
Dengan berat hati, bu Sekar mengizinkan Cempaka berangkat bersama Kenari ke guru spiritualnya Kenari.
Dengan dalih ingin melihat Cempaka segera mendapatkan jodohnya, Kenari berhasil memenangkan kepercayaan dari kedua Orangtuanya.
Akhirnya...
Petualangan perdukunan pun di mulailah oleh Cempaka.
Semua ini tanpa di sadarinya.
Karena Cempaka ingin segera mendapatkan jodoh, dan juga karena kurangnya ilmu agama pada sa'at itu, Cempaka tidak banyak berpikir lagi. Dia langsung mau saja sa'at Kenari mengajaknya untuk menemui guru spiritualnya.
"Kita ke guru kakak yang dekat saja dulu ya!" ucap kenari waktu mereka sudah keluar dari rumah.
"Bagaimana kakak saja, aku kan enggak tahu" sahut Cempaka, dia nurut saja.
Cempaka dan kedua Orangtuanya sama sekali tidak curiga, kalau Kenari hendak menyetir kehidupan Cempaka.
Dia menginginkan supaya Cempaka tidak mendapatkan jodoh seorang ABRI atau seorang yang punya kedudukan, atau yang pekerjaannya bagus.
Dia punya prinsip kalau anak sulung harus lebih kaya, lebih terpandang di bandingkan dengan adik-adiknya. Itu mengacu kepada ibunya, yaitu bu Sekar yang merupakan anak sulung dari neneknya mereka.
Bu Sekar adalah anak sulung, dan dia paling kaya bila di bandingkan dengan adik-adiknya.
Kenari juga ingin hal itupun berlaku kepadanya sebagai anak
sulung dari kedua Orangtuanya.
Karena itu, dia tidak suka melihat Cempaka akan mendapatkan jodoh seorang polisi, yang statusnya jelas lebih tinggi daripada Raka, suaminya waktu itu. Yang hanya sebagai guru sopir di sebuah pelatihan mengemudi.
"Kita akan ke mana sekarang kak?" Cempaka bertanya penasaran dengan tempatnya.
"Ke sana saja, ke kampung Ranca. Di sana ada guru kakak, dia itu pernah mati suri selama tiga hari tiga malam. Setelah bangun dari mati surinya, beliau jadi bisa menolong orang lain"
Ujar Kenari.
"Mati suri selama tiga hari tiga malam?" Cempaka terkejut mendengarnya.
"Iya, waktu bangun dari komanya itu, beliau seperti orang yang kebingungan. Susah untuk di tanya. Memerlukan waktu hampir satu bulan, baru beliau bersikap normal kembali."
"Maksudnya bagaimana kak?"
Cempaka semakin penasaran.
Hal inilah yang di harapkan oleh Kenari.
Perangkapnya kena, tepat pada sasaran.
"Beliau tidak bisa di tanya, beliau diam seribu bahasa. Yaa..., kayak
orang yang linglung gitu. Malahan beliau lupa pada dirinya sendiri. Untungnya itu tidak lama,
beliau mengatakan bahwa waktu beliau mati suri itu, beliau serasa
__ADS_1
ada di suatu tempat yang tenang,
sejuk dengan rumah yang berjejer rapi. Tempat itu baru kali itu beliau datangi" Kenari mulai menceritakan tentang pengalaman guru spiritualnya.
"Di sana beliau bertemu dengan kakeknya, Neneknya, dan semua saudara dan para tetangganya yang sudah pada meninggal,"
"Waktu melewati sebuah rumah,
beliau bertemu dengan Neneknya. Dan beliau di suruh pulang! Katanya kamu belum waktunya tinggal di tempat ini!"
Lanjut Kenari.
"Tapi, saya merasa betah tinggal di tempat ini nek, jawab beliau.
Sudah pulang! Sana Pulang! kamu belum waktunya! Nanti juga kalau sudah tiba waktunya, pasti kamu akan tinggal di sini. Neneknya beliau tetap mengusir beliau, sampai segera masuk ke dalam rumahnya, dan menutup pintunya," Cempaka serius mendengarkan penjelasan dari kakaknya itu.
"Setelah di usir oleh Neneknya, beliau juga di usir sama semua orang yang beliau temui. Tengah dalam kebingungan, tiba-tiba ada yang mendatangi beliau, dan membawanya ke suatu tempat yang sangat mengerikan sekali, terdengar teriakan dari para penghuni yang ada di tempat itu.dan..., katanya setelah melihat
tempat itu, beliau minta segera di antarkan pulang, tak lama setelah beliau minta di antarkan pulang, beliau pun terbangun dari tidur panjangnya."
"Orangnya sudah tua belum kak?" Cempaka penasaran.
"Belum, cuma beda beberapa tahun usianya dengan kakak. Nah! Sejak beliau sadar, beliau jadi bisa mengobati orang yang sakit, malahan..., kalau ada yang sakit dan tak lama lagi dia akan meninggal, beliau suka tahu." Lanjut Kenari lagi.
"Serem juga ya kak! Bulu kudukku jadi merinding begini"
Cempaka meraba tengkuknya.
"Enggak apa-apa aah. Kamu ini,
"Oooh iya ya kak, semoga saja!"
Cempaka tersenyum manis. Ada suatu harapan terlihat di sana.
"Tuh sudah dekat rumahnya! Masuk ke gang itu, lalu belok kiri.
Sampai deh kita ke rumahnya"
Ujar Kenari.
Merekapun melangkahkan kakinya menuju rumahnya guru spiritualnya Kenari dengan penuh harapan.
"Naah! Ini rumahnya. Semoga saja beliau nya lagi ada di rumah"
Kenari berharap.
"Assalamualaikum..." ucap Kenari.
"Waalaikumsalam..." Salamnya langsung di jawab oleh mak Asih,
guru spiritualnya Kenari.
Karena merasa sudah punya cucu, beliau suka di panggil mak Asih.
__ADS_1
"Ayo masuk!" Ujarnya ramah.
Kamipun masuk ke dalam rumah sederhana itu.
Setelah berbincang ke sana kemari, akhirnya Kenari menceritakan tentang Cempaka.
"Sepertinya masih agak lama, ini harus di bersihkan dulu semua penghalang yang ada di tubuhnya neng Cempaka. Nanti, pulang dari sini, neng langsung mandi dengan air dan bunga ini yaa! Bunga dan air ini di pakainya waktu bilasan terakhir, di guyurkan dari kepala sambil menghadap ke arah kiblat. Dan, bekasnya jangan di lihat lagi."
Ujar mak Asih, Setelah merenung sebentar dan menatap wajahnya Cempaka.
Iya mak Asih" Sahut Cempaka.
"Ini bedak dan perlengkapan neng Cempaka sudah emak kasih do'a, Harus di pakai sampai habis ya! Daan, nanti setelah Maghrib, jangan lupa untuk bakar kemenya nya." ucap mak Asih lagi.
"Bakar kemenyan? Kenapa harus bakar kemenyan emak?" Tanya Cempaka, dan Kenari mencubit lengannya Cempaka. dia tidak suka dengan pertanyaan adiknya
itu.
"Asap kemenyan itu sebagai alat penghubung kita dengan leluhur kita." ujar mak Asih.
"Iya mak" sahut Cempaka, walau sebenarnya dia tidak mengerti.
"Kalau sudah tiga kali tidak ada perubahan, nanti emak akan bawa neng Cempaka ke gurunya emak" Ujar mak Asih, sebelum kami pulang dari rumahnya.
"Kalau saya nanti saja mak" ujar Kenari, seperti ada sesuatu yang dia rahasiakan.
"Iya mak, kami permisi dulu. Assalamualaikum" Ucap kami.
Cempaka nampak sumringah. Harapan besar jelas terpancar di wajahnya.
"Kalau habis berobat, kita harus langsung pulang, dan langsung praktekkan apa yang di suruh oleh mak Asih tadi. Awas! Jangan sampai lupa." Kenari mengingatkan.
"Iya kakak" sahut Cempaka.
"Kenapa kakak enggak sekalian
bertanya kepada mak Asih?" tanya Cempaka penasaran.
" Sekarang kamu saja dulu, nanti kakak belakangan saja. Kakak kan sudah nikah, sudah punya anak lagi. Yang penting, kamu dulu. Awas jangan sampai lupa semua yang di perintahkan oleh mak Asih tadi!" Ucapan Kenari sungguh membuat hati Cempaka
adem dan juga tersanjung.
"Kakak sangat baik sekali, mau nganterin aku ke sini. Aku kan enggak tahu tempat yang kayak gini. Terimakasih ya kak." Cempaka nampak bahagia sekali. Dia tidak menyadarinya kalau dirinya tengah di giring ke hal-hal mistik, hal yang di larang oleh agamanya.
"Enggak usah berterima kasih, kayak ke siapa saja. Aku kan kakak sulungmu! Aku ingin segera melihat kamu punya suami. Tuh lihat! Adik- adikmu sudah gede-gede, jangan sampai kamu di langkahi oleh adikmu!"
"Iya kak, sebenarnya aku juga merasa khawatir. Aku enggak mau di langkahi oleh adik-adikku.
Aku malu kak kalau sampai di langkahi. Apalagi di kampung kita itu kan, paling tua anak gadisnya menikah di usia dua puluh tahun lebih sedikit, iya kan kak? Semoga saja do'a dari mak Asih itu manjur ya kak!" selain berharap, Cempaka juga merasa khawatir.
"Tenang saja, kakak pasti bantu supaya kamu tidak sampai di langkahi oleh adikmu" Kenari menenangkan adiknya.
Cempakapun menganggukkan kepalanya, hatinya kini merasa tenang setelah mendengar perkataan kakaknya itu.
__ADS_1
Dia merasa itu semua adalah benar adanya.
Cempaka merasa ada seorang dewi penolong yang akan melindungi dirinya. Dunianya perlahan-lahan mulai terang kembali.