
"Assalamualaikum, bu! Ini cucu kita datang!" Teriak Pak Jati setelah menghentikan motornya tepat, di depan rumahnya.
"Waalaikumsalam, cucu nenek"
Bu Sekar menyambutnya dengan hangat. Dia begitu bahagia melihat cucunya datang bersama kakeknya.
Bu Sekar mengambil Cemara dari gendongannya pak Jati, dan membawanya ke dalam rumah.
"Bibi Cempaka, ini lihat siapa yang datang?" Ujar bu Sekar ketika dia berpapasan dengan Cempaka di ruang tengah.
"Aih, Cemara?" Serunya.
"Bu, mana kak Kenari nya?" Netra Cempaka menatap ke pintu depan. Dia tak melihat keberadaan kakak sulungnya.
"Eh iya pak, mana Kenari?" Bu Sekar baru tersadar bahwa anak sulungnya tidak ikut pulang bersama pak Jati.
"Dia enggak mau ikut pulang bersama bapak, biarkan saja dia maunya begitu! Sudah bapak putuskan tadi di rumahnya pak Andro, kalau enggak mau ikut sama bapak sekarang, ya sudah tidak usah pulang sekalian! Mungkin dia memilih untuk tidak pulang, biarkan saja! Dia sekarang sudah dewasa ini!" Ujar pak Jati.
"Astaghfirullahaladzim, kak Kenari kok begitu sih" Cempaka geleng-geleng kepala, dia terhentak kaget mendengar penuturan Bapaknya.
"Ya begitulah kakak kamu! Biarkan saja, itu pilihannya" Ujar pak Jati lagi.
"Minum dulu pak" Cempaka segera menyodorkan secangkir teh hangat kepada bapaknya. Sekedar meredakan kekesalan di hatinya.
"Terimakasih nak" Pak Jati menyeruputnya hingga hampir habis.
Dia sepertinya kehausan karena, sedari tadi belum minum setegukpun.
"Kenari, Kenari" Bu Sekar mengusap dadanya kesal.
Sementara itu, Kenari masih ragu untuk menyusul pak Jati yang membawa anaknya itu.
Bu Tari, pak Andro, Petir dan Prima membiarkan Kenari sendirian di ruang tamu. Mereka sepertinya tidak mau tahu tentang masalah yang dihadapi oleh Kenari.
Anyelir duduk di depan kakaknya, dia diam sambil menatap kakaknya.
"Cepat susul kak! Apa kakak mau di coret dari keluarga? Tadi bapak itu sudah benar-benar marah sama kakak" Anyelir mengingatkan kakaknya.
"Kakak tidak percaya, bapak akan semarah itu"
"Aku ke belakang dulu ya kak!" Anyelir berlalu meninggalkan Kenari, sepertinya dia juga sudah bosan menemaninya.
"Anyelir, temanin kakak yu! Hanya kamu adik kakak yang sa'at ini dekat dengan kakak. Temenin kakak ke rumah ibu, kakak tidak berani kalau harus pulang ke rumah ibu sendirian, kakak takut sama bapak" Kenari memegangi tangannya Anyelir, dan menariknya supaya tidak melanjutkan langkahnya.
"Emh, aku juga takut kak" Anyelir mengelak.
"Anyelir! Kamu enggak mau nganterin kakak? Baiklah kalau begitu. Mulai sekarang, jangan harap kalau ada apa-apa mengenai kamu, kakak tidak akan mau membantumu. Mertua kamu juga sama saja, hanya mau enaknya saja. Baiklah kakak pergi sekarang! Assalamualaikum" Akhirnya Kenari berangkat juga dengan perasaan mengkal di dada.
Tak berpamitan kepada tuan rumah, dia ngibrit sambil bersungut-sungut.
"Dari awal semuanya pada mendukung, katanya mau menanggung resikonya bareng-bareng. Kita hadapi bersama bila ada ini dan itu. Eeh, setelah kejadian, aku sendiri yang kena getahnya. Aku sendiri yang harus bertanggung jawab. Dasar! Si Tari sama si Andro pengecut! Kayak yang bener saja, dia begitu antusias waktu aku tawarkan ide untuk mengundang Guru-guru. Lha, sekarang? Mereka malah ngumpet" Sungut Kenari.
Anyelir hanya diam tak berkomentar, dia berdiri terpaku di ambang pintu. Dia bimbang dan ragu. Mertuanya dan juga suaminya seperti yang lepas tangan begitu saja.
"Aku harus berbuat apa? Apa harus ikut kak Kenari, atau diam di sini?" Gumam Anyelir dalam kebimbangan.
Sementara Kenari sudah tidak terlihat lagi, sudah hilang di telan tikungan jalan.
Anyelir jadi kebingungan sendiri. Seperti ayam yang kehilangan induknya, bagaikan tamu yang tak di sambut oleh tuan rumah, dia celingukan sendiri.
"Kenari nya sudah pergi?" Bisik bu Tari kepada anak sulungnya, Prima.
"Sudah! Tuh kasihan istrimu celingukan sendiri" Ujar Prima pada adiknya, dia peduli pada adik iparnya.
"Nanti juga dia masuk, sekarang
kita harus bagaimana menghadapi ancamannya pak Jati?" Petir malah bertanya.
"Tinggal kita ke rumahnya pak Jati, minta ma'af, lalu umumkan ke seluruh warga yang sebenarnya terjadi, buat warga mengerti, katakan bahwa semua itu ulah kita" Ujar Prima.
"Kalau harus begitu, kita malu dong!" Bu Tari sepertinya tidak setuju.
" Malu? Ibu merasa malu mengakui perbuatan ibu sendiri? Bagaimana dengan keluarga pak Jati yang di permalukan sama ibu?" Prima mencibir sambil berlalu kesal.
*
Kenari hampir sampai di rumah ibunya. Dengan perasaan ragu dia memaksakan kakinya untuk terus melangkah.
"Bapak dan ibu pasti memarahiku. Tapi, kalau aku tidak pulang ke rumah ibu, bagaimana Cemara? Bagaimanapun juga aku harus pulang dulu, biarin urusan bapak sama Ibu marah, itu urusan nanti!" Tekad Kenari memantapkan langkah dan hatinya.
"Bismillahirrahmanirrahim, semoga bapak sama Ibu tidak keterusan marahnya" Gumamnya perlahan.
Dia mematung di depan pintu pagar. Kakinya terasa kaku dan berat untuk di langkahkan lagi.
"Kak Kenari sudah datang!" Seruni tergopoh-gopoh memberi tahu ibunya yang lagi masak di dapur. Cempaka juga ada di sana, ngebantuin ibunya.
__ADS_1
"Mana dia?" Bu Sekar segera menghentikan pekerjaannya.
" Itu di depan, di pintu pagar" Ujar Seruni menunjukkan jarinya ke luar rumah.
Terlihat dari dalam rumah, Kenari tengah celingukan sendiri di halaman rumah. Sepertinya dia sedang mencari sesuatu.
"Sepertinya enggak ada orang. Lagi pada kemana ya? Apa aku ketuk pintu atau ucapkan salam , atau aku pergi lagi saja, biar enggak kena marah" Gumamnya. Matanya tak henti menelusuri sekeliling halaman rumah ibunya yang nampak lengang.
Padahal, tanpa sepengetahuan Kenari, semua orang yang berada di dalam rumah itu, sudah memperhatikannya dari tadi, sejak dirinya tiba di sana.
Karena kaca jendelanya hitam, jadi tidak terlihat dari luar.
"Aku balik lagi saja, biar emosi bapak dan ibu mereda dulu. Baru nanti aku kembali lagi untuk menemuinya" Kenari melangkahkan kakinya perlahan. Matanya tak lepas, menatap ke arah pintu rumah bu Sekar.
"Ceklek!" Terdengar suara gagang pintu yang di gerakan seseorang. Pertanda pintu akan segera di buka.
"Gawat!" Ucapnya, Kenari segera membungkukkan badannya, niatnya mau bersembunyi di balik tanaman yang ada di balik pagar halaman.
"Kenari!" Teriak bu Sekar memanggil anak sulungnya. Dia sudah memergoki kehadiran Kenari sejak tadi.
Kenari melongokkan kepalanya, lalu menoleh ke arah ibunya, kemudian menunduk kembali. Menyembunyikan wajahnya dari tatapan mata ibunya.
"Mau ke mana?" Tanya bu Sekar dengan tegas.
"Kenapa tadi ngumpet?" Lanjutnya lagi.
"Enggak apa-apa" Kenari menjawabnya dengan pelan, hampir tak terdengar.
"Masuk! Ibu sama bapak mau bicara!" Dengan tegas, bu Sekar menyuruh Kenari untuk masuk.
"Kakak, ke mana saja? Ayo masuk kak!" Cempaka menghampiri Kenari dan mengajaknya masuk.
"Ayo kak!" Cempaka memapah Kenari untuk ikut bersamanya.
Kenari meronta hendak melepaskan pegangannya Cempaka.
Kakinya seakan tertancap di bumi, susah sekali untuk di langkahkan.
"Mamah!" Suara yang lucu dari mulut yang mungil itu memanggil Kenari.
Kenari terhenyak mendengar ada yang memanggil mamah.
Dia pun menoleh ke arah datangnya suara cedal itu.
Cemara tengah di gendong oleh pak Jati, kakeknya.
"Kalau kamu masih menganggap kami ini orang tuamu, ayo masuk! Kalau sebaliknya, silahkan! Terserah apa yang kamu inginkan" Seru pak Jati.
Setelah berkata begitu, dia pun lalu membalikkan badannya. Dan beranjak meninggalkan Kenari yang terkejut mendengar ucapannya pak Jati.
Bu Sekar, Seruni dan Kilat pun mengikuti langkahnya pak Jati.
Satu persatu meninggalkan Kenari yang lengannya masih di pegangi oleh Cempaka.
"Cempaka, masuk nak!" Suara tegas pak Jati terdengar lagi, sebelum dia masuk ke dalam rumahnya, untuk kemudian menutup daun pintunya rapat-rapat.
"Ayo kak, jangan membuat bapak tambah marah" Cempaka melepaskan genggaman tangannya perlahan.
"Kakak sih, pergi sampai satu minggu dari rumah dengan tidak bilang-bilang dahulu. Sebenarnya kemarin itu kakak kemana?" Tegur Cempaka sambil menatap kakak sulungnya itu.
Dia tidak tahu, yang menjadi sebab kakaknya lari dari rumah itu apa?
Kenari tidak menjawabnya, dia hanya diam saja.
"Cempaka!" Suara pak Jati terdengar lagi.
"Iya pak, sebentar!" Cempaka segera beranjak dari hadapan kakaknya.
Melihat Cempaka, adiknya yang peduli padanya itu pergi meninggalkan dirinya.
Dia terperangah kaget! Dia takut tidak ada lagi yang peduli pada dirinya.
Dengan terpaksa dia seret kakinya, dia paksakan untuk melangkah, mengikuti langkah kakinya Cempaka.
"Masuk!" Perintah pak Jati setelah Kenari berada di pintu.
"Duduk! Bapak mau bicara!" Perintah pak Jati lagi.
" Jawab dengan jujur semua pertanyaan bapak, jangan melempar kesalahan kepada orang lain!" Ucapan pak Jati menggelegar terdengar oleh Kenari. Dia tak sanggup untuk mengangkat kepalanya.
"Kenapa kamu lakukan semua ini? Kenapa kamu tega menyuruh adikmu untuk mengambil data Guru-guru di ruang kerja bapak, tanpa sepengetahuan dari bapak? Kenapa?" Pertanyaan pak Jati dengan suara yang menggelegar, terasa menohok dadanya Kenari.
"Semuanya demi, demi Anyelir" Perlahan Kenari menjawabnya, hampir tak terdengar.
"Demi Anyelir, apa keuntungan mu melakukan semua itu hah?"
__ADS_1
Bentak pak Jati.
" Emh, emh" Terasa berat mulut Kenari untuk di buka.
"Jawab yang jujur!" Bentaknya lagi dengan keras.
" Ayo jawab jangan berbelit-belit, jangan menambah kesal bapakmu!" Ujar bu Sekar mengingatkan.
"Iya kak" Timpal Cempaka.
"Emh, kalau minta izin sama bapak, takutnya bapak tidak akan mengizinkan, makanya aku nyuruh Cempaka untuk mengambilnya dengan diam-diam" Jawab Kenari pelan.
"Lalu? Kamu dapat apa atas kelancangan mu itu?" Tanya pak Jati lagi.
"Emh, aku, aku
"Aku apa? Jawab yang benar! Jangan berbelit-belit!" Pak Jati langsung memotong perkataan Kenari.
"Aku,emh aku...
Kenari masih tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Kak Kenari mendapat bagian dari penghasilannya pak" Anyelir yang baru tiba di sana langsung mengungkapkannya.
Semua mata menatap ke arah datangnya suara.
"Anyeliiiir! Kamu tega sama kakak!" Kenari berteriak histeris.
"Maksudnya apa mendapatkan bagian dari penghasilan?" Selidik pak Jati.
"Sebelumya kami minta ma'af beribu-ribu ma'af atas kesalahan yang telah kami perbuat. Jadi, begini pak, semua tamu undangan kan pasti ngasih amplop. Nah, dari jumlah isi amplop itu, Kenari minta bagian, jadi kami bagi dua hasilnya, begitu pak" Bu Tari yang datang bersama suami dan anak serta menantunya itu, mengungkapkan segalanya.
"Itu semua idenya teh Kenari"
Timpal Prima.
"Astaghfirullahaladzim, ya Allah ya Rabbi, sampai segitunya kamu terhadap orangtuamu sendiri!" Pak Jati terduduk lemas. Tak menyangka akan mendapatkan penjelasan seperti itu.
"Kenari, apa benar yang di katakan oleh bu Tari itu?" Tanya pak Jati lagi.
"Iya pak" Kenari menganggukkan kepalanya serta menjawab dengan suara yang sangat pelan,, hampir tak terdengar.
"Benar-benar kamu ini! Siapa yang mengajari kamu berbuat kurang ajar seperti ini kepada orang tua, hah?" Bentak pak Jati.
"Jadi anak itu harusnya. menjaga nama baik orang tua. Lha ini, malah mempermalukan kedua orang tua, demi keuntungan pribadi. Anak macam apa kayak gitu?" Bu Sekar tak kalah kesalnya.
"Ma'afkan aku pak! Aku khilaf, uhk... Uhk..." Kenari menangis sambil minta ma'af. Dia merangkul kakinya pak Jati.
Pak Jati tidak menggubrisnya, dia beranjak dari tempat duduknya. Menjauh dari Kenari.
"Pak! Ma'afkan aku pak! Uhk... Uhk... Ma'afkan aku!' Teriak Kenari.
"Sudah begini baru bilang minta ma'af, menyesal. Nanti, beberapa waktu kemudian, bikin ulah lagi! Sudah berapa kali hal ini terjadi?Mengorbankan perasaan orang lain demi keuntungan pribadi! Sungguh memalukan!" Ujar pak Jati.
"Makanya kalau mau berbuat apapun, pikirkan dulu akibatnya!
Jangan keenakan, mentang-mentang di ma'afkan, di maklumi, berbuat lagi - berbuat lagi! Kamu ini punya perasaan tidak sih? Enggak ada kapok - kapoknya!" Ujar bu Sekar pula.
"Iya bu, aku minta ma'af! Aku janji tidak akan mengulangi lagi perbuatan yang tidak baik. Aku janji bu! Asal ibu sama bapak mema'afkan aku, uhk... Uhk" Kenari menangis, meratap meraung-raung.
"Sudah diam! Malu sama tetangga! Di kiranya ada apa. Kamu yang salah, jangan membuat masalah baru!" Hardik bu Sekar.
Dia tahu tujuan anak sulungnya itu, dia sengaja menangis meraung-raung, supaya tetangga mendengarnya, dan masalah pun selesai.
"Kebiasaan!" Ujar pak Jati.
" Air mata buaya!" Lanjutnya.
"Kasihan kak Kenari bu, ma'afkan saja. Semoga saja kak Kenari tidak akan khilaf lagi" Cempaka berusaha membujuk ibunya supaya mema'afkan kakaknya.
Bu Sekar menatap Cempaka penuh arti.
"Andai saja kamu tahu, bagaimana sebenarnya perbuatan Kenari yang membuat ibu dan bapakmu ini kesal. Kalau saja kamu tahu kelakuannya Kenari kepadamu, apa kamu tidak akan merasa kesal juga?" Gumam bu Sekar.
"Bu" Cempaka menatap ibunya, berharap.
"Emh, baiklah. Demi Cempaka, karena Cempaka yang meminta, untuk kali ini ibu maafkan kesalahan kamu! Tapi, dengan satu syarat!" Bu Sekar menghentikan dulu perkataannya.
"Syaratnya apa bu?" Kenari berbinar. Harapan terpancar di kelopak matanya.
" Syaratnya, jika suatu hari nanti kamu melakukan kesalahan lagi, ibu tidak akan segan- segan untuk tidak mema'afkan kamu!" Bu Sekar agak mengancam.
"Terimakasih bu! Terimakasih, ibu memang sangat baik, terimakasih bu" Kenari begitu bahagia, Ibunya mau mema'afkan dirinya.
"Alhamdulillahirabilalamin" Cempaka bersyukur bahagia.
__ADS_1
"Kamu memang anak yang baik" Puji bu Sekar pula.