
Seminggu setelah terjadi pertengkaran antara Raka dan Kenari, akhirnya merekapun resmi bercerai.
"Cempaka lagi apa buu?" Suatu pagi Kenari datang dengan tergopoh-gopoh sambil menggendong anaknya yang balita. Sedangkan anaknya yang satu lagi berjalan di belakangnya.
"Ucapan salamnya mana? Langsung nanyain Cempaka saja. Memangnya ada apa?" Bu Sekar menegurnya. Waktu itu dia sedang berada di dapur, sedang meracik bumbu buat masak.
"Eeh... Iya buu, lupa. Assalamualaikum..." Kenari tersipu malu dapat teguran halus dari ibunya.
"Waalaikumsalam..., Cempaka lagi jemur baju di atas. Mau apa kamu nyari dia?"
"Dia sekarang tidak mengurung diri di kamar lagi buu?" tanya Kenari sambil mendudukkan anaknya di kursi, di sebelahnya.
"Yaa, lumayan walau tidak seperti dulu, sebelum dia kecewa dan sakit hati, semangatnya kini berkurang drastis" bu Sekar nampak sedih mengatakannya.
"Sudah terjadi buu, mau gimana lagi? Syukurlah kalau ada perubahan." Kenari menenangkan ibunya.
"Kamu mau apa nyari Cempaka? Pertanyaan ibu belum kau jawab"
bu Sekar mengingatkan.
"Kalau dia mau, aku mau bawa dia ke Guru aku yang di sana"
ujar Kenari.
"Untuk apa?" bu Sekar bertanya curiga.
"Yaa..., mau..., mau...,ngobatin dia, biar..., biar..., dia segera dapat jodoh. Biar luka di hatinya segera terobati" Kenari sedikit gelagapan.
"Kenapa ngomongnya belepotan begitu? Mau ngobatin atau mau guna-gunain adikmu, supaya susah jodohnya?" sergah bu Sekar dengan kesal. Dia teringat kata-kata mantan suaminya kenari waktu itu.
"Ibu masih enggak percaya sama aku? Ibu masih percaya perkataannya si Raka itu? Masa buu, aku berbuat begitu? Aku kan kakak sulungnya Cempaka. Masa aku tega membuatnya menderita dan kecewa?" Kenari menyangkal.
"Iya juga yaa, dia kan kakaknya Cempaka. Enggak mungkin dia mengguna-gunai adiknya sendiri"
pikir bu Sekar, antara percaya dan tidak.
"Tanya saja langsung sama orangnya, mau apa enggak?" bu Sekar menyuruh menanyakannya langsung dengan agak ragu.
"Kalian sama nenek dulu yaa, mamah mau ke atas dulu sebentar" Kenari menitipkan anaknya kepada bu Sekar.
"Cempakaa..., kamu masih di atas?"dari anak tangga yang paling bawah, Kenari berteriak.
"Iyaaaa, aku di sini. Belum beres"
Sahut Cempaka sambil memeras baju yang akan di jemurnya.
"Tinggal empat baju lagi!" lanjut Cempaka, kembali berteriak.
Sejak dia di acuhkan oleh Buana, beberapa bulan yang lalu, baru kali ini dia berani menjemur baju di atas lagi. Dia ingin melupakan semuanya tentang Buana.
__ADS_1
Dulu, waktu Buana belum mengkhianatinya, dia suka berlama-lama berada di atas. Karena, dari sana dia bisa jelas memandang rumahnya bu Seroja.
Dan, setiap Cempaka berada di atas, Buana selalu berada di teras depan rumahnya.
Keduanya saling pandang, saling melempar senyum, saling melambaikan tangan.
Betapa indahnya sa'at itu.
Tak sedikitpun terlintas, mereka akhirnya kan berpisah dengan alasan yang tidak pasti.
Inikah yang di sebut, jodoh ada di tangan Tuhan? Cempaka dan Buana bukan jodohnya, jadi walaupun keduanya sudah dekat,
begitu pula dengan kedua Keluarganya yang sudah saling setuju. Karena bukan jodohnya, walau rencana peresmian hubungan mereka sudah di depan mata, tetap saja akhirnya... Berpisah.
Sungguh tragis memang, dan...
Sangat menyakitkan bagi Cempaka yang sampai sa'at ini belum menemukan penggantinya. Padahal, Buana sudah menikahi perempuan lain, perempuan yang baru dia kenal.
Aneh memang... Jodoh memang sangat aneh.
Tidak bisa di prediksi sebelumnya.
Cempaka segera menyelesaikan pekerjaannya. Dia tidak mau berlama-lama di tempat itu. Dia tidak mau terbayang lagi masa-masa indah itu.
Setelah selesai, dia segera bergegas turun sambil membawa ember bekas cuciannya.
"Ada apa kak?" Sambil menuruni anak tangga dia bertanya penasaran.
"Mau apa kak?"
"Biar kamu segera dapat penggantinya si Buana itu. Masa, dia sudah menikah dengan perempuan lain, sedangkan kamu masih sendiri. Kesannya seperti yang masih mengharapkan dia kembali." ujar Kenari.
Cempaka terperangah mendengar perkataan itu. Dia tidak terpikirkan ke sana sedikitpun. Yang ada di hatinya hanya rasa benci, kecewa dan sakit hati tentunya.
"Karena itu, kalau kamu di sakiti oleh siapapun. Segera bangkit cari cara untuk melupakannya. Jangan diam terpuruk dan putus asa! Keenakan dia dong, orang yang menyakiti kita. Iya kan buu"
Kenari menasihati adiknya.
Bu Sekar juga terperangah mendengar apa yang di katakan Kenari pada adiknya itu.
"Iya juga ya, kalau Cempaka segera mendapatkan penggantinya, dia pasti akan cepat melupakan sakit hatinya" gumam bu Sekar.
"Nanti tanya ibu sama bapak dulu" sahut Cempaka, membuyarkan lamunannya bu Sekar.
"Bagaimana buu, boleh kan Cempaka aku bawa untuk menemui guruku itu?" Tanya Kenari, mewakili Cempaka.
"Kalau kamu membawanya ke jalan yang benar, tidak menyimpang dari ajaran agama kita, yaa silahkan saja. Tapi, awas kalau kamu bawa adikmu itu ke hal-hal yang aneh-aneh, hal yang musyrik!" bu Sekar mewanti-wanti anak sulungnya.
"Iya buu, enggak mungkin aku berbuat begitu. Aku juga enggak mau tergolong orang-orang seperti itu, apalagi sampai bawa adikku sendiri. Percayalah buu, guruku itu ilmunya putih, ilmu yang sesuai dengan agama kita.
__ADS_1
Do'a yang dia ucapkan juga do'a dalam bahasa Arab, dengan tulisan Arab juga." celoteh Kenari.
"Apaa setiap do'a yang di bacakan memakai bahasa Arab, itu pasti do'a yang bagus, do'a yang di anjurkan Allah SWT?" bu Sekar bertanya lagi.
"Ya iya buu, pokoknya ibu enggak usah khawatir, yang penting Cempaka segera bisa mendapatkan penggantinya si Buana brengsek itu!" Kenari meyakinkan ibunya.
"Kalau begitu, yaa ibu izinkan. Tapi, ingat yaa jangan di bawa ke tempat yang aneh-aneh! Apalagi ke tempat dukun ilmu hitam! Itu pamali! Kamu tahu kan?" ujar bu Sekar lagi.
"Sana kamu ganti baju dulu! Pakai baju yang bagus. Bedak sama lipstik setra semua perlengkapan kecantikan mu jangan lupa di bawa yaa!" Kenari menyuruh Cempaka untuk siap-siap.
"Tapi, aku belum minta izin bapak dulu kak?" Cempaka merasa ragu.
"Kan sudah minta izin sama ibu"
Kenari meyakinkan.
Akhirnya Cempaka beranjak ke kamarnya. Dia memilih untuk memakai baju yang simpel, celana panjang jeans dan kemeja yang longgar, dengan kerudung yang senada dengan kemejanya.
Wajahnya yang cantik mulus itu, dia kasih sedikit ulasan bedak dan juga sedikit lipstik dengan warna yang lembut di bibirnya.
Dia nampak sangat, sangat cantik dan menawan sekali setiap orang yang memandangnya.
Setelah selesai dengan semua perlengkapan yang di minta oleh Kenari, diapun keluar dari kamarnya dengan tanpa sedikitpun menaruh curiga kepada sang kakak.
"Ini kak, yang harus di bawa?" Cempaka menunjukkan semua barang yang harus di bawanya.
"Kau cantik sekali! Sangat cocok dengan lipstik yang kamu pakai itu. Kamu pintar sekali memilih warna lipstick nya" Kenari tidak menjawab pertanyaan Cempaka. Tapi, dia malah memujinya.
"Ah kakak, biasa saja. Aku enggak suka warna lipstick yang mencolok, aku sukanya warna yang lembut kayak gini" Cempaka tersipu malu.
"Memang adikmu itu cantik, apa kamu baru tahu gitu? Makanya waktu itu Buana begitu tergila-gila padanya. Tapi sayangnya dia pergi meninggalkan Cempaka tanpa alasan yang pasti. Seperti ada sesuatu yang tiba-tiba saja datang menghalanginya." ucap bu Sekar sendu.
Kenari mendelikkan matanya ke arah Cempaka. Pujian itu yang dia tidak suka!
Apalagi di dengar dari mulut ibunya langsung. Dia itu sudah muak karena sering mendengar pujian buat Cempaka dari para tetangganya.
"Tunggu saja Cempaka! Suatu hari nanti, wajah yang cantik dan mulus itu akan segera berubah seketika! Dan..., pujian itu akan seketika berubah menjadi ejekan dan cibiran yang menyakitkan!"
Bathin Kenari sambil tersenyum sinis ke arah Cempaka.
"Kakak? Ini yang harus aku bawa
ke tempat Gurunya kakak itu?" Cempaka membuyarkan lamunannya Kenari.
"Ooh... Iya... Iya itu yang harus di bawa ke sana!" Kenari gelagapan
menjawabnya.
"Kenapa kamu gelagapan begitu?" Bu Sekar bertanya heran.
__ADS_1
"Enggak... Enggak apa-apa" Kenari mengelak.
Bu Sekar masih memasang mimik wajah yang kurang percaya kepada anak sulungnya itu. Entah kenapa tiba-tiba saja, jadi terselip rasa tidak percaya itu di dalam hatinya bu Sekar.