
"Karmin! Buka pintunya!" Kenari berteriak memanggil Karmin setibanya dia di kontrakannya Mayang, istrinya Karmin.
" Iya , sebentar!" Sahut Karmin dari dalam kamar kontrakan.
"Bu, silahkan masuk!"
Kenari segera masuk ke dalam kamar kontrakan.
"Ini cepat minum! Habiskan!" Perintah Kenari sambil memberikan botol yang airnya sudah di beri jampi-jampi oleh Eyang.
"Apa ini?" Karmin bertanya penasaran.
"Jangan banyak tanya! Sudah minum saja. Ini semua untuk kelancaran rencana kita, sengaja saya pulang kerja setengah hari, lalu jauh-jauh ke tempatnya Eyang, guru saya. Ayo! Cepat di minum, habiskan sebelum istrimu pulang kerja. Awas, jangan sampai ketahuan sama istrimu" Kenari menyuruh Karmin biar segera meminum air yang di bawanya.
"Iya bu" Karmin segera membuka tutup botolnya, lalu dia meminum isinya hingga habis tak bersisa.
"Nah gitu dong! Emh, istrimu sebentar lagi pulang, saya harus segera pergi dari sini. Saya tunggu di pos ronda yang di pinggir jalan itu ya! Nanti setelah istrimu datang, kamu cari alasan saja mau ke mana dulu gitu. Nanti kita bareng ke rumahnya ibu saya, untuk menemui Cempaka. Saya pergi dulu, kamu cepat siap - siap!" Kenari segera bergegas keluar dari kamar kontrakan itu.
Setengah berlari Kenari meninggalkan Karmin, menuju ke pos ronda yang lumayan cukup jauh dari kontrakannya Mayang.
"Jangan sampai aku ketahuan sama Mayang atau Ratna" Ujar Kenari sambil mempercepat langkah kakinya.
"Jam empat lebih lima, Mayang berarti sudah keluar dari tempat kerjanya, mungkin dia sedang di jalan mau pulang" Gumamnya.
Tak lama kemudian, Kenari sudah sampai di belakang pos ronda, dia pun segera menyelinap masuk ke dalam pos ronda itu. Dia duduk selonjoran di sana dengan sedikit membungkuk, supaya tidak kelihatan dari luar.
"Suamiku belum mau balik lagi ke Indramayu, berarti dia beberapa hari ini tidak masuk kerja" Tiba - tiba terdengar suaranya Mayang membicarakan suaminya.
Kenari sedikit menahan nafasnya.
"Mungkin dia masih kangen sama kamu" Terdengar suaranya Ratna menyahut pembicaraannya Mayang.
"Mending kalau kangen sama aku, kalau ada maksud tertentu, bagaimana? Kamu juga tahu kan sifat dia itu bagaimana? Enggak tahan kalau lihat cewek cantik, alasannya karena kamu enggak bisa punya anak. Jadi aku melirik perempuan lain" Ujar Mayang kesal.
"Memang nya kamu yang mandul?" Tanya Ratna.
"Ya bukanlah! Kalau aku mandul, tidak mungkin aku haid setiap bulan" Ujar Mayang.
"Iya juga, ya. Kalau begitu, berarti mas Karmin nya yang mandul" Ucap Ratna.
"Iya, cuma dia tidak mau kalau di katakan mandul" Terdengar nada emosi di dalam ucapannya Mayang.
"Mayang sudah pulang, untung aku sudah sembunyi di sini. Jadi enggak ketemu sama dia, memang aku selalu mujur" Gumamnya.
Diapun lalu duduk seperti biasa, tidak membungkukkan badannya lagi, karena yang di takuti nya sudah berlalu. menjauh dari dirinya.
"Mendengar perkataannya Mayang, berarti sangat tepat aku memilih si Karmin untuk jadi suaminya si jomblo itu" Gumam Kenari bahagia, dia tersenyum penuh kemenangan.
Kenari terus tersenyum sambil membayangkan pernikahan Cempaka nanti.
"Pernikahan yang sangat-sangat sederhana sekali. Jauh dari kata meriah, tidak ada tamu undangan, tidak ada seuseurahan, karena yang datang nya juga hanya si Karmin sendirian, pernikahan yang sangat memalukan. Tapi, membuat aku bahagia dan puas sekali menyaksikannya. Nanti aku yang akan meriasnya, sebisa aku, riasan yang asal-asalan saja, ha... Ha... Ha...!" Kenari bergumam sendiri sambil tertawa sendirian, hingga Karmin yang sudah berada di sana juga tidak dia sadari kehadirannya.
"Bu, bu! Kenapa bu?" Karmin menegurnya.
"Ibu! Bu Kenari, kenapa bu?" Karmin kembali menegurnya sambil mengguncang - guncang kan bahunya Kenari.
"Eh, ah, eh ada apa? Ada apa?" Kenari gelagapan karena kaget.
Lamunannya buyar seketika itu juga.
"Kamu, ngagetin saja!" Bentak Kenari dengan kesal, lamunannya yang indah itu buyar tak bersisa.
"Ma'af bu, saya kaget melihat ibu dari tadi senyam-senyum sendiri, saya takut ibu kenapa-kenapa" Karmin bicara seadanya.
"Tidak apa-apa, saya hanya lagi membayangkan pernikahan kamu dengan adikku nanti, saking senangnya jadi saya senyam-senyum sendiri, itu saja!" Dengan santai Kenari menjawabnya.
"Kapan kita berangkat?" Karmin bertanya tak sabar.
__ADS_1
"Sekarang juga. Tadi kamu beralasan apa sama istrimu?" Tanya Kenari penasaran.
"Saya bilang mau pulang ke Indramayu sekarang!" Ujar Karmin mengatakan alasannya.
"Dia langsung mengizinkannya, ya saya senang lah karena akan bertemu dengan gadis secantik Cempaka. Nanti setelah bertemu dengan Cempaka dan berkencan dengannya, barulah saya pulang ke Indramayu, mantap kan alasan yang saya berikan kepada istriku?" Ujarnya lagi dengan senyuman.
"Kalau begitu, baiklah sekarang kita berangkat" Kenari keluar dari dalam pos ronda.
"Kita naik angkutannya dari sini saja, biar segera sampai ke rumah ibuku" Kenari tak sabar.
Karmin hanya menuruti saja apa yang di katakan oleh Kenari. Di dalam benaknya hanya ada Cempaka yang terus menari-nari di pelupuk matanya.
Hanya beberapa menit saja, mereka sudah menghentikan angkutan umum yang mereka tumpangi. Karena, harus ganti dengan kendaraan lain yang menuju ke rumahnya bu Sekar.
"Dari sini ke mana lagi, bu?" Karmin bertanya arah selanjutnya.
"Kita nyebrang dulu, lalu naik lagi angkutan umum yang ke arah sana" Kenari menarik tangannya Karmin untuk di bawanya menyebrangi jalan yang terbentang di hadapannya.
"Kita naik mobil angkutan umum yang berwarna biru itu, ayo!" Kenari menarik tangannya Karmin lagi untuk di ajaknya masuk ke dalam mobil angkutan umum itu.
"Dari sini jauh enggak, bu?" Karmin bertanya setelah mereka duduk di dalam mobil angkutan umum itu.
"Lumayan, hanya dua kilometer jauhnya dari sini" Jawab Kenari.
Karmin diam setelah dia manggut-manggut tanda mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Kenari.
"Kiri!" Kenari menghentikan mobil angkutan umum nya tepat di depan sebuah gang yang cukup besar, yang akan menuju ke rumahnya.
"Di sini, bu?" Karmin celingukan setelah berada di depan gang itu.
"Iya, masuk ke gang ini! Sekitar lima atau tujuh menitan lah kita jalan kaki" Kenari berjalan bersama Karmin menyusuri gang itu.
"Dada saya kok, berdebar hebat begini bu" Ujar Karmin sambil memegangi dadanya.
Kenari tidak menyahutnya, dia hanya menoleh sebentar sambil tersenyum.
"Cempaka sudah pulang belum ya?" Gumam Kenari.
"Kalau dia tidak ada mata kuliah, jam segini ya sudah ada di rumah. Tapi, kalau dia kuliah dulu, pulangnya bisa Maghrib kadang jam delapan malam"
"Kalau Cempaka nya belum pulang, bagaimana?" Karmin risau.
"Ya, di tunggu saja sampai dia pulang, kamu mau kan?" Kenari mencoba menggoda Karmin.
"Saya nungguin nya di mana?"
Tanya Karmin.
"Ya, di rumah ibu saya"
"Saya malu, lah!"Ujar Karmin.
Kenari tersenyum setelah mendengarnya.
" Kita sudah sampai, ini rumahnya! Ayo kita masuk!" Ujar Kenari ketika langkahnya sudah sampai di depan pintu pagar rumah ibunya.
"Ooh, sudah sampai? Ini rumahnya? Bagus sekali, besar lagi. Orangtuanya bu Kenari rupanya orang kaya, ya" Karmin terpana melihat rumahnya bu Sekar yang bagus dan luas itu.
"Iya, nanti kamu akan tinggal di rumah ini jika kamu jadi nikah dengan adikku"
Karmin tersenyum bahagia.
"Assalamualaikum" Ucap Kenari
sambil membuka pintu samping rumah ibunya.
"Waalaikumsalam" Bu Sekar menjawabnya, karena kebetulan dia berada di ruang tengah, dekat dengan pintu samping rumahnya itu.
__ADS_1
"Cempaka sudah pulang,bu? Ini ada yang nyari" Ujar Kenari sambil duduk di sofa yang ada di sana. Sedangkan Karmin masih di luar, dia tengah duduk di pinggir teras memandangi bunga-bunga yang bermekaran.
"Siapa yang mencarinya?" Tanya bu Sekar, matanya mencarinya ke luar rumah, dan terhenti pada seseorang yang tengah duduk di sana.
"Itu orangnya yang kemarin mengirimkan surat buat Cempaka" Ujar Kenari.
"Ooh, itu orangnya?" Ujar bu Sekar.
"Cempaka! Keluar dong, kakak ada perlu, ada kejutan buat kamu!" Teriak Kenari dari balik pintu kamarnya Cempaka.
"Ada apa kak? Aku cape baru pulang kerja" Dengan malas Cempaka menjawabnya.
"Jangan malas-malasan ah, itu masa depanmu sudah datang!" Ujar Kenari lagi.
"Masa depanku? Apa dan siapa?" Cempaka masih belum keluar.
"Yang kemarin mengajakmu kenalan, yang mengirimkan surat cinta kemarin" Jawab Kenari.
Cempaka diam tak menyahut.
"Malas ah" Sahutnya kemudian.
"Kamu ini, susah sekali kalau di bilangin! Sudah kata kakak juga, jangan banyak mikir! Ingat umur, malu sudah tidak ada teman yang seusia dengan kamu sekarang" Kenari mulai lagi membuat kesal Cempaka yang mendengarnya.
"Cempaka! Cepat buka pintunya! Atau, akan aku gedor pintunya!"Teriak Kenari dengan keras, Kenari mulai emosi.
"Iya, iya sebentar! Aku akan buka pintunya" Cempaka beranjak, berjalan menuju ke pintu kamarnya, kemudian dia membukanya.
"Lain kali saja kak, aku cape, banyak tugas lagi dari kampusku yang harus aku selesaikan secepatnya" Ujar Cempaka, dia tidak membuka lebar pintunya, dia hanya menongol kan kepalanya.
"Jangan banyak alasan! Itu ada laki-laki yang mau menikahi kamu, ini malah sibuk tugas kuliah. Sudah! Tugasnya nanti saja! Yang paling penting sekarang itu kamu harus mau menikah dengan dia! Bukan dengan yang lain, yang hanya memberi harapan palsu, nikahi nya enggak, cuma ngomong saja. Ingat! Kamu bukan remaja lagi, hampir tiga puluh tahun umur kamu sekarang" Kenari menarik tangannya Cempaka dengan kasar.
"Kakak! Kenapa sih maksa aku begini? Mau nikah sekarang atau nanti, itu diriku bukan kakak. Kenapa kakak yang sewot? Kalau menurut kakak laki-laki itu baik segalanya, ya nikahi saja sama kakak! Kakak kan enggak punya suami, kenapa memaksa aku yang harus menikah dengannya?" Ujar Cempaka dengan kesal.
"Sekarang kamu berani berkata begitu sama kakakmu! Sudah! Jangan banyak bicara!Ayo keluar!" Kenari menarik tangannya Cempaka keluar dari kamarnya, lalu membawanya ke ruang tengah, di mana Karmin duduk di sana.
"Tuh! Masa depan kamu sudah menunggumu!" Ujar Kenari, dia mengerling kan matanya ke arah Karmin.
Cempaka menatapnya dengan dahi yang berkerut seperti yang sedang berpikir.
"Sepertinya dia sudah punya istri" Bathinnya.
"Kenalkan, saya Karmin" Karmin mengulurkan tangannya kepada Cempaka.
Kenari segera mengarahkan tangan Cempaka untuk menerima uluran tangannya Karmin.
Cempaka mendelik tidak suka dengan perlakuan kakaknya.
"Terimakasih, balasan suratnya sudah saya baca" Ujar Karmin membuka percakapan.
"Balasan surat apa?" Cempaka kaget mendengarnya. Karena dia tidak merasa menulis surat balasan nya.
"Sudah, sudah, tidak usah membahas masalah surat balasan, kita bahas yang lainnya saja yang lebih serius"
Kenari menengahi sekaligus membungkam mulutnya Cempaka supaya tidak memperpanjang masalah nya. Karena dia takut terbongkar kebohongannya.
Mereka pun berbincang-bincang masalah yang lain yang menjurus ke hal pernikahan.
"Bu, sekalian nikah saja ya bu, dia kan jauh jadi enggak usah tunangan dulu" Ujar Kenari mengatakan pendapatnya kepada bu Sekar.
"Gimana nanti saja, kalau ibu mau tahu dulu jawabannya dari Cempaka, apakah dia mau atau tidak, sekarang ibu tidak akan membuat nya menderita lagi, ibu tidak akan memaksanya, kasihan dia, sudah terlalu banyak penderitaan yang dia alami dan berasal dari kita, keluarganya sendiri" Ucap bu Sekar dengan lirih.
Selama perbincangan, Cempaka diam tak merespon apa yang di katakan oleh Kenari.
"Ma'af saya mau ke belakang dulu" Cempaka bergegas menuju ke belakang, yang sebenarnya bukan ke kamar mandi. Tapi, dia masuk ke kamarnya Seruni, adik bungsunya.
Dia merasa kesal dengan semua ucapannya Kenari.
__ADS_1
Hampir setengah jam Karmin dan Kenari menunggu Cempaka di ruang tengah. Tapi, Cempaka tak kunjung datang, tentu saja ini membuat Kenari merasa sangat kesal sekali.
***