
Setelah mendapatkan izin dari wa Iyem, tak menunggu lama. Karmin segera mendatangi kakak sulungnya yaitu mbak Siti, yang rumahnya tidak jauh dari rumah orangtuanya.
"Mbak Siti, ada kabar baik, kakak sekarang sudah punya adik ipar lagi. Dia wong Bandung, cantik, pintar dan baik lagi serta solehah. Pokoknya di sini gak ada gadis secantik dia"
Celoteh Karmin ketika dia tiba di rumah kakaknya.
"Adik ipar apa maksudnya? Ada-ada saja kamu ini" Mbak Siti gak percaya dengan kabar yang keluar dari mulutnya Karmin.
"Aku di suruh menikahinya, kak! Kakaknya sendiri yang memaksa aku supaya aku mau menikahi adiknya. Awalnya aku juga tidak mengerti, tapi dia memaksanya. Akhirnya saya mau juga, wong di kasih gadis, gratis lagi"
Karmin berbinar.
"Kamu jangan asal bicara! Mana ada gadis cantik, soleh mau sama kamu tanpa memandang apa-apanya. Memangnya dia itu buta dan tuli? Hingga mau sama kamu yang hitam buluk, wong desa, kerjaan juga gak punya, mana sudah punya istri lagi"
Mbak Siti tak percaya sama sekali.
"Ini beneran mbak, aku sudah nikah dengannya beberapa hari yang lalu. Berkat kakak sulungnya yang sangat menginginkan aku jadi suami adiknya itu. Dia itu gadis cantik yang sudah berumur dua puluh delapan tahun, dia belum punya suami sedangkan adiknya sudah menikah duluan dan sudah punya anak kembar. Jadi kakak sulungnya sibuk mencarikan jodoh untuk adiknya itu.
Kebetulan dia ketemu aku, waktu aku nengok Mayang di tempat kerjanya, dia kan satpam di sana, setelah melihat aku, dia menawarkan adiknya
supaya aku nikahi. Awalnya aku tidak mau, tapi setelah dia katakan bahwa tidak perlu mengeluarkan biaya apapun juga, yang penting mau menikahinya. Mendengar itu ya aku coba-coba saja, sayang kan ada gadis cantik yang kebelet ingin punya suami, aku anggurin. Sikat saja"
"Kalau Ngomong, yo di saring! Kamu sudah berniat tidak baik itu, berarti kamu sudah ada niatan untuk memanfaatkannya. Belum tentu dia ikhlas mau sama kamu. Apalagi kamu kan sudah punya istri, mbak yakin dia pasti tidak akan mau. Pasti ini ada apa-apanya"
Mbak Siti curiga pada adik bungsunya itu.
"Semuanya kakak sulungnya yang mengatur supaya dia mau menikah denganku. Tadinya dia menolak habis-habisan. Karena, dia sudah punya calon seorang anggota Polisi militer, gagah dan ganteng sekali waktu kulihat photonya. Tapi, karena kelihaian kakak sulungnya, akhirnya malah jadi menikah sama aku wong desa yang buluk dan pengangguran lagi, mana di madu lagi. Tahu tidak mbak? Maharnya apa? "
"Mana mbak tahu? Kalau mbak tahu, tidak akan mbak izinkan kamu berbuat begitu! Itu tidak baik, dosa! Membohongi dan menyiksa batin orang lain" Mbak Siti menjewer telinga nya Karmin hingga merah.
"Kalau emak sama bapak tahu kelakuan kamu begitu, kamu pasti kena amukan bapak! Kamu kurang ajar sekali! Bertindak ceroboh tidak di pikirkan dulu baik-buruk nya"
Mbak Siti menceracau menasihati Karmin.
__ADS_1
"Kamu kan sudah punya istri walaupun belum punya anak. Seharusnya kamu kasih tahu dulu perempuan itu nya, mau apa tidak di nikahi oleh kamu yang sudah punya istri tapi belum punya anak. Bicara baik-baik sama istri kamu, sama ibu dan bapak, jangan asal begitu. Dia itu wanita harus di hargai, jangan kamu sepelekan harga dirinya. Terus, tadi bagaimana tentang maharnya?"
"Maharnya pakai perhiasan ibunya dulu, jadi pinjam dulu. Nanti kalau aku sudah punya uang baru aku ganti"
Karmin menjawabnya perlahan, ada rasa takut tercipta di sana.
"Coba itu! Astagfirullahaladzim! Karmin! Karmin! Itu anak orang, dia itu seorang perempuan sama seperti ibumu dan juga kakakmu ini! Ya Allah kenapa aku punya adik laki-laki yang tidak bisa menghargai perempuan? Kamu tahu kan, kamu itu terlahir dari rahimnya seorang perempuan. Ya Allah, tak terbayangkan bagaimana sakitnya hati perempuan itu, dia dipaksa menikah dengan pria yang tidak dia sukai, mana pernikahannya dengan mahar asal -asalan begitu"
"Bagaimana perasaan kedua orangtuanya? Tidak mungkin Orangtuanya hanya menginginkan anaknya punya suami yang asal saja.
Pasti mereka mendambakan menantu yang baik, bukan penipu atau pembohong serta pengangguran seperti kamu! Malang benar nasibmu kasihan sekali"
Mbak Siti menitikkan air mata, merasa kesal terhadap adik laki-laki satu-satunya itu.
"Coba kalau kemarin kamu bicara dulu sama mbak, enggak bakalan nasib gadis itu seperti ini. Enggak bakalan kamu kena tipu dan terpedaya begini. Ma'afkan mbak Siti ya"
Mbak Siti terlihat sangat menyesal.
"Mbak, sudahlah tidak usah ikut sedih segala. Ini semua sudah terjadi, mungkin juga ini sudah jadi takdirnya.
"Jangan kau anggap enteng perkara ini! Ini masalah harga diri seorang perempuan, menyangkut kehidupan dia selanjutnya. Mbak khawatir kalau dia nanti sudah mengetahuinya. Dia pasti akan kecewa berat, pasti dia akan frustasi dan sakit hati tentunya.
Kamu bisa berpikir waras tidak? Hawa nafsu saja yang kau urus!"
Mbak Siti beranjak dari tempat duduknya, dia tidak setuju dengan kelakuan Karmin seperti itu. Seenaknya saja memperlakukan seorang perempuan.
"Mbak! Mau kemana? Dengarkan dulu aku! Dengarkan penjelasan ku!"
Karmin menarik tangan kakaknya supaya tidak pergi meninggalkannya.
"Lepaskan ah! Mbak tak suka dengan kelakuan kamu yang seperti itu"
Mbak Siti melepaskan pegangannya Karmin.
__ADS_1
"Mbak! Dengerin dulu penjelasan ku! Ini semua bukan salahku! Semuanya kakaknya dia yang mengatur semuanya, aku hanya mengikuti sarannya saja!" Karmin berteriak ingin di dengar pembelaannya.
Mbak Siti tidak menggubrisnya, dia terus ngeloyor meninggalkan Karmin menuju ke dalam kamarnya dengan perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya.
"Kalau memang benar semua yang di katakan oleh Karmin itu, kenapa kakaknya tega menjerumuskan adiknya sendiri? Dan kenapa pula dengan orangtuanya yang tidak melarang anaknya yang berbuat seenaknya kepada saudara kandungnya sendiri. Sungguh tidak habis pikir";
Mbak Siti bergumam sendiri, memikirkan perkataan adiknya yang menurutnya itu sangat lah tidak masuk akal.
"Mbak, tolong aku mbak! Kemarin kan aku nikahan hanya sendirian, tidak ada yang ngantar untuk seuseurahan.
Nah, sekarang supaya kesan kita tidak terlalu jelek di mata keluarganya Cempaka, aku minta mbak ikut ke Bandung untuk menjemput Cempaka. Aku ingin memboyongnya ke sini"
Karmin mencoba meyakinkan kakaknya, dia berdiri di lawang pintu kamar kakaknya.
" Kamu akan memboyongnya kemari, bagaimana dengan Mayang, istrimu?"
" Dia kan kerja di Bandung, dia tidak akan apa-apa kalau tahu juga, dia pasti sadar kenapa aku menikah lagi"
Karmin memberikan alasan.
"Walaupun itu benar, alasanmu tepat. Tapi, tetap kamu menyakiti hati dua orang perempuan sekaligus. Bahkan lebih, Karena kalau dua keluarga sudah tahu kelakuanmu yang sebenarnya, mereka pasti akan sakit hati, mereka pasti akan kecewa"
"Mbak ini susah sekali di mintai pertolongan sama adiknya sendiri apalagi sama orang lain!"
Karmin ngedumel.
"Di mintai pertolongan macam apa dulu? Kalau untuk sekongkol menyakiti orang lain, ya jelas mbak tidak akan mau walaupun yang memintanya adik mbak sendiri, karena itu salah besar!"
Karmin diam untuk sementara.
Benaknya tengah berpikir mencari perkataan yang tepat, yang akan membuat hati kakaknya luluh.
Menurutnya kakaknya itu harus mau di ajaknya untuk menjemput Cempaka.
__ADS_1
******