Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Ingin segera berangkat


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu oleh Cempaka pun akhirnya datang juga.


Tinggal sehari lagi Waktu untuk keberangkatan Cempaka menuju ke Desa Ujung, dimana dia akan melaksanakan tugasnya sebagai pengawas ujian di sekolah itu.


Tepatnya di SD Ujung jaya 1, di mana sahabatnya waktu sekolah dulu menghonor juga di sekolah itu.  Dan, dia juga tinggal di desa Ujung juga. Jadi, siapa yang tidak bahagia? Akan bertemu dengan sahabat semasa sekolah dulu.


"Semuanya sudah siap, tinggal menunggu satu malam ini saja. Aku ditugaskan pada hari senin, jadi aku harus berangkat pada hari minggu biar leluasa, aku mencari rumah sahabatku dulu biar dia mengantarkan aku untuk melihat sekolahnya. Aku kan belum tahu tempatnya" Gumam Cempaka sambil memeriksa kembali perlengkapan yang akan dia butuhkan di sana.


"Cempaka!... Bagaimana, sudah siap semuanya?" Tanya ibunya yang nongol di balik pintu.


"Eh… Ibu, masuk bu!" Ujar Cempaka sambil menyuruh ibunya untuk masuk.


"Berapa hari kamu tugas di sana nak?... Kata bapakmu seminggu ya!... Lalu, bagaimana kamu berangkat dan pulangnya? Desa Ujung kan lumayan jauh juga. Kalau pakai motor juga kata bapakmu, membutuhkan waktu tiga puluh sampai empat puluh menitan. Sedangkan kamu kan belum bisa bawa motor, lagipula motornya cuma satu, itu juga dipake bapakmu ke sekolah sehari-hari. Atau… Bapakmu yang akan mengantar jemputnya ?" Ujar bu Sekar seperti yang khawatir.


" Iya bu, satu minggu aku bertugas di sana. Tidak bu, sudah, ibu tidak perlu khawatir, di sana aku kan punya sahabat semasa sekolah dulu. Ibu ingat enggak? Sama Mawar yang dulu sering ke sini, sahabatku itu yang kulitnya putih kayak cina, dia kan rumahnya di sana" Ujar Cempaka dengan mata yang berbinar bahagia.


"Oooh… Iya iya, sekarang ibu ingat. Iya yang rumahnya bersebelahan desa dengan almarhumah nenekmu itu, nek Ijah. Yang itu bukan?" Bu Sekar baru mengingatnya.


"Iya bu, sayang ya nenek sudah enggak ada. Kalau masih ada aku kan enak bisa numpang di rumahnya nenek" Cempaka berujar sedih.


"Eeh… Enggak boleh begitu. Itu kan sudah ketentuan dari Allah SWT, kita harus ikhlas menerimanya. Kalau kamu ikut sama paman dan bibimu bagaimana?... Mereka kan masih di sana menempati rumah nenekmu itu" Bu Sekar menyarankan supaya Cempaka numpang bersama paman dan bibinya.


"Bagaimana besok saja ya bu, yang penting besok aku ke sana dulu meninjau lokasinya dan mencari tempat untuk menumpang selama satu minggu. Maunya sih di rumahnya sahabatku itu, semoga saja dia dan keluarganya mau menampungku" Cempaka berharap.


"Ibu yakin sahabatmu itu pasti merasa senang lho!... Apalagi kalian sudah berapa lama enggak ketemu"


Bu Sekar meyakinkan anaknya.


"Satu tahunan lebih bu, sejak acara perpisahan di sekolah itu kami belum pernah bertemu lagi" Sahut Cempaka.


"Lalu, kamu tahu dia ngehonor di sana itu dari siapa? Kalau belum pernah bertemu" Selidik ibunya.


"Dulu waktu perpisahan dia bilang begitu bu. Sebelum ada pengangkatan dia akan ngehonor di SD Ujung jaya yang dekat dengan tempat tinggalnya, begitu katanya bu, semoga saja benar" Ujar Cempaka lagi.


"Ya sudah kalau begitu, semoga saja sahabatmu itu masih di sana dan menerimamu seperti yang kau harapkan. Sekarang sudah malam, sudah waktunya tidur, selamat mimpi indah ya, jangan lupa berdoa dulu sebelum tidur, besok subuh kita bertemu lagi dengan keadaan sehat wal'afiat ya. Assalamualaikum" Bu Sekar mengecup kening anaknya sebelum dia keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Amiin… Waalaikumsalam" Sahut Cempaka sambil menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya, menghalau rasa dingin yang mulai menyelinap dari luar.


*


Seperti biasa, Cempaka sudah bangun sejak pagi buta. Di mana jarum jam di dinding baru menunjuk ke angka tiga.


Setelah melaksanakan shalat tahajud, dia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan khusyuk, sambil menunggu kumandang adzan subuh dari Masjid.


Rutinitas itu sudah biasa dia lakukan sejak dia masih duduk di bangku SMP. 


Selepas shalat Subuh dia lalu mengerjakan tugasnya mencuci piring, memasak nasi, menyapu dan mengepel lantai seluruh ruangan, dan juga tak ketinggalan dengan terasnya.


Selepas mengepel lantai, dia menyapu halaman dan menyirami tanaman yang tumbuh subur di sekeliling rumahnya yang lumayan luas itu.


Karena Cempaka anak yang soleh dan rajin, maka tak heran kalau beberapa pemuda yang ada di kampung itu saling berebut mengharap cintanya.


Begitu pula dengan para orangtua yang punya anak perjaka, mereka berusaha mendekati bu Sekar ingin berbesanan dengannya. Ingin menjadikan Cempaka sebagai menantunya.


Dan, Buana yang beruntung terpilih oleh Cempaka, yang akhirnya entah bagaimana nasib cintanya kini.


Kini tinggallah Cempaka yang merana, menderita karena cintanya yang hampa, yang tak tentu arah dan kepastiannya.


"Sudah beres semuanya" Gumam Cempaka sambil bergegas masuk lewat pintu samping. Pintu yang menuju ke dapur.


"Assalamualaikum…" Ucapnya pada ibunya yang tengah meracik bahan makanan buat di masaknya pagi itu.


"Waalaikumsalam… Sudah beres nak?" Bu Sekar menjawab salamnya Cempaka sambil menanyakan pekerjaannya.


"Sudah bu, aku ngaso dulu ya" Katanya sambil menuangkan air teh hangat ke dalam cangkir.


Secangkir penuh teh hangat sudah menerobos masuk ke kerongkongannya.


"Alhamdulillah… Segar sekali rasanya teh hangat ini" Ucapnya sambil mengelus lehernya dengan lembut.


"Mau masak apa bu, hari ini?" Tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Ibu mau masak sayur lodeh kesukaan Keluarga kita, yang pakai cabe gendot itu lho!... Ayo, bantuin ibu potongin sayurannya, biar cepat beres" Ujar bu Sekar.


"Oke bu, aku suka sekali sayur itu. Bikin seger ke badan, jadi tambah semangat" Cempaka segera memotong-motong sayurannya dengan cekatan.


"Assalamualaikum... Kau nampak ceria pagi ini!... Apa sudah mulai melupakan Buana mu itu?" Tanya Bunga yang datang ikut membantu.


"Waalaikumsalam... Sudah kak ah!... Jangan dulu membahas dia, aku lagi serius motongin cabe gendot nih. Kalau aku mau nurutin apa yang bapak sama ibu perintahkan saja. Jadi nunggu dulu ucapan dari keluarganya" Sahut Cempaka sedikit tenang.


"Syukurlah kalau begitu, semoga saja si Buana itu ingat sama janjinya" Ucapnya sambil mengiris labu siam buat di bikin sayur lodeh.


Setelah selesai lalu dicuci dan sayuran itu di masukkan ke dalam panci yang berisi air yang sudah mendidih.


Bunga mengulek bumbunya, sedangkan Cempaka mengosrek kamar mandi yang selalu di kerjakan nya tiap pagi, sambil mandi.


Selesai mandi, lalu semuanya makan pagi bersama.


"Kau nampak rapi sekali, seperti mau berangkat" Bunga menatap adiknya dan bertanya penasaran.


"Iya kak!... Aku mau ke desa Ujung, ada tugas dari bapak ke sana" Sahut Cempaka sambil menyantap makanannya dengan lahap.


"Ke desa Ujung? Tugas dari bapak?... Itu kan lumayan jauh pak. Memangnya ada tugas apaan sih?" Rupanya Bunga belum faham.


" Iya... Ke desa Ujung. Tugas dari sekolah, sebagai pertukaran pengawas ujian di sekolah Ujung jaya, mewakili sekolah kami. Biar Cempaka tahu dan punya pengalaman" Ujar pak Jati menjelaskan.


"Ooh... Begitu!... Tapi kan Cempaka masih tenaga honorer pak" Tanya Bunga tak mengerti.


"Tidak apa-apa, yang penting dia sanggup dan mampu melaksanakan nya, serta mendapatkan tugas dari sekolahnya. Lagipula, guru-guru di sana pada enggak bisa berangkat, karena masih harus menyusui anak-anaknya" Lanjut pak Jati lagi.


"Oh... Begitu rupanya, kamu pulang pergi atau bagaimana? Kan dari sini ke sana itu jauh" Bunga sepertinya agak menghawatirkan adiknya.


"Sekarang aku mau survey tempatnya dulu kak!... Biar besok tidak susah nyari-nyari lagi. Aku kan punya sahabat yang tinggal di sana! Sahabat waktu sekolah dulu, dia kan pernah beberapa kali ke sini" Cempaka menjelaskan.


"Syukurlah kalau begitu, kamu hati-hati di sana ya!" Ucap Bunga perhatian.


Melihat keakraban kakak beradik itu, pak Jati dan bu Sekar saling tatap sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


__ADS_2