
Sejak kejadian itu, Amran tak pernah terlihat lagi datang ke rumahnya bu Sekar untuk bertemu Cempaka.
Sepertinya bu Purnama sudah menyudahi hubungan anaknya.
Dia sudah tidak peduli lagi sama anaknya, dia merasa kecewa oleh Cempaka.
"Bu, apa benar ibu tidak akan ke rumahnya bu Sekar lagi?" Suatu sore Amran mencoba bertanya kembali kepada ibunya.
Waktu itu, dua minggu setelah kejadian itu.
"Jangan bicarakan lagi tentang Cempaka! Ibu tidak mau mendengar namanya lagi" Bu Purnama menyahut ketus.
"Bu, ku mohon dengarkan dulu aku bu!" Ujar Amran lagi. Dia masih mencoba untuk memohon kepada ibunya.
"Mau mendengarkan apa lagi?
Sudah jelas-jelas kelakuannya begitu! Apa masih kurang?" Ibunya Amran membentak anaknya.
"Kita coba sekali lagi saja ke sana, bu! Kita jangan dulu memvonis bahwa dia itu tidak baik! Kita tidak tahu apa alasannya sehingga Cempaka pulang telat dan tidak bisa menemui kita" Amran keukeuh dengan pendiriannya.
"Apa sih yang membuat kamu seperti yang kehilangan ingatan begitu? Perempuan cantik, masih banyak! Bahkan yang lebih cantik dari dia! Coba buka matamu! Jangan hanya melihat Cempaka dan Cempaka saja!"
"Sepertinya, kamu sudah kena pelet sama si Cempaka itu!" Tuduh ibunya.
"Apa sih ibu ini? Tidak mungkin Cempaka berbuat seperti itu"
"Kalau kata ibu, tidak! Ya sudah tidak! Tidak! Tidak!" Bu Purnama berteriak menolaknya.
Jawaban bu Purnama, membuat Amran tak berkutik lagi. Dia diam membisu, karena dia sudah mengerti bagaimana sikap ibunya, kalau sudah bicara begitu, dia tidak akan bisa merubah keputusannya.
Amran adalah anak yang baik, dia tidak mau terus berdebat dengan ibunya.
*
Sementara itu di rumahnya bu Sekar, Cempaka tengah menanti Amran untuk datang menemuinya.
Cempaka dan bu Sekar masih berharap, Amran dan ibunya datang lagi untuk membicarakan acara pertunangannya.
"Sudah dua minggu, tapi tidak ada kabar dan berita dari Amran ya bu" Cempaka mencoba membicarakan Amran, di sela-sela kesibukannya di dapur.
"Sepertinya bu Purnama sudah salah menilai dirimu, nak. Karena waktu dia ke sini untuk bertemu kamu, hingga dia harus menunggu lama, kalau menurut ibu pasti dia telah melarang Amran untuk melanjutkan hubungannya denganmu, nak"
Tutur bu Sekar perlahan.
"Tapi, dia kan belum tahu alasannya, kenapa sampai aku terlambat untuk pulang" Sahut Cempaka.
"Itu kalau menurut kita, kalau menurut dia kan belum tentu"
"Sabar ya sayang, mungkin belum jodohnya" Lanjut bu Sekar lagi.
Netra nya lekat menatap wajah anaknya, yang tertunduk menyembunyikan duka.
Cempaka tak menjawabnya, dia hanya menelan ludah yang pahit terasa.
"Tiga kali sudah kegagalan menyapa kehidupanmu, semoga ini yang terakhir kalinya ya sayang. Dan, semoga kau semakin dewasa, semakin matang dalam menilai sesuatu"
Lanjut bu Sekar lagi.
Di dekap nya tubuh Cempaka, penuh kasih sayang, di peluknya dia sambil di belai rambutnya.
"Bu, kenapa hidupku selalu begini? Apa tidak ada jodoh untukku? Sekiranya aku tidak memiliki jodoh di dunia ini, kenapa aku selalu di pertemukan dengan laki-laki, yang awalnya seperti yang serius menyayangiku, kenapa bu? Kenapa?" Cempaka menghiba, mengadukan nasibnya kepada ibunda tercinta.
"Sabar ya sayang, itu mungkin cobaan bagi dirimu. Ibu yakin, suatu hari nanti kamu pasti akan menemukan jodohmu. Karena, setiap manusia yang terlahir ke dunia ini, pasti ada jodohnya" Hibur bu Sekar.
"Iya bu" Titik bening di sudut matanya Cempaka, menetes mengiringi kepedihan dalam hatinya.
Pipi yang halus itu, perlahan - lahan di lalui oleh bulir - bulir bening, air mata kehancuran.
__ADS_1
Cempaka hanya bisa menangisi nasibnya yang terus-menerus di hantam oleh berbagai cobaan.
Luka di hatinya yang belum kering itu, secara bertubi-tubi di iris - iris oleh sembilu nan tipis.
PEDIH dan PERIH!
"Apa kita cari tahu ke rumahnya bu Purnama gitu? Lalu kita minta ma'af atas kejadian tempo hari itu" Gumam bu Sekar.
"Tidak perlu, bu! Biarkan saja, bu. Kalau kita ke sana, aku malu. Aku yakin, pasti bu Purnama akan menyalahkan aku, tanpa mengetahui dulu alasannya, dia pasti tidak akan percaya, bu" Ujar Cempaka di sela-sela isak tangisnya.
"Kalau begitu menurut mu, ya sudah kita tidak perlu ke sana. Kita tunggu saja di sini, orang yang benar-benar berniat baik padamu" Akhirnya bu Sekar pun menyetujui keputusan Cempaka.
"Bu, kalau memang dia benar menyintaiku, dia pasti akan datang lagi menemuiku, menanyakan apa alasannya waktu itu aku terlambat pulang. Dia tidak akan memutuskannya sendiri, dia tidak akan seenaknya sama kita" Cempaka
menuturkan apa yang ada dalam hatinya.
" Kamu benar, anakku. Rasanya tidak baik kalau kita harus ke sana, sepertinya kita memaksakan diri"
"Benar ibu, aku tidak mau kalau kita disebut memaksakan diri, memaksakan kehendak orang lain. Memang benar, mungkin dia bukan jodohku" Lirih suara Cempaka.
Bu Sekar membelai lembut rambut Cempaka.
*
"Assalamualaikum" Kenari mengucapkan salam, setibanya di rumah bu Purnama.
"Waalaikumsalam, Tunggu sebentar!" Jawab bu Purnama sambil bergegas menuju ke ruang tamu, hendak membukakan pintu untuk tamunya.
"Ma'af! Cari siapa ya?" Bu Purnama bertanya, karena belum pernah bertemu dengan Kenari.
"Emh, perkenalkan saya Lintang saudaranya Cempaka" Sahutnya berbohong.
"Ooh, saya ibunya Amran. Silahkan duduk mbak!" Bu Purnama mempersilahkan tamunya untuk duduk.
"Terimakasih bu" Kenari pun lalu duduk tak lupa sambil tersenyum, yang di buat seramah mungkin.
Kenari berbasa-basi untuk menarik hatinya sang tuan rumah.
Dia sengaja datang di pagi hari, setelah Amran berangkat ke Sekolah, untuk mengajar.
"Maksudnya bagaimana, mbak? Saya tidak mengerti. Minta ma'af untuk apa?" Bu Purnama tidak mengerti.
"Emh, saya minta ma'af atas kejadian tempo hari itu. Waktu ibu sama Amran ke rumahnya bu Sekar, ibunya Cempaka. Waktu itu, ibu pasti lama menunggu Cempaka, saya dengar hingga sampai pulang juga, ibu tidak ketemu dengannya. Iya kan, bu?" Kenari mengingatkan.
"Ooh, iya aku ingat sekarang. Lalu?" Ujar bu Purnama, di akhiri dengan pertanyaan.
"Sebelumnya saya minta ma'af sekali lagi, atas kelakuannya saudara saya yang sangat tidak sopan kepada ibu waktu itu. Saya sengaja datang ke sini untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi" Kenari sengaja menghentikan ucapannya. Dia ingin mengetahui reaksinya bu Purnama.
"Iya, memang benar waktu itu saya sangat kesal sekali. Kami datang dengan niat baik. Sudah jauh-jauh kami datang ke sana, sudah nungguin lama, hingga jam delapan lebih, orang yang di tunggu-tunggu enggak datang juga. Enggak tahu pulang jam berapa.dia! Entah bagaimana ibunya Waktu itu, atau mungkin sudah kebiasaan dia seperti itu"
Bu Purnama langsung nyerocos mengeluarkan rasa kesalnya.
Bibir Kenari langsung membentuk sebuah senyuman kemenangan.
"Rencanaku berhasil! Ternyata benar dugaanku , bu Purnama merasa kecewa Karena Cempaka tidak di temuinya waktu dia ke rumah ibu " Bathin Kenari.
"Sepertinya waktu itu, ibu nungguin Cempaka lumayan lama juga ya?" Kenari berpura-pura bertanya.
"Bukan lama lagi, mbak! Dari ba'da dhuhur hingga jam delapan malam! Enggak tahu jam berapa dia pulang, karena waktu ibu pulang jam delapan lebih, malam itu. Belum ada tanda-tanda dia pulang, siapa yang tidak kesal dan kecewa kalau begitu?" Ujar bu Purnama lagi, dia semakin terpancing emosinya.
"Sepertinya dia itu sudah biasa pulang malam. Apa bu Sekar tidak merasa khawatir gitu? Anak gadis di biarkan pulang malam - malam begitu. Eh, mbak! Apa mbak tahu kenapa dan ke mana katanya dia waktu tempo hari itu?" Sepertinya bu Purnama penasaran juga.
"Yah begitulah bu, saya juga sudah sering menasihatinya supaya jangan suka pulang malam - malam. Tapi, bagaimana lagi? Sudah kebiasaan begitu, jadi susah untuk di nasihati" Ujar Kenari.
"Waktu kemarin itu, lepas Maghrib dia itu ke rumah saya. Katanya lagi malas pulang ke rumah. Karena, di rumahnya lagi ada tamu, begitu katanya, bu!" Kenari melanjutkan bohongnya.
"Maksudnya?" Bu Purnama terkesiap mendengarnya.
__ADS_1
"Iya, sebenarnya waktu itu Dia sudah pulang dari tempat kerjanya. Cuma, setelah sampai di rumah, di teras samping rumahnya bu Sekar, dia melihat ada tamu, melihat ibu dan Amran. Dia tidak jadi masuk, dia malah pergi lagi, dan selepas Magrib dia datang ke rumah saya" Tutur Kenari, dia diam sebentar, ingin melihat reaksi bu Purnama selanjutnya.
"Ooh, jadi sebenarnya dia itu sudah melihat kami? Ternyata dia tidak mau bertemu dengan kami, dia itu sengaja menghindari kami. Kalau begitu, berarti selama ini Cempaka itu tidak benar-benar suka sama Amran" Gumam bu Purnama.
"Begitulah, bu. Cempaka itu dari dulu tidak pernah mau serius dalam merajut hubungan kasih. Dia itu suka gampang berpindah ke lain hati. Makanya sudah beberapa kali dia itu enggak jadi terus, gagal terus" Lanjut Kenari, bisa saja dusta nya.
"Ooh, berarti sudah beberapa lelaki yang merasa sakit hati oleh dia. Mengapa ibunya diam saja mengetahui anaknya seperti itu? Aneh! Pakaian tertutup sempurna, tidak satupun aurat terlihat. Tapi, kelakuannya kok! Begitu ya!" Bu Purnama bertanya-tanya.
"Entahlah bu, saya juga heran dengan kelakuannya Cempaka.
Entah apa yang dia inginkan, entah apa maksud dan tujuannya? Namun yang jelas, dia itu sepertinya tidak suka kepada putra ibu. Menurut saya, sebaiknya tinggalkan saja Cempaka dari sekarang juga, sebelum Amran tenggelam dalam rayuannya. Segera cari gantinya, saya yakin pasti akan mendapatkan yang lebih segalanya dari Cempaka" Kenari berusaha mengompori bu Purnama.
"Kalau begitu kejadiannya, ya jelas pasti dia itu tidak suka sama anak saya. Lalu, apa maksudnya dia dekat sama Amran beberapa waktu yang lalu? Kalau memang dia tidak benar-benar suka sama Amran"
"Sekarang ibu sudah tahu siapa dia itu sebenarnya. Jadi, itulah maksud dan kedatangan saya ke sini itu, biar ibu dan keluarga di sini mengetahui segalanya. Saya turut prihatin dengan adanya kejadian ini. Terus terang, saya juga kesal, jengkel dan emosi mengetahui kejadian kemarin itu" Lihai sekali Kenari memutar balikkan fakta.
"Terimakasih mbak, karena mbaknya sudah memberitahu semuanya tentang Cempaka. Untung kami belum melamarnya. Kalau sudah resmi jadi menantu saya, aduuuh! Bisa - bisa anakku jadi korbannya"
"Bisa kurus kering saya sebagai mertuanya, kalau punya menantu kerjanya keluyuran melulu. Tiap hari bukannya ngurusin suami dan rumah tangga, tapi malah keluyuran enggak karuan" Tutur bu Purnama.
" Iya bu, sama - sama" Sahut Kenari tersenyum penuh arti.
"Kalau di turuti, Amran mengajak saya untuk menemui Cempaka kembali. Tapi, saya tidak mau menuruti keinginannya. Saya sudah kesal, sudah kecewa sama dia" Bu Purnama menunjukkan kekesalannya.
"Buat apa bu di temui lagi, saya juga saudaranya enggak suka melihat kelakuannya itu" Ujar Kenari.
"Emh, kalau boleh tahu, mbak itu siapanya Cempaka? Kok! Saya tidak pernah bertemu sebelumnya" Bu Purnama merasa penasaran.
"Saya kerabat nya, jadi ibu saya sama neneknya Cempaka itu adik kakak, saya tinggal satu kelurahan dengan dia, jadi kami jarang bertemu" Ungkap Kenari dengan kebohongannya.
"Ooh, Pantas saja kalau begitu"
"Ya, bu, itulah Cempaka!"
"Emh, kalau begitu saya mohon pamit, bu. Takut keburu siang. Tolong pikirkan baik-baik semua perkataan saya tadi" Ujar Kenari.
"Tentu saja mbak, Tidak akan saya biarkan anak saya menderita karena, Cempaka. Saya ingin anak saya mendapatkan pendamping hidup yang baik, yang bertanggung jawab, bukan perempuan yang suka keluyuran ke sana ke mari" Bu Purnama berharap.
Padahal, harapan bu Purnama itu, sesungguhnya sudah ada di dalam dirinya Cempaka.
"Saya permisi dulu ya bu, sampai jumpa lagi di lain waktu. Tolong sampaikan salam saya buat Amran! Assalamualaikum"
Kenari mengucapkan salam lalu menjabat tangannya bu Purnama, yang sepertinya terpesona dengan sikapnya Kenari.
"Mau kemana? Saya harap jangan dulu pulang, tunggu saja di sini beberapa sa'at, sebentar lagi anak saya datang. Nanti saya kenalkan sama anak saya, biar dia tidak terus larut dalam bayangannya Cempaka terus" Bu Purnama mencoba untuk menahan Kenari.
"Terimakasih atas semuanya, mungkin lain waktu saja, bu. Kalau sekarang saya ada perlu dulu ke suatu tempat. Lagipula kalau terlalu siang, saya takut kehujanan di jalan, mana jemuran saya banyak lagi. Tadi, sebelum berangkat ke sini, saya nyuci dulu" Kenari membuat alasan.
"Oooh.. Takut kehujanan ya mbak ya" Ujar bu Purnama, setuju dengan alasan Kenari.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu, Assalamualaikum"
Kenari berdiri, bangkit dari tempat duduknya hendak pulang.
"Waalaikumsalam, hati - hati ya mbak" Sahut bu Purnama dengan berat hati.
Kenari pun segera berlalu meninggalkan bu Purnama, yang masih terpesona dengan semua tingkah lakunya Kenari.
Kenari atau Lintang berlalu dengan langkah yang sangat ringan. Karena, semua siasatnya tertuju tepat,ke arah tujuannya.
Diapun segera bergegas meninggalkan rumahnya bu Purnama, sebelum Amran pulang.
"Dengan cara begini, aku akan permainkan jodohmu Cempaka!
Sampai kapanpun, aku ingin jodohmu adalah seorang laki-laki yang aku pilihkan" Gumamnya.
"Untung aku tidak mau di ajak ke rumahnya bu Sekar lagi" Ujar bu Purnama.
__ADS_1