Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Sebelum janur kuning melengkung


__ADS_3

"Kenapa dengan Buana bu?" Cempaka tak mengerti.


"Dia kan berjanji kepada mu nak!"


Sahut bu Sekar, tatapan matanya menyiratkan sebuah pengharapan.


"Dia kan hanya berjanji bu, entah menepati atau tidak. Masih was-was, belum pasti bu. Sedangkan Samudera, dia tidak mengumbar janji, tapi dia langsung memberi bukti" Sergah Cempaka.


Dia merasa bahwa ibunya tidak akan mengizinkannya untuk menerima cintanya Samudera.


"Memang, sa'at ini Buana baru berjanji saja, tapi dia kan sudah lama mengenal dan dekat dengan keluarga kita" Sahut ibunya.


"Walaupun sudah dekat, sudah akrab. Kalau dia ingkar janji?... Nanti siapa yang rugi bu?... Apalagi kini keluarganya juga seperti yang menghindar dari kita. Buana juga waktu itu aku sapa, dia tak menjawabnya, malahan dia lari menghindar dariku, apa itu belum cukup?... Ibu ini bagaimana sih?" Cempaka jadi kesal dengan sikap ibunya.


Kebahagiaan yang baru saja dia rasakan dengan kedatangannya Samudera, kini langsung mencair dengan perkataan ibunya.


Tak terasa, airmata membayang memenuhi kedua kelopak matanya. Rasa sedih dan kecewa mulai merasuki relung hatinya.


"Menurut ibu, kamu harus menunggu dulu keputusan dari Buana, baru kamu boleh menerima Samudera. Biar tidak jadi perselisihan" Ucap bu Sekar.


"Ibu, aku kan belum jadi Isterinya Buana, di lamar juga belum. Kenapa harus menunggu putusan darinya?... Antara aku dan Buana belum ada ikatan apa-apa ibu... Uhk... Uhk..." Cempaka tak kuasa menahan air matanya. Dia menangis kecewa dengan sikap ibunya.


"Walaupun belum ada ikatan, tapi dia sudah memberi janji kepada kita nak, kau harus mengerti itu"


Dengan lembut bu Sekar mengingatkan anaknya.


"Dia kan sudah membawa perempuan lain ke rumahnya, bu.


Makanya aku juga terima Samudera sebagai calon suamiku. Aku enggak mau menunggu janji yang tak pasti... Hiks... Hiks..."Ungkap Cempaka dengan tangisnya yang mulai terisak.


"Kalau ibu tidak setuju dengan Samudera, biarin enggak apa-apa, aku mau nikah di tempatnya mawar saja!... Hiks... Hiks..." Lanjut Cempaka lagi.


Luka di hatinya yang berangsur mulai mengering itu, kini terkoyak kembali. Kini menganga lagi, menimbulkan kepedihan yang teramat sangat.


"Cobalah untuk mengerti anakku,


keluarga kita dengan keluarganya Buana itu sudah akrab, sudah dekat. Ibu tidak mau kalau kedekatan itu hancur"


Ujar bu Sekar lagi, dia tetap berusaha untuk meyakinkan anaknya.


Dan, Cempaka tetap tidak mau mengikuti saran ibunya. Karena, dia telah merasa di sakiti oleh Buana. Yang sudah sengaja menghindar darinya. Dan telah sengaja pula membawa perempuan lain untuk calon isterinya.


"Ibu yang harusnya mengerti bu... Hiks... Hiks... Hatiku sudah sakit bu!... Buana sudah ingkar janji bu!... Dengan membawa perempuan lain ke rumahnya... Hiks... Berarti... Hiks... Dia telah melupakan aku... Hiks... Hiks... Hanya karena Hiks... Keluarga kita... Hiks... Sudah dekat, aku harus tetap menunggunya... "

__ADS_1


Ujar Cempaka sambil terus menangis meratap.


Samudera menarik nafasnya dalam-dalam. Dia merasa bingung dengan sikap ibunya Cempaka.


"Ma'af sebelumnya ibu, kalau menurutku, perkataannya Cempaka itu benar adanya. Belum ada ikatan di antara mereka, belum ada janur kuning yang melengkung sebagai tanda adanya pesta pernikahan, itu berarti... Mereka baru berteman, belum adanya keseriusan bu. Jadi, buat apa menunggu janji yang tak pasti?" Dengan perlahan akhirnya Samudera mengeluarkan isi hatinya.


Dia juga merasa tak setuju dengan pendapat ibunya Cempaka.


"Sekarang begini saja ya nak! Ibu mau berembug dulu dengan bapaknya Cempaka, gimana baiknya tentang masalah ini" Ucap bu Sekar akhirnya memutuskan.


Mungkin biar Samudera segera berpamitan untuk pulang.


"Bapaknya lagi pergi ke mana bu?" Tanya Samudera.


"Sedang di masjid, biasanya jam delapan lebih baru pulang, setelah shalat Isya berjamaah" Sahut ibunya Cempaka.


"Ooh... Baiklah kalau begitu, aku mau pamit dulu mungpung belum terlalu malam. Cempaka, InsyaAllah aku akan datang lagi"


Akhirnya Samudera berpamitan pulang.


"Aku akan menunggumu" Sahut Cempaka.


"Assalamualaikum..." Ucapnya sambil keluar dari rumahnya bu Sekar, setelahnya dia bersalaman dan mencium tangannya bu Sekar dengan penuh hormat.


"Terimakasih Cempaka" Sahutnya.


Cempaka menatap kepergiannya Samudera dengan rasa yang tak menentu. Di tatapnya punggung Samudera, hingga hilang di telan belokan.


Dengan hilangnya Samudera dari pandangan matanya, terasa ada yang hilang juga di hati dan jiwanya Cempaka.


"Lindungi dia ya Allah!" Do'anya perlahan.


"Cempaka!... Masuk nak!" Panggil bu Sekar.


"Iya bu!" Sahut Cempaka dengan malas.


Ditutupnya pintu depan rumahnya itu. Dengan perlahan dia masuk ke rumah, ke ruang tengah lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Ya Allah... Kenapa ibu sikapnya begitu terus?... Kenapa dia keukeuh menunggu Buana?... Engkau pasti tahu bagaimana sikapnya Buana kepadaku?... Ya Allah... Tunjukkan yang terbaik untukku... Beri aku kekuatan ya Allah"Gumamnya sambil berselonjoran kaki di balik pintu kamarnya.


Matanya menatap jauh entah kemana, Pikirannya pun terantuk kepada ucapan dan sikapnya bu Sekar tadi.


"Sepertinya ibu tidak akan setuju kalau aku memilih Samudera. Aku harus bagaimana ya Allah?...

__ADS_1


Aku sudah tidak mau lagi sama pria yang sikapnya seperti Buana, yang seenaknya saja mengingkari janjinya" Gumamnya lagi sambil menarik nafasnya dalam-dalam.


"Cempaka!... Seruni, Mana kakakmu?" Tanya bu Sekar kepada Seruni yang tengah menonton TV di ruang tengah.


"Di kamarnya bu!" Sahut Seruni.


"Tok!... Tok!... Cempaka!... Keluar nak!.. Ibu mau bicara" Ujarnya.


"Iya bu" Sahut Cempaka pelan.


"Pasti mau membicarakan masalah yang tadi" Gumamnya.


Dengan malas, Cempaka membuka pintu kamarnya.


"Iya bu, ada apa?" Cempaka menyender di kusen pintu


"Bantu ibu siapin makanannya kak!... Bentar lagi bapakmu datang" Ajak bu Sekar kepada Cempaka.


"Iya bu" Jawab Cempaka pelan.


Cempakapun keluar dari dalam kamarnya, lalu mengikuti ibu ke ruang makan.


Di atas meja makan, sudah tertata rapi makanan dan piringnya di tempat masing-masing.


"Apa yang belum bu?" Cempaka bertanya heran.


" Ibu membohongiku biar aku keluar dari kamar" Bathinnya.


"Sudah semua. Sebenarnya ibu mau bicara sama kamu" Ujar bu Sekar sambil duduk di kursi.


"Ooh!..." Jawab Cempaka sangat singkat. Dia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan ibunya.


"Tadi kamu langsung masuk ke dalam kamar, kamu marah sama ibu?... Kamu tidak suka dengan perkataan ibu tadi?" Tanya ibunya. Mungkin bu Sekar merasa tersinggung, karena Cempaka langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Enggak bu, bukan begitu" Cempaka mencoba meyakinkan ibunya.


"Baiklah kalau begitu, nanti setelah makan kita bicarakan hal ini bersama bapakmu" Ujar bu Sekar.


"Iya bu" Sahut Cempaka pelan.


Dia sebenarnya sangat malas untuk membicarakan masalah itu. Enggak akan salah. Pasti ibu dan bapak melarangku untuk menerima lamarannya Samudera.


Ibu dan bapak pasti menyuruhku untuk menunggu kabar dari Buana. Kabar yang jelas-jelas tidak pasti itu.

__ADS_1


__ADS_2