamnya.
"Kenapa aku bisa mau menikah dengan si Karmin itu? Kenapa? Aku kan belum mengenalnya, aku belum tahu siapa orang tuanya? Dan bagaimana keluarganya? Kenapa ini bisa terjadi di luar nalar ku, kenapa?"
Gumamnya lagi, makin banyak pertanyaan yang mulai muncul di dalam benaknya.
"Cincin, iya! Biasanya yang sudah melaksanakan akad nikah biasanya selalu ada mahar yang di berikan oleh si pengantin pria. Lalu, aku maharnya apa? Dan mana mahar aku? Karmin memberikan aku apa sebagai maharnya?" Cempaka menatap jari manisnya, masih kosong.
Dia masih memakai cincinnya yang dulu, hasil keringatnya, hasil jerih payahnya bekerja.
"Katanya maharnya hilang, kenapa bisa hilang? Siapa yang menghilangkannya?" Dia teringat akan maharnya yang katanya sudah hilang.
"Karmin, aku harus bertanya pada Karmin! Kenapa dia bisa menikahi aku? Kenapa pula maharnya bisa hilang?"
Setelah kepikiran begitu, Cempaka langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu dia melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu.
"Kak! Itu kak Cempaka mau ke mana?" Anyelir bertanya panik kepada Bunga.
"Ikuti! Kakak takut terjadi apa-apa sama dia, kasihan dia"
Bunga segera meletakkan piring yang tengah di pegang nya di atas meja makan.
Kedua kakak beradik itu segera mengikuti langkahnya Cempaka.
"Karmin! Kenapa kamu ada di sini? Lagi apa kamu di rumah ibuku?" Tegur nya setelah dia ada di ruang tamu.
"Eh, adek. Kenapa bertanya begitu? Saya kan sudah menikahi adek, kita sekarang sudah menikah" Karmin menjawabnya dengan wajah yang berbinar.
Cempaka membentak Karmin setibanya di ruang tamu.
"Eh, dek Cempaka" Sapa nya kepada Cempaka, sungguh sangat menyebalkan.
"Kenapa? Jawab!" Bentak Cempaka lagi.
"Anu, dek, emh anu!" Karmin menjawabnya dengan gugup.
"Sepertinya Cempaka tadi tidak sadar akan semua kejadian yang telah di alaminya tadi" Bisik Bunga yang memperhatikan Cempaka dari lawang pintu.
"Kasihan sekali nasibmu, kak. Berarti kau menikah dengan Karmin itu dalam keadaan tidak sadar, ya Allah kenapa bisa begini?" Anyelir terharu, matanya menatap Cempaka.
"Bukan anu, anu! Jawab pertanyaan aku! Kenapa kamu bis menikahi aku? Dan kenapa maharnya bisa hilang?" Teriak Cempaka semakin lantang.
Karmin diam tak menjawabnya.
Ini membuat Cempaka semakin merasa kesal saja.
"Jawab pertanyaan ku!" Bentaknya lagi.
"Saya, emh saya su, suka saya suka sama adek, iya saya cinta sama adek" Dengan gugup Karmin menjawabnya.
__ADS_1
"Karmin, dengar ya! Setahu aku, di mana-mana pernikahan itu harus suka sama suka, harus saling sayang di antara keduanya. Bukan hanya sepihak, aku tidak merasa suka sama kamu, aku tidak cinta sama kamu, kenapa kamu menikahi aku? Kenapa?" Cempaka semakin kesal.
"Tapi, sekarang kita sudah syah, sudah resmi menikah, menjadi suami istri" Jawab Karmin berusaha untuk tenang.
"Kalau begitu, apa yang kamu berikan kepada ku sebagai maharnya?" Cempaka bertanya tentang maharnya.
Karmin terperanjat mendengar pertanyaan itu.
Bagaimana tidak terkejut?
Dia tidak akan bisa membuktikannya. Karena, yang jadi maharnya adalah perhiasan ibunya Cempaka yang telah di curi dari kamarnya oleh Kenari.
"Kenapa diam? Mana maharnya?"
Cempaka menadahkan tangannya, meminta maharnya.
Karmin menggelengkan kepalanya.
"Iya Karmin, berikan maharnya kalau kamu ingin pernikahannya syah. Karena, mahar adalah salah satu syarat syahnya nikah" Teriak Bunga dari lawang pintu.
Ucapan Bunga membuat Karmin dan Cempaka menolehkan kepalanya ke arah datangnya suara.
"Benar itu kata kak Bunga! Kalau tidak ada maharnya, berarti pernikahan kita tidak syah!" Cempaka menegaskan ucapannya Bunga.
"Nanti, saya mau tanya dulu bu
Kenari" Sahut Karmin.
Jawaban yang sangat mengejutkan ketiga saudara itu.
"Kenapa mesti tanya dulu kak Kenari?"
Ketiga saudara itu serentak bertanya.
"Karena, emh karena, ibu Kenari yang memberikan Kotak perhiasan itu" Ucap Karmin perlahan.
"Apa? Kak Kenari yang memberikan Kotak perhiasan itu? Jadi! Itu bukan punya kamu yang sengaja kamu beli untuk diberikan kepada Cempaka sebagai mahar pernikahan kalian?" Bunga sangat kaget dan marah dengan apa yang di katakan oleh Karmin.
Karmin menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaannya Bunga.
"Astagfirullahaladzim, pernikahan macam apa ini?" Ketiga saudara itu kembali mengucapkan kalimat yang sama secara bersamaan.
"Berarti, dia menikahimu tanpa mahar sedikitpun. Dan, dia sama sekali tidak mengupayakan nya, semuanya sudah di atur oleh kak Kenari. Berarti Karmin hanya di jadikan boneka oleh kak Kenari, ya Allah ya Robby"
Bunga berucap dengan emosi, matanya tajam menatap wajahnya Karmin yang langsung menunduk.
"Kakak!" Cempaka memeluk Bunga sambil menangis, menumpahkan rasa yang terasa menyesak di dalam dadanya.
Anyelir dan Bunga memeluk Cempaka dengan mata yang berlinang, mencoba untuk menahannya supaya tidak jatuh di pipinya.
__ADS_1
***