
"Assalamualaikum, Cempaka! Ibu!" Kenari berteriak memanggil Cempaka dan bu Sekar.
Sore itu dia baru saja pulang dari rumahnya Eyang, meminta air yang sudah di beri jampi-jampi untuk Cempaka dan juga kedua orangtuanya.
"Pada kemana mereka? Cempaka sebentar lagi mau nikah, harusnya dia diam di rumah. Ibu juga ke mana ini?" Gerutunya. Tangannya tak berhenti mengetuk-ngetuk pintu rumah ibunya, berharap ada seseorang yang mau membukakan pintu untuknya.
Waktu itu Pak Jati, bu Sekar, Cempaka dan kedua adiknya yaitu Kilat dan Seruni tengah berkumpul di halaman belakang.
"Kakak! Kenapa kakak mau nikah sama mas Karmin?" Celetuk Seruni tiba-tiba.
"Hah? Apa?" Cempaka terperangah mendengar pertanyaan dari adik bungsunya itu.
Bu Sekar dan suaminya pun saling tatap karena terkejut dengan pertanyaan anak bungsunya yang tak pernah mereka duga sebelumnya.
"Memangnya kenapa gitu?" Tanya Cempaka, dia menatap Seruni dan bertanya alasannya.
"Kakak kan Cantik, dia kan hitam, jelek, sudah tua kaya bapak-bapak" Jawaban Yang pas, sesuai dengan kenyataannya.
"Kenapa kak? Enggak milih kak Samudera saja? Kak Samudera kan keren, ganteng, abri lagi. Orangnya baik, aku suka sama kak Samudera, apalagi kalau sudah pakai baju lorengnya, wow! Kereeen banget. Nanti kalau aku sudah besar, aku ingin seperti kak Samudera, jadi abri yang baik dan ganteng" Ucap Kilat sambil tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya.
Ucapan Kilat mengingatkan Cempaka kembali akan sosok ganteng dengan tatapan matanya yang lembut penuh kasih itu.
Tak terasa hatinya jadi rindu akan sosok laki-laki itu. Sosok yang pernah mengisi hari-harinya dengan indah.
Cempaka memejamkan matanya untuk menahan tangis.
Namun, air mata itu tetap saja keluar menetes dari kelopak matanya.
"Kakak menangis? Kenapa kak?" Kilat menatap wajahnya Cempaka, dia seperti merasa bersalah melihat kakaknya berlinang air mata.
"Kakak tidak suka kalau aku bicara tentang kak Samudera?" Tanya Kilat lagi.
Cempaka menggelengkan kepalanya, dia menangis sambil memeluk adik laki-lakinya itu.
"Tidak, sayang. Kau tidak salah, bukan kakak tidak mau memilih kak Samudera. Tapi, emh, uhk! Uhk" Cempaka tidak melanjutkan ucapannya, dia menangis mengenang masa itu.
Hatinya serasa di iris sembilu nan tipis mengoyak kalbu.
Bu Sekar dan pak Jati saling pandang. Kedua orangtua setengah baya itu menghampiri Cempaka yang tengah menangis sambil memeluk adik laki-laki satu-satunya itu.
"Ma'afkan kami ya nak" Ujar bu Sekar dan pak Jati, keduanya memeluk Cempaka dan Kilat dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
" Waktu itu kami tidak bisa berpikir jernih, hanya rasa takut yang ada " Ujar bu Sekar, tangannya mengelus kepala Cempaka dengan lembut. Bu Sekar merasa sangat bersalah sekali dengan kejadian waktu itu.
"Enggak apa-apa bu, pak. Aku cuma sedih saja" Ucap Cempaka, dia menyeka air matanya yang terus luruh menetes membasahi kedua pipinya.
"Kasihan kak Cempaka" Si bungsu Seruni turut memeluk Cempaka sambil ikut- ikutan menangis.
"Cempaka! Seruni!" Kenari berteriak lagi memanggil adik-adiknya. Suaranya terdengar kencang sampai ke halaman belakang di mana semua penghuni rumah itu tengah berkumpul.
"Seperti suaranya kak Kenari" Ujar Seruni, dia melepaskan pelukannya.
"Iya sepertinya kak Kenari" Ujar Cempaka sambil melepaskan pelukan kedua orangtuanya dengan perlahan.
"Seruni, tolong bukain pintunya nak!" Bu Sekar menyuruh anak bungsunya untuk membukakan
pintu untuk anak sulungnya.
"Iya bu" Seruni berlari ke dalam rumah menuju ke ruang tengah untuk membukakan pintu buat Kakak sulungnya.
"Mau apa ya bu?" Cempaka mengusap sisa air matanya.
Dia tidak mau kalau kelihatan menangis oleh Cempaka.
"Kak Kenari, ayo masuk!" Seruni mengajak kakak sulungnya untuk masuk ke dalam rumahnya.
Kenari bersungut-sungut sambil masuk ke dalam rumah. Matanya memutar mencari-cari penghuni rumah.
"Di mana Cempaka?" Mata Kenari terus mencari sosok Cempaka yang di incar nya.
"Di belakang, kak" Jawab Seruni sambil berlari kembali ke halaman belakang.
"Pantesan kakak teriak-teriak sampai sakit tenggorokan juga gak ada yang nyahutin, bikin kesal saja" Ujar Kenari ngedumel sambil berjalan menuju ke halaman belakang.
"Lagi pada ngapain kumpul di belakang semuanya? Sampai aku berteriak kencang baru deh ada yang bukain pintunya" Kenari ngedumel, lalu duduk di samping Cempaka.
"Enggak kedengaran kak" Jawab Cempaka.
"Memangnya lagi pada ngapain? Sampai suara kakak tidak kedengaran"
"Iya kan di sini nya ngobrol jadi tidak kedengaran dengan jelas"
Bu Sekar membuat alasan.
__ADS_1
"Ini aku bawain sesuatu buat kalian semua, ayo di cobain!" Kenari mengeluarkan bawaannya dari kantong plastik yang dari tadi di tentangnya.
"Dari mana kamu dapat makanan ini semua?" Tanya bu Sekar.
"Di kasih sama teman yang baru pulang kampung" Jawab Kenari
berbohong. Padahal yang sebenarnya makanan itu semua adalah pemberian dari Eyang, yang tentunya sudah di bumbui oleh jampi-jampi yang manjur untuk membutakan mata hati orang-orang yang di tuju nya.
"Oleh-oleh dari mana ini?" Tanya Cempaka.
"Tentunya dari Palembang dong, ayo di cobain! Enak lho rasanya" Kenari mengambil satu potong kerupuk kemplang, lalu memakannya dengan lahap.
Kenari sengaja memakan makanan yang di bawanya, biar bapak dan ibunya serta adiknya tidak ada yang curiga.
Pak Jati tidak mau ikut-ikutan, dia masuk ke dalam rumah langsung menuju ke ruang tengah, kemudian menyalakan televisi. Sepertinya dia tidak mau ikut terlibat.
"Bapak! Kenapa pak? Ini enak lho!" Seru Kenari.
"Bapak tidak suka" Sahut pak Jati, dia asyik nonton sendiri.
"Mpek- mpek nya enak sekali kak" Ujar Cempaka.
"Pastinya dong, ayo habiskan!" Ujar Kenari senang.
"Aduh, bagaimana ini? Kurang satu mangsa ku" Bathin Kenari.
Diapun lalu bangkit dari tempat duduknya, pura-pura mau ke kamar mandi. Padahal, dia menuang kan sebotol air yang dia bawa dari Eyang dan tentunya sudah di kasih jampi-jampi.
"Makanannya tidak kau makan. Tapi, ini airnya mesti kau minum. Air lebih mudah meresap ke dalam seluruh organ tubuhnya" Gumam Kenari.
"Ibu, aku mau pulang dulu sudah terlalu sore ini. Tadi lupa Cemara tidar aku bawa" Ujar Kenari berbohong lagi untuk mengelabui orang tuanya.
"Itu di habiskan ya! Assalamualaikum" Ucap Kenari sambil berlalu menuju pintu keluar.
"Waalaikumsalam" Jawab mereka.
Kenari sengaja lekas pergi meninggalkan Cempaka dan kedua orangtuanya seperti yang di sarankan oleh Eyang.
Supaya tidak banyak nanya ini - itu, setelah makanannya terlihat di makannya, kamu harus langsung pulang! Walaupun di tahan, jangan mau! Langsung saja pulang!
Tinggalkan mereka yang tengah asyik menyantap makanan yang telah Eyang kasih jampi-jampi.
__ADS_1
Kenari keluar dari rumahnya bu Sekar dengan perasaan yang berbunga-bunga bahagia.