
"Itu Karmin sudah datang" Lembut perlahan bu Sekar membisikkan kata-kata itu di telinganya Cempaka.
"Iya bu, aku sudah tahu. Seruni tadi memberitahu aku" Pelan sekali suaranya Cempaka sambil menahan isak tangisnya.
"Aku harus bagaimana, bu?" Bisiknya lagi.
"Temui dia, nak. Dia datang bersama kakaknya"
"Bu" Tangis Cempaka semakin terisak. Dia semakin yakin saja kalau Karmin akan memboyongnya ke Kampung halamannya.
Bu Sekar dan Seruni turut menangis sedih, pelukan mereka semakin erat saja, semakin susah untuk di lepaskan.
Beberapa sa'at mereka terdiam, tak ada yang berbicara. Hanya isak tangis yang sesekali terdengar.
Sedih, pilu, pedih dan duka bercampur di hatinya Cempaka. Karena, dia tahu sebentar lagi dia akan meninggalkan rumah dan keluarganya, dia akan pergi untuk mengikuti keluarga suaminya, mau tidak mau, walau dengan terpaksa.
Perlahan bu Sekar melepaskan pelukan anaknya.
Dia menengadahkan wajahnya Cempaka, kemudian jarinya mengusap air hangat yang meluncur dari kelopak matanya.
Kemudian bu Sekar mengangguk, memberikan isyarat kepada Cempaka supaya segera menemui Karmin.
"Iya bu" Sahut Cempaka lirih.
"Kakak mau ikut orang itu?" Seruni menatap wajahnya Cempaka dengan air mata yang berlinang.
Cempaka tidak bisa menjawabnya,
Dia hanya mengusap air mata adiknya dengan jarinya.
Bu Sekar pun keluar dari kamarnya Cempaka, Cempaka memakai jilbabnya terlebih dahulu.
Tak berapa lama, Seruni dan Cempaka mengikutinya dari belakang.
Sisa air mata masih terlihat di pipinya Cempaka.
Kedua kakinya Cempaka terasa berat untuk di ajaknya melangkah.
Perlahan-lahan, dia melangkahkan kakinya menuju ke ruang tengah.
Di mana Karmin dan kakaknya tengah menanti kehadirannya.
"Assalamualaikum" Ucap Cempaka dengan lembut, ketika dia dan adiknya tiba di ruang tengah.
"Waalaikumsalam" Sahut semua yang ada di sana.
"Karmin, ini istrimu?" Mbak Siti dan mas Kunti terpana melihat kecantikan dan kelembutannya Cempaka.
"Iya mbak" Sahut Karmin bangga.
"Masya Allah, cantiknya" Mbak Siti berdecak kagum, netranya tak lepas menatap ciptaan Allah yang sempurna berdiri di hadapannya.
Cempaka dan Seruni duduk di samping ibunya. Setelah mereka menyalami semua tamunya.
"I, ini yang namanya neng Cempaka?"
__ADS_1
Tanya mbak Siti tergagap saking terpesonanya.
"Iya, mbak. Ini Cempaka anak kami yang ke tiga" Ujar bu Sekar.
Mbak Siti dan mas Kunto tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajahnya Cempaka yang cantik jelita, dengan kulit yang putih mulus, walaupun hanya terlihat sedikit di bagian jari tangannya saja, karena tertutupi oleh pakaian syar'i yang dia kenakan.
"Sudah cantik, berhijab lagi"
Ujar mbak Siti kagum.
"Ini kakak saya, mbak Siti dan ini suaminya mas Kunto" Karmin mengenalkan kakaknya kepada Cempaka.
Cempaka menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Ya Allah, Karmin!" Bisik mbak Siti, dia begitu terpikat dengan senyumannya Cempaka.
"Ya Allah, kenapa mbak jadi gagap begini ya, emh, emh, jadi enggak bisa bicara yang benar" Mbak Siti salah tingkah.
"Kenapa, mbak?" Tanya Cempaka lembut.
" Emh, emh, ma'af kan kami" Ujar mbak Siti.
"Kami, kami datang ke sini itu, dengan tujuan untuk silaturahmi, iya untuk silaturahmi dan men, emh menjemput neng, emh, menjemput neng, neng Cempaka" Ujar mbak Siti dengan gugup dia mengutarakan maksud kedatangannya.
"Jeduar! Perkataan yang terputus-putus itu terasa bagaikan petir di tengah hari yang sangat terik, terdengarnya oleh telinganya Cempaka.
"Haaah?" Cempaka melotot tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.
" Kakak" Seruni memeluknya erat.
"Ma'af kalau perkataan kakak saya tadi, membuat gak enak di dengarnya" Ujar Karmin.
"Iya, ma'afkan istri saya" Ujar Kunto.
Pak Jati dan bu Sekar saling tatap, keduanya menarik nafas dalam-dalam, seakan ingin melepaskan beban yang menumpuk di kedua pundaknya.
Mereka sedikit pun tak tega dengan Kenyataan yang kini terbentang di hadapan anaknya.
"Tak apa-apa, tak ada yang perlu di ma'afkan. Karena ini semua bukan kesalahan mbak dan juga bukan kesalahan mas nya" Pak Jati berucap perlahan.
"Iya pak, tapi kami merasa bersalah dengan kejadian ini" Ujar mbak Siti lagi.
"Bagaimana, apa ibu sama bapak mengizinkannya? Kalau neng Cempaka kami bawa ke Indramayu?" Mas Kunto menanyakannya.
"Emh, kalau menurut status sekarang ini, ya itu tidak mungkin kami tidak mengizinkannya. Karena, walaupun di tidak-tidak juga, bagaimana sudah terjadi" Suaranya pak Jati tercekat di tenggorokannya.
"Terimakasih kalau begitu, kami lega mendengarnya. Tapi, apa neng Cempaka nya bersedia tidak ikut kami ke Indramayu, tinggal bersama kami di gubuk yang sempit, dan tidak sebesar dan semewah ini" Mas Kunto merendah.
Cempaka terdiam, dia tidak bisa menjawabnya. Dia merasa bingung untuk menjawabnya, karena tidak mungkin dia menjawab tidak mau. Kalau menjawab iya, diapun merasa tidak siap mengikuti orang yang sama sekali tidak pernah dia cintai.
Akhirnya, air hangat yang sedari tadi berdesakan di kelopak matanya itu, luruh jatuh di kedua pipinya, mewakili kegundahan yang ada di dalam hatinya.
Cempaka tertunduk menahan isak tangis yang tak dapat dia kendalikan lagi. Diapun menangis di bahu ibunya.
"Kalau memang neng Cempaka belum bersedia untuk ikut dengan kami, itu tidak apa-apa. Mungkin neng Cempaka masih belum mengenal kami, jadi merasa was-was atau merasa canggung bila tiba-tiba harus ikut dan hidup se atap dengan kami"
__ADS_1
Dengan bijaksana mbak Siti berujar.
"Iya, neng. Nanti saja setelah neng Cempaka merasa sudah siap, kami akan datang lagi ke sini untuk menjemput neng Cempaka. Kami tidak akan memaksa neng Cempaka untuk ikut sekarang juga, bagaimana?" Timpal mas Kunto.
Cempaka menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, wajahnya nampak sedikit berbinar, tidak lagi kusut masai seperti tadi. Dia seka air mata yang tersisa di pipinya yang lembut.
"Kamu enggak apa-apa kan? Kalau neng Cempaka tidak ikut sekarang dengan kita?" Tanya mbak Siti sambil menatap adik bungsunya itu.
"Iya enggak apa-apa, saya akan menunggunya" Ujar Karmin.
"Assalamualaikum, rupanya ada tamu, eh Karmin sudah datang? Kapan datang? Dan ini siapa? Karmin datang dengan keluarganya, kenapa tidak ngasih tahu aku? Dari awal kan aku yang mengenalkan Karmin kepada kalian, hingga Cempaka yang jomblo itu bisa menikah dengannya, bisa punya suami dan tidak jomblo lagi. Itu karena siapa? Kalau bukan karena aku, mana mungkin sekarang si Cempaka itu sudah punya suami"
Tiba-tiba Kenari datang dengan membawa pertanyaan yang bertubi-tubi, dan nyerocos ke sana ke mari merasa berjasa atas perjodohan yang menjijikkan itu.
"Waalaikumsalam, mbak Kenari, apa kabar?" Karmin segera bangkit dari tempat duduknya, dan dengan segera dia menyambutnya serta mencium punggung tangan nya Kenari dengan penuh ke akraban.
Sedangkan mbak Siti dan mas Kunto
Terperanjat kaget dengan kehadiran Kenari yang tiba-tiba, dan dengan perkataannya yang sangat pedas tak enak di dengar.
"Saya Kenari, kakak sulungnya Cempaka, dan karena saya Karmin bisa menikahi Cempaka yang masih gadis ini dengan gratis. Sungguh waktu itu Karmin tengah ketiban durian runtuh, mendapatkan rezeki yang tidak semua orang bisa mendapatkannya" Kenari mengenalkan diri kepada kakaknya Karmin, dengan sejuta embel-embel perkataan yang tak pantas untuk di utarakan.
"Saya Siti, kakaknya Karmin, dan ini suami serta ini anak kami" Ujar mbak Siti apa adanya.
"Saya dengar tadi katanya kalian mau menjemput Cempaka untuk di boyong ke Kampung halamannya kalian? Apa betul itu? Kalau betul begitu, saya sangat senang hati mendengarnya. Dan, dari kemarin Cempaka sudah tidak sabar ingin segera ikut dengan suaminya, sejak kepergian Karmin, dia menangis terus karena ingin ikut dengannya. Syukurlah kalian sekarang sudah datang untuk menjemputnya" Kenari nyerocos lagi.
"Jangan suka memutar balikkan fakta!" Pak Jati mengingatkan.
"Kenapa tidak boleh aku berkata seperti itu? Dia kan sekarang sudah jadi istrinya Karmin, jadi memang dia harus ikut dengan suaminya kemanapun suaminya pergi. Apalagi ini ke Kampung halamannya" Lanjut Kenari tidak mau kalah.
"Kamu sepertinya habis menangis? Kenapa? Apa masih seperti seminggu yang lalu? Karmin sekarang sudah jadi suamimu! Dia berhak penuh atas dirimu! Kemanapun dia ingin membawamu, ya kamu harus ikut dia.
Jangan katakan kalau kamu menangis itu karena kamu tidak mau di ajak oleh Karmin untuk pindah ke Kampungnya!" Kenari menatap tajam
Ke arah Cempaka yang menunduk.
"Jawab! Kenapa kamu diam saja?"
Kenari mendekati Cempaka.
"Seruni, kamu masuk ke kamarmu!Kakak mau duduk di sampingnya Cempaka!" Kenari mengenyahkan Seruni supaya menyingkir, menjauh dari Cempaka.
"Enggak mau, aku mau dekat dengan kak Cempaka" Seruni memegangi tangannya Cempaka dengan kuat.
Dia enggak mau di suruh pergi dari samping nya Cempaka.
"Ini anak!" Kenari emosi.
"Sudah biarkan saja, Seruni duduk di samping nya Cempaka, dia kan paling dekat dengan Cempaka. Itu ada kursi yang kosong, kenapa kamu tidak duduk di sana saja?" Pak Jati menyuruh Kenari untuk duduk di kursi yang kosong.
Kenari lalu duduk di kursi yang masih kosong, walau dengan hati yang mangkel, kesal karena tidak bisa duduk di sampingnya Cempaka.
Dia ingin mencubit dan meniupkan jampi-jampi dari Eyang kepada Cempaka, supaya Cempaka mau ikut dengan Karmin.
******
__ADS_1