
"Kalau kita minta pendapatnya pak Ustadz, apa enggak akan malu gitu?" Tanya Bunga was-was.
"Rasanya tidak akan malu kalau sama pak Ustadz nya. Tapi, kita tidak tahu kalau anak-anaknya mendengarkan dan tidak sengaja dia mengatakannya kepada orang lain. Kalau kejadian begitu, pasti kita malu"
Ujar bu Sekar.
"Lalu, kita harus bagaimana?"
Anyelir berharap.
"Apa sebaiknya kita tutupi saja hal yang sebenarnya?" Gumam Anyelir lagi.
"Jadi, kita tidak akan malu sama tetangga. Dan, tetangga juga tidak akan banyak tanya, tahunya kak Cempaka sudah menikah dengan mahar yang kemarin di sebutkan oleh Karmin. Bagaimana kalau begitu saja bu?" Tukas Anyelir lagi.
"Lalu, kotak perhiasan yang hilangnya bagaimana?" Bu Sekar tidak yakin.
" Iya kan orang-orang yang kemarin menghadiri acara akad nikahnya kak Cempaka, tahunya kan kotak perhiasan maharnya kak Cempaka hilang. Ya sudah, kalau menurut aku sih, begitu saja daripada Semua orang tahu kalau maharnya ngutang" Anyelir meneruskan perkataannya.
"Benar kan apa yang aku bilang tadi! Kalau maharnya di katakan hilang, kita tidak akan terlalu malu. Karena, maharnya memang hilang sejak kemarin setelah selesai akad nikah. Kalau maharnya di katakan ngutang, itu bikin malu kita" Ujar Kenari yang tiba-tiba saja sudah ada dibelakang Anyelir.
Di ikuti oleh Karmin.
"Terserah bagaimana kalian saja, yang penting aku enggak mau menikah dengan si Karmin itu" Ujar Cempaka dengan tetesan air mata yang berderai membasahi kedua pipinya.
"Lha! Mana bisa? Kamu kan sudah syah menikah dengan Karmin, walaupun tanpa mahar juga. Seisi Kampung sudah tahu kalau sekarang kamu itu sudah menjadi istrinya Karmin" Ujar Kenari sambil tersenyum mencibir.
"Sudah, terima saja apa yang telah menjadi nasibmu. Mungkin itu semua jalan hidupmu yang memang harus begini, terima nasib saja" Ujar Kenari.
"Kakak bisa mengatakan hal itu karena kakak tidak mengalaminya. Tapi, kalau posisi kakak seperti Cempaka sa'at ini, bagaimana coba? Apa kakak mau menerimanya dengan begitu saja? Apa kakak akan merasa bahagia dengan kenyataan pahit begini? Apa kakak mau di jodohkan dengan laki-laki yang sama sekali tidak menghargai kakak sebagai istrinya? Apa kakak mau?" Bunga nyerocos mewakili Cempaka yang masih menangis terisak.
"Kamu jangan sok membela si Cempaka, mentang-mentang di depan ibu. Sebenarnya kamu juga sama kan enggak mau kalah bersaing dengan adikmu itu kan? Buktinya kamu tidak memberikan izin waktu si Cempaka mau tunangan dengan Buana, apa yang kamu lakukan? Sudah lupa? Sekarang mentang-mentang sudah punya suami, eh sok-sokan jadi sang pembela" Kenari mengungkit peristiwa yang telah berlalu.
"Iya aku akui itu, aku memang salah waktu itu. Karena aku malu, aku sakit hati, waktu kau sebut aku sebagai putri jomblo, si perawan tua, gadis yang tidak laku, tak di hargai oleh adiknya yang mau melangkahimu. Waktu itu kakak kan yang selalu memanas-manasi aku, hingga aku nekad, dan melarang keras Cempaka di lamar oleh Buana"
Penuturan Bunga sungguh membuat semua orang kaget. Ternyata, Bunga berulah dulu itu karena gesekkan dari Kenari.
"Sekarang aku menyesal sudah menuruti apa yang kau katakan waktu itu. Aku menyesal telah membuat adikku menderita, makanya sekarang aku ingin melindunginya, walaupun telat. Karena, aku tidak tahu dari awal kalau adikku itu mau kau jodohkan dengan cara begini"
Lanjut Bunga dengan penuh emosi.
__ADS_1
" Berarti, semua kejadian yang terjadi di rumah ini adalah ulah kamu, Kenari? Jadi anak sulung itu harusnya memberikan contoh yang baik kepada adik-adiknya, Bukan membuat ricuh suasana, adik kakak jadi saling bermusuhan. Jadi, waktu itu Bunga dan Cempaka saling bermusuhan dan bertengkar itu juga gara-gara kamu?"
Bu Sekar merasa tak habis pikir dengan kelakuan anak sulungnya itu.
"Iya bu, waktu itu aku kira benar kalau Cempaka suka menjelekkkan aku kepada kak Kenari. Bahkan katanya Cempaka lah yang pertama kali mengatakan kalau aku ini gadis tak laku, Perawan tua dan si Jomblo yang sebentar lagi mau di langkahi aku. Ternyata itu semua adalah fitnah, itu semua bohong belaka. Makanya setelah aku tahu yang sebenarnya, aku sangat menyesal sekali" Bunga menjelaskan semuanya.
Penjelasan itu sungguh sangat membuat hati bu Sekar merasa terpukul.
Terbongkarlah semua kejelekan Kenari. Dengan begitu, terungkap lah semuanya. Kalau dalang dari semua itu adalah Kenari, anak sulungnya.
"Ya Allah, apa salahku selama ini? Sehingga aku harus mengalami hal yang seperti ini.
Kenapa anak sulung ku punya
kelakuan seperti itu? Kenapa dia punya rasa iri dan dengki terhadap adiknya sendiri? Kenapa ya Allah?"
Bu Sekar meratap dan menangisi semua kelakuan yang telah di lakukan oleh anak sulungnya itu.
Suasana seketika hening, semua terbawa oleh pikiran di benaknya masing-masing.
Hanya isak tangisnya Cempaka yang terdengar sesekali, sungguh menyayat hati.
"Kenapa mesti di ibaratkan kepada kakak? Toh bukan kakak yang mengalaminya" Jawaban Kenari yang cuek membuat seisi rumah menjadi geram di buatnya.
"Memang mesti di ibaratkan kepada kak Kenari, yang suka membuat ulahnya" Ujar Bunga
menimpali.
"Ooh, ceritanya kamu itu mau insyaf, mau jadi pembela seorang perempuan lemah yang bernama Cempaka?"
Kenari berujar, dengan mata yang mendelik kepada Cempaka.
"Iya, mau apa?"
Bunga nge gas.
"Sekarang sudah tidak takut lagi sama aku, mentang-mentang sudah punya suami"
Gumam Kenari.
__ADS_1
Sementara itu,.Cempaka hanya diam sambil menangisi jalan hidupnya, yang selalu di rundung oleh penderitaan yang tiada henti.
Dia sudah merasa malas untuk berdebat dengan kakak sulungnya itu.
Dia memilih diam dan memikirkan apa yang mesti dia lakukan untuk kedepannya.
"Sudah! Kita tunggu saja bagaimana pendapat bapak kalian dan juga pendapatnya pak Ustadz, nanti!" Bentak bu Sekar dengan sangat geram.
Semua diam untuk sementara, setelah mendengarkan suaranya bu Sekar yang berteriak, menyuruh diam kepada anak-anaknya.
Untuk sementara mereka semua diam, bagaikan terhipnotis oleh bentakannya bu Sekar yang memenuhi seluruh ruangan.
Bunga mendelikan matanya ke arah Karmin, lalu ke arah Kenari.
Kebetulan mata ****** miliknya Kenari, mengarah kepada Bunga dengan sorot mata yang mengandung kebencian.
"Dulu di tolongin biar tak di duluin tunangan sama si Cempaka. Eeh, sekarang malah balik menentang aku. Dasar tak tahu di untung!" Ujar Kenari Setelah beberapa menit terdiam.
"Siapa yang tidak tahu di untung? Siapa yang minta tolong? Kamu sendiri yang mendatangi aku di kamarku. Dan kamu sendiri yang mengatakan awas! Jangan mau di duluin sama si Cempaka. Buat apa saja yang membuat dia supaya mengalah dan juga membatalkan pertunangannya.
Misalnya, pura-pura mau bunuh diri, mau minum racun tikus atau apa saja. Begitu kan yang kakak suruh waktu itu"
Perkataannya Kenari terdengar jelas oleh Bunga yang tidak jauh duduknya dari Kenari.
Bunga pun segera membalas perkataannya Kenari.
Lagi-lagi membongkar kembali rahasia Kenari yang beberapa lama di tutupi oleh mereka berdua.
"Makin berani saja kamu! Ucapan mu itu tidak ada tedeng aling-alingnya" Kenari geram.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Mengatakan apa yang aku dengar dari mulut kak Kenari kala itu" Sahutnya lagi tidak mau kalah.
"Bunga!" Kenari mengangkat salah satu tangannya, hendak menampar pipinya Bunga.
Namun, belum juga sampai tangannya di salah satu pipinya Bunga, dari kamarnya Seruni terdengar suara tangisannya Cemara, anak balitanya Kenari.
Rupanya anak balita itu terbangun, karena mendengar keributan yang di bikin oleh mamahnya sendiri, di ruang tengah.
***
__ADS_1