
"Sudah enggak usah sedih... Kalau jodoh pasti ketemu lagi. Iya kan bu Seroja?..." Celetuk Bunga ketika mereka baru saja sampai di rumah, setelah pulang mengantarkan Buana ke tempat tugasnya.
Bunga tidak ikut serta, dia tidak mau walaupun di ajak juga.
"Iya sayang, InsyaAllah anak ibu tidak akan mengingkari janjinya. Pasti dia kembali untukmu" Ibunya Buana menenangkannya.
Dia begitu sayang sama Cempaka. Dan sangat menginginkan Cempaka untuk menjadi menantunya, yaitu Isterinya Buana.
Bunga terlihat kesal dengan perlakuan bu Seroja yang begitu sayang serta perhatian sama Cempaka.
"Kalau tidak ada airmata yang menetes di pipi dalam sebuah percintaan, itu tidak seru. Lagipula tidak akan ada perjalanan cinta yang mulus sampai ke jenjang pernikahan. Pasti akan ada seseorang yang patah hati atau sakit hati. Kalau Buana terjerat oleh cinta yang lain, berarti... Dia bukan jodohmu!
Disanalah kamu akan merasakan yang namanya sakit hati" Bunga seakan sengaja untuk memanas-manasi adiknya.
"Bunga... Ibu minta kamu jangan manas-manasin adikmu terus, kasihan dia. Dia itu sudah berkorban banyak untukmu. Dia rela menunda pertunangannya yang sudah di depan mata itu demi kamu!... Masa, kamu tega ngejekin terus" Bu Sekar menegurnya.
"Semoga saja Buana tidak sampai terjebak ya bu" Bu Seroja nampak khawatir.
"Iya bu... Semoga saja Buana kebagian tempat di asrama, jadi tidak mesti nyari kost-an di luar"
Bu Sekar tidak kalah khawatir karena dia tadi sempat mendengar bahwa asrama kelihatannya sudah penuh.
Bu Seroja memegangi pundaknya bu Sekar, mencoba untuk menenangkan calon besannya itu.
Airmata Cempaka mulai tergenang lagi di pelupuk matanya.
Dia masih terngiang-ngiang dengan pembicaraan teman-temannya Buana waktu tadi di asrama.
"Bahwa katanya asrama sudah penuh. Yang tidak kebagian berarti harus nyari kost an di luar" Pembicaraan itu jadi kepikiran terus oleh Cempaka.
"Jangan menangis sayang, lebih baik kita berdo'a saja kepada Allah SWT. Ibu pulang dulu ya" Bu Seroja berpamitan pulang.
"Baik bu, ayo!... Aku antar"
"Assalamualaikum... Saya pulang dulu bu, pak!..." Cempaka mengantarkan calon mertuanya itu sampai ke rumahnya.
*
Tiga bulan telah berlalu sejak keberangkatan Buana ke tempat tugasnya.
Di rumahnya bu Sekar ada suatu acara syukuran pertunangannya Bunga, kakaknya Cempaka.
Keluarganya Buana pun nampak hadir di sana. Hanya Buana yang tidak kelihatan, karena dia belum pulang dari tempat tugasnya. Menurut kabar dari ibunya, dia pulang nanti sekitar tiga bulanan lagi.
Lumayan bahagia Cempaka mendengar kabar baik itu. Angannya sudah melambung tinggi ke awan.
Dia berangan-angan pasti Buana akan datang untuk melamarnya.
Diapun secara tak sadar senyum-senyum sendiri.
Di tatapnya jemari tangan kirinya, dia berangan seolah cincin tunangan yang sudah di persiapkan oleh Buana tiga bulan yang lalu itu, kini tersemat di jari manisnya.
"Ehm..." Anyelir berdehem di telinga kakaknya yang tengah asyik berangan.
"Astaghfirulahaladziiim... Kenapa sih!... Bikin kaget saja" Serunya kaget. Ketahuan lagi ngehayalnya.
"Makanya jangan ngehayal terus,
tuh!... Keluarganya kak Sakti ngelihatin kakak terus. Apalagi yang pake baju merah itu, sambil nunjuk-nunjuk ke arah kakak" Bisik Anyelir lagi sambil makai mulutnya untuk menunjuk ke arah tamu.
__ADS_1
"Abisnya aku bahagia sekali, kalau kak Bunga sudah nikah sama kak Sakti, berarti enggak akan lama lagi Buana juga akan melamarku dan menikahi aku" Sahut Cempaka dengan senyuman mengembang di bibirnya.
"Buana kan sudah menyiapkan cin-cin nya tiga bulan yang lalu, waktu kak Bunga ngamuk itu" Lanjutnya lagi.
"Semoga saja tidak meleset ya kak ya..." Ucap Anyelir berharap.
"Amiin..." Cempaka memeluk adiknya itu dengan gemas.
"Alhamdulillah... Akhirnya kakakmu ketemu juga dengan jodohnya, tinggal Cempaka yang akan menyusul" Bu Sekar bergumam.
Waktu itu, para tamu baru saja pulang dari rumahnya.
Tinggal Keluarganya Sakti dan keluarganya Buana yang masih berada di sana.
Bunga nampak tersenyum bahagia memamerkan cincin tunangannya pada semua orang yang berada di sana, begitu juga kepada Cempaka. Seperti yang memanas-manasi.
"Coba dari tiga bulan yang lalu kau melamar Bunga, mungkin tidak akan ada hati yang terluka"
Bu Sekar berucap dan di tujukan kepada Sakti, calon menantunya.
"Maksud ibu, siapa yang terluka"
Sakti menoleh kepada bu Sekar.
"Itu... Cempaka!... Untuk lebih jelasnya, tanya saja sama Bunga"
Ujarnya lagi.
"Ada apa neng?" Sakti bertanya kepada Buana, penasaran.
Dengan sedikit enggan, Bunga menceritakan semuanya.
"Kak Bunga mau bunuh diri waktu itu" Anyelir nyeletuk diikuti dengan pelototan matanya Bunga, dia tak suka kelakuan gilanya itu di ungkapkan di depan Keluarga calon suaminya.
"Kenapa kau tidak membicarakannya kepadaku waktu itu? Kasihan Cempaka" Ujar Sakti.
"Enggak apa-apa sudah nasib"
Sahut Cempaka sambil cemberut.
"Semoga saja setelah kak Bunga, besok kau menyusul" Ucap ibunya Sakti menghibur Cempaka.
"Amiin" Sahut Cempaka singkat.
Tiga Keluarga itu akhirnya berbincang menentukan hari pernikahannya Bunga dan Sakti.
*
Sebulan kemudian, waktu itu Cempaka tengah menyapu teras depan rumahnya.
Tiba-tiba matanya menangkap seseorang yang sangat dia kenal.
"Buana"
Yap!... Buana nampak berjalan menuju ke arahnya.
Mungkin dia baru pulang dari tempat tugasnya.
Melihat itu Cempaka segera merapikan bajunya, dan segera pula dia memasang muka yang semanis mungkin.
__ADS_1
Empat bulan sudah dia menanti
kedatangannya Buana.
Menabung rindu, menyimpan cinta, menunda asa.
Kini tibalah waktunya jua tuk bersua.
Semakin dekat Buana ke arahnya. semakin tak karuan sikapnya Cempaka.
Tepat dihadapannya, Buana malah menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya. Seperti yang tengah menyembunyikan sesuatu dari Cempaka.
"Buana?..." Cempaka berteriak memanggilnya dengan hati yang penuh tandanya.
Yang dipanggil sedikitpun tidak
menolehnya, apalagi menyahutnya. Dia malah mempercepat jalannya, dan akhirnya berlari menjauh meninggalkan Cempaka dalam kebingungan.
"Buana?... Kamu kenapa?" Dia panggil sekali lagi untuk menghabiskan kepenasarannya.
Tapi yang di panggil tetap tak menoleh sedikitpun. Dia malah makin menjauhinya.
"Kenapa Buana tidak menyahut sa'at ku panggil?... Kenapa dia sepertinya sengaja menghindari aku?... Kenapa dia jadi berubah begitu?... Apa salahku?... Dia berubah hanya dalam waktu empat bulan tak bertemu. Kenapa jadi begini?..." Di hatinya Cempaka penuh dengan pertanyaan yang memerlukan jawaban.
Belum hilang bingung yang ada di hati, tiba-tiba dia melihat seorang perempuan dan sepasang suami-isteri yang berjalan di belakangnya Buana.
Dia belum pernah melihat ketiga orang itu sebelumnya.
Yang lebih mengherankan lagi adalah... Perempuan yang masih muda itu wajahnya mirip dengan wajahnya Cempaka. Hanya tubuhnya dia agak pendek daripada Cempaka.
"Jauh juga ya rumahnya Buana"
Ucap salah seorang dari mereka.
"Mereka itu siapa?... Kok!... Aku baru melihatnya sekarang, dan... Kenapa pula ada yang menyebut nama Buana?... Mereka itu siapanya Buana?..." Bertambah lagi pertanyaan di dalam benaknya.
"Dia itu siapa ya?... " Gumamnya lagi sambil menatap punggung ketiga orang yang baru saja lewat di hadapannya.
Cempaka jadi tidak melanjutkan
nyapunya, dia terduduk dilantai yang tadinya akan dia bersihkan.
Matanya menatap ke arah orang-orang yang baru saja di lihatnya.
Cempaka merasa penasaran dengan kehadiran tiga orang tadi,
dia ingin tahu ke rumah siapa mereka akan bertamu.
DEG!
Jantungnya seakan mendadak berhenti waktu melihat mereka berhenti di depan rumahnya bu Seroja, ibunya Buana.
Cempaka memastikan penglihatannya, dengan cara menggosok matanya dengan jari tangannya.
Mereka disambut oleh Buana di pintu rumahnya.
"Mereka itu siapa sebenarnya?" Bathinnya.
"Jangan-Jangan..." Cempaka tak mampu melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
Dia langsung menghambur ke kamarnya, dan menangis sejadi-jadinya.
Walau belum pasti dengan dugaannya. Namun, nalurinya sudah mengatakannya.