Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Tamu yang ditunggu


__ADS_3

"Siapa ya?..." Cempaka tidak lupa bertanya dulu, sesuai perintah ibunya.


"Saya Samudera..." Jawab yang di luar.


"Samudera?... Kau Samudera?... Benarkah itu?" Antara percaya dan tidak dengan pendengarnya.


Cempaka menghentikan langkahnya seketika.


Dia mengatur dulu debaran di dadanya yang entah kenapa, setelah mendengar suara itu, setelah mendengar nama itu,


Debaran di dadanya tiba-tiba datang begitu saja.


Cempaka lalu memejamkan matanya dan menarik nafasnya pelan-pelan, kemudian dia menghembuskan nya kembali dengan perlahan.


Sekedar menenangkan sedikit getar dan debar di dadanya itu.


Perlahan, dia melangkahkan kakinya menuju ke pintu.


Di peganginya gagang pintu itu, dan di bukanya secara perlahan.


Cempaka nampak terpana, mendapatkan sosok pemuda dengan seragam tentara lengkap di hadapannya.


Antara percaya dan tidak, dia tak mengucapkan sepatah katapun.


Hanya matanya yang melotot dengan mulut yang terbuka karena terpana, seakan tak percaya dengan penglihatannya.


"Assalamualaikum... Apa kabar Cempaka?" Sang tentara itu mengucapkan salam dan menyapanya, tak lupa senyuman manis tersungging di bibirnya.


Matanya lembut menatap wajah kekasihnya itu.


"Wa... Waalaikumsalam... Aku... Aku baik-baik saja... Kau Samudera?... Benarkah itu?" Cempaka menjawabnya dengan tergagap.


"Iya... Aku Samudera!...Aku datang memenuhi keinginanmu, aku datang hanya untukmu" Sahut nya sambil melepaskan topi di kepalanya.


Nampaklah kepala plontosnya itu, dengan rambut yang baru tumbuh kurang dari satu centi.


"Samudera?... Kau nampak beda!


Aku sampai pangling melihatnya"


Cempaka berseru kegirangan.


"Syukurlah!... Kau sudah kembali dengan selamat!... Aku bangga sekali!..." Ucap Cempaka lagi.


Matanya menatap sosok pria dihadapannya. Rasanya enggan dia alihkan dari sosok pemuda yang kini telah menjadi seorang anggota tentara itu.


Senyum Cempaka lebar terukir di bibirnya, menandakan kebahagiaan telah merasuki dirinya.


"Ada siapa ya?... Sepertinya Cempaka sangat kegirangan sekali!"Bu Sekar bergumam merasa penasaran.


"Entahlah..." Sahut Anyelir.

__ADS_1


"Apa Buana gitu yang datang?" Tanya bu Sekar lagi.


"Kak Buana kan polisi bu, ini yang datang memakai seragam tentara"Ujar Kilat mengingatkan ibunya bahwa yang datang itu seorang tentara.


"Lalu, siapa ya?... Ibu jadi penasaran" Ujar bu Sekar sambil beranjak ke ruang tamu.


Dia ingin mengetahui siapa itu tamunya.


"Ada siapa nak?... Sepertinya kau senang sekali dengan kedatangannya" Tegur bu Sekar, setelahnya dia berada di lawang pintu yang ke ruang tamu.


Dia menatap sosok tentara yang


masih berdiri di lawang pintu, di dekat anaknya, Cempaka.


"Assalamualaikum... Bu, apa kabar?" Samudera segera mengucapkan salam, kemudian mendekatinya untuk mencium tangan nya bu Sekar.


"Kau ini... Siapa?" Bu Sekar mundur selangkah, sambil menatap pria itu.


"Dia Samudera bu!... Dia kembali ke sini untuk memenuhi harapanku, memenuhi keinginanku bu!..." Cempaka segera menjawabkan.


"Samudera?..." Ujar bu Sekar, seperti yang tidak percaya.


"Iya ibu, dia itu Samudera!" Cempaka menegaskan.


"Ooh... Iya!... Sekarang ibu ingat!


Yang saudaranya neng Mawar kan?" Ujar bu Sekar meyakinkan.


"Nah!... Itu dia, sekarang dia sudah jadi Tentara sesuai dengan yang aku harapkan" Ucap Cempaka dengan suara yang teramat bahagia.


"Aduh!... Ma'af!... Saking bahagianya, sampai lupa aku mempersilahkan kamu untuk duduk. Silahkan duduk!" Cempaka terperanjat kaget dengan sikapnya sendiri.


"Tidak apa-apa, berdiri di pintu juga, aku sudah senang, asalkan Cempaka juga senang" Ucapnya.


Samudera pun duduk, setelah dipersilahkan duduk oleh Cempaka.


"Jadi, setelah pulang dari sini waktu itu, kau langsung mengikuti pendidikan tentara?"


Cempaka sepertinya masih belum percaya.


"Iya, dan ini buktinya!... Kau bisa lihat sendiri kan?... Seperti yang kau katakan waktu itu kepadaku.


Dan begitu ada kesempatan, langsung aku ingin mewujudkannya sesuai dengan apa yang kau harapkan" Jawab Samudera dengan senyum kemenangan.


Dia merasa bangga, karena telah


mewujudkan impian dan harapan perempuan, kekasihnya itu.


Perempuan yang telah menjadi penyemangat dalam hidupnya.


Perempuan yang telah membuatnya jatuh cinta.

__ADS_1


Perempuan yang telah menciptakan kidung cinta dalam jiwanya.


"Aku juga sangat bahagia dan sekaligus merasa bangga, karena ternyata, kau diam-diam telah mewujudkan cita-cita dan impian serta harapanku selama ini. Aku bahagia sekali, terimakasih ya Allah, Engkau telah mendengar dan mengabulkan do'aku" Cempaka menadahkan tangannya, dia begitu bersyukur dengan apa yang Allah datangkan di hadapannya.


"Sebentar!... Sebentar!... Ini bagaimana ceritanya? Kok!... Ada harapan dan impian serta cita-cita segala!... Coba jelaskan kepada ibu, biar ibu faham"Bu Sekar sepertinya belum faham dengan apa yang tengah di bicarakan oleh anak dan temannya itu.


"Begini bu, waktu aku bertugas sebagai pengawas ujian di sd Ujung jaya satu itu, aku dan Samudera kan kenalan, kami ngobrol ngaler-ngidul. Lalu, Setelah beberapa hari kemudian, Samudera bertanya kepadaku, Cempaka kalau punya suami, ingin yang punya pekerjaan apa? Ya aku langsung jawab, kalau aku ingin punya suami seorang ABRI, begitu bu!... Dan ternyata sekarang dia mewujudkannya" Cempaka menjelaskan dengan semangat.


Perasaan bahagia terpancar di wajahnya.


"Jadi... Samudera datang kesini untuk... Bu Sekar tidak melanjutkan perkataannya.


"Untuk membuktikan bahwa aku benar-benar mencintai Cempaka, aku sungguh-sungguh mau melamarnya, menjadikannya sebagai isteriku. Karena aku mencintainya, maka aku mewujudkan keinginannya, karena Cempaka berharap ingin mempunyai suami seorang ABRI, maka aku harus jadi abri, supaya dia bahagia aku berusaha untuk mewujudkannya. Dan Alhamdulillah... Allah SWT merestui dan meridhoi nya"Sahut Samudera dengan lantangnya.


Perkataan Samudera membuat Cempaka tersanjung.


Tubuhnya seakan melambung tinggi ke awan, dia bahagia sekali, semua yang ku inginkan dia mampu mewujudkannya.


"Dari asrama aku langsung kesini, aku belum pulang ke rumah, aku ingin kamu duluan yang mengetahui bahwa aku sudah lulus pendidikan tentara, aku ingin kamu duluan yang melihat aku dengan seragam tentaraku ini, sebelum keluargaku. Makanya aku langsung menemuimu"Ucapnya lagi.


Sungguh! membuat Cempaka merasa menjadi orang yang paling di utamakan.


Sedangkan bu Sekar terperanjat karena merasa kaget. Ternyata anaknya sudah melupakan Buana yang dia harapkan untuk menjadi menantunya, jodohnya Cempaka. Sedangkan Cempaka begitu bahagia dengan keberadaan Samudera yang baru saja dia kenal itu.


Bu Sekar diam tak memberikan komentar. Hanya matanya saja yang menatap anaknya dan juga menatap Samudera secara bergantian.


Dia merasa bingung, bagaimana kalau besok atau lusa, Buana datang juga menemui anaknya. Apa yang mesti dia katakan sebagai jawabannya?


"Aku senang sekali, aku ucapkan terimakasih karena kau telah mewujudkan cita-cita ku" Ujar Cempaka dengan wajah sumringah.


"Sama-sama, aku juga sangat berterimakasih karena kau telah menjadi penyemangat hidupku"


Ujar Samudera pula.


"Sebentar ya, aku ambilkan air minum dulu, aku hampir lupa"


Cempaka segera bergegas ke belakang.


Tak lama kemudian, dia sudah datang lagi dengan nampan di tangannya.


"Silahkan di minum dulu airnya, pasti kau cape ya" Kata Cempaka setelah dia menyajikannya di atas meja.


"Terimakasih, bu... Aku minum airnya" Samudera menatap bu Sekar yang diam saja, tak berkomentar dari tadi.


"Ibu kenapa?..." Cempaka bertanya heran.


"Ibu merasa bingung nak!" Ucapnya kemudian.


"Kenapa ibu bingung?... Apa ibu tidak suka melihat aku bahagia?"


Cempaka bertanya tak mengerti.

__ADS_1


"Bukan begitu, namun... Bagaimana dengan... Buana?" Sahut bu Sekar, jawabannya membuat keduanya terkejut.


Keduanya sama sekali tak menyangka kalau bu Sekar tengah memikirkan Buana.


__ADS_2