
Setelah semua keperluan yang di bawa Cempaka di simpan di atas bale-bale, dengan teliti mak Inah
memeriksa satu persatu.
"Sudah ada semuanya, sudah lengkap!" ujar mak Inah.
"Neng Cempaka, coba masukkan kembang tujuh rupanya ke dalam baskom kecil ini." ujar mak Inah.
Baskom kecil yang berisi kembang tujuh rupa itu, lalu sama mak Inah di bacakan do'a. Enggak tahu do'a apa. Sedikitpun tidak terdengar apa-apa, hanya bibirnya saja yang terlihat komat-kamit.
Cempaka yang duduk di hadapan
mak Inah, diam mematung memandangi bibir mak Inah yang terlihat komat-kamit itu.
Sedangkan mak Asih sudah pulang dari tadi, dia tidak berlama-lama di sana. Dia hanya mengantarkan Cempaka saja.
"Ikut emak yu! Sebelum di peuyeum, neng harus mandi dulu dengan kembang tujuh rupa ini."
Ujar mak Inah, dia menyerahkan baskom kecil yang di isi kembang tujuh rupa itu.
"Baik mak, aku mau mandi dulu"
Sementara Cempaka mandi, mak Asih membakar kemenyan hingga ruangan terlihat pekat dengan asap kemenyan.
"Neng Cempaka, bilasan terakhir nanti sama emak di guyurinnya"
Mak Asih sudah berdiri di balik pintu kamar mandi.
"Iya mak" Cempaka menurut saja, tidak banyak komentar.
"was...wis...wus..." Terdengar mak Inah komat-kamit membacakan mantera, tepat di atas ubun-ubunnya Cempaka.
Dan...
"Byuuuur!" Segayung air kembang di guyurkannya ke atas ubun-ubunnya Cempaka, sambil tak henti mulutnya komat-kamit.
Membacakan manteranya hingga beberapa menit.
Sebanyak tujuh gayung air kembang tujuh rupa itu, diguyurkan secara perlahan-lahan ke atas kepalanya Cempaka.
Rambutnya Cempaka jadi penuh
dengan aneka rupa kembang.
"Sudah beres neng Cempaka, ayo segera ganti bajunya."
Setelah selesai ganti baju, Cempaka di suruh duduk di ruangan tempat sesajenan. Di depannya telah tersedia perapian dengan asap yang membumbung tinggi hingga mencapai langit-langit, hasil dari pembakaran kemenyan.
Dan... Asap itu harus dia isap kuat-kuat selama tujuh kali isapan, hingga memenuhi rongga dadanya.
Bagai kerbau yang di cocok hidungnya, Cempaka menuruti semua perkataannya mak Inah.
"Sebelum masuk ke tempat pameuyeuman, minum dulu air do'a ini, dan habiskan!" perintahnya lagi, mak Inah menyodorkan sebotol air putih, yang katanya sudah di bacakan do'a olehnya.
"Iya mak" sahut Cempaka. Dia menerima botol air itu. Kemudian dia meminumnya sampai tak bersisa lagi.
"Sekarang, naiklah ke atas! Diam di sana sambil berdo'a. Ulangi terus do'a yang di tuliskan di atas kertas itu! Hingga hafal di luar kepala! Ayo!..., segera naik! Biar cepat beres ritualnya!" ujar mak Inah lagi. Dia memerintahkan Cempaka untuk segera naik ke ruangan yang ada di atas.
"Baik mak, aku naik sekarang"
Cempaka segera menaiki anak tangga yang kecil dan nampak curam itu.
__ADS_1
Dengan gemetaran dia menapaki
anak tangga itu satu persatu.
Cuma sepuluh anak tangga. Tapi,
anak tangganya sangat kecil hanya sebesar ibu jari kaki, dan terbuat dari bambu.
"Astaghfirulahaladziiim!..., tempat apa ini? Masa, aku harus tidur di sini!" Cempaka meringis
menatap sekeliling ruangan itu.
"Haaah? Kok gelap mak? Aku takut kegelapan mak." Cempaka berteriak dari anak tangga yang paling atas. Dia enggan untuk masuk ke ruangan itu.
Cempaka sangat kaget sekali! Karena, ternyata di atas itu hanya
ruangan atap rumah yang gelap gulita. Tanpa adanya penerangan sama sekali.
"Sudah, enggak akan ada apa-apa" Mak Inah menjawab dengan santai.
Akhirnya walau dengan perasaan takut dan ragu, Cempaka masuk ke ruangan yang gelap gulita itu.
Dengan senter kecil yang di bawanya dari rumah, Cempaka ingin mengetahui keadaan di sana.
"Ya Allah!..., aku harus diam di tempat yang kotor seperti ini?...
Betapa menderitanya diriku ini."
Cempaka membathin.
"Kata mak Asih, aku harus diam di sini minimal tiga hari tiga malam sampai empat puluh hari empat puluh malam? Iiiiih!" Cempaka bergidik ketakutan.
Di sana ternyata adalah ruangan di atas plafon yang sangat kotor sekali menurut ukuran Cempaka.
Aroma yang tercium dari dalam ruangan itu, sungguh sangat bau sekali. Seperti bau tikus.
Sarang laba-laba tersebar di seluruh ruangan itu.
"Sebenarnya ini tempat apa?"
Gumam Cempaka, matanya menelisik setiap sudut ruangan.
Di bantu dengan penerangan dari senter kecilnya itu.
"Ibu, bapak, kenapa sampai harus tidur di tempat seperti ini anakmu ini, bu. Apakah harus di perlakukan begini? Orang yang di obati dengan cara spiritual itu. Aku takut ya Allah... Aku takut ada tikus bu" Cempaka terus mengarahkan senternya ke sekeliling atap rumah itu.
"Matikan senternya! Kalau di peuyeum itu tidak boleh ada cahaya sedikitpun!" Mak Inah terdengar berteriak dari bawah.
"Waduh! Enggak boleh ada cahaya sama sekali. Gawat ini"gumamnya.
"Sebentar mak!" ujar Cempaka.
Dia mencoba untuk membersihkan kasur tipis itu dari
serbuk-serbuk yang berserakan di atasnya.
Setelah dirasa cukup bersih, diapun lalu menyenderkan punggungnya di tiang yang ada di sana.
"Kresek... Kresek" baru saja beberapa menit Cempaka menyenderkan punggungnya, tiba-tiba terdengar suara aneh dari sudut ruangan itu.
"Ya Allah... Suara apa itu? Aku sangat ketakutan sekali" Cempaka mulai meringis ketakutan.
__ADS_1
"Mak!..., aku takuuut maaak!"
Cempaka berteriak histeris dari atas atap.
"Maaak! Ada suara aneh maak! itu suara apa maak?" teriaknya lagi. Tapi, mak Inah diam saja. Sedikitpun dia tidak bergeming, tidak peduli dengan teriakannya Cempaka.
"Hapalkan do'anya, sudah jangan teriak-teriak!" Ujar mak Inah.
"Astaghfirulahaladziiim... Mak Inah, kenapa begitu mak?" rengek Cempaka.
"Tolong aku mak! Aku takuuut"
Cempaka mulai menangis.
"Sudah tidak usah menangis!"
Teriak mak Inah datar.
Untungnya suara aneh itu tidak terdengar lagi. Sepertinya itu tikus yang merasa terganggu dengan kehadirannya Cempaka di sana.
Dengan perasaan yang ketar-ketir, dengan keringat dingin yang mengucur membasahi seluruh tubuhnya karena rasa takut yang tak bisa di bendung. Akhirnya Cempaka memberanikan diri.
Dia usap airmata di pipinya. Dia lalu duduk bersila, lalu berdo'a memohon pertolongan dan perlindungan dari Allah SWT.
"Bismillahirrahmanirrahim... Beri aku kekuatan lahir dan batin ya Allah! Jika ini yang harus aku alami, aku ikhlas ya Allah. Tapi, tolong aku ya Allah" airmata tidak bisa di bendung lagi dari kelopak matanya.
Lama-lama punggung Cempaka
tidak kuat lagi untuk di pakai menyender lebih lama lagi.
Matanya pun serasa tidak kuasa lagi untuk menahan rasa kantuknya.
Akhirnya...
Cempaka merebahkan tubuhnya di kasur yang super tipis dan berdebu itu. Matanya pun mulai terpejam, tak kuat lagi menahan rasa kantuk.
Sa'at itu waktu sudah pukul satu dini hari.
"Aaaaaw... Toloooong!" Tiba-tiba
Cempaka terdengar berteriak histeris, memecah kesunyian di malam itu.
"Buuu! Tolong aku! Toloooong!'
Cempaka berteriak panik.
"Ibuuu! Ibu di mana? Tolong aku ibuuu!" Teriaknya lagi, semakin panik saja. Karena, merasa ada yang bergerak di kakinya.
"Ada yang menggigit kakiku" di tengah kegelapan malam itu, Tangannya sibuk mencari-cari senter kecilnya.
Dia ingin tahu, apa yang sudah menggigitnya.
Tak jauh dari dekat kakinya, dia melihat seekor tikus yang cukup besar berlari menjauh darinya.
"Ya Allah!..., rupanya kakiku ini di gigit oleh tikus. Betapa sangat menderitanya diriku ini" Cempaka ketakutan sendiri.
Karena mak Inah yang punya rumah, tidak segera datang untuk menolongnya. Entah tidak terdengar, entah sengaja tidak mau menolongnya.
Yang jelas, Cempaka yang tengah kecewa dan luka hatinya.
Malah semakin menderita saja.
__ADS_1
Kasihan sekali nasibmu Cempaka.