Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Jodoh dari Anyelir untuk Cempaka


__ADS_3

"Kalau aku mengenalkan seseorang kepada kakak, bagaimana?" Tanya Anyelir, sedikit khawatir. Dia merasa khawatir kakaknya akan marah.


"Maksudnya, kamu mau menjodohkan kakak?" Cempaka terperanjat kaget.


"Bukan itu, aku hanya ingin mengenalkan seseorang saja" Ujar Anyelir lagi.


"Ya, baiklah!" Sejurus kemudian Cempaka menyetujuinya.


"Simpan dulu ember nya! Orangnya sudah ada di dalam kamar rawat inap bapak, dia datang bersamaku dan juga Petir tadi" Anyelir menjelaskannya.


"Huuh!" Cempaka tak berkomentar, dia hanya menghendus kan nafasnya dengan kasar, sepertinya dia kesal.


Anyelir diam saja, dia tak berani berkata lagi. Dia berjalan perlahan di belakang kakaknya.


"Assalamualaikum" Cempaka mengucapkan salam sebelum dia masuk.


"Waalaikumsalam" Sahut semuanya.


"Kak! Perkenalkan ini Teman saya!" Ujar Petir, setelah Cempaka duduk.


..."Ooh" Sahut Cempaka singkat....


..."Saya Randu" Ucapnya sambil mengulurkan tangannya "Cempaka" Sahut Cempaka....


...Hanya itu yang terucap dari bibir Randu dan Cempaka....


"Kak! Jangan lihat kondisi badannya yang pendek dan juga botak kepalanya. Tapi, lihatlah bapak! Biar bapak cepat sembuh, kakak harus mau sama kak Randu, demi bapak kak! Demi bapak!" Bisik Anyelir di telinga Cempaka.


" Kalau kakak ada yang lain, tidak mungkin aku bawa kak Randu ke sini. Kalau menurut aku sih, daripada susah-susah nyari, sabet saja yang ada, yang datang nyamperin kakak"


Lanjut Anyelir lagi.


"Iya Cempaka, untuk sa'at ini tidak usah melihat tampangnya, tidak perlu melihat badannya, yang penting dia mau menikahi kamu yang tengah menjomblo! Mana sudah di langkahi lagi sama adiknya. Terus, adiknya yang lain juga sepertinya tidak akan lama lagi akan nyusul melangkahi kamu, coba pikirkan!" Tiba-tiba, suara Kenari nyeletuk dari belakang.


Ucapannya sedikit banyak merendahkan fisiknya Randu. Selain menghina Cempaka yang belum menemukan jodohnya.


Cempaka dan semua orang yang berada di sana, menoleh ke arah datangnya suara.


Kenari!


Yap! Kenari, sang kakak sulung tiba-tiba saja sudah berada di ambang pintu.


Cempaka bangkit dari tempat duduknya, dia tidak mengomentari


Perkataannya Anyelir dan juga ucapannya Kenari. Cempaka keluar, dan duduk di teras depan.


Dia tidak mau meladeni kakak sulungnya itu. Dia tidak mau berantem, apalagi di hadapan umum seperti ini.


"Sok jual mahal! Cantik juga buat apa kalau jomblo! Gak laku!" Susul Kenari dengan bibir yang mencibir.


Kenari mengikuti Cempaka, lalu duduk di kursi yang tidak begitu jauh dari Cempaka.


"Kamu menghindar karena tidak suka sama si Randu, atau tidak suka karena ada aku? atau tidak suka karena aku tadi menasihatimu? Itu kan? Benar kan dugaan ku?" Ujar Kenari nyolot.


"Ya Allah, ku mohon padaMu, berikanlah jodoh untukku! Sesuai dengan keinginanku" Gumam Cempaka perlahan.


"Kenapa semuanya selalu di kaitkan dengan keadaan diriku yang masih belum berjodoh" Titik air mata tak terasa menetes di kedua belah pipinya Cempaka.


"Kak Randu, ma'af ya mungkin kak Cempaka belum bisa melupakan rasa sakit hatinya" Ucap Petir.


"Enggak apa-apa" Sahutnya pelan.


*


"Kenapa sih? Sok jual mahal banget! Ingat umur! Ingat adik-adikmu sudah beranjak dewasa, sebentar lagi waktunya mereka membawa pasangan masing-masing! Masa harus menunggu kamu? Masa! Anak-anaknya bapak dan ibu itu harus jomblo semua seperti kamu? Mikir! Kamu punya otak kan? Gunakan otakmu buat berpikir tentang jodoh dan juga adik-adikmu! Lihat orang tua kita! Mereka begitu berharap kamu segera mendapatkan pasangan hidup! Jangan biarkan angan dan mimpinya terhapus begitu saja!" Lanjut Kenari lagi.


"DEG!"


Suara kenari yang menyerocos terasa menohok ulu hatinya Cempaka yang paling dalam . Membuat gemetar seluruh tubuhnya.


"JEDAR!"


Serasa tersambar petir yang menggelegar di tengah hari.


Cempaka melirik ke arah datangnya suara, yang tepat berada di sampingnya.


"Kak, apa belum cukup membuatku menderita dan terhina di depan orang lain?" Cempaka bertanya sambil menatap wajah Kenari.


"Anggapan mu kakakmu ini tengah menghinamu? Tengah membuatmu

__ADS_1


Menderita di hadapan orang lain, begitu? Kamu salah besar adikku! Aku bukan sedang menghinamu! Aku bukan tengah membuatmu menderita! Tapi, aku tengah membuatmu sadar diri, sadar akan keadaan dirimu sa'at ini, paham?" Ujar Kenari tanpa menimbang rasa.


"Terimakasih kak, karena kakak selalu merendahkan aku, memojokkan aku, silahkan saja sesuka kakak. Bicara semaunya mumpung lidah tidak bertulang. Silahkan hingga kakak merasa puas! Assalamualaikum" Cempaka beranjak meninggalkan Kenari dengan air mata yang berderai membasahi pipinya.


"Eeh, malah pergi! Dasar Jomblo! Tidak sopan, aku tengah bicara menasihatinya, malah pergi bukannya di dengarkan! Randu, tuh lihat kelakuannya Cempaka itu seperti itu. Pantas jodohnya sulit, kalau aku laki-laki, cuih! Tak akan mau aku jatuh cinta padanya. Apalagi harus menikah dengannya! Walaupun cantik, berpendidikan tinggi, pintar juga. Tapi, sedikitpun aku tak suka!"


Kenari mencibir dengan mimik muka yang nampak merasa jijik.


"Astaghfirullahaladzim, ya Allah, apa salahku kepadanya?" Gumam Cempaka yang menyaksikan tingkah kakaknya dari kejauhan.


Randu terperangah melihat tingkah Kenari yang nampak begitu membenci Cempaka.


"Kenapa Kakaknya begitu membenci Cempaka sampai segitunya?" Bathin Randu dengan wajah yang tampak heran.


"Ma'af ya kak Randu, Semuanya di luar kendali. Aku kira Kakak sulungku tidak akan ke sini" Anyelir berbisik perlahan kepada Randu.


"Iya enggak apa-apa, saya maklum kok!" Ucap Randu.


"Ma'afkan kami ya, nak Randu! Semuanya tidak berjalan sesuai dengan harapan. Cempaka mungkin masih belum bisa melupakan rasa sakit hatinya. Dan, begitulah anak sulung kami, entah mengapa dia begitu membenci Cempaka" Bu Sekar berujar dengan rasa sungkan. Dia merasa malu dengan kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya.


"Iya bu, enggak apa-apa. Saya maklum kok!" Sahut Randu lagi.


Pak Jati yang sedang di rawat, nampak kasihan sekali dengan kejadian semua itu. Dia hanya bisa menyaksikan dengan hati kesal. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kenari, sebaiknya kamu pulang saja! Kasihan bapakmu!" Ujar bu Sekar, dia sudah tidak kuat lagi mendengar semua ucapan anak sulungnya itu.


" Kenapa ibu malah mengusir aku? Apa tidak boleh seorang kakak menasihati adiknya supaya tidak terus milih-milih? Mending kalau masih muda belia, sudah dua puluh tujuh tahun. Bukan muda lagi!" Sahut Kenari.


"Bukan ngusir, tapi ibu kasihan sama kondisinya bapak. Ibu juga rasanya pengeng nih kuping! Dengerin ocehan mu yang tidak karuan itu!" Ujar bu Sekar.


"Iya aku pulang!" Kenari beranjak sambil bersungut-sungut.


"Malah aku yang di usir! Dasar!"


Sungut Kenari.


"Semua gara-gara si putri jomblo sialan itu!" Gerutu Kenari tak henti-hentinya dia menggerutu.


Cempaka menatap Kearah Kenari dengan sudut matanya.


Kenari berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari dalam Rumah sakit.


*


"Assalamualaikum" Lanjutnya.


"Waalaikumsalam" Kami tidak ada yang mencoba untuk menahannya.


Setelah beberapa langkah, Randu keluar dari ruang rawat inap nya pak Jati, Petir dan Anyelir segera mengikutinya.


"Kak Randu! Tunggu kak!" Petir mencoba menahannya.


"Iya ada apa?" Randu membalikkan badannya.


"Tolong kami kak! Kakak jangan lihat kak Cempaka dan kak Kenari! Ka Kenari memang begitu orangnya, dia itu sangat membenci kak Cempaka, hanya karena waktu itu kak Cempaka mau menikah dengan adik mantan pacarnya kak Kenari. Kalau kak Cempaka orangnya baik, suka mengalah dan rajin serta penyayang"


Anyelir menjelaskan.


"Tentang Cempaka memang nampaknya seperti yang kamu tuturkan barusan, tapi, kalau Cempaka nya belum siap untuk menerima perjodohan ini, bagaimana? Saya tidak bisa memaksanya, kasihan dia kalau cerita hidupnya seperti itu, terus - terusan mendapatkan tekanan" Sahut Randu, bijaksana.


"Iya juga sih, emh terserah kak Randu saja kalau begitu. Nanti, kalau kak Cempaka sudah memberikan sinyal, aku beri tahu ya. Semoga saja kak Cempaka bersedia menerima perjodohan ini" Anyelir berharap.


"Saya rasa, neng Cempaka tidak akan mau di jodohkan sama saya. Neng Cempaka, sangat cantik, berpendidikan tinggi, pintar, cerdas, dan, tinggi lagi. Mana mungkin mau sama saya yang pendek, jelek, miskin, dan tidak berpendidikan. Saya tidak tahu kalau neng Cempaka itu cantik sekali, saya jadi minder berhadapan dengannya, saya tidak berani untuk menyapanya. Saya malu neng Anyelir, saya tahu diri, saya tidak pantas bersanding dengannya. Sudah ya neng, jangan di bicarakan lagi perjodohan ini, saya malu" Randu sadar akan dirinya.


"Enggak apa-apa kak Randu! Enggak usah malu, kalau jodoh kita kan tidak tahu" Ujar Anyelir.


"Saya pulang dulu" Randu pun berlalu dari hadapan Anyelir.


"Iya kak"


"Kak Randu malah minder, padahal aku sengaja menjodohkannya dengan kak Randu, biar si Cempaka itu jatuh pamornya" Gumam Anyelir.


Ternyata bukan hanya Kenari yang mengharapkan Cempaka berjodoh dengan pria yang jelek.


"Tapi, buat apa jadi yang paling cantik di kampung ini juga kalau jadi jomblo, he, he" Lanjutnya sambil tersenyum sendiri.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" Bu Sekar bertanya heran.


"Eng, enggak apa-apa bu" Anyelir terkejut karena ketahuan oleh ibunya.

__ADS_1


"Cempaka mana?"


"Sepertinya ke kantin, bu"


"Coba kalau kak Cempaka mau sama kak Randu, pasti bapak cepat sembuh" Gumam Anyelir.


"Sok tahu kamu! Apa hubungannya?" Tanya bu Sekar.


"Anyelir, sebaiknya kalau mau menjodohkan kakakmu itu, ya cari yang seimbang. Jangan terlalu mencolok perbedaannya, jangan asal saja. Tadi kamu dengar sendiri kan ?" Lanjut bu Sekar.


"Iya bu, ma'af" Anyelir tersipu.


Sementara itu, Kenari tidak langsung pergi. Tapi, dia mampir ke parkiran, yang berada di samping Rumah sakit.


Kenari duduk di bangku yang ada di sana. Matanya menatap ke arah jalan yang selalu di lalui oleh orang-orang yang keluar masuk Rumah sakit.


"Aku harus bertemu dengan si Randu itu, aku harus meyakinkannya biar dia mau mendekati si Cempaka. Baguslah kalau si jomblo itu menikah dengan seorang cebol. Lucu pastinya juga, gadis secantik Cempaka mendapatkan suami yang jelek dan cebol, miskin lagi! He, he"


Kenari bergumam sambil tersenyum sendiri.


Sama seperti Anyelir, Dia begitu berharap agar Cempaka berjodoh dengan Randu.


"Kok lama banget si Randu itu, kemana dulu ya?" Kenari tak lepas menatap ke arah jalan. Dia berharap Randu akan lewat di sana.


Yang di tunggu - tunggunya ternyata sudah pergi jauh dari sana, dia sudah berlalu menuju ke rumahnya.


"Apa dia masih berbincang dengan si Petir atau dengan si Anyelir, atau mungkin dengan ibu? Iya mungkin mereka tengah membicarakan tentang perjodohannya Randu dan si Cempaka. Iya, mungkin juga itu!" Pikirnya.


"Berarti, aku harus balik lagi ke sana. Aku harus tahu semuanya, siapa tahu sekarang si jomblo itu sudah menyadari akan keadaannya, jadi mau deh di jodohkan dengan siapa saja, daripada jomblo seumur hidup" Gumamnya lagi.


Kenari segera bergegas kembali ke Rumah sakit, ke ruang rawat inap pak Jati.


Dia tidak langsung menampakkan dirinya di hadapan kedua orangtuanya. Tapi, dia memperhatikan dari kejauhan.


"Enggak ada siapapun di sana. Si Anyelir juga malah berada di teras lagi sama si Petir! Lalu, di mana si Randu dan si Cempaka?" Kenari bertanya-tanya sendiri.


"Kalau begini, berarti ke mana si Randu sama si jomblo? Kok mereka enggak ada di sana?"


"Apa si Randu sudah pulang gitu? Tapi, si jomblonya ke mana? Kalau si Randu benar sudah pulang" Pikirnya lagi.


"Kakak! Lagi apa di sini? Bukannya tadi kakak sudah pulang?" Anyelir yang mengetahui kakak sulungnya berada di sana, segera dia menghampiri dan menegurnya.


"Eh Anyelir! Emh, kakak lagi, lagi, iya lagi di sini saja. Kakak belum mau pulang" Sahutnya sedikit terkejut.


"Emh, Randu ke mana? kok enggak kelihatan?" Karena merasa penasaran, akhirnya Kenari bertanya.


" Dia sudah pulang, tadi!" Sahut Anyelir.


Jawaban Anyelir membuat Kenari terkejut mendengarnya.


"Sudah pulang? Lewat mana? Kok Kakak enggak melihatnya"


"Memangnya kak Kenari diam di mana tadi?"


"Di tempat parkiran"


"Di tempat parkiran? Lagi ngapain kakak di sana? Kakak kan enggak pakai kendaraan"


"Emh, maksudnya kakak mau nemui Randu, kakak ada perlu"


"Mau ngapain kakak sama kak Randu?" Anyelir heran.


"Kakak sangat setuju dengan perjodohan antara Randu dengan Cempaka. Sepertinya seru ini, yang cantik mendapatkan yang jelek. Yang tinggi semampai bersanding dengan yang cebol, he, he,he"


Ujar Kenari.


" Kakak bisa saja" Ujar Anyelir.


"Kak Randu nya mundur teratur, dia merasa minder, merasa malu katanya"


"Jadi? Randu pulang karena malu sama dirinya sendiri, karena dia merasa minder. Laki-laki cemen!" Ujar Kenari.


"Aku mau ke ibu dulu kak, mau pamitan pulang, besok aku kan harus kerja. Kalau masalah perjodohan kak Randu dan kak Cempaka, itu sepertinya tidak akan terjadi kak. Aku pulang dulu, Assalamualaikum" Ujar Anyelir sambil berlalu dari hadapan kakaknya.


"Waalaikumsalam, eeh tidak serius punya niatnya. Harusnya yang serius, usahakan sampai jadi, sampai mereka berjodoh. Kan bagus itu kalau mereka jadi


berjodoh, aku tentunya yang paling bahagia he, he, he" Gumam Kenari.


"Kalau Anyelir tidak bisa membuat Randu dan Cempaka berjodoh, berarti aku yang harus mencarikan jodoh untuk si Cempaka, jomblo itu! Tidak akan aku biarkan si jomblo itu mendapatkan jodoh yang sesuai dengan yang dia harapkan! Enak aja!" Ujar Kenari penuh dendam.

__ADS_1


__ADS_2