Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Surat peringatan


__ADS_3

"Assalamualaikum..." Lemas suaranya Karmin siang itu. Wajahnya nampak kusut masam, di tekuk tiga bagaikan kerupuk kulit yang tidak kering langsung di goreng.


"Waalaikumsalam... " Cempaka dan wak Iyem serempak menjawab, mereka sudah menyiapkan sajian untuk makan siang, menunggu Karmin pulang istirahat.


"Huuuh!" Karmin mendengus kasar, tangannya melemparkan sebuah amplop ke atas meja makan. Lalu dia hempas kan bokongnya di atas kursi rotan yang jok busanya masih nampak tebal.


"Kenapa?" Cempaka mencoba untuk sekedar memberikan perhatian kepadanya.


Karmin tidak langsung menjawab, dia meraih cangkir yang berisi air putih hangat yang sudah terhidang tepat di hadapannya. Dia tenggak sekaligus hingga tak bersisa.


"Surat dari kantor" Ujarnya setelah meneguk air putih hangat yang mengaliri tenggorokannya, dia nampak sedikit tenang.


"Surat apa?" Cempaka meraih amplop yang tergeletak di meja makan, dengan hati-hati dia membukanya.


"Buka saja!" Sahut Karmin gusar.


Perlahan Cempaka mengeluarkan isinya, selembar kertas putih yang di penuhi oleh tulisan ketikkan.


"Kami tujukan kepada saudara Karmin, supaya secepatnya mengganti kerugian kantor karena keterlambatan nasabah dalam melunasi utang piutangnya. Dalam hal ini Karmin yang bertanggung jawab... Ini maksudnya apa?" Cempaka membaca penggalan dari isi surat itu di akhiri dengan pertanyaan kepada Karmin.


"Apa kamu menggasab uang kantor?"


Susul wak Iyem beberapa detik kemudian.


"Huuh! Tidak! Saya tidak menggunakan uang nasabah sedikit pun juga uwak!" Karmin mendengus kasar lagi, di acak-acak rambutnya ingin membuang kesal.


"Lalu, apa maksudnya? Kalau ada apa-apa jelaskan! Ngomong yang jelas! Biar kita mengerti maksud dan tujuan surat itu!" Cercar wak Iyem ikut kesal.


"Apa tidak sebaiknya sekarang kita makan dulu saja? Karena makanan sudah tersedia di hadapan kita menanti untuk kita santap. Rasanya tidak baik kita berdebat di depan makanan, rezeki dari Allah. Nanti kalau sudah tenang pikiran kita, baru kita bicarakan secara baik-baik supaya hasilnya juga baik" Dengan penuh kelembutan Cempaka mencoba untuk menengahi.


Rupanya Cempaka tidak ingin memperdebatkan masalah maksud surat yang di bawa oleh Karmin.


Dia memilih untuk mengisi perutnya terlebih dahulu.


"MasyaAllah... Karmin! Karmin! istrimu ini luar biasa sekali, kamu benar-benar beruntung! Bukan hanya mendapatkan istri saja, tapi istri yang banyak ples- ples nya. Sudah cantik, menutup aurat, sekolah tinggi, pintar ngaji, solehah lagi bijaksana. Aduh Karmin kamu beruntung banget !" Wak Iyem berdecak kagum memuji Cempaka, membuat kedua pipinya Cempaka berubah warnanya menjadi semburat merah, menahan malu. Menambah rona kecantikan nya semakin terlihat nyata.


"Uwa, apa-apaan sih? Habis-habisan begitu memujinya, aku jadi malu" Cempaka menunduk mencoba untuk menyembunyikan wajahnya yang merah merona.


"Uwak bicara apa adanya, Nok" Wak Iyem mencomot perkedel di hadapannya. Tak lama panganan dari kentang dan telur itu sudah berpindah ke dalam mulutnya.


"Enak sekali perkedel bikinan mu, ayo! Min makan dulu. Nanti uwak habiskan perkedelnya, kamu kan suka banget sama makanan ini" Wak Iyem mengambil tiga buah perkedel lalu dia pindahkan ke atas piring nya.


"Uwak! Jangan di habiskan!" Melihat pemandangan itu, Karmin segera mengambil piring yang berisi perkedel. Dia tidak rela kalau sampai kehabisan makanan favoritnya itu.


Cempaka hanya tersenyum melihat Karmin dan wak Iyem yang tengah rebutan perkedel.


Dalam sekejap mata kegusaran yang tadi di bawa Karmin dan membayang di wajahnya itu, kini telah mulai memudar perlahan-lahan.


"Alhamdulillah enak sekali makanan yang kau masak, dek" Karmin mengusap-usap perutnya karena kekenyangan. Refleks punggungnya bersender ke senderan kursi setelah dia menyeruput habis perasan air jeruk di gelasnya.

__ADS_1


"Syukur lah kalau masakanku cocok di lidahmu" Sahut Cempaka.


"Uaah! Makan terlalu kenyang jadi ngantuk" Karmin menguap lebar.


"Bukan uaaah yang di ucapkan kalau nguap, tapi ucapkanlah Allahuakbar sambil di tutup tuh mulutnya!" Kritik Cempaka mengingatkan.


"Iya lupa, ma'af" Seraya menangkup kan kedua telapak tangannya di dadanya.


"Jangan tidur! Ini kan jam istirahat.. Tidak baik pula habis makan langsung tidur!" Wak Iyem bangkit dari tempatnya.


"Eeh wak! Mau ke mana?" Tegur Cempaka.


"Membuang rasa kantuk" Sayu nampak matanya wak Iyem karena menahan rasa kantuk.


"Mau di buang di mana?" Canda Cempaka.


"Di wc" Balas wak Iyem pula sambil tersenyum renyah.


"Uwak! Uwak! Ada-ada saja" Cempaka geleng-geleng kepala sambil tersenyum merasa lucu dengan tingkahnya wak Iyem.


"Lho! Kok malah merem? Waktunya balik ke tempat kerja, tuh waktunya sudah mepet tinggal lima menit lagi. Nanti telat lho! Cari kerja itu susah, kerjaan yang sudah ada jangan sampai di lepaskan begitu saja" Cempaka menegur Karmin yang tertidur di kursi makan karena perutnya kekenyangan.


"Saya tidak balik ke Kantor lagi hari ini, seperti yang tertera di dalam surat teguran itu. Kamu baru baca separonya ya? Coba baca hingga tamat" Karmin malah menyuruh Cempaka untuk membaca sampai habis surat teguran dari tempatnya bekerja.


"Berarti hari ini kerjanya cuma setengah hari? Kok! Ada aturan aneh seperti itu" Gumam Cempaka, di raihnya kembali surat yang tadi sempat di bacanya sekilas itu.


Dengan seksama Cempaka kembali membacanya kata demi kata hingga akhir kalimat.


Karmin kena denda karena nasabahnya tidak lancar membayar angsurannya, sebanyak lima orang nasabah yang tidak lancar membayar angsurannya itu.


Nilai rupiah yang di denda kan ke Karmin sebagai petugas dan yang membawa nasabah itu adalah separuh dari keseluruhan nilai uang yang di pinjam oleh lima nasabah tersebut.


Lumayan besar di waktu itu, hampir satu juta kurang sedikit. Tepatnya sembilan ratus lima puluh ribu rupiah.


Nilai yang cukup besar untuk tahun sembilan puluhan.


Dan, bila tidak membayar dendanya hingga akhir tahun, maka Karmin akan di pecat dari pekerjaannya.


"Dari mana kita mendapatkan uang segini? Tidak sedikit ini, sembilan ratus lima puluh ribu rupiah, satu juta kurang lima puluh ribu? Mana kalau tidak di bayar hingga akhir tahun, kamu di pecat lagi, kamu jadi pengangguran. Dari mana biaya hidup kita kalau kamu nganggur?" Cempaka menatap suaminya dengan tajam, netranya seakan menyelidik, mencari tahu pendapat Karmin.


"Saya juga bingung, dek" Keluh Karmin lemas. Dia menunduk seakan menyembunyikan wajahnya dari tajamnya tatapan sang istri.


"Uang apa Nok? Kok! Sampai satu juta kurang, banyak sekali itu" Wak Iyem menghampiri pasangan suami istri itu, kemudian dia duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


"Ini wak, aku heran memangnya peraturan bpr seperti ini? Bila nasabah enggak bayar lalu di bebankan kepada petugas nya?" Cempaka mengalihkan pandangannya kepada wak Iyem.


"Ya enggak lah, baru denger uwak ada peraturan seperti itu" Wak Iyem meraih kertas yang di sodorkan oleh Cempaka, lalu dia membacanya.


"Ini peraturan macam apa? Merugikan yang kerja, minjem uang enggak tapi harus bayar denda, apa-apaan ini?" Wak Iyem menggerutu tak setuju dengan peraturan yang berlaku di tempat kerja keponakannya itu.

__ADS_1


"Karmin! Bangun!" Dengan kasar wak Iyem membangunkan Karmin yang mulai ngorok.


"Uwak, ada apa sih?" Dengan malas Karmin membuka matanya.


" Bukan ada apa- ada apa? Ini bagaimana? Coba jelaskan sama uwak! Apa benar sekarang di tempat kerjamu itu ada peraturan macam gini? Ini merugikan pegawai tahu!" Bentak wak Iyem kasar.


"Iya uwak, itu buktinya. Tanda tangan kepala cabangnya juga ada di sana, emangnya itu saya yang buat?" Karmin langsung duduk tegap mengetahui wak Iyem mulai emosi.


"Tapi kenapa ini ada aturan seperti ini? Apa kamu mau diam saja?" Susul wak Iyem.


"Ya enggak, uwak. Saya akan berusaha untuk mencari uang untuk bayar denda itu supaya saya tidak di keluarkan dari tempat kerja saya" Karmin membela diri.


"Jadi kamu setuju dengan peraturan ini?" Netra wak Iyem membulat tak percaya dengan apa yang di ucapkan Karmin.


"Bukan setuju, tapi harus bagaimana lagi? Saya tidak bisa menolaknya" Ujar Karmin.


"Kalau setiap ada peraturan yang merugikan para pegawai terus di setujui, bisa-bisa ada peraturan baru lagi yang lebih berat dari ini. Apa kamu tidak akan protes? Apa kamu setuju dan tidak keberatan?"


"Habis bagaimana lagi? Sepertinya tidak ada jalan lain untuk sa'at ini"


"Bila kamu tidak mau protes, biar uwak yang protes sama istri kamu. Ayo Nok! Kita ke kantornya Karmin! Kita cari tahu langsung ke kepala cabangnya. Kalau tidak salah pak Sukria namanya" Wak Iyem bangkit dari tempat duduknya, tangannya menggamit lengannya Cempaka untuk di bawa serta.


"Ayo wak! Aku juga heran, masa berat banget aturan dan dendanya. Main pecat segala, kenapa tidak di telusuri dulu kepada para nasabah nya?" Cempaka menyambut baik ajakan wak Iyem.


"Uwak! Mau ke mana?" Karmin tersentak kaget melihat wak Iyem hendak melabrak kepala cabang.


"Bisa gawat ini, aturan ini kan hanya saya dan pak Sukria yang tahu. Kalau uwak sama Cempaka ke sana pasti urusannya jadi panjang dan rencana ku dengan bu Kenari bisa-bisa gagal total" Bathin Karmin seraya bergegas menghalangi wak Iyem dan Cempaka.


"Jangan wak! Jangan dek! Jangan ke sana! Nanti urusannya lain lagi kalau kita ngelabrak ke sana" Karmin berdiri di pintu menghalangi jalan.


"Ini aturan baru katanya, tapi yang kena baru saya sendiri. Karena, nasabahnya paling banyak mandegnya. Kalau cuma satu atau dua nasabah sih tidak jadi masalah, ini kan lima orang nasabah. Itu juga sudah diberi keringanan, tolong mengerti saya, kalau kalian ke sana melabrak, bisa makin runyam urusannya, makin jelek kinerja saya di mata pak Sukria" Karmin menghiba memohon supaya wak Iyem dan Cempaka tidak pergi ke kantornya.


Wak Iyem dan Cempaka saling tatap, bingung.


"Kamu ini bagaimana? Mau di belain malah ngelarang" Wak Iyem menggerutu.


"Iya, harusnya senang kami ke sana untuk menanyakan tentang aturan aneh ini" Timpal Cempaka.


"Bukannya tidak senang. Tapi, nanti sama saya saja ke sananya, kita langsung ketemu sama pak Sukria, kalau sama saya kan bisa langsung ke ruang kerjanya dia, jadi pegawai lain tidak ada yang tahu. Kita ngelabrak nya dengan cara yang halus biar tidak di pandang yang enggak-enggak sama pegawai lain, emh... Begitu maksud saya" Karmin menyusun kata-kata untuk membuat wak Iyem dan Cempaka mengurungkan niatnya.


"Emh... Baiklah kalau begitu, kapan kita ke sana?" Ujar wak Iyem beberapa saat kemudian.


"Besok saja ya wak, ya dek, sekarang kita susun kata-kata yang enak dan mengena di hatinya pak Sukria, biar tidak menyinggung perasaan nya dia dan tidak ada keributan nantinya"


"Bolehlah kalau begitu, aku tidak suka keributan" Cempaka setuju.


Dengan begitu Karmin sudah menang lagi, dia bersorak sorai di dalam hatinya. Tidak hanya Cempaka yang polos saja yang bisa dia kelabui, wak Iyem yang terkenal sangar juga mampu dia kendalikan.


"Sebentar lagi saya akan dapat duit dari Cempaka, rencana kita yang selanjutnya ini sepertinya akan berjalan mulus mbak Kenari" Bathin Karmin girang.

__ADS_1


Wak Iyem dan Cempaka kembali ke tempatnya semula, mereka mengurungkan niatnya. Ucapan Karmin sepertinya mengena di hati mereka. Tinggal menunggu hari esok saja.


******


__ADS_2