Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Menghilang waktu dini hari


__ADS_3

Tak menunggu waktu lagi, sore itu Kenari melarang Karmin untuk pulang kembali ke kampung halamannya.


"Tapi bu, saya kan mau siap-siap, masa saya tidak bawa apa - apa untuk mas kawinnya?" Ujar Karmin sore itu.


"Setidaknya saya ngasih uang berapa kek? Setidaknya saya bawa beras barang dua atau tiga karung. Kalau beras saya banyak karena orangtuaku punya sawah" Lanjut Karmin lagi.


"Sudah diam! Tidak ada pulang - pulangan, tidak ada bawa uang, bawa beras atau yang lainnya! Saya sudah berjanji kamu tidak usah mengeluarkan uang atau harta yang lainnya barang sedikitpun! Itu semua biar si Cempaka dan kedua Orang tua saya yang menyediakannya. Kamu cukup persiapkan kepunyaan mu saja perkuat untuk menikmati malam pertamamu. Semoga saja si Jomblo itu langsung mau menyerahkan kegadisannya di malam pertama. Saya ingin menikmati kehancuran dia yang sehancur- hancurnya!" Kenari berkata dengan emosi, nampak ada dendam di sana.


Karmin hanya diam melongo memandangi wajah Kenari yang


yang tengah di rasuki oleh emosi yang meluap-luap.


"Kamu mengerti kan dengan maksud saya? Apa sebenarnya maksud dan tujuan saya di dalam rencana perjodohan ini? Saya hanya ingin membuat si jomblo sang perawan tua itu hidupnya hancur sehancur- hancurnya! Saya tidak mau melihat dia bahagia, saya mau dia menderita dan sengsara lahir dan batin!" Ucap Kenari lagi, menambah makin melongo nya wajah hitamnya Karmin.


"Sudah diam! Saya mau minta uang dulu sama ibu, buat belanja makanan persiapan pernikahan kamu" Setelah berkata begitu, Kenari pergi meninggalkan Karmin di teras belakang dengan tanpa menunggu jawaban darinya.


"Saya jadi bingung sendiri, antara suka dan tidak mengerti di perlakukan begini oleh bu Kenari. Padahal menurut saya Cempaka itu baik, bahkan sangat baik. Saya jadi tidak tega untuk menyakitinya. Tapi, bagaimana dengan na yang telah di berikan oleh bu Kenari kepada pihak kua? Kalau saya batalkan, bu Kenari akan mencari lagi laki-laki yang akan dia suruh untuk menyakiti adiknya, dan sayang juga kalau ini semua jadi milik orang lain. Biarin lah sudah terlanjur, sebaiknya saya ikuti saja semua permainannya Kenari" Karmin membathin.


"Bu, kita harus belanja keperluan untuk pernikahannya Cempaka itu sekarang juga, karena tidak ada lagi waktu. Besok jam sembilan pagi petugas dari kua akan datang ke mari untuk pelaksanaan akad nikahnya, jadi saya harus belanja ke pasar sekarang mumpung masih pagi" Kenari menadahkan tangannya meminta uang buat belanja kepada ibunya.


"Ibu sudah nitip semuanya kepada yang punya warung, biar sekalian dia belanja buat dagangannya, dia berangkat ke pasarnya kan tadi subuh, sepertinya sebentar lagi juga dia datang nganterin belanjaan pesanan ibu" Sahut bu Sekar.


"Apa? Buat syukuran pernikahan belanjanya nitip sama yang punya warung! Kenapa tidak nyuruh aku? Kenapa bu? Belanjaan yang kita perlukan bukan sedikit, tapi banyak! Apa ibu tidak percaya kepada aku anak kandung ibu sendiri?" Kenari mencak-mencak tidak suka. Dia merasa sangat kecewa karena ternyata tanpa sepengetahuannya ibunya sudah nitip belanjanya kepada yang punya warung.


"Biar simpel saja, nak. Toh pernikahannya juga pastinya akan sederhana dan tak pernah ibu bayangkan kalau ibu akan menikahkan putri ibu dengan cara yang seperti ini. Lagipula kenapa tadi ibu tidak menyuruh kamu? Karena, sejak sebelum subuh tadi kau sudah menghilang dari pandangan ibu, kau pergi enggak tahu kemana, bahkan sampai anakmu nangis saja, kamu tidak tahu, kamu tidak mendengarnya. Bagaimana ibu bisa menyuruh kamu untuk pergi ke pasar? Ya sudah, ibu nitip ke bi Ijah yang punya warung saja, ibu percaya dia itu orang yang jujur" Dengan santainya bu Sekar menjawab semua pertanyaan Kenari.


Kenari yang kena telak, diam seribu bahasa. Dia tidak bisa langsung menjawabnya, sepertinya dia tengah berpikir dulu mencari alasannya kenapa dia tadi menghilang selama beberapa jam.


" Emh, kenapa ibu tidak menunggu aku kembali?" Kenari bertanya dengan suara yang sedikit merendah.


"Kalau menunggu kamu, kapan kita meraciknya? Jam segini baru nongol. Sebenarnya tadi kamu kemana?" Bu Sekar curiga.


"Emh, emh, aku, aku tadi ada perlu dulu" Sahutnya dengan gugup. Seperti yang menyembunyikan sesuatu dari ibunya.


"Ada perlu apa? Dan pergi ke mana? Kenapa enggak minta izin dulu sama ibu? Mana perginya waktu dini hari lagi, seperti ada sesuatu yang kau sembunyikan dari kami, sampai-sampai sampai anakmu juga kau biarkan tidur sendiri, ibu macam apa kamu, heh? Jam dua dini hari sudah pergi dari rumah. Yang punya warung juga berangkat ke pasarnya rata-rata sekitar jam tiga jam empat, ini mau ke mana keluyuran jam dua pagi?


mencurigakan sekali" Bu Sekar nampak emosi.


Kenari terkejut mendengar penuturan ibunya, dia tak menyangka sedikitpun kalau kepergiannya jam dua dini hari tadi di ketahui oleh ibunya.


Kenari bingung mencari jawabannya.


"Kenapa tidak menjawab?" Bu Sekar tidak membiarkan Kenari berpikir untuk mencari alasan.

__ADS_1


"Aku tadi ke rumah dulu" Sahutnya asal.


"Kenapa mesti jam dua pagi?" Susul bu Sekar.


"Emh, karena, karena, emh, ooh iya aku takut di sini pasti banyak kerjaan, ya sudah aku jam dua saja ke rumahnya jadi seperti sekarang ini jam lima lebih beberapa menit, aku sudah selesai membereskan rumahnya" Alasan Kenari yang belepotan itu, menambah kuat kecurigaannya bu Sekar.


"Enggak jelas" Ucap bu Sekar sambil berlalu.


"Semoga saja si Karmin tidak di ketahui nya kalau dia juga tadi pergi dari rumah ini. Ibu seperti nya curiga padaku, dia nampak marah karena aku meninggalkan Cemara sendirian. Kalau saja anak itu tidak nangis, pasti ibu tidak akan marah dan curiga begini" Gumam Kenari.


"Apalagi kalau ibu tahu yang sebenarnya terjadi waktu dini hari itu, bisa-bisa perjodohan si Karmin dengan si Jomblo itu gagal total! Untungnya dewi fortuna masih menaungi ku" Gumamnya lagi.


"Biarin lah mau ibu marah atau bagaimana juga, yang penting perjodohan si Jomblo harus terlaksana! Dan yang paling penting lagi kejadian dini hari tadi jangan sampai ada yang tahu, hanya aku dan Karmin yang tahu. Ternyata Karmin itu pria yang perkasa, walau awalnya dia tidak mau melakukannya, dia menolak karena perbuatan itu haram dan tidak boleh dilakukan, tidak boleh terjadi. Apalagi aku akan jadi kakak iparnya" Bathin Kenari.


"Tapi, kala ku ancam akan ku laporkan kepada kedua orangtuaku bahwa perjodohan ini adalah rekayasa dia, dan aku balikkan bahwa aku di ancam olehnya, eh dia langsung mau mengikuti langkahku keluar dari rumah ibu dini hari tadi" Senyum Kenari.


"Dan setelah di rumahku, dia masih menolak hasratku. Tapi, setelah aku lakukan jurus yang paling jitu, dia tak bisa mengelak lagi. Dasar laki-laki! Karmin, Karmin! Aku jadi ingin mengulanginya lagi hingga beberapa kali. Emh, Cempaka yang malang, calon suamimu yang akan menjadikan kau istri simpanannya telah aku rasakan kehebatannya, sebelum kau merasakannya, aku sudah merasakannya terlebih dahulu"


Kenari tersenyum sendiri membayangkan kejadian dini hari tadi bersama Karmin, calon adik iparnya.


"Assalamualaikum, Assalamualaikum" Beberapa kali bi Ijah mengucapkan salam tak didengarnya oleh Kenari, dia sibuk membayangkan perbuatan kotornya yang telah di lakukannya bersama Karmin.


Cempaka tengah mencuci pakaian sa'at itu, sedangkan bu Sekar tengah di dapur. Karmin sudah kembali ke dalam kamar tamu. Kedua adiknya Cempaka baru bangun, sedangkan pak Jati berada di kandang ayamnya yang berada di halaman belakang rumahnya.


Akhirnya dia pun memutar ke pintu samping, yang dekat dengan dapur.


"Assalamualaikum, bu Sekar"


Ucap bi Ijah.


"Waalaikumsalam, eh bi Ijah sudah datang" Bu Sekar menyambut nya senang.


"Pantesan di dapur ibunya. Saya tadi di depan beberapa kali mengucapkan salam. Tapi, tidak ada yang mendengarnya" Ujar bi Ijah sambil masuk ke dapur.


"Padahal tadi ada Kenari di sana. Sudah kemana lagi dia?"


"Sepertinya enggak ada siapa-siapa,bu" Sahut bi Ijah.


"Ya sudahlah. Emh, jadi berapa semuanya bi Ijah? Apa uangnya tidak kurang?" Bu Sekar mengalihkan pembicaraan.


"Lebih bu uangnya, ini masih sisa empat puluh delapan ribu" Bi Ijah menyodorkan sisanya.


"Buat ongkos bi Ijah saja, buat beli bensin. Tapi, itu kurang tidak? Kalau kurang nanti saya tambahin, kurangnya berapa?"

__ADS_1


Bu Sekar takut kekurangan.


"Terimakasih bu Sekar, ini sudah lebih dari cukup. Ini belanjanya, ini daftar belanjaannya. Saya rasa semua pesanan ibu ada semua, tapi biar lebih jelas, mohon untuk di cek kembali takutnya ada yang kurang" Ujar bi Ijah.


"Ini ada, daging ayam sudah, kentang, kembang tahu, cabe merah, bawang putih, bawang merah, ini, ini,ini, emh, sepertinya semua ada bi. Sudah lengkap semuanya. Terimakasih ya bi sudah mau membantu saya"


"Sama-sama bu, sama sekali saya tidak merasa di repotkan. Tapi, kalau boleh tahu, buat apa ibu belanja sebanyak ini? Seperti mau hajatan saja" Bi Ijah bertanya penasaran.


"Emh, itu bi, saya mau syukuran kecil-kecilan, mau menikahkan Cempaka" Dengan berlinang air mata bu Sekar menuturkan nya.


"Neng Cempaka mau nikah? Kapan bu? Dengan orang mana? Alhamdulillah ya Allah, akhirnya neng Cempaka ketemu jodohnya" Bi Ijah kegirangan mendengar kabar itu.


"Hari ini, bi. Dengan orang Indramayu. Tapi, itu juga di paksa di jodohkan oleh Kenari" Bu Sekar menitikkan air matanya.


"Kenapa bu?" Bi Ijah terkejut melihat bu Sekar menangis.


"Cempaka nya tidak suka sama laki-laki itu, tapi Kenari memaksanya dan entah kenapa saya juga jadi setengah setuju setengah tidak dengan perjodohan ini"


"Di mana ketemunya, bu?"


" Sekitar dua minggu yang lalu, Kenari yang membawanya ke mari"


"Ooh, yang beberapa hari yang lalu saya lihat berjalan bertiga, yang katanya pulang dari Indramayu?"


"Iya itu, bi. Waktu itu dia baru satu kali ketemu dengan Cempaka, dia berbohong kena musibah, dan Kenari memaksa Cempaka untuk menengoknya. Pulang nya Kenari maksa minta di anterin pulang dan Kenari menahannya supaya dia tidak kembali ke kampung halamannya, dia paksa Cempaka supaya mau menikah dengannya" Tutur bu Sekar.


"Astagfirullahaladzim, kasihan sekali neng Cempaka" Bi Ijah terkejut mendengar penuturannya bu Sekar.


"Iya bi, tapi anehnya saya tidak bisa berbuat apa-apa, saya seperti ada yang mengendalikannya"


"Yang kuat dan sabar ya bu. Semoga saja neng Cempaka bahagia dengan pernikahan ini"


"Iya bi, terimakasih"


"Kalau begitu, saya permisi dulu. Takutnya ada yang belanja di warung saya" Bi Ijah pamit.


"Iya bi, silahkan, terimakasih ya bi" Sahutnya.


"Assalamualaikum" Ucap bi Ijah.


"Waalaikumsalam" Sahut bu Sekar di sisa isak tangisnya.


Bu Sekar merenung sendiri setelah bi Ijah berlalu dari hadapannya.

__ADS_1


***


__ADS_2