
"Kak! Itu laut kak!" Cempaka berseru kegirangan, ketika Bis yang dia tumpangi melewati pinggiran pantai Eretan yang membentang di kiri jalan raya.
Desiran ombaknya terlihat nampak jelas dari dalam Bis, si Sopir memperlambat laju kendaraannya, dia mengerti seperti yang mempersilahkan kepada para penumpang untuk memandangi keindahan alam lukisan sang Maha Pencipta.
Kenari tak bergeming sedikitpun, dia larut dalam lamunannya. Otaknya tengah di peras supaya bisa berpikir bagaimana cara menyatukan adiknya dengan Karmin dalam waktu dekat, di dalam suatu ikatan pernikahan yang syah.
"Kakak! Kakak! Lihat itu laut! Kakak! Kakak!" Cempaka mengguncang - guncangkan bahu Kenari, supaya dia melihat pemandangan laut yang sangat indah itu.
"Emh, ada apa? Ada apa?" Kenari tersentak kaget.
"Itu lihat!" Telunjuk Cempaka di arahkannya ke lautan lepas yang luas membentang.
"Waaah! Indah sekali!" Kenari nampak takjub dengan pemandangan yang tengah dia saksikan tepat di depan bola matanya.
"Kakak sih, dari tadi melamun terus! Jadi cuma sebentar lihat lautnya, mikirin apa sih ka!"
"Mikirin kamu supaya segera dapat jodoh" Jawab Kenari asal ceplos.
"Kakak! Ini di dalam Bis! Nanti kedengaran sama orang lain, seperti ngiklanin saja, malu tahu!" Cempaka sewot di buatnya.
"Kamu suka lihat pantai kan?" Kenari bertanya kepada Cempaka.
"Tentu nya dong! Emangnya kenapa?" Cempaka balik bertanya.
"Kebetulan itu! Kamu suka melihat Laut, Karmin rumahnya dekat dengan Laut. Kenapa kamu tidak nikah saja sama dia, jadi bisa sering lihat laut! Iya kan?" Kenari mengutarakan idenya.
" Kenapa mesti nikah dengan Karmin? Dengan yang lain juga bisa, kali. Yang penting punya uang, kita bisa melihat Laut kapan saja kita mau, iya kan?"
Kilah Cempaka.
"Iya juga, tapi kalau dengan Karmin kan lautnya yang ini, tidak usah keluar uang banyak"
Kenari tak mau kalah.
Di dalam hatinya sudah tersusun suatu rencana untuk menjebak Cempaka biar masuk ke dalam perangkapnya.
"Aku tidak melulu pingin lihat laut yang ini, kok!" Ujar Cempaka.
"Ya sudah, tapi kalau kamu di takdir kan oleh Allah SWT untuk berjodoh dengan Karmin, kamu tidak akan bisa mengelak adikku tersayang" Ujar Kenari sambil menjentik hidung mancungnya Cempaka.
"Kakak! Kakak jangan menakuti aku, anganku aku ingin menikah dengan seorang anggota ABRI, aku suka itu. Apalagi kalau melihat Polisi militer sedang berbaris dalam upacara atau lagi latihan, ah aku suka banget! Sekarang aku punya teman seorang anggota Polisi militer, dia orang sebrang , dia seorang muslim yang ta'at beribadah, tinggi ganteng, baik lagi. Semoga saja dia jadi jodohku ya Allah. Kakak, do'ain ya! Biar dia jadi jodohku" Matanya Cempaka berbinar waktu menuturkan apa yang ada di hatinya kala itu.
"Hemh!" Kenari menarik nafas dalam-dalam.
"Ternyata benar perkataannya Eyang, tapi itu hanya dalam angan-angan mu saja adikku! Tidak akan lama lagi kau akan di persunting oleh Karmin, pria desa yang bukan anggota ABRI, dia hanya seorang pengangguran dan sudah punya istri lagi. Kau akan di madu, di jadikan istri yang ke dua oleh seorang pengangguran, sungguh sangat dahsyat, luar biasa! Gadis paling cantik di desanya, berpendidikan tinggi, eh jodohnya pria yang sudah punya istri, pengangguran lagi, gratis lagi di nikahi nya! He.. He! Cempaka! Cempaka!" Bathin Kenari menceracau, dia tengah membayangkan nasib buruk yang akan menimpa adiknya.
"Kakak! Kenapa malah senyum - senyum ih! Bukannya mendo'akan adiknya" Cempaka cemberut sambil membelakangi kakak sulungnya.
"Jangan gampang marah! Nanti lekas tua! Cantiknya hilang" Kenari menggodanya.
Dia tidak mau adiknya itu sampai ngambek, takut kabur di jalan, nanti susah lagi menjebaknya.
Tak lama kemudian mereka bersiap-siap hendak turun. Karena, tempat tujuan sudah ada di depan mata, sesuai alamat yang di tuliskan Karmin di dalam suratnya itu.
__ADS_1
"Jangga! Habis! Jangga habis!" Teriak Kondektur Bus dengan keras, hingga memenuhi seluruh ruangan Bus.
"Kita turun di sini berarti!" Kenari bangkit dari tempat duduknya, begitu juga dengan Cempaka.
Keduanya menuju pintu keluar.
"Hati-hati Nok!" Ucap Kondektur kepada Cempaka.
"Iya, tapi aku bukan Nok" Sahut Cempaka, walaupun dia tidak mengerti sama sekali, kenapa dia di panggil Nok?
Kondektur bus itu tersenyum mendengar perkataannya Cempaka.
"Nok itu kalau di Bandung berarti Neng" Kondektur Bus itu menjelaskan.
"Ooh, ma'af saya gak tahu" Ucap Cempaka sambil tersenyum.
Nah! Senyuman itu yang suka membuat laki-laki manapun tergoda oleh Cempaka.
Senyuman itu yang membuat hatinya Kenari menjadi iri dan juga benci.
"Arep ndi nok?" Seorang laki-laki yang sepertinya tukang Ojeg bertanya kepada kedua kakak beradik itu, dengan bahasa jawa Indramayu.
Jelas saja keduanya tidak ada yang mengerti.
Kenari dan Cempaka hanya menggelengkan kepalanya saja, karena tidak mengerti.
"Wong Bandung kayakne, ora bakalan ngerti" Ujar yang satunya lagi.
"Mau ke mana?" Salah seorang bertanya kepada mereka.
"Oh, Trisi. Masih jauh mbak! Ke sana! Harus naik ojeg!" Ujarnya.
"Mau nyari siapa?" Tanya nya lagi.
"Karmin" Jawab Kenari.
"Karmin? Tapi ini bukan alamat rumahnya Karmin, rumahnya dia kan di Ci Logog, sudah dekat dari sini juga" Ujar salah seorang tukang Ojeg, sepertinya dia tahu rumahnya Karmin.
"Lalu, alamat ini, alamat siapa?"
Tanya Cempaka, dia mulai merasa curiga kepada Karmin yang tidak memberi alamat rumahnya.
"Itu alamat rumahnya wa Iyem"
Sahut tukang Ojeg yang tadi.
"Dia tetangga saya" Sahutnya lagi.
"Mau saya antar ke sana?" Tanya nya lagi.
"Kak, bagaimana ini? Katanya itu bukan alamatnya Karmin. Kenapa dia tidak memberikan alamat rumahnya?" Cempaka bertanya ragu.
"Enggak apa-apa, kita ke sana dulu saja, ke alamat yang di berikan oleh Karmin. Mungkin itu alamat saudaranya, sudah! Jangan su'udzon dulu, kita buktikan saja dulu, yu! Masa kita mau balik lagi?" Kenari tidak merasa kaget mendengar itu bukan alamatnya Karmin, dia mau selingkuh! Enggak bakalan
__ADS_1
dia memberikan alamat rumahnya.
"Ayo mbak! Ayo Neng!" Dua orang tukang Ojeg sudah siap dengan motornya.
Setelah Kenari dan Cempaka duduk di jok belakang, motorpun perlahan berlalu ke alamat yang dituju.
"Dari sini jauh, enggak?" Tanya Cempaka penasaran.
"Lumayan jauh, ya... Sekitar dua puluh menitan naik motor. Tapi, tidak ngebut. Kalau ngebut, sepuluh atau dua belas menit juga sampai" Jawab tukang Ojeg itu.
"Mbak siapanya Karmin?" Tukang Ojeg yang membonceng Kenari menanyakan hal itu.
"Saya temannya "
"Ooh, ini rumahnya Karmin!" Dia menunjukkan sebuah rumah di pinggir jalan kepada Kenari.
"Iya" Sahut Kenari, dia tidak tertarik.
Mereka pun diam, tak ada pembicaraan lagi.
Kenari ingin segera sampai ke alamat yang dia cari. Ingin segera bertemu dengan Karmin, ingin segera menyampaikan apa yang menjadi idenya.
"Itu rumahnya wa Iyem, tuh itu yang halamannya luas, rumahnya juga cukup besar bila di bandingkan dengan rumah yang ada di sekitarnya" Tukang Ojeg itu menunjukkan tangannya ke salah satu rumah yang bercat putih dan biru muda, yang ada di depan, sebelum belokan jalan.
"Ooh, itu rumah uwa nya Karmin?" Tanya Kenari.
"Iya, dia itu tidak punya anak" Sahutnya.
"Ooh"
Tak lama kemudian kedua motor itu sampailah di depan rumahnya wa Iyem, rumah yang besar dan berhalaman luas itu.
Mesin motorpun di matikan.
Kenari dan Cempaka segera turun, dan melangkah menuju ke pintu pagar setelah membayar ongkosnya.
"Di tungguin enggak?" Tanya salah satu tukang Ojeg itu.
"Enggak usah, takut lama" Ujar Kenari.
"Eh, mas! Kalian kenal kan dengan Karmin?" Tanya Cempaka.
"Iya, saya kenal. Dia teman sekolah saya dulu, tetangga lagi" Sahutnya.
"Katanya dia kena musibah, kecelakaan tertabrak mobil, apa benar?" Cempaka penasaran.
"Enggak tahu, saya enggak dengar kabar itu" Sahutnya.
"Hah! Berarti dia telah membohongi saya kalau begitu"
Cempaka terkejut mendengarnya.
"Sudah! Ayo kita masuk! Kita tidak usah mendengar penuturan dari orang lain" Kenari segera menarik tangannya Cempaka untuk di bawa masuk ke dalam halaman rumah itu. Kenari takut kalau nanti Cempaka bertanya tentang statusnya, bisa gawat, bisa gagal total semua rencana yang sudah dia susun dengan rapi itu.
__ADS_1
***