
Semua ingin tahu perhiasan emas yang di pakai mahar pernikahan nya Cempaka, dengan giat mereka memulai pencarian lagi.
Sampai lebaran monyet juga enggak bakalan ketemu, karena si kotak perhiasan itu sudah di amankan oleh Kenari di dalam tasnya.
"Cari sana! Sampai gempor juga tidak bakalan ketemu, dia sudah aman tinggal di dalam tasku. Dasar!"Bathin Kenari tersenyum geli melihat tingkah orang-orang yang tengah sibuk mencari-cari kotak perhiasan maharnya Cempaka.
"Aneh ya, kotak segede gitu bisa tiba-tiba hilang"
Bi Ijah ngedumel sambil tak berhenti mencarinya ke setiap sudut ruangan.
"Menurut perkiraan saya, kotak perhiasan itu bukannya hilang tanpa sebab, atau hilang dengan begitu saja. Tapi, ini pasti ada yang mencurinya, tapi entah siapa?"
Bi Nani mengungkapkan dugaannya.
"Bi Nani, jangan suka menuduh orang dengan sembarangan begitu, itu fitnah namanya!"
Kenari jadi sewot setelah mendengar ucapannya bi Nani.
"Saya tidak menuduh siapapun!
Saya hanya menduganya berdasarkan tempat di mana tadi kotak perhiasan yang berwarna merah itu berada, rasanya tidak mungkin kan kalau tiba-tiba hilang"
Bi Nani membalasnya dengan mengutarakan keberadaan kotak perhiasan itu, sebelum akhirnya menghilang.
"Yang tadi berada di dekat tempat kotak perhiasan itu berada, bukan hanya aku sendiri. Ada Karmin, ada Cempaka, pak Penghulu, pak Ustadz, kedua orangtuaku dan yang lainnya"
Kenari merasa terpojokkan.
"Siapa yang mengatakan kalau yang di sana itu cuma kamu saja? Kenapa? Saya tidak menuduh kamu yang mengambilnya, kenapa kamu merasa tersinggung?" Lanjut bi Nani lagi, sepertinya dia sengaja memancing Kenari.
Wajahnya Kenari nampak memerah, menyimpan malu dan amarah.
"Terus saja bi, pojokkan aku! Tuduh aku kalau aku itu penyebab semua yang terjadi di rumah ini sampai bibi puas. Tuduh aku kalau aku ini yang mencuri mahar itu" Kenari menyolot.
"Kenapa berkata begitu? Seperti yang merasa" Sindir bi Nani dengan bibirnya yang di cibirkan ke arah Kenari.
"Sepertinya benar dugaan bi Nani, dia yang sengaja menyembunyikan nya" Bisik yang lain.
"Iya lihat saja Wajahnya, perkataannya juga begitu. Kalau tidak merasa bersalah, kenapa mesti tersinggung, iya kan?" Sahut yang lainnya.
"Kasihan sekali bu Sekar dan pak Jati punya anak yang begitu kelakuannya, padahal keluarga mereka itu keluarga yang terpandang di Kampung kita ini, bisa-bisanya dia merusak reputasi keluarganya sendiri"Yang lain pun rupanya gatal dan ikut nimbrung.
__ADS_1
"Berkali-kali dia bertingkah aneh begitu, kalau anak saya yang begitu, sudah ku gaplok tuh mulutnya pakai sandal jepit biar dia kapok" Ucap yang lain.
"Memang gampang ngegaplok anak yang sudah dewasa? Sudah berkeluarga? Apalagi anaknya model Kenari begitu. Bisa-bisa ibunya yang balik di gaplok" Sahut yang lainnya.
"Ayo semua menyudutkan saya, semua menyalahkan saya, ayo katakkan sepuas mungkin. Ini semua gara-gara bi Nani yang sok tahu!" Kenari sepertinya merasa kalau dia tengah jadi bahan gunjingan sa'at itu.
Semua diam tak berkomentar lagi. Hanya matanya saling tatap saling menyatakan isyarat.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Kenari berlalu meninggalkan ruang tamu, entah mau ke mana.
Semua mata memandanginya
penuh dengan tanda tanya.
"Kalau dia tidak mengambilnya, kenapa dia mesti sewot begitu?
Tidak ada sopan santunnya, melengos begitu saja" Bi Nani ngedumel sendiri.
"Iya, aneh sekali sikapnya. Apa jangan-jangan benar dia sengaja mengambilnya" Gumam bi Ijah menduga-duga.
"Huuuss! Jangan suka su'udzon begitu, tak baik!" Seseorang mengingatkan.
"Iya juga sih. Tapi, saya tidak berani menduganya kasihan sama kedua orangtuanya yang baik dan ramah itu" Ujar yang lainnya.
Sepeninggalnya Kenari, seisi ruangan jadi ribut, hampir semua membicarakan tingkahnya Kenari yang pergi begitu saja.
Melihat anak sulungnya bertingkah seperti itu, bu Sekar segera menyusul nya. Dia mencari Kenari ke setiap ruangan, namun Kenari tak dia temukan. Entah pergi ke mana.
"Pergi ke mana anak itu? Bikin kesal saja!" Bu Sekar emosi.
"Biarkan saja, bu. Jangan di pikirkan! Memang kak Kenari begitu orangnya" Cempaka berusaha menenangkan nya.
"Ibu malu nak"
"Sudahlah, yang penting bukan salah kita, semua orang juga tahu" Lanjut Cempaka dengan lembut.
"Iya kak, biarin lah nanti juga dia pasti kembali lagi" Bi Nani turut menenangkan.
"Kita pamit yu! Walaupun kita menunggu di sini sampai malam juga, kita tidak akan melihat neng Cempaka memakai Cincin itu karena cincinnya juga enggak ada" Seseorang mengajak yang lainnya untuk pulang.
"Iya ayo kita pamitan saja, biarkan keluarganya bu Sekar menenangkan diri dulu, kasihan. Nanti juga kalau maharnya sudah ketemu, pasti neng Cempaka akan memakai nya, ya neng ya?" Ucap bi Ijah sambil tersenyum menatap wajahnya Cempaka.
__ADS_1
"Iya bi, InsyaAllah kalau ketemu maharnya akan aku pakai" Dengan lembut Cempaka bertutur.
"Sabar ya neng,ya!" Ucap bi Ijah.
"Terimakasih, bi" Ujar Cempaka.
"Bibi pamit pulang dulu, Assalamualaikum" Bi Ijah berlalu sambil mengucapkan salam.
"Iya bi, Waalaikumsalam. Hati - hati ya bi" Pesan Cempaka.
"Bu Sekar, pak Jati, neng Cempaka, saya mau pamit dulu bukannya saya tidak betah di sini" Seorang tetangga menghampiri kami.
Akhirnya satu persatu mereka berpamitan pulang, hingga rumah itu kembali seperti semula, tidak ada keramaian dan riuhnya komentar dari mereka.
Tinggallah keluarga bu Sekar yang merenung seusai adanya Keributan.
Dan, bi Nani yang dengan setia menemani kakaknya.
"Kakak, bagaimana ini bisa terjadi? Seingat saya setiap kakak akan menikahkan putrinya, selalu kakak yang mengatur segalanya, bukan Kenari. Kakak kan orang tuanya, kenapa sa'at pernikahannya neng Cempaka, malah Kenari yang mengatur semuanya? Kenapa bisa begitu, kak?" Bi Nani bertanya perlahan, dia masih tidak mengerti.
"Jangankan kamu, saya sendiri juga tidak mengerti, kenapa bisa begitu? Perasaan saya ada sesuatu yang aneh, tapi entah apa? Saya tidak bisa menolaknya sa'at Kenari menahan Karmin untuk pulang kembali ke kampungnya, terus waktu Cempaka di bujuk untuk mau menikah dengan Karmin, saya tidak bisa menolaknya" Tutur bu Sekar perlahan.
Karmin yang berada tak jauh dari mereka, menoleh nya lalu menundukkan kepalanya.
"Yang saya heran kan, apa maksudnya Kenari menjodohkan adiknya dengan pria yang sama sekali belum kita kenal dengan baik. Bagaimana keluarganya? Asal- usulnya? Dan dia itu benar masih single atau sudah punya istri, kenapa tidak di selidiki dulu? Kenapa langsung main iyain saja, kenapa kak?" Bi Nani seperti yang menyesalinya.
"Aku juga tidak mengerti" Sahut bu Sekar masih belum sadar sepenuhnya, pengaruh mantera si kakek tua itu masih ada, belum sepenuhnya hilang.
"Kalau menurut saya, sepertinya dia itu sudah punya istri. Lihat saja wajahnya, bukan wajah pria yang masih bujangan. Kenapa kakak tidak memperhatikannya?" Bi Nani terus menatap wajahnya Karmin yang menunduk.
"Kamu juga, kenapa bisa-bisanya mau di nikahi oleh pria yang baru kamu kenal? Kamu itu cantik, tidak sepadan kamu bersanding dengannya. Lama tidak menemukan jodoh, eh ternyata yang datang hanya model beginian, tak bermodal lagi! Enak banget dia" Bi Nani pun menegur Cempaka.
"Enggak tahu bi, aku juga heran. Awalnya aku pun tak mau sama dia, kak Kenari terus memaksa dan seperti biasanya dia menghina dan memojokkan aku" Cempaka berucap pelan.
"Sekarang aku harus bagaimana?" Pertanyaan itu pun meluncur dari bibirnya.
Bu Sekar dan bi Nani kebingungan untuk menjawabnya.
Mereka hanya saling pandang tanpa bisa menemukan solusinya.
***
__ADS_1