
Karena lama Cempaka enggak kembali juga dari belakangnya, akhirnya Karmin pamitan.
"Sudah mau Maghrib, bu. Sebaiknya saya pulang saja" Ujar Karmin.
"Sebentar, saya panggil dulu Cempaka nya" Kenari bergegas menuju ke belakang.
Dia celingukan mencari Cempaka. Tapi yang di cari enggak kelihatan batang hidungnya.
"Di kamar mandi, enggak ada. Kemana dia? Tadi ngomongnya mau ke belakang, kirain ke kamar mandi, dasar si jomblo. Sudah jomblo, nyusahin lagi" Gerutu Kenari.
"Enggak ada, enggak tahu pergi ke mana, dia" Ujar Kenari setelah kembali ke ruang tengah.
"Ya sudah, saya pulang dulu saja" Ujar Karmin.
"Sepertinya Cempaka tak suka sama dia" Bisik bu Sekar di telinganya Kenari.
"Suka tidak suka, ya harus suka, bu. Kapan lagi ada laki-laki yang langsung mau menikahi dia yang sudah jelas susah jodohnya" Bisik Kenari lagi.
"Kalau dia nya tidak suka? Apa mau di paksa? Apa tidak kasihan sama adikmu itu?"
"Kalau aku lebih kasihan kalau dia tidak punya suami, bu. Aku akan berusaha hingga Cempaka mau menikah sama dia" Ujar Kenari memaksa.
"Aneh! Kenapa kamu maksa gitu?" Bu Sekar heran.
"Eh, itu Karmin katanya mau pulang" Kenari mengalihkan pembicaraan nya.
"Bu, saya mau pulang dulu" Karmin berpamitan.
"Iya, iya silahkan!" Bu Sekar tidak menahannya, dia faham kalau anaknya tidak suka sama dia, jadi buat apa harus berbasa-basi untuk menahannya? Pikir bu Sekar.
Karmin pun lalu pergi meninggalkan rumahnya bu Sekar, di ikuti oleh Kenari yang mulutnya enggak diam, nampak ngedumel menyalahkan Cempaka.
"Kenapa sih si jomblo itu malah meninggalkan Karmin? Pura-pura mau ke belakang, eh malah ngumpet. Dasar! Tidak tahu berterima kasih! Sudah jomblo masih banyak tingkah! Padahal kalau sudah jomblo begitu, enggak usah banyak mikir, apalagi menolak seperti itu! Dasar Jomblo! Jomblo!" Ujar Kenari.
"Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam, akan aku usahakan bagaimana pun caranya supaya kamu menikah dengan si Karmin. Laki-laki yang sudah jelas-jelas tidak baik itu, pastinya aku akan puas dendam ku kan terbalaskan" Gumam Kenari.
"Dia membalas suratnya begitu indah, tapi kenapa waktu bertemu melengos begitu, sepertinya dia tidak suka sama saya, jadi bagaimana ini? gagal deh menikahi Cempaka yang cantik, dan gagal juga merasakan kegadisannya. Padahal sudah saya bayangkan dari kemarin, sejak saya melihat photonya" Ujar Karmin galau.
__ADS_1
"Sudah, tidak usah risau dan galau begitu ah! Kalau saya sudah ada tekad, tidak akan mundur kalau keinginan saya itu belum terpenuhi. Saya akan terus berusaha hingga impian itu tercapai. Sudah selama bertahun-tahun saya pendam perasaan itu, kini sa'at nya semua itu harus saya raih, harus saya dapatkan bagaimana pun caranya!" Ujar Kenari dengan tegas.
"Memangnya apa impiannya? Dan apa hubungannya dengan Cempaka?" Perkataan Kenari membuat Karmin penasaran.
"Sepertinya bu Kenari punya dendam tersendiri kepada Cempaka" Bathin Karmin.
"Impian saya, wajah mulus dan cantiknya Cempaka itu harus berubah jelek, harus rusak, dan jodohnya juga harus di bawah mantan suami saya, pokoknya nasibnya dia itu harus buruk, harus menderita" Kenari tak sadar dengan semua ucapannya itu.
"Saya punya guru yang akan menolong supaya kamu bisa menikah dengan Cempaka. Selain itu saya juga punya ide yang cemerlang dan pasti akan berhasil"
"Apa itu bu?" Karmin penasaran.
"Sebelum kamu pulang, kamu ikut dulu bersama saya ke rumah saya. Di sana nanti saya kasih tahu rencana saya yang selanjutnya, yang pastinya akan dan pastinya harus berhasil!"
"Baiklah saya ngikut saja, yang penting saya bisa mendapatkan Cempaka. Kadung saya sudah tertarik sama dia, saya sudah kepelet sama dia. Ibu harus tanggung jawab karena ibu yang mengenalkan saya kepada Cempaka" Karmin sedikitnya menyalahkan Kenari.
"Jangan dulu menyalahkan saya, nanti kalau ide saya sudah saya bisikin ke kamu, pasti kamu akan setuju dan kamu pasti akan mendapatkan Cempaka yang kau incar itu" Kenari masuk ke pekarangan rumahnya.
"Ini rumah saya, ayo masuk!" Ajaknya.
"Nanti si Cempaka kalau membacanya pasti akan merasa bersalah, nanti akan saya ajak untuk nengok kamu ke sana, ke rumahmu. Nah, setelah saya dan Cempaka datang, kamu bilang baru sembuh gitu. Nanti saya akan ngajak Cempaka untuk pulang malam itu juga. Dan kamu harus nganterin kami pulang ke sini" Lanjut Kenari meneruskan perjalanannya.
"Setelah kita sampai di sini, saya akan menahan kamu supaya tidak boleh pulang. Dan harus langsung di nikahkan sa'at itu juga, jadi kamu tidak perlu nyediain mas kawin, uang ifekah dan ini itunya karena nikahnya juga mendadak, coba siapa yang untung?" Kenari menatap Karmin sambil tersenyum, seraya memainkan kedua alisnya.
"Kalau begitu ya jelas saya yang untung. Malahan dobel untungnya juga" Sahut Karmin sumringah.
"Kalau sudah ngerti dengan maksud saya, ya sudah segera tulis suratnya! Supaya segera kelar, segera nikah, segera dapatkan kenikmatan meniduri nya, merenggut kegadisannya. Cerdas kan saya? Cemerlang kan ide saya?"
Semua ucapannya bukan perkataan yang layak di ucapkan oleh seorang kakak terhadap adiknya.
Sungguh biadab sekali!
Astagfirullahaladzim!
"Ibu Kenari memang cerdas!" Karmin memujinya.
"Tentunya harus cerdas. Kalau tidak cerdas, bukan Kenari namanya. Ayo cepat bikin suratnya! Nanti, setelah dua atau tiga hari kamu di sana, baru saya berikan suratnya kepada si Cempaka, jadi tidak kelihatan rekayasa kan suratnya. Biar si Cempaka itu merasa bersalah, nanti akan saya bumbui lagi dengan kata-kata yang ampuh" Ujar Kenari.
__ADS_1
"Saya tahu betul sikapnya dia, yaitu gampang kasihan sama orang lain. Apalagi kalau kau tuliskan di sana itu, bahwa kamu kecelakaan waktu pulang dari sini, sa'at menyebrangi jalan yang menuju ke rumahmu. Kesenggol motor, atau apalah, hingga mesti di rawat inap di rumah sakit. Saya yakin pasti dia akan merasa bersalah dan mau di ajak ke sana nengokin kamu" Ujar Kenari melanjutkan perkataannya yang makin menyebalkan saja.
"Kalau dia tidak percaya, bagaimana?" Karmin belum merasa yakin.
"Itu nanti urusan saya yang membumbuinya. Yang penting sekarang, kamu nya benar mau atau lemparkan saja ke orang lain? Kalau mau, cepat tulis suratnya! Kata-katanya seperti yang tadi saya kasih tahu. Kalau tidak mau, ya sudah! Enggak apa-apa, tidak akan maksa" Kenari menggertak nya.
"Jangan dong, bu! Iya sekarang saya mau bikin suratnya. Coba saya pinjam buku sama ballpoint nya" Karmin ketakutan kalau Cemara di kasihkan sama orang lain.
"Nih bukunya! Nih ballpoint nya"
Setelah menerima alat tulisnya, Karmin segera menuliskan rangkaian kata-kata yang akan menggombali Cempaka, supaya luruh hatinya.
Sementara itu Cempaka yang tengah ngumpet di kamarnya Seruni, segera keluar setelah mengetahui bahwa tamu yang tidak di harapkan nya itu sudah pergi dari rumahnya.
"Alhamdulillah ya Allah, semoga dia tidak kembali lagi ke rumah ini, semoga kak Kenari tidak akan memaksaku untuk mau menikah dengannya, Aku ingin punya suami pilihan hatiku, yang sayangnya tulus dan juga perhatian sama aku, Amiin" Cempaka berdo'a setelah keluar dari kamarnya Seruni.
"Amiin" Bu Sekar dan kedua adiknya mengaminkan.
"Terimakasih kalian sudah mengaminkan do'aku" Cempaka menghampiri ibunya.
"Kenapa bu kak Kenari sepertinya maksa banget?" Tanyanya setelah dia duduk di hadapan ibunya.
"Ibu juga tidak tahu nak, Semoga saja dia tidak keterusan, dan segera menyadari bahwa kelakuannya itu tidak benar. Tapi, yang penting sekarang Karmin dan juga kakakmu itu sudah pergi, sudahlah jangan terlalu di pikirkan! Nanti kamu sakit,lho! Katanya kamu lagi banyak tugas" Bu Sekar mengalihkan pembicaraannya.
"Iya bu, kalau begitu aku ke belakang dulu ya, sebentar lagi juga tiba waktunya sholat Maghrib, sekarang sudah jam enam kurang"
"Ooh iya, gara - gara ada tamu tak di undang, jadinya ibu lupa menyiapkan makanan untuk nanti makan malam"
"Nanti aku bantu menyiapkannya, bu. Selesai kita sholat Maghrib"
"Kilat, segera siap-siap untuk berangkat ke Masjid sama bapak! Seruni, siap-siap ngambil air wudhu,nak. Kita sholat Maghrib berjama'ah di rumah" Ujar bu Sekar mengingatkan anak-anaknya.
"Iya bu" Tanpa harus di perintah dua kali, Kilat dan Seruni segera bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Anak - anak yang Sholeh dan Solehah, serta nurut sama orangtua, sungguh sangat menenangkan hati setiap orangtua.
***
__ADS_1