Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Akhirnya terbongkar juga


__ADS_3

"Ada apa ini sebenarnya? Kenapa Anyelir lama sekali di kamar mandinya?" Gumam Cempaka, Matanya menatap ke arah kamar mandi. Dia berharap adiknya akan muncul di sana.


Tapi, yang di tunggunya tak kembali juga. Karena, Anyelir sudah berada di kamarnya, kamar yang dulu di pakai Anyelir waktu belum menikah dengan Petir.


"Kemana dia? Kok! Lama sekali ke kamar mandinya" Cempaka masih mencari - carinya.


"Anyelir kok! Lama sekali ya, ke kamar mandinya"Cempaka berbicara sendiri.


"Kamu nyari siapa? " Bu Sekar menanyai Cempaka dengan sedikit heran.


"Anyelir, bu. Tadi katanya mau ke kamar mandi, tapi lama sekali belum kembali" Jawab Cempaka, matanya masih saja mencari-cari Anyelir.


"Habis dari kamar mandi, dia tadi ke kamarnya" Ujar bu Sekar.


"Pantesan, aku tungguin di sini enggak muncul-muncul" Ujar Cempaka agak kesal.


Cempaka pun duduk kembali di atas karpet, dia selonjoran di atas karpet sambil menyenderkan punggungnya ke dinding rumah.


Sementara itu Anyelir tengah berada di kamarnya bersama kedua adiknya. Yaitu Kilat dan Si bungsu, Seruni.


"Kilat, Seruni ingat ya, jangan bicara apapun tentang kehamilan kakak di depan kak Cempaka. Ingat itu ya!" Anyelir mewanti-wanti kedua adiknya.


"Memangnya kenapa kak?" Seruni bertanya dengan polosnya.


"Iya kak, kenapa?" Kilat juga ikut-ikutan bertanya.


"Emh, aduh kenapa ya?" Anyelir kebingungan menjawabnya.


"Pokoknya kalian jangan bicara masalah itu! Diam saja" Ujar Anyelir, dia menjawab seenaknya saja, karena merasa bingung mencari jawabannya.


"Kakak, kenapa kak Cempaka belum punya Suami, dan belum hamil juga" Seruni dengan pertanyaan polosnya.


"Karena, belum ada jodohnya, dan kalau belum ada jodohnya, enggak bisa hamil!" Anyelir mencoba menjelaskan.


"Kenapa belum ada jodohnya?"


Seruni bertanya kembali.


" Emh, kenapa ya? Emh, ya belum ada saja" Lagi-lagi Anyelir menjawab seenaknya.


"Kenapa kak Anyelir sudah menikah, sedangkan kak Cempaka belum?" Seruni kembali bertanya.


" Iya kak, kenapa kak?" Kilat ikut bertanya juga.


Anyelir terdiam mendengarkan pertanyaan seperti itu. Dirinya merasa kebingungan mencari jawabannya.


"Sudah ah, jangan bertanya yang aneh-aneh. Bikin pusing nyari jawabannya" Anyelir menyerah dengan semua perkataan dari kedua adiknya itu.


"Pokoknya, kalau kak Cempaka bertanya tentang kak Anyelir, jangan di jawab, diam saja. Mengerti!" Akhirnya Anyelir memberikan ultimatum kepada adik-adiknya itu.


"Iya kak, sekarang aku boleh pergi dari kamar ini?" Tanya Kilat berharap.


"Aku juga mau keluar, boleh ya kak Anyelir" Seruni ikut-ikutan memohon, dengan kedua tangannya di tangkup kan di depan dadanya.


Anyelir tersenyum geli di buatnya.


Merasa lucu, iya. Merasa kesal juga iya.


"Boleh, silahkan!" Akhirnya Anyelir mempersilahkan kedua adiknya untuk pergi dari dalam kamarnya.


"Asyik! Ayo Seruni kita keluar!" Kilat menggamit tangannya Seruni kemudian dia menariknya keluar dari kamarnya Anyelir.


Mereka berdua berlari ke ruang tengah, lalu ke ruang makan.


"Aku mau ngambil makanan dulu" Ujar Kilat sambil membuka tudung saji yang berada di atas meja makan.


"Ada tahu goreng, kamu mau?"


Ujar Kilat, tangannya mencomot dua buah tahu goreng, lalu mereka pergi menuju ke dapur, setelah menutup kembali makanannya dengan tudung saji.


"Eeh, Kilat! Seruni! Tunggu! Kakak mau nanya" Cempaka menghentikan langkah kedua adiknya.


"Ada apa,kak?" Jawab Kilat, dia menghentikan langkahnya.


Seruni juga turut menghentikan


langkahnya.


"Kalian dari mana?" Tanya Cempaka.


"Dari kamarnya kak Anyelir" Jawab keduanya.


"Mana sekarang kak Anyelir nya?" Tanya h lagi.


Kilat dan Seruni saling pandang, mereka tidak mau menjawabnya. Malah saling pandang dan saling colek.


Cempaka merasa bingung dengan ulah kedua adiknya itu.


"Ada apa? Kenapa tidak mau memberitahukan keberadaannya kak Anyelir? Kakak kan cuma tanya, sekarang kak Anyelir nya di mana?" Dengan sabar Cempaka mengulangi pertanyaannya kembali.


Kilat dan Seruni hanya menggelengkan kepalanya, setelah itu mereka pergi berlalu meninggalkan Cempaka yang merasa kebingungan sendiri.


"Anak-anak ini, mereka kenapa ya? Kok! Aneh sekali sikapnya" Gumam Cempaka.

__ADS_1


Setelah Kilat dan Seruni berlalu, Cempaka pun berlalu menuju ke kamarnya Anyelir.


"Anyelir! Kau di dalam? Tok! Tok!" Ucap Cempaka sambil mengetuk pintu kamar adiknya.


Tidak ada sahutan, semuanya nampak sepi seperti yang tidak ada orang di sana.


"Kemana dia? Apa dia tidur gitu?" Gumam Cempaka.


Di dorongnya perlahan, pintu kamarnya Anyelir, dan kemudian dibukanya.


Tidak ada orang di sana!


Tidak terlihat ada Anyelir di sana. Kamarnya kosong melompong.


"Kemana dia? Tadi kata Kilat dan Seruni habis dari kamarnya kak Anyelir, dan bertemu dengannya. Tapi, waktu di tanyakan Anyelir nya di mana? Mereka tidak menjawabnya, mereka hanya menggelengkan kepalanya. Kenapa dan ada apa ini sebenarnya?" Cempaka diam termangu di depan pintu kamarnya Anyelir.


Beberapa pertanyaan yang baru, menambah deretan pertanyaan yang lalu, yang belum mendapatkan jawabannya.


"Makin membingungkan saja, membuat kepalaku semakin terasa pusing tujuh keliling" Gumam Cempaka.


"Coba aku cari ibu, akan ku tanyakan padanya. Ibu mungkin tahu jawabannya atas semua pertanyaan yang memenuhi kepalaku ini" Cempaka bergegas pergi dari depan kamarnya Anyelir, menuju ke dapur, untuk mencari ibunya.


"Ibu! Ibu di mana?" Sambil melangkah Cempaka memanggil ibunya.


Di ruang makan, tidak dia jumpai.


Di dapur juga demikian, kosong tidak ada orang.


Cempaka balik lagi ke ruang tengah, ke kamarnya Kilat.


"Tok! Tok! Tok! Kilat, lihat ibu tidak?"Cempaka melongokkan kepalanya ke dalam kamarnya Kilat. Tapi, adiknya itu tidak ada di sana, di dalam kamarnya.


"Seruni! Kau di dalam?" Cempaka melongokkan kepalanya ke dalam kamarnya Seruni, yang bersebelahan dengan kamarnya Kilat.


"Tidak ada juga, pada kemana mereka itu sebenarnya?" Cempaka bertanya sambil jarinya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.


Cempaka kembali lagi ke dapur, dia berharap akan mendapatkan ibunya di sana.


"Sepertinya mereka di halaman belakang, aku harus ke sana untuk mencarinya" Cempaka segera bergegas menuju ke halaman belakang.


Di sana nampak pak Jati, yang tengah sibuk dengan ayam - ayamnya.


Pak Jati tengah memberikan pakan kepada ayam peliharaannya.


"Assalamualaikum, bapak tengah sibuk ya. Aku bantu ya pak!" Cempaka mengambil tempat pakan, dan memberikannya kepada ayam - ayam itu.


Beberapa sa'at kemudian, semua tempat pakan sudah penuh. Tinggal di patuki oleh ayam - ayam itu.


"Kebunnya sudah di sirami belum pak?"Tanya Cempaka sambil duduk di samping bapaknya.


"Tidak apa-apa, pak! Aku kan tadi sudah tidur, bapak sebentar ya, aku ke dapur dulu mau ngambil air" Cempaka beranjak ke dapur.


Tak berapa lama, Cempaka sudah kembali dengan dua cangkir teh panas di tangannya.


"Ini sepertinya enak kalau kita nikmati di sini" Ujar sambil menyimpan dua cangkir teh panas dan satu toples nastar di atas meja.


"Ayo pak! Kita ngeteh dulu, biar hilang rasa penat di tubuh kita"


Cempaka mengajak pak Jati untuk ngeteh bareng.


"Pak, apa bapak melihat ibu?" Cempaka mencoba bertanya setelah mereka menyeruput teh hangatnya.


"Tadi ibu di sini bersama bapak. Lalu, ibumu minta izin, katanya mau ke warung dulu, ada yang harus di beli" Pak Jati mencoba menjelaskannya.


"Kalau Anyelir? Barangkali bapak tahu?" Tanya Cempaka lagi.


"Anyelir, bapak tidak melihatnya, nak! Kalau tadi waktu bersama mu, terakhir bapak lihat" Sahut pak Jati.


"Kemana ya?" Cempaka bertanya kepada dirinya sendiri.


"Sudah kau cari di kamarnya?"


"Sudah, pak. Tapi dia tidak ada di sana, padahal ada sesuatu yang harus aku tanyakan kepadanya" Ujar Cempaka, matanya menatap kebun sayuran yang terhampar di hadapan matanya.


"Memangnya ada apa? Apa yang akan kau tanyakan kepada adikmu itu?" Pak Jati bertanya ingin mengetahuinya.


"Aku merasa heran, pak. Melihat Anyelir sepertinya ada yang berubah sekarang ini. Ada apa ya pak? Barangkali bapak tahu?" Cempaka mencoba bertanya kepada bapaknya.


"Memangnya di matamu, Anyelir itu berubah?" Pak Jati mencoba bertanya.


"Iya pak, makin hari seisi rumah ini terasa berbeda, tadi saja waktu aku menanyakan Anyelir kepada Kilat dan Seruni, mereka hanya saling tatap lalu menggelengkan kepalanya, dan berlalu meninggalkan aku. Padahal, sebelumnya mereka berkata habis bertemu dengan Anyelir di kamarnya. Sungguh aneh, aku jadi bingung pak" Cempaka mencoba mengungkapkan semua yang membuat dirinya bingung itu, kepada bapaknya.


"Mereka kan masih anak-anak,


mungkin mereka ingin bermain-main bersamamu" Pak Jati mengalihkan pembicaraan.


Di dalam hatinya, pak Jati sudah tahu kemana arahnya perkataan Cempaka.


"Assalamualaikum, Cempaka kau di sini?" Bu Sekar tiba-tiba saja sudah berada di Lawang pintu dapur.


"Waalaikumsalam, iya bu. Ibu kemana saja? Aku dari tadi nyari-nyari ibu" Sahut Cempaka sepertinya agak kesal.


"Ibu ke warung dulu, sebentar"

__ADS_1


Jawab bu Sekar, santai.


"Kenapa bu, tidak nyuruh aku?"


"Tadi kan kamu lagi sibuk ngobrol sama adikmu" Sahut bu Sekar.


"Ah ibu, enggak apa-apa bu, harusnya ibu suruh aku saja, cuma ngobrol biasa, tidak penting. Aku mau menanyakan sesuatu kepadanya, eh dia malah pergi ke kamar mandi, dan sampai sekarang malah menghilang, sungguh aneh, ada apa ini yang sebenarnya?" Cempaka tidak dapat menyembunyikan kekesalannya.


"Apa yang akan kau tanyakan kepada adikmu itu?" Tanya bu Sekar, dia duduk di samping Cempaka.


"Banyak bu, pertanyaan itu. Dan aku mau jawabannya yang pasti, yang jelas" Ujar Cempaka.


"Banyak itu, berapa? Dan apa saja? Apa ibu boleh tahu?" Bu Sekar mencoba


menanyakannya.


"Beberapa bu, salah satunya tentang pembicaraan yang tadi sempat aku dengar, waktu aku masih di kamarku" Ujar Cempaka, dia menatap mata ibunya seperti tengah mencari jawaban atas pertanyaannya.


"Pembicaraan tentang apa, nak?


Coba ceritakan sama ibu" Bu Sekar bertanya dengan perasaan yang ketar-ketir.


"Sepertinya Cempaka mendengarnya waktu Anyelir mengatakan tentang kehamilannya. Bagaimana ini?" Bathin bu Sekar, matanya menatap wajahnya pak Jati dengan wajah yang nampak panik.


"Tentang Anyelir hamil" Ujar Cempaka datar.


"Apa? Tentang Anyelir hamil?" Bu Sekar dan suaminya nampak terkejut mendengar ucapannya Cempaka. Keduanya terlonjak sambil mengusap dada. Sepertinya kaget yang luar biasa.


"Kenapa bu, pak?" Cempaka bertambah heran, melihat kedua orangtuanya bereaksi seperti itu.


"Itu kata mu tadi, bahwa Anyelir hamil. Kamu tahu darimana? Dengar dari siapa?" Bu Sekar segera menguasai keadaan.


"Mungkin kamu sudah salah dengar,nak. Tadi kami membicarakan tentang kehamilannya kakakmu, Bunga. Dia kan sebentar lagi mau lahiran" Ujar bu Sekar, berusaha untuk meyakinkan anaknya.


"Tapi, bu. Aku tadi mendengarnya dengan sangat jelas. Bahkan Kilat dan Seruni yang kegirangan karena akan mempunyai dua adik bayi. Yaitu bayinya kak Bunga dan bayinya Anyelir, itu yang aku dengar" Ujar Cempaka dengan wajah di penuhi rasa penasaran.


"Mungkin kamu sudah salah dengar, nak" Ujar pak Jati.


"Apa benar aku sudah salah dengar?" Gumam Cempaka, jadi bingung sendiri.


Pak Jati dan bu Sekar saling tatap. Keduanya saling memberikan isyarat, supaya tidak membocorkan rahasia yang selama ini di tutupinya.


"ya sudah, mungkin aku sudah salah dengar, semoga saja itu benar adanya" Ujar Cempaka lagi.


"Aku ke dalam dulu ya bu, pak. Assalamualaikum" Cempaka berlalu meninggalkan kedua orangtuanya dengan pertanyaan masih bergulung di dalam kepalanya.


"Iya nak, waalaikumsalam" Jawab pak Jati dan bu Sekar.


"Sepertinya dia sudah mulai curiga, pak. Kita harus bagaimana? Tidak mungkin kan kita seumur hidup berbohong dan terus berbohong" Bu Sekar mulai merasa panik.


"Tadi kan bapak sudah menyarankan supaya kita berterus terang saja, daripada nanti dia tahu dari orang lain" Ujar pak Jati.


Langkah kakinya Cempaka langsung terhenti di lawang pintu kamarnya Seruni.


Telinganya jelas mendengar perbincangan antara Anyelir dan kedua adiknya, yaitu Kilat dan Seruni.


"Ingat ya! Usahakan kak Cempaka jangan sampai tahu bahwa kakak sudah menikah dengan kak Petir. Dan, satu lagi. Jangan kasih tahu kalau kakak juga sudah hamil, Seperti tadi saja ya, kalian cukup menggelengkan kepala bila kak Cempaka bertanya tentang kak Anye kepada kalian!" Ujar Anyelir.


Mendengar semua ungkapan dari Anyelir seperti itu, terasa ada yang menghujam ke dalam ulu hatinya Cempaka.


Semua perkataan adiknya itu, bagaikan petir yang menyambar di siang hari yang panas terik.


Cempaka tak bisa menangkap jawabannya Kilat dan Seruni, dia keburu hanyut dalam suasana hati yang hancur lebur, luluh lantak tak tersisa.


"Ternyata, mereka sudah menikah" Gumam Cempaka.


Tubuhnya terasa lemas lunglai. Seluruh tulang- tulangnya serasa copot, seakan terlepas dari tubuhnya.


Tangannya bergetar menahan gejolak berjuta rasa yang bergulung di dalam hatinya.


Perasaannya hancur-sehancurnya!


Jiwanya kian terpuruk.


Hingga dia tak bisa berkata-kata lagi, hanya tetes air matanya yang jatuh di kedua pipinya, mewakili semua perasaannya.


"Brugh!" Terdengar ada sesuatu yang jatuh.


Akhirnya, tubuh Cempakapun Roboh!


Raganya Ambruk seketika, tepat di depan pintu kamarnya Seruni.


"Suara apa itu?" Anyelir kaget mendengar suara benda yang jatuh, tepat di depan pintu kamarnya Seruni itu.


"Enggak tahu kak!" Sahut Kilat.


"Iya kak, suara apa itu?" Seruni turut bertanya.


"Ayo kita lihat!" Anyelir segera bergegas menuju pintu, dan membukanya.


"Kakak! Kakak!" Anyelir berteriak histeris setelah melihat kakaknya tergeletak pingsan di depan matanya.


"Kakak! Kenapa, kak?" Seruni dan Kilat pun terkejut dan merekapun berteriak.

__ADS_1


***


__ADS_2