
Belum setengah jam, mata Cempaka sudah meredup karena ngantuk.
"Allahu Akbar, ya Allah" Cempaka menguap untuk yang ke sekian kalinya.
Dia mencoba untuk membuka matanya lebar-lebar, dia tidak mau tertidur dan tanpa dia sadari dia menyenderkan kepalanya ke bahunya Karmin.
"Iiih, jangan sampai ya Allah. Amit-amit jabang bayi" Bathinnya.
Cempaka sedikit menggeserkan tubuhnya, biar tidak bersentuhan dengan tubuhnya Karmin.
Setelah memicingkan matanya berkali-kali, menguap yang tak habis -! habisnya. Akhirnya Cempaka tertidur pula dengan
kepala yang bergoyang ke sana ke mari mengikuti bagaimana Bus itu bergerak.
Lewat kaca spion yang tergantung di depan, Kenari dan Karmin saling tatap sambil tersenyum bahagia. Karena, sebagian dari rencananya telah membuahkan hasil yang memuaskan, sesuai yang di harapkan.
Cempaka tertidur pulas, kepalanya sudah menunduk hampir menyentuh pangkuannya. Satu tangan Karmin menjaganya supaya tubuh Cempaka tidak jatuh tersungkur.
Sambil tersenyum menang, Kenari menghampiri Karmin.
"Senderkan kepalanya di bahu kamu, atau taroh kepalanya di pangkuan kamu, dia sudah tertidur dengan lelapnya, dia tidak akan menyadarinya" Bisik Kenari kepada Karmin.
"Takut dia marah kalau dia bangun" Jawab Karmin tak kalah berbisik juga.
"Biarin itu urusan nanti! Yang penting sekarang Cempaka harus tidur di atas pangkuan kamu, ayo!" Kenari perlahan merebahkan kepalanya Cempaka di atas pangkuannya Karmin.
Cempaka tidak menyadarinya karena dia sudah tertidur pulas.
Karmin membuka jaketnya, lalu di jadikan selimut untuk menutupi tubuhnya Cempaka yang tertidur di atas pangkuannya.
"Siip!" Kenari mengacungkan ibu jari tangannya dengan senyuman nakalnya.
Setelah di rasa sempurna, Kenaripun kembali ke tempat duduknya. Senyuman nakal dan genit itu tak lepas dari bibirnya.
Begitu juga dengan seorang Karmin, hatinya bahagia dan berbunga-bunga, jantungnya berdegup kencang, dadanyapun berdebar seiring hujan yang mulai turun rintik-rintik di luar jendela Bus yang dia tumpangi.
Sungguh membuat syahdunya suasana.
Senyuman kebahagiaan dan kemenangan Karmin, terus terukir di bibirnya, dia sangat merasa bahagia sekali. Karena, kekasih pujaan hati, impiannya, kini tengah tertidur pulas di atas pangkuannya.
Begitu juga dengan Kenari, sang kakak sulung yang kejam itu, tak sedikitpun hendak melepaskan senyuman kebahagiaan dan kemenangannya.
Melalui kaca spion dia dan Karmin saling pandang dan saling tersenyum bahagia.
Cempaka tak menyadari semua itu. Karena, dia terlelap tidur di atas pangkuannya Karmin, saking cape dan ngantuk nya yang dia rasakan sa'at itu.
Para penumpang yang kebetulan tidak tertidur, menatap heran dengan tingkah kedua orang itu. Yaitu Kenari dan Karmin, lalu mengalihkan pandangannya kepada Cempaka yang tengah tertidur pulas di atas pangkuannya Karmin.
Bus pun melaju dengan cepatnya menembus gelapnya malam, yang di hiasi dengan rintiknya gerimis yang menambah mencekamnya malam itu.
Namun tidak dengan Karmin, dia merasakan ke syahduan yang teramat sangat.
Terasa ada yang berdesir hangat menyelinap ke dalam hati sanubarinya.
Bunga-bunga cinta sudah mulai berkembang di dalam hatinya.
Walau bunga cinta itu hanya berkembang sepihak saja.
"Halus dan mulus sekali pipimu, saya tak sabar ingin menciumnya" Gumam Karmin, matanya menatap lekat wajahnya Cempaka, penuh dengan cinta, cinta yang penuh dengan nafsu, cinta yang hanya sesa'at saja.
Yang di tatap tengah tertidur pulas. Namun, Cempaka merasakan ada hembusan nafas yang memburu menyapu wajahnya.
"Aaw!" Cempaka menjerit histeris sa'at dia membuka matanya, dia melihat wajah Karmin berada begitu dekat tepat di depan wajahnya.
Seisi Bus menoleh ke arah datangnya suara.
Untung nya di dalam Bus tidak terang. Karena, lampunya di matikan.
__ADS_1
Cempaka segera bangun dari pangkuannya Karmin, tangannya dengan refleks mendorong wajah Karmin supaya menjauh dari wajahnya.
"Kamu mau apa?" Bentak Cempaka emosi.
"Enggak dek! Enggak apa-apa" Karmin menjawabnya dengan panik.
"Ada apa ini?" Para penumpang Bus serentak bertanya. Mereka merasa terkejut dengan teriakannya Cempaka hingga mereka terbangun dari tidur pulas nya.
"Tidak apa-apa, tidak ada apa-apa. Ini cuma kaget saja" Ujar Kenari berteriak sambil bangun duduknya.
"Mengganggu orang saja!" Para penumpang itu menggerutu karena mereka merasa terganggu.
Cempaka segera bangun dari duduknya, dia beranjak dari tempat duduknya mencari tempat duduk yang masih kosong.
"Di sini!" Seorang ibu-ibu melambaikan tangannya kepada Cempaka, karena ada satu kursi yang kosong di sampingnya.
"Alhamdulillah, terimakasih bu" Cempaka pun pindah duduknya di sebelah ibu-ibu yang baik itu.
"Iya sama-sama" Sahutnya.
"Neng mau ke mana?" Tanya nya dengan ramah.
"Saya mau ke Bandung, bu" Sahut Cempaka.
"Ooh, sama ibu juga mau ke Bandung" Ujar ibu-ibu itu.
"Tadi itu kenapa?"
"Saya kaget bu. Ternyata saya ketiduran di pangkuannya laki-laki itu"Ujar Cempaka.
"Itu bukan suaminya?"
"Bukan, dia bukan suami saya"
"Lalu? Ibu-ibu yang tadi naik bareng dengan si neng?" Ibu-ibu itu menanyakan Kenari.
"Ooh"
Percakapan pun terhenti, ibu-ibu itu nampak mulai ngantuk dan menguap beberapa kali.
Tak lama kemudian, dia terlelap tidur sambil menyenderkan kepalanya ke senderan kursi.
Melihat itu, Cempaka pun ikut memejamkan matanya, melanjutkan tidurnya yang tadi sempat terganggu.
Sementara itu bu Sekar dan pak Jati merasa khawatir karena anaknya belum pulang juga.
"Semoga saja perjalanan mereka baik-baik saja, semoga saja tidak terjadi apa-apa terhadap mereka ya Allah" Do'a bu Sekar.
*
"Caheum habis! Bandung! Bandung!" Kondektur berteriak membangunkan semua penumpang Bus yang tengah tertidur pulas.
"Alhamdulillah ya Allah, sudah sampai di Ci Caheum" Cempaka meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku.
"Baru jam tiga lebih lima belas menit, masih dini hari. Pantesan masih ngantuk" Ujar Cempaka.
"Ayo neng, kita turun!" Ibu-ibu yang duduk di samping Cempaka mengajaknya turun bareng.
"Ibu terus ke mana?" Tanya Cempaka.
" Kalau ibu sudah dekat, itu di dekat stasiun Bandung, neng lanjut ke mana?"
"Saya ke Cimahi, bu"
"Lumayan jauh juga"
"Iya bu" Sahut Cempaka.
__ADS_1
"Cempaka! Cempaka!" Kenari berteriak memanggil adiknya supaya bergabung dengannya.
Cempaka pura-pura tidak mendengarnya. Dia merasa kesal kepada kakaknya itu, dia telah mengetahui pasti kakaknya yang membuat dia tertidur di pangkuannya Karmin.
"Cempaka! Cempaka! Ayo pulang!" Kenari menghampiri adiknya dan menggamit tangan adiknya, serta menyeretnya supaya menjauh dari ibu-ibu yang tadi menawarkan tempat duduknya yang kosong waktu di dalam Bus tadi.
"Saya pulang dulu, bu. Assalamualaikum" Ucap Cempaka sebelum berpisah dengan ibu-ibu itu.
"Waalaikumsalam, neng" Sahut
ibu-ibu itu, sambil tersenyum melambaikan tangannya.
"Ayo kita naik Bus kota" Ucap Kenari.
"Sepertinya Bus kotanya belum ada, kak! Ini masih pagi banget! Gema Adzan subuh juga belum terdengar berkumandang" Ucap Cempaka.
"Lalu, kita harus naik apa?" Tanya Kenari.
"Ya kita nyari angkutan umum saja, barangkali sudah ada yang narik" Cempaka berjalan menuju ke musholla yang ada di terminal itu.
"Kamu mau ke mana?" Teriak Kenari.
"Ke Musholla"
Kenari dan Karmin pun lalu mengikuti Cempaka ke musholla.
Cempaka mengambil air wudhu, setibanya di musholla.
Dia mengerjakan sholat Tahajud di Musholla, sambil menunggu gema Adzan subuh berkumandang, dia wiridan dengan khusyuk.
Sedangkan Kenari dan Karmin hanya menatapnya saja.
"Rajin sekali, tapi kenapa dia susah jodohnya?" Gumam Karmin, matanya takjub menatap Cempaka yang tengah wiridan dengan khusyuk.
"Kasihan sekali dia, Cempaka yang baik dan rajin ibadah itu, haruskah aku sakiti? Pantaskah aku merenggut kesuciannya? Kasihan sekali kau Cempaka! Sudah cantik, rajin ibadah lagi. Beruntung laki-laki yang bisa menjadi jodohnya" Gumam Karmin.
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, jangan sampai kamu berpikir macam-macam!
Nanti kamu bisa kasihan sama dia! Rencana kita yang telah kita susun dengan baik itu bisa-bisa gagal total kalau kamu berubah pikiran! Ingat itu! Saya tidak mau dengar kalau kamu jadi berubah pikiran!" Bisik Kenari, membuyarkan lamunannya Karmin yang tengah memperhatikan Cempaka.
"Allahu Akbar Allahu Akbar!" Gema Adzan Subuh sudah terdengar berkumandang dari Masjid.
Cempaka segera mengerjakan sholat subuh di mushola itu.
Setelah selesai shalat subuh, Cempaka keluar dari musholla.
Dia hendak melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah orangtuanya.
Kenari dan Karmin mengikuti langkahnya Cempaka yang menaiki angkutan umum.
Di sini, Cempaka duduknya sengaja menjauh dari Karmin.
"Bu, sepertinya Cempaka masih benci sama saya, dia acuh begitu" Bisik Karmin.
"Sudah! Tenang saja, serahkan semuanya sama saya. Kamu tinggal menyiapkan tenaga mu saja untuk menikmati keperawanan nya!" Bisik Kenari.
"Ibu, bisa saja!"
" Makanya, tenang saja!" Ujar Kenari lagi.
Angkutan umum yang mereka tumpangi, sudah sampai di pertigaan jalan yang menuju ke rumahnya bu Sekar.
Mereka pun turun, dan melanjutkan perjalanannya dengan menaiki ojeg hingga sampai di rumahnya bu Sekar.
Jam enam pagi mereka baru tiba di rumahnya bu Sekar, dengan keadaan letih dan lelah.
***
__ADS_1