
"Kenari, suruh siapa kamu mengundang sampai jauh ke sana, ke kampungnya bi Nani tanpa sepengetahuan ibumu, kenapa?" Bu Sekar bertanya dengan geram.
"Kamu ke sana pasti tidak hanya ke rumahnya bi Nani saja kan? Pasti kamu keliling kampung menyebarkan berita tentang pernikahannya Cempaka yang di paksakan oleh kamu itu, kan?"Lanjut bu Sekar lagi.
"Enggak di suruh siapa-siapa. Aku cuma menyebarkan berita bahagia ini ke seluruh saudara, baik yang dekat ataupun yang rumahnya jauh. Begitu pula pada semua orang yang kita kenal. Apalagi ini kan merupakan pernikahan yang langka, yang sepertinya baru kali ini ada di kampung kita ini. Atau mungkin, di Dunia ini" Kenari menjawabnya dengan ucapan yang nyerocos ke sana ke mari.
"Maksudnya dengan pernikahan yang langka dan belum pernah terjadi itu apa?" Bu Sekar merasa kesal.
"Lihat saja nanti, bu. Kalau sekarang aku jelaskan, pasti ibu dan semuanya tidak akan ada yang mengerti dan tidak akan ad yang faham kemana ucapan aku itu mengarah?" Kenari malah membikin teka-teki. Semua orang yang berada di sana saat itu, tak satupun ada yang mengerti.
"Awas saja kalau aneh-aneh!" Geram bu Sekar kesal.
"Jangan kesal dulu, jangan marah dulu, lihat saja nanti!"Ujar Kenari sambil tersenyum.
"Kamu sengaja ngundang bi Nani biar Samudera tahu kalau Cempaka mau nikah, begitu?"
Bu Sekar bertanya kesal.
"Iya, tidak jelek kan maksudku"
"Sangat buruk sekali! Lihat hati adikmu sekarang!"
"Memangnya kenapa? Apa dia tidak suka dengan semua ini? Aku kan sudah berusaha membuat dia bahagia, apa masih benci sama aku? Maunya apa sih tuh orang" Kenari malah ngedumel.
"Memang aku tidak suka dengan ulah mu! Aku tidak suka kau jodohkan aku seperti ini! Aku tidak menikah dengan si Karmin! Jelas?" Cempaka berteriak mengeluarkan kekesalan di hatinya.
"Tidak usah berteriak, nasibmu sudah begitu jalannya. Sebentar lagi Karmin akan datang untuk menikahi mu dan memboyong mu ke kampung halamannya. Sekarang terima saja semua suratan takdirmu daripada hidup menjomblo" Ujar Kenari.
Ucapannya sungguh membuat bi Nani terperangah mendengar semua ucapannya Kenari.
"Astagfirullahaladzim, kenapa bicara begitu? Dia itu adikmu!" Bentak bu Sekar.
"Iya neng Kenari, tidak baik bicara seperti itu. Apalagi pada adik sendiri yang harusnya di sayangi dan di lindungi. Bukannya di ejek begitu!" Ujar bi Nani.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya biar kita semua tahu, kalau keluarga kita itu ada yang masih belum punya jodoh, belum nikah, belum bersuami" Ujar Kenari lagi dengan santainya.
"Tapi enggak usah di katakan dengan gamblang begitu, sebagai saudaranya kita harus punya perasaan, jangan asal bicara!" Ujar bu Sekar.
"Assalamualaikum" Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki yang mengucapkan salam di teras depan.
"Karmin! Itu suara Karmin! Alhamdulillah Karmin sudah datang" Kenari begitu bahagia mendengar suara Karmin yang mengucapkan salam.
"Karmin!" Kenari bergegas menuju ke ruang tamu setengah berlari. Dia sepertinya sudah tidak sabar lagi ingin segera bertemu dengan Karmin.
"Waalaikumsalam" Sahutnya berteriak.
"Sebentar Karmin!" Teriaknya lagi dari ruang tengah.
"Karmin, Alhamdulillah kau sudah sampai lagi di sini. Aku sangat cemas sekali, aku takut kamu tidak kembali lagi, takut tidak menepati janjinya. Dari tadi pagi aku sangat Cemas sekali, terimakasih akhirnya semua keinginanku akan segera terpenuhi, aku bahagia sekali" Uci Kenari Setelah dia berdiri di depan pintu dan membukakan pintunya untuk Karmin.
"Bu, bagaimana semuanya lancar?" Bisik Karmin, sebelum dia duduk di sofa.
"Lancar jaya! Apalagi dengan kedatangan kamu, jadi makin lancar saja. Aku bahagia sekali, sangat-sangat bahagia sekali" Tak henti - hentinya Kenari berucap menuturkan perasaan bahagia yang ada di dalam hatinya saat itu.
__ADS_1
Dia tak peduli kalau di balik kebahagiaan itu ada sekeping hati yang terluka. Siapa lagi kalau bukan adiknya sendiri, yaitu Cempaka.
"Bagaimana, kamu bisa kan membikin na nya? Sekarang sudah beres semua kan yang kita perlukan?" Tanya Kenari. Matanya memutari seluruh ruangan, dia takut ada seseorang yang mendengarnya.
Kenari sudah mengatur semua siasatnya.
Dan Karmin sebagai bonekanya
selalu menuruti saja semua yang di perintahkan oleh Kenari.
Seperti kemarin, waktu Karmin
di suruh untuk pulang ke kampungnya dulu untuk membuat na. Yaitu persyaratan untuk seorang laki-laki yang akan menikah.
"Bagaimana, dapat enggak?" Tanya Kenari berbisik.
"Sesuai yang di sarankan sama bu Kenari, semuanya beres dalam satu hari. Ini!" Karmin memberikan kertas yang agak tebal kepada Kenari.
Entah itu na asli atau apalah, tidak ada yang tahu. Karena, Karmin sudah punya istri. Biasanya kalau sudah punya istri tidak bisa bikin na untuk menikah lagi, kecuali kalau ada izin dari istri pertamanya.
"Hebat kamu. Tidak salah saya menjodohkan kamu dengan adikku, di jamin hatiku akan terpuaskan! Cempaka! Cempaka yang malang" Ujar Kenari, dengan senyumannya yang khas. Senyuman seorang yang sangat licik dan kejam.
"Ibu bisa saja"
"Ini kan yang ibu inginkan untuk pernikahan saya dan Cempaka nanti?"
"Nah ini dia senjatanya. Kalau ada ini, semua orang pasti menganggap kamu masih bujangan. Walaupun wajahmu sudah bapak-bapak dan memang sudah bapak-bapak, sudah berumah tangga cuma belum punya anak saja" Kenari mengambil na yang di sodorkan oleh Karmin kepadanya.
"Iya bu, saya tunggu di sini" Karmin duduk dengan senyuman di bibirnya.
"Calon pengantin laki-laki nya sudah datang, ayo! Cepat sambut dia, jangan di biarkan saja. Aku ada perlu dulu" Ujar Kenari seperti memerintah kepada orang-orang yang ada di sana.
"Kamu mau kemana?" Pak Jati bertanya penasaran.
" Mengantarkan ini" Kenari mengacungkan na yang di berikan oleh Karmin.
"Ooh sudah ada?" Bu Sekar kaget.
"Itu berarti, benar dia belum punya istri. Karena kalau dia sudah punya istri, tidak mungkin dia akan mendapatkan na nya dengan mudah" Ujar bu Sekar.
"Karena itu aku sudah tidak sabar, aku ingin segera melihat mereka menikah walaupun sepertinya pernikahannya itu hanya sederhana saja tidak ada pesta yang meriah" Ujar Kenari.
"Maksud kamu apa dengan ucapan mu itu?"
"Karena tidak ada waktu lagi untuk mempersiapkan semuanya, waktunya sangat sempit, tidak mungkin kita bisa mempersiapkan acara pernikahan mereka dengan meriah, mencetak kartu undangan dan merias rumah, tidak mungkin kan?" Ujar Kenari.
"Aku pergi dulu" Kenari bergegas keluar dari rumah.
"Kakak, saya ingin bertemu dengan calon suaminya neng Cempaka" Bi Nani melirik kepada bu Sekar lalu melirik kepada Cempaka.
"Sekalian bawain air minum dan kue buat dia, ayo kita temui dia!"
Bu Sekar mengajak adiknya untuk menemui Karmin di ruang tamu.
__ADS_1
"Ayo neng Cempaka, kita temui calon suamimu!" Bi Nani menggandeng tangannya Cempaka.
"Bapak juga ingin bicara dengannya" Pak Jati mengikuti langkahnya bu Sekar menuju ke ruang tamu.
Perlahan, akhirnya Cempaka pun melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu untuk menemui Karmin.
Jampi-jampi nya Eyang sepertinya sudah mulai kena tujuannya.
Perlahan namun pasti, Cempaka bersedia menerima Karmin sebagai calon suaminya.
Mereka menyambut Karmin dengan hangat, hingga membuat bi Nani terperangah tak percaya dengan semua yang dia saksikan di depan matanya kala itu.
"Tadi dia tidak suka sama laki-laki itu, tapi kini dia begitu ramah menyambutnya. Ada apa ini? Sepertinya ada yang aneh di balik semua itu" Bathin bi Nani.
"Ini neng, calon suaminya?" Bi Nani bertanya dengan kaget.
"Iya bi" Sahut Cempaka.
"Jauh banget dengan Samudera
kenapa neng Cempaka mau sama dia? Sepertinya dia sudah punya istri, nemu dimana Kenari dengan makhluk seperti ini? Kenapa dia mau menjodohkan adiknya dengan laki-laki modelan begini? Matanya ******, sepertinya dia bukan pria yang baik, kasihan sekali neng Cempaka, kenapa nasibmu begitu nak?" Bathinnya bi Nani. Matanya tak lepas menatap kepada Cempaka.
"Neng?" Bi Nani berbisik di telinganya Cempaka.
"Neng, bibi mau tanya sesuatu, boleh?"
"Iya bi, ada apa?"
"Ma'af semuanya, saya tinggal dulu sebentar" Ucap bi Nani meminta izin, tangannya sudah menggandeng tangan Cempaka.
"Iya silahkan!" Sahut Karmin, agak mengkerut dahinya kurang suka melihat bi Nani mengajak Cempaka.
" Apa neng Cempaka benar mau sama orang itu?" Tanya bi Nani
dengan sangat hati-hati.
"Jauh sekali bila di bandingkan dengan Samudera, ya bi" Cempaka sudah tahu kemana arah pertanyaannya bi Nani
Bi Nani mengangguk.
"Aku terpaksa, bi" Sahut Cempaka.
"Kenari sepertinya sengaja menjodohkan Cempaka dengan
Karmin" Gumamnya.
"Sabar ya sayang" Bi Nani memeluk Cempaka dengan erat, di usapnya kepala Cempaka penuh kasih.
Cempaka menangis dalam pelukannya bi Nani, dia menangis menumpahkan semua perasaan yang ada di dalam hatinya.
Pedih dan perih.
**"
__ADS_1