
Sudah tiga kali Cempaka melakukan mandi kembang tujuh rupanya di perempatan jalan dan tepat jam dua belas malam.
Setiap malam Jum'at Kliwon lagi.
Tapi..., tak ada tanda-tanda yang dia harapkan.
Yang ada hanyalah harapan yang terasa sia-sia.
"Sudah ke mak Asih lagi belum?"
Suatu sore, tanya Kenari kepada Cempaka.
"Belum kak, aku rasaa tidak ada hasilnya. Tetap saja seperti ini" Nada keputusasaan jelas terdengar dari nada bicaranya.
"Mungkin belum" Kenari menghibur.
"Enggak tahu laah. Mak Asihnya mau ngajak aku ke tempat Gurunya, biasannya kalau yang agak susah begini, harus sama gurunya nanti di peuyeum, kata mak Asih" Cempaka nampak malas.
"Ya sudah nurut saja, siapa tahu benar. Semoga saja kamu dapat jodoh di sana, siapa tahu?" Kenari menyemangatinya.
Cempaka mengangkat bahunya.
"Kapan kamu mau di ajak ke rumah gurunya itu?"
"Hari kamis besok! Malamnya kan malam Jum'at Kliwon. Katanya sangat baik untuk ritual peuyeman. Enggak tahu apa itu peuyeman segala" Cempaka menggerutu sepertinya dia kesal.
"Ya sudah, pergi saja! Kalau berobat kaya begini, harus terus. Jangan setengah jalan! Harus nurut dengan anjuran guru kita, biar ada hasilnya. Kalau setengah-setengah, mana bisa berhasil? Yang ada malah jadi enggak karuan." Kenari setengah
memaksanya biar Cempaka berangkat ke guru spiritualnya.
"Iya lah, besok aku berangkat! Tapi, ibu ada uangnya gitu untuk ongkosnya. Aku kan sekarang enggak kerja, aku enggak punya uang kak, uang simpananku sudah habis semua"Cempaka mengeluh.
"Itu masih punya cin-cin dua, jual saja itu. Jadi enggak usah minta uang ke ibu. Enggak usah pakai cin-cin segala dah, ngapain pakai cin-cin juga kalau jauh jodoh?" Kenari mulai memanas-manasi Cempaka.
Kenari memang enggak suka bila melihat orang lain memakai atau
punya sesuatu yang dirinya sendiri tidak punya atau tidak memakainya.
"Tinggal ini hasil kerjaku selama ini. Enggak apa-apa ya aku lepas"
Dengan ragu Cempaka melepas satu buah cin-cinnya.
"Naaah, gitu dong. Jadi enggak usah minta uang ke ibu segala, lebih enak pakai uang sendiri" ucap Kenari.
"Aku pulang dulu ya kak, mau jual ini dulu. Takut keburu sore, takut hujan. Sekarang kan musim hujan" Cempaka berpamitan.
"Ya sudah sana, cepetan jualin dulu cin-cinnya, mungpung belum hujan. Eeh... Kalau menurut kakak, mendingan di jual semuanya biar tenang. Biar tidak ribet bolak-balik!" Saran licik Kenari.
__ADS_1
"Iya gitu kak? Tapi, sayang kak, kalau di jual semuanya. Nanti aku enggak punya apa-apa lagi" Cempaka terperangah. Dia merasa kaget juga mendengar perkataan kakaknya.
"Tapi, ujung-ujungnya yaa pasti di jual juga" Kenari tersenyum sinis.
"Ya sudah kak, aku pulang dulu. Assalamualaikum..." Cemara segera bergegas meninggalkan rumahnya Kenari.
"Waalaikumsalam... Hati-hati!"
Sahut Kenari
*
Cempaka menjual semua cin-cinnya. Dia menuruti semua perkataan kakaknya. Hilang sudah semua harta yang dia miliki, yang dia pertahankan selama ini.
Keesokkan harinya, Cempaka berangkat lagi ke rumahnya mak Asih. Dia berangkat sendiri, tidak di temani oleh Kenari.
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Cempaka, setelah dia sampai di rumahnya mak Asih.
"Sebentar lagi neng, duduk dulu saja. Mak lagi ngisi bak mandi, nanti setelah penuh baknya, baru kita berangkat" Ujar mak Asih.
"Baik mak kalau begitu"
"Kata emak, aku harus di peuyeum di rumahnya guru emak. Itu apa maksudnya?" Cempaka penasaran.
"Maksudnya, neng Cempaka nanti di sana diam di suatu kamar, wirid dan berdo'a di kamar itu. Jangan keluar sebelum di suruh oleh guru emak." Ujar mak Asih.
"Minimal selama tiga hari, dan paling lama selama emat puluh satu hari, tergantung kesanggupan kita saja" Sahut mak Asih lagi.
"Lumayan lama juga ya mak" Ucap Cempaka.
"Ayo, kita berangkat sekarang! Bak nya sudah penuh." ajak mak Asih sambil berkemas.
Setelah mengunci pintu rumahnya, mak Asih dan Cempakapun berangkat menuju ke rumah guru spiritualnya mak Asih, yang bernama mak Inah.
Ternyata rumahnya mak Inah, tidak terlalu jauh dari rumahnya mak Asih.
Dengan berjalan kaki sekitar sepuluh menitan, lalu naik mobil angkutan umum selama sepuluh menit, kamipun sampailah di rumahnya mak Inah.
Dukun perempuan yang terkenal di kampung itu. Sudah lumayan berumur, sudah sepuh.
Sa'at mereka tiba di rumahnya mak Inah, terlihat rumahnya sepi
seperti yang tidak ada orang di dalamnya.
"Ini rumahnya mak?" Cempaka menatap rumah yang sudah tua itu, rumahnya nampak anyep, sepi, dan..., sepertinya ada penghuni lain selain mak Inah dan suaminya.
"Iya ini, ayo kita masuk lewat pintu samping saja. Karena, pintu
__ADS_1
depan jarang sekali di buka" Mak Asih segera memutar ke arah samping.
Dengan ragu, Cempaka mengikuti langkah kakinya mak Asih, walau dengan perasaan ragu.
"Maaaak, Ini Asih datang maak"
ujar mak Asih sambil mendorong perlahan pintu rumah yang sudah mulai rapuh itu.
Setelah pintu terbuka, keadaan rumah yang berlantai tanah dan berbau tanah lembab itu, langsung membuat bulu kuduk Cempaka meremang seketika.
Aroma tanah yang lembab, sangat menusuk hidungnya Cempaka. Hingga Cempaka sedikit mual.
"Masuuuk" Ucap seorang perempuan yang tengah duduk di atas bale-bale yang ada di sana.
Mak Asih dan Cempaka segera masuk ke dalam rumah itu.
Mak Asih duduk di atas bale-bale yang ada di hadapannya mak Inah.
"Ada apa?" Tanyanya lembut.
"Ini mak, biasa ada yang agak lambat. Katanya minta di percepat, adiknya sudah pada gede, takut di langkahi" Ujar mak Asih.
"Namanya siapa?" tanya mak Inah.
"Cempaka mak Inah" jawab mak Asih.
"Ooh neng Cempaka, nama yang sangat indah sekali, wajahnya sangat cantik juga" puji mak Inah.
"Terimakasih mak" ujar Cempaka.
"Ada seseorang yang menyimpan sesuatu di badan kamu nak. Sebaiknya kamu di peuyeum dulu di sini, di rumah mak Inah. Kamu mau kan?" Mak Inah menatap tajam matanya Cempaka. Ada kekuatan aneh di sana.
"Tapi, enggak apa-apa gitu mak?"
Keraguan Cempaka masih belum enyah dari perasaannya.
"Enggak apa-apa, biar neng tidak bolak-balik. Jadi, mak Inah akan mencoba untuk menyingkirkan semua yang bersarang di tubuhnya neng. Semoga saja emak kuat membersihkan sesuatu yang ada di tubuhnya neng Cempaka" ujar mak Inah lembut.
"Baiklah kalau begitu, tapi aku belum ngasih tahu orang tua ku kalau aku nginap di sini." Cempaka mencoba beralasan.
"Mak Asih nanti yang akan mengabarkan kepada kedua orangtua neng Cempaka. Ya sih, kamu nanti ke rumahnya neng Cempaka, kasih tahu bahwa neng Cempaka nginap di rumah mak Inah" ujar mak Inah tenang.
"Iya mak, pasti Asih akan ke sana ke rumahnya bu Sekar" sahut mak Asih.
"Ya sudah, sekarang kamu siapkan semua persyaratan yang sudah di kasih tahu sama mak Asih, kalau mau di peuyeum di sini." Perintah mak Inah.
"Ini mak, aku bawa ini " Cempaka mengeluarkan semua bawaannya dari tas besarnya.
__ADS_1