Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Kabar yang harus ditelusuri


__ADS_3

"Iya Yeti, terimakasih informasinya. Karena kamu, aku jadi tahu siapa dia sebenarnya"


Lirih suaranya Cempaka, terhalang tangis yang memaksa


untuk di hempaskan.


"Enggak usah berterimakasih sama aku, kamu kan temanku, kita sama-sama melamar ke sini, kita sama-sama kerja di sini, kalau aku tahu bahwa kamu akan di bodohi sama orang lain, sedangkan aku tahu. Tak mungkin aku diam saja, tak mungkin aku membiarkan teman sendiri mengalami penderitaan. Sebaiknya, besok atau lusa, kamu datang ke rumahnya dia, cari tahu apakah perkataan aku tadi benar atau tidak? Kalau sama si Yanto nya, usahakan jangan dulu berubah sikap. Diam - diam saja dulu"


"Kamu memang teman yang baik, sekali lagi aku ucapkan terima kasih. Kalau tidak kamu beritahu, mungkin aku pasti akan menerima lamarannya" Ujar Cempaka perlahan.


"Dia mau melamarmu?" Yeti terkejut mendengarnya.


"Iya, rencananya kalau aku kemarin menerimanya, dia akan melamarku minggu depan, sa'at libur ship"


"Dia mau melamar kamu? Lalu, kamu menolaknya? atau bagaimana?" Yeti terperanjat.


"Aku bilang, jangan terburu-buru, kita jalani saja dulu, keluarga kita juga belum saling mengenal" Ujar Cempaka.


"Alhamdulillah, kalau begitu. Aku tahu kamu dekat dengan dia itu, tiga hari yang lalu. Waktu itu aku tak sengaja mendengar pembicaraan dia dengan Heri. Aku ingin memiliki Cempaka, aku akan berjuang hingga bisa mendapatkannya, itu kata Yanto. "Kamu kan sudah punya anak dan istri?" Kata Heri. Kamu tahu enggak apa jawabannya? Tenang saja! Setelah aku mendapatkan Cempaka, aku akan ceraikan istriku, begitu yang ku dengar. Makanya, aku segera mencari kamu" Yeti menuturkan nya dengan berbisik, takut ada yang dengar.


"Astagfirullahaladzim, kamu jahat sekali Yanto! Niatmu sangat jelek sekali! Ya Allah, kalau kamu tidak cerita tentang dia, bagaimana jadinya nasibku ini? Aku tak dapat membayangkannya" Cempaka bergidik merasa ngeri membayangkannya.


"Sabar ya teman! Bukan apa-apa aku memberitahumu, aku hanya tidak mau temanku ini menderita, sakit hatinya karena laki-laki itu" Di peluknya Cempaka dengan penuh kasih sayang.


Cempaka tak bisa menahan air matanya. Dia menangis di pelukan Yeti, temannya.


Untuk beberapa sa'at, mereka berpelukan.


"Sebaiknya kita segera kembali ke mesin, takut ada yang tahu kita di sini. Hapus dulu air matanya, jangan biarkan orang lain bertanya-tanya" Yeti menghapus air matanya Cempaka yang membasahi pipinya.


Cempaka hanya mengangguk, menyetujui apa yang di katakan oleh Yeti.


"Ayo, kita kembali ke tempat kerja kita! Jangan lupa untuk tersenyum" Lanjut Yeti lagi.


Merekapun berjalan bersama menuju ke mesinnya masing-masing.


Dengan sekuat tenaga, Cempaka mencoba menahan titik air mata di kelopak matanya.


"Di Musholla nya penuh enggak?" Indah menyambutnya dengan sebuah pertanyaan, kepada Cempaka yang baru datang bersama dengan Yeti.


"I, iya. Jadi kami agak lama di Musholla nya, Ma'afkan aku ya indah, kamu pasti lama menunggu aku kembali" Cempaka merasa bersalah. Karena, kelamaan meninggalkan mesin dan pekerjaannya.


"Tak mengapa, itu bukan kesalahanmu. Ya sudah, kalau begitu aku ke Mushola dulu ya, takut kehabisan waktunya. Takut keburu Isya" Indah segera bergegas meninggalkan Cempaka dan Yeti, menuju ke Mushola.


"Iya Indah, silahkan!" Sahut Yeti dan Cempaka.


"Cempaka, yang sabar ya! Aku ke mesinku dulu ya, Nuri pasti sudah menunggu aku" Ujar Yeti.


"Iya, silahkan. Terimakasih ya teman, kamu telah membuat aku mengetahui kebenarannya tentang Yanto" Lagi - lagi Cempaka mengucapkan terimakasih kepada Yeti.


"Sudah, sudah tidak usah terus menerus kau ucapkan terimakasih kepada aku. Baiklah aku pergi dulu ya" Yeti berlalu meninggalkan Cempaka, yang di hatinya muncul beribu penyesalan dan tanda tanya tentang sosok lelaki yang bernama Yanto.


"Iya" Cempaka menjawabnya dengan sangat singkat.


"Apa maksudnya si Yanto itu? Mengapa dia mendekati aku, malahan berniat untuk melamar ku segala, mengapa?" Di benaknya Cempaka, timbul beberapa pertanyaan yang bertumpuk dan bergulung menjadi satu. Yang akhirnya menimbulkan perasaan kesal, marah, jengkel dan sakit hati. Serta berbagai perasaan yang tak bisa di bayangkan olehnya.


"Dia kan sudah punya istri, dan juga seorang anak perempuan yang katanya masih kecil itu. Kenapa pula dia mau melamar aku? Dia mau berselingkuh denganku, dia hendak menjadikan aku sebagai istri mudanya, istri keduanya. Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak mau di jadikan istri muda, aku tidak mau di jadikan istri yang kedua, aku tidak mau di madu, tidak!" Gumam Cempaka menceracau di dalam hatinya. Hingga, kedatangan Indah di sisinya pun tidak dia sadari.


"Cempaka! Cempaka! Hai! Kamu kenapa? Malah bengong sendiri, dengan mulut yang komat-kamit begitu, ada apa?" Indah mengguncang - guncang kan bahunya Cempaka, hingga dia tersadar akan kehadiran sahabatnya itu.


"Hah! Ada, ada apa, Indah? Rupanya kau sudah kembali" Cempaka terkaget-kaget di buatnya.


"Iya, aku di sini sudah beberapa menit yang lalu" Sahut Yeti.


"Kamu membuat aku kaget saja. Ada apa?" Ujar Cempaka, dia malah balik bertanya kepada Indah.


"Bukan aku yang membuat kamu kaget. Tapi, bengong kamu itu yang membuat kamu jadi kaget begini. Dan, yang seharusnya bertanya ada apa itu, bukan kamu. Tapi, aku yang seharusnya bertanya begitu!" Indah mencoba mengoreksinya.


"Emh, tidak, tidak ada apa-apa"


Cempaka mencoba untuk menutupinya.

__ADS_1


Cempaka tidak mau kalau sampai Indah mengetahui yang sebenarnya tentang Yanto.


Cempaka takut Indah akan merasa bersalah. Karena, sedikit banyaknya Indah yang memberikan support supaya Cempaka mau menerima Yanto sebagai kekasihnya.


Karena Indah pula yang telah memberikan dukungan, dan juga meyakinkan Cempaka tentang sosok Yanto. Hingga Cempaka pun menerimanya.


"Kenapa diam saja, Cempaka? Ada apa? Aku kan sahabatmu. Coba ceritakan semuanya kepadaku. Ada apa sebenarnya?" Indah mencoba meyakinkan Cempaka.


"Aku bilang tidak ada apa-apa, Indah! Kau ini. Ayo! Kita bekerja lagi, itu benangnya sudah hampir penuh! Sebentar lagi juga harus kita bongkar. Sebaiknya kita mencari roda dulu untuk wadahnya" Cempaka mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, supaya Indah tidak terus menanyakan tentang dirinya yang tadi terlihat tengah bengong, sa'at dirinya tiba.


"Kalau begitu, aku mencari roda dulu. Kamu di sini saja ya!" Cempaka segera beranjak meninggalkan Indah.


"Baiklah aku menunggumu di sini, sepertinya yang kau cari ada di dekat mesinnya Yeti. Kelihatan dari sini juga" Teriak Indah, setelah Cempaka berlalu agak jauh darinya.


"Iya!" Sahut Cempaka menjawabnya dengan teriakan pula.


Dia pun berbelok menuju ke mesinnya Yeti.


"Assalamualaikum, Rodanya aku ambil ya! Mau di pakai enggak?" Sapa Cempaka.


"Waalaikumsalam, eh kamu. Bawa saja, aku sudah tidak memerlukannya. Tadi bekas aku bawa benang, aku belum mengembalikannya ke gudang" Sahut Yeti.


"Hai Cempaka, bagaimana kabarmu?" Nuri menanyakan kabar tentang Cempaka.


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Aku bawa dulu ya Rodanya" Cempaka seperti yang ketakutan kalau Nuri akan menanyakan tentang Yanto.


"Syukurlah kalau begitu, bagaimana dengan-


"Aku balik lagi ya, Assalamualaikum" Cempaka segera memotong perkataan Nuri, karena dia merasa sangat yakin sekali, kalau Nuri akan menanyakan tentang Yanto. Atau tentang hubungannya dengan Yanto.


"Oh iya, Waalaikumsalam" Jawab Yeti.


"Waalaikumsalam, Dia sepertinya telah merasa kalau aku akan menanyakan tentang Yanto nya itu" Gumam Nuri.


"Sudah ah! Kasihan dia, aku yakin kalau dia tahu yang sebenarnya tentang Yanto yang sudah punya istri dan anak itu, tidak mungkin dia akan mau menerima Yanto sebagai kekasihnya" Ujar Yeti.


"Iya juga ya" Sahut Nuri.


Yeti mengingatkan temannya.


"Iya baiklah kalau begitu, tapi kamu sudah kasih tahu dia, kan?" Nuri merasa khawatir kalau Yeti belum memberitahu yang sebenarnya.


"Tenang saja, kalau masalah itu aku gerak cepat. Aku tidak mau temanku sendiri jadi korban keserakahan seorang lelaki, ya seperti si Yanto itu" Yeti meyakinkan temannya.


"Syukurlah, kita sesama perempuan memang harus saling mengingatkan, biar tidak bertambah banyak perempuan yang tersakiti oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab, seperti si Yanto itu! Wajah pas-pasan juga, sangat PD ( Percaya diri ) mendekati Cempaka yang secantik itu. Harusnya dia itu ngaca! Jadi sebel aku mendengarnya" Nuri jadi ngedumel berkepanjangan.


"Makanya, setelah aku mengetahui tentang si Yanto dekat dengan Cempaka, aku segera memberitahukan semua kebenaran itu kepada Cempaka. Karena, aku tidak mau kalau teman kita, Cempaka yang baik dan yang paling cantik di sini itu, di sakiti hatinya" Yeti menuturkan nya.


"Kamu memang teman yang baik! Aku suka caramu itu" Nuri menggenggam kedua tangan


Yeti, sahabatnya itu.


Keduanya tersenyum bahagia.


"Ayo Indah! Kita bongkar benangnya, kita turunkan dan kita pindahkan ke dalam roda, sebentar lagi waktu kerja kita akan habis" Cempaka segera mematikan mesinnya, kemudian memindahkan bobin yang sudah penuh dengan benang itu ke dalam roda.


Indah pun tak tinggal diam, diapun turut sibuk membantu sahabatnya itu.


"Semoga saja, kita bisa menyelesaikan pekerjaan kita ini" Ujarnya di sela-sela kesibukannya bekerja.


"Insya Allah bisa. Asalkan kita kerjanya serius" Sahut Cempaka.


"Dua puluh menit lagi, teman" Lanjut Cempaka.


"Masih banyak waktu" Sahut Indah.


Tak berapa lama, pekerjaan mereka selesai sudah, tinggal di kirim ke bagian steam saja. Waktunya pulang tinggal sepuluh menit lagi, masih banyak waktu untuk beres-beres.


"Pulangnya aku antar ya!" Tengah mereka beres-beres, tiba - tiba Yanto sudah berdiri di ujung mesin, dia tersenyum ramah.


"Oh, ma'af. Kami di jemput pulangnya" Sahut Cempaka.

__ADS_1


"Kesempatan ku hilang kalau begitu" Ujar Yanto sambil menundukkan kepalanya.


"Masih ada esok hari" Timpal Indah.


"Indah, kita ke bagian steam dulu yu! Mungpung masih ada waktu" Cempaka menghampiri tumpukan benang yang siap di kirimkan ke bagian steam.


"Biarin, sama aku saja!" Yanto segera memegangi gagang roda dengan setumpuk benang itu. Tanpa menunggu jawaban dari Cempaka dan Indah, dia langsung mendorong tumpukan benang itu ke arah bagian steam.


"Itu lampunya sudah menyala merah! Berarti waktunya kita harus pulang!" Cempaka berseru kegirangan. Tangannya menunjuk ke arah lampu merah yang menyala dengan terang.


"Ayo kita pulang!" Indah menggamit tangannya Cempaka.


Mereka berdua berlalu menuju pintu keluar dari ruangan kerjanya itu, sambil terus bergandengan tangan seakan tak mau untuk di lepaskan.


Sementara itu, Yanto baru saja sampai ke gerbang tempat steam.


Setelah meletakkan roda yang berisi tumpukan benang itu pada tempatnya, diapun lalu bergegas kembali menuju ke mesin yang di jaga oleh Cempaka dan Indah.


Dengan harapan dia akan bertemu dengan Cempaka, walaupun tidak mengantarnya hingga ke rumahnya. Minimal, dia bisa bicara dan berjalan bareng sang pujaan hati hingga di pintu gerbang keluar.


"Benangnya sudah aku antarkan hingga di ruangan steam, kita pulang yu!" Dengan tanpa melihat sekeliling mesin, Yanto langsung saja berceloteh setelah dirinya berada di dekat mesinnya Cempaka.


"Saya baru saja datang, masa sudah kamu ajak pulang lagi!" Ternyata yang menjaga mesin sudah berganti, bukan Cempaka lagi. Tapi, orang lain yang masuk ship malam.


"Hah! Bukan dia? Berarti dia sudah pulang, aku di tinggalin sendiri, sialan!" Yanto bergumam dengan gerutunya.


"Siapa yang sialan itu? Indah apa Cempaka?" Tanya Murni, yang menggantikan jaga mesin yang tadi di pegang oleh Cempaka dan Indah.


"Bukan urusanmu!" Yanto menjawabnya dengan emosi.


Setengah berlari dia pergi ke luar meninggalkan Murni yang melongo tak mengerti.


"Dasar! Enggak jelas tuh orang!"


Gumam Murni sedikit kesal.


Sementara itu, Indah dan Cempaka sudah jauh berjalan menyusuri jalanan yang sudah biasa mereka lalui bersama, setiap berangkat dan pulang kerja.


Sa'at itu mereka berjalan berempat, yaitu dengan dua orang yang ditugaskan oleh orangtuanya Cempaka dan Indah untuk menjemput mereka berdua.


"Alhamdulillah ya Allah, kali ini aku bebas dari si Yanto yang kurang ajar itu" Bathin Cempaka.


"Aku sudah sampai, kamu mau mampir dulu? " Perkataan Indah membuyarkan lamunannya Cempaka.


"Eh, eu ti, tidak. Aku tidak akan mampir, sudah malam" Cempaka gugup menjawabnya.


"Baiklah, aku duluan ya. Hati-hati di jalannya ya! Sampai besok" Indah melambaikan tangannya kepada Cempaka, sebelum dia masuk ke dalam halaman rumahnya, di ikuti oleh saudaranya yang tadi menjemputnya.


"Dadah Indah, Assalamualaikum" Ucap Cempaka, dia melanjutkan perjalanannya yang sudah separuh jalan itu, bersama bi Ijah yang bantu - bantu di rumah ibunya.


"Waalaikumsalam" Sahut Indah sambil menatap punggungnya Cempaka hingga lenyap di belokan gang yang menuju ke rumahnya Cempaka.


"Neng Cempaka, tadi bibi tidak melihat yang suka menjemput dan mengantarkan neng" Bi Ijah membuka pembicaraan.


"Siapa bi?" Cempaka pura-pura tidak mengerti.


"Itu, yang tinggi itu" Ujar bi Ijah.


"Tiang listrik bi?" Cempaka menggodanya.


"Ah, neng ini, malah guyon" Bi Ijah tertawa kecil.


"Alhamdulillah, kita sudah sampai" Cempaka kegirangan ketika pintu pagar halaman rumahnya sudah nampak di depan matanya.


"Tak terasa ya neng , kita sudah sampai lagi" Ujar bi Ijah.


"Iya bi, terimakasih ya. Bibi sudah mau menjemput aku"


"Itu sudah tugas bibi, Neng" Sahut bi Ijah sambil tersenyum.


Merekapun masuk ke halaman dengan beriringan.

__ADS_1


***


__ADS_2